Bapak Film Komedi Indonesia

[ Nya Abbas Akup ]
 
0
234
Nya Abbas Akup
Nya Abbas Akup | Tokoh.ID

[ENSIKLOPEDI] Sutradara senior Indonesia ini identik dengan film-film bergenre komedi. Mulai dari horor komedi (Drakula Mantu, 1974), komedi aksi (Tiga Buronan, 1957), komedi parodi (Bing Slamet Koboi Cengeng, 1974), komedi musikal (Dunia Belum Kiamat, 1971), hingga kritik sosial dalam Inem Pelayan Sexy (1976) yang menjadi masterpiece-nya. Atas dedikasinya di dunia perfilman, pemerintah menganugerahinya gelar Pahlawan Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Presiden Nomor 069/TK/2007. 

Nya Abbas Akup, sineas berdarah Aceh kelahiran Malang, 22 April 1932 ini memulai debutnya di dunia perfilman tahun 1952 sebagai asisten sutradara di Perfini (Persatuan Film Nasional Indonesia) pimpinan Usmar Ismail. Di awal karirnya, Akup yang pernah berkuliah di Unpad Bandung ini langsung mendapat tugas mendampingi D. Djajakusuma dalam pembuatan film Harimau Tjampa. Pada tahun 1954, ia mulai dipercaya sebagai sutradara film Heboh. Film bergenre drama komedi yang skenarionya ditulis sendiri oleh Akup itu ternyata cukup sukses di pasaran. Di kemudian hari atas dorongan Usmar Ismail, Akup memperdalam ilmu penyutradaraan di UCLA, Amerika Serikat.

Kiprah Akup sebagai sutradara baru mulai dilirik pada tahun 1957 saat membesut film komedi aksi berjudul Tiga Buronan. Film yang dibintangi seniman legendaris Bing Slamet sebagai pemeran penjahat Mat Codet ini merupakan titik perkembangan Akup dalam menggarap film komedi. Tak sedikit pula yang berpendapat, Akup berhasil lepas dari bayang-bayang gurunya, Usmar Ismail lewat film tersebut.

Setelah itu, Akup kian menikmati sepak terjangnya sebagai sutradara spesialis film komedi. Sepanjang karirnya, ada sekitar 30-an judul yang digarapnya, hanya 4 film yang bukan komedi. Dari sekian puluh judul itu boleh jadi yang paling fenomenal adalah film layar lebar yang dirilis tahun 1976 berjudul Inem Pelayan Seksi. Film yang memasang aktris Doris Callebout sebagai pemeran utamanya itu berhasil menyedot hampir 400 ribu penonton. Atas pencapaian itu, Inem Pelayan Seksi berhasil memboyong Piala Antemas pada FFI 1978 sebagai Film Terlaris 1977-1978. Selain sukses secara komersial, film tersebut juga menghasilkan pujian dan kritik yang positif di kalangan pengamat film lantaran menyampaikan pesan sosial.

Selain piawai menggarap film berkualitas namun tetap memperhatikan sisi komersil, Akup juga dinilai mampu menyegarkan aspek bertutur film komedi yang saat itu hanya diramaikan dengan komedi konyol slapstick. Film terakhirnya yang dibintangi aktris Lidya Kandou, Boneka dari Indiana, berhasil menyabet Piala Bing Slamet untuk film komedi terbaik 1991.

Ironisnya, meski film-filmnya cukup berbobot dan sukses di pasaran, nama Nya Abbas Akup sebagai sutradara kurang bertaji di ajang penghargaan film tertinggi, Festival Film Indonesia (FFI). Ia seolah kalah pamor dari nama sutradara besar lainnya seperti Usmar Ismail, Sjumandjaja, Teguh Karya, Wim Umboh, Arifin C. Noer, dan Asrul Sani lantaran penghargaan yang memperebutkan Piala Citra itu kebanyakan diraih oleh film-film drama. Boleh dibilang, kiprahnya di jagad sinema Tanah Air mirip sineas Alfred Hitchcock yang sepanjang karirnya juga tak pernah mendapat Piala Oscar.

Sepanjang karirnya, ada sekitar 30-an judul yang digarapnya, hanya 4 film yang bukan komedi. Dari sekian puluh judul itu boleh jadi yang paling fenomenal adalah film layar lebar yang dirilis tahun 1976 berjudul Inem Pelayan Seksi.

