Imam Prawoto: Nahniyyah dan Ta’awuniyyah Al-Zaytun
Khutbah Idul Fitri tentang kebersamaan sebagai fondasi peradaban

Idul Fitri, dalam banyak kesempatan, berhenti pada simbol: kembali suci, saling memaafkan, dan merayakan kemenangan spiritual. Namun di Al-Zaytun, Idul Fitri ditempatkan lebih jauh dari sekadar ritus tahunan. Ia diposisikan sebagai momentum konsolidasi nilai bahkan sebagai titik berangkat untuk membangun sistem kebersamaan yang terarah, terkelola, dan berorientasi masa depan.
Dalam khutbah Idul Fitri 1447 H di Masjid Rahmatan lil ‘Alamin, Ketua Yayasan Pesantren Indonesia (YPI), Datuk Sir Imam Prawoto, KRSS., M.B.A., C.R.B.C., tidak sekadar menyampaikan pesan keagamaan, tetapi merumuskan ulang cara memandang Idul Fitri dalam konteks kehidupan kolektif dan peradaban.
Ia memulai dengan meluruskan pemaknaan Idul Fitri secara etimologis dan konseptual. Ia membedakan antara “fitrah” dan “fitri”, dua istilah yang sering dipahami serupa, namun memiliki makna berbeda. Fitrah merujuk pada potensi dasar manusia yang suci sejak lahir, sedangkan “fitri” berasal dari kata yang berarti berbuka, yakni berhentinya puasa Ramadan dan kembalinya manusia pada aktivitas makan sebagaimana biasa.
Dari titik ini, ia mengajak jamaah untuk tidak berhenti pada pemaknaan simbolik. Fitrah, menurutnya, harus dimanifestasikan dalam kehidupan nyata: dalam kejernihan berpikir, kedewasaan sikap, serta tanggung jawab sosial. Idul Fitri, dengan demikian, menjadi momentum untuk menata ulang komitmen hidup, baik secara pribadi maupun kolektif.
Khutbah tersebut kemudian meluas ke konteks global. Imam Prawoto menyinggung dinamika geopolitik dunia, khususnya konflik di kawasan Timur Tengah yang melibatkan kekuatan besar dunia. Ketegangan tersebut, menurutnya, menjadi pengingat bahwa dunia masih dihadapkan pada potensi konflik besar, bahkan ancaman perang skala global.
Namun, alih-alih terjebak dalam reaksi emosional terhadap konflik internasional, ia mengajak umat untuk memperkuat fondasi internal sebagai bangsa beradab. Dalam pandangannya, kekuatan peradaban tidak dibangun dari reaksi, melainkan dari kemampuan menegakkan sistem nilai kebersamaan yang kokoh.
Di sinilah inti utama khutbahnya mengemuka: konsep nahniyyah dan ta’awuniyyah.
Nahniyyah, yang dimaknai sebagai manajemen kebersamaan, merupakan kesadaran kolektif bahwa setiap individu adalah bagian dari satu kesatuan. Dalam kerangka ini, keberhasilan institusi bukanlah capaian individu, melainkan hasil kerja bersama yang dilandasi rasa memiliki (sense of belonging) dan tanggung jawab kolektif (shared responsibility).
Sementara itu, ta’awuniyyah merupakan ekspresi praktis dari kebersamaan tersebut. Ia bukan sekadar tolong-menolong dalam arti sempit, melainkan partisipasi aktif yang bersifat timbal balik. Bukan hubungan satu arah, tetapi kontribusi nyata dari setiap unsur. Baik dalam bentuk pemikiran, tenaga, maupun sumber daya, yang saling menguatkan.
Imam Prawoto menegaskan bahwa tanpa fondasi kebersamaan dan ta’awuniyyah, peradaban akan mudah tergelincir ke dalam konflik dan disintegrasi. Sebaliknya, jika kedua nilai ini dihidupkan sebagai sistem, maka ia akan menjadi kekuatan yang mampu mendorong terwujudnya cita-cita besar bersama.
Dalam konteks Al-Zaytun, nahniyyah dan ta’awuniyyah tidak berhenti sebagai gagasan. Keduanya diupayakan menjadi sistem yang hidup dalam pengelolaan institusi. Pendidikan tidak semata dipahami sebagai transfer ilmu, tetapi sebagai bagian dari pembangunan peradaban. Ruang di mana kesadaran kolektif dibentuk dan diarahkan.
Menariknya, khutbah ini juga mengaitkan nilai-nilai tersebut dengan pendekatan manajemen modern. Imam Prawoto menyebut prinsip POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling) serta siklus PDCA (Plan, Do, Check, Act) sebagai kerangka yang sejalan dengan semangat nahniyyah. Dalam pandangannya, manajemen bukan sekadar teknik organisasi, melainkan instrumen untuk mewujudkan kesadaran kolektif dalam tindakan nyata. Dengan pendekatan ini, setiap individu dalam institusi diharapkan tidak hanya menjalankan peran secara administratif, tetapi juga terlibat secara emosional dan ideologis dalam mencapai tujuan bersama.
Khutbah tersebut juga menempatkan gagasan ini dalam horizon yang lebih luas, yakni visi Indonesia modern pada abad ke-21 dan momentum 100 tahun kemerdekaan Indonesia. Imam Prawoto menyebut konsep “Novum Gradum” sebagai bagian dari upaya transformasi pendidikan berasrama yang diharapkan dapat berkontribusi pada pembangunan bangsa.
Ia menegaskan bahwa cita-cita besar tidak cukup dibangun di atas gagasan dan keyakinan semata, melainkan memerlukan implementasi nyata yang berintegritas. Oleh karena itu, setiap individu dituntut untuk tidak bersikap pasif, apatis, atau oportunis, melainkan aktif berkontribusi dalam kerangka kebersamaan.
Di bagian akhir khutbahnya, ia mengingatkan bahwa semangat kebersamaan tidak boleh berhenti pada retorika. “Gegap gempita” yang dimaksud, tegasnya, bukan keramaian simbolik, melainkan kesiapan konkret untuk menjalankan program dan mewujudkan visi bersama. Dengan demikian, Idul Fitri diposisikan bukan hanya sebagai perayaan, tetapi sebagai momentum konsolidasi: menyatukan nilai, memperkuat sistem, dan menggerakkan kontribusi.
Khutbah ini ditutup dengan doa yang memohon keberkahan, kesehatan, dan kemampuan untuk menjalankan amanah, baik bagi pemimpin, institusi, maupun seluruh umat. Termasuk doa agar konflik dunia dapat segera berakhir, sejalan dengan semangat perdamaian yang menjadi salah satu nilai utama yang diusung.
Pada akhirnya, pesan yang disampaikan menegaskan satu hal: bahwa masa depan, baik bagi institusi maupun bangsa, hanya dapat dibangun melalui kebersamaan yang terkelola, kontribusi yang nyata, dan integritas yang terjaga. Idul Fitri, dalam bingkai ini, bukan akhir dari perjalanan spiritual Ramadan, melainkan awal dari kerja bersama yang lebih besar. (Atur Lorielcide / TokohIndonesia.com)
@tokoh.id Khutbah Idulfitri 1447H oleh Datuk Sir Imam Prawoto di Kampus Al-Zaytun. Idulfitri bukan sekadar kembali suci, tapi kembali ke arah hidup yang lurus, merdeka secara roh, pikir, dan ilmu. #alzaytun #alzaytunindramayu #ponpesalzaytun #idulfitri




