Meski demikian, kehadiran Akup tetap memberi warna tersendiri di dunia perfilman nasional. Salim Said, pengamat politik yang juga kritikus film, dalam buku berjudul Pantulan Layar Putih terbitan Pustaka Sinar Harapan memberi julukan pada Akup sebagai “tukang ejek nomor wahid” atas kiprahnya menampilkan sesuatu yang baru di tengah sejumlah komedi konyol. Bila mentornya, Usmar Ismail, mendapat predikat sebagai Bapak Film Nasional, maka Nya Abbas Akup menyandang julukan Bapak Film Komedi Indonesia. Julukan tersebut memang pantas disandangnya, lantaran generasi film komedi yang dipelopori pelawak kondang Bing Slamet, Benyamin S., Jalal, Ateng, sampai duet Kadir-Doyok, yang pertama kali dipertemukan dalam film berjudul Cintaku di Rumah Susun, lahir dari tangannya. Film ini berhasil memenangkan skenario terbaik pada Festival Film Asia Pasifik 1988 di Thailand. Cintaku di Rumah Susun, lahir dari tangannya.

Sutradara penerima hadiah “Usmar Ismail” oleh Dewan Film Nasional 1989 ini pun memantapkan posisinya sebagai sutradara film komedi jempolan lantaran hampir semua sub genre film komedi berhasil disentuhnya. Sebut saja film komedi horror yang dibintangi seniman serba bisa Benyamin S yang berjudul Drakula Mantu. Sementara dalam Tiga Buronan, Akup cukup sukses meracik film bergenre komedi aksi. Lain lagi, Dunia Belum Kiamat, sebuah film komedi musikal, atau Ambisi yang layak disebut sebagai film komedi musik pertama, yang selain kocak juga menampilkan para penyanyi beken seperti Koes Plus, God Bless, dan Bimbo. Film tersebut bisa dibilang merupakan cikal bakal video klip pertama di Indonesia.

Sedangkan Bing Slamet Koboi Cengeng menyisipkan unsur parodi dimana saat itu Indonesia sedang tergila-gila pada popularitas film koboi Django, Lone Ranger dan Bonanza. Meski film tersebut terinspirasi dari film yang mengangkat budaya Amerika, Akup tak kehilangan sisi nasionalisnya. Film koboi ala Akup tetap memasukan unsur khas Indonesia. Para jagoan dalam film tersebut tidak minum Jack Daniels ketika berada di bar melainkan beras kencur. Yang tak kalah lucu, ada adegan dimana seorang bartender sedang mengulek sambal terasi di meja bar dan para penjahat datang minta makan dengan pesanan petai. Dengan cerdas, Akup mengawinkan setingan bar ala koboi Amerika dengan warteg yang sangat Indonesia.

Meski namanya terus berkibar, di mata orang-orang terdekatnya, sosok Akup tetap merupakan pribadi yang sederhana. Untuk urusan penampilan dalam kesehariannya, Akup sudah merasa cukup nyaman mengenakan kaus oblong putih kesayangannya. Sifat bersahaja itu juga ditampilkannya saat menjalani karirnya sebagai sineas. Ia jarang sekali bersikap kritis dengan melontarkan pertanyaan-pertanyaan seputar dunia film yang ia geluti. Menariknya, meski dikenal sebagai sutradara yang menekuni film komedi, pembawaannya sama sekali tak mengesankan orang yang suka melucu malah cenderung pendiam. Singkat kata, Akup lebih banyak berekspresi dan melucu lewat karya-karyanya.

Nya Abbas Akup menutup mata untuk selama-lamanya di RS Harapan Kita, Jakarta pada 14 Februari 1991, dalam usia 59 tahun, setelah berjuang cukup lama melawan komplikasi penyakit jantung dan stroke yang dideritanya. Tak lama setelah kepergiannya, Akup mendapat penghargaan khusus pada FFI 1991 sebagai sutradara yang konsekuen membuat film-film komedi. Dedikasinya tak hanya diakui para seniman film namun juga negara, dengan gelar Pahlawan Indonesia yang dianugerahkan padanya berdasarkan Surat Keputusan Presiden Nomor 069/TK/2007. eti | muli, red

Data Singkat
Nya Abbas Akup, Sutradara / Bapak Film Komedi Indonesia | Ensiklopedi | sutradara, komedi, layar lebar, Sineas

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here