02 | Calon Presiden 1978

Wimar Witoelar
Wimar Witoelar

Begitu mulai memasuki Kampus Ganesha ITB Bandung sebagai mahasiswa baru di tahun 1963, Wimar segera larut dalam aktivitas kampus. Ia bergabung dalam Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB), sebuah kumpulan mahasiswa netral yang tanpa aliran politik, ideologi, agama dan kedaerahan.

Ia memilih PMB pada saat ormas mahasiswa lain mulai gencar merekrut dan memobilisasi anggota. Di PMB Wimar berkenalan lalu bersahabat akrab antara lain dengan Sarwono Kusumaatmaja, Arifin Panigoro, Jhony Saleh, Ginanjar Kartasasmita, Marzuki Darusman, Erna Anastasia, dan tentu dengan kakak-karib Rachmat Witoelar.

Memasuki PMB Wimar tak luput dari perpeloncoan. Ia didandani sebagai “Jenderal Plonco” yang berbadan gemuk berambut kribo acak-acakan sekadar untuk lucu-lucuan. Padahal tanpa didandani pun Wimar sudah lucu. Di PMB Wimar berdiskusi bersama kawan-kawan. Mereka menyempatkan diri berpesta-pesta dan dansi-dansi sekaligus berpacaraan bagi yang mampu dapat cewek.

Sayang Wimar hingga sebelum ketemu Suvatchara, seorang gadis Thailand yang kemudian diperistri tak pernah sekalipun kebagian teman cewek apalagi berpacaran. Wimar malah dibilang takut terhadap perempuan. Maklumlah, Wimar jarang bersentuhan dengan lawan jenis. Sekolah SMP dan SMA ia habiskan di sekolah yang steril perempuan.

Wimar yang di masa belia gemar membaca, menonton dan mendengar media massa asing terbentuk menjadi seorang komunikator ulung sekaligus berani. Kakang Rachmat menyaksikan Wimar itu mempunyai gaya bicara yang bebas, spontan, lugas, agak agresif, cerdas dan berani. Termasuk berani bilang tidak sementara semua orang bilang ya sejauh itu merupakan keyakinan hati nurani.

Pendukung Orde Baru
Wimar semakin larut berpolitik ketika tahun 1965 terpilih sebagai salah seorang Ketua Presidium KAMI Komisariat ITB Bandung. Wimar dipilih mewakili unsur PMB. Tak lama berselang pecah Gerakan 30 September/PKI tahun 1965. Kemudian di tahun 1966, Wimar mulai bergerak memimpin sejumlah apel siaga dan aksi-aksi demonstrasi mahasiswa mengganyang sisa-sisa kekuatan PKI.

Wimar yang semasa SMP aktif mengikuti dan mengagumi pidato-pidato Bung Karno, dan diam-diam suka menirukan pidato di depan kaca, bahkan saking kagumnya sempat bercita-cita menjadi presiden, semua itu berbeda 180 derajat ketika menginjak bangku kuliah. Wimar gencar memperjuangkan Tritura. Kekaguman akan Bung Karno perlahan memudar termasuk cita-cita menjadi presiden terlupakan sudah.

Wimar tampil bak hero mensosialisasikan Supersemar ke mana-mana. Ia memimpin misi Ampera, terdiri sejumlah mahasiswa ITB melakukan perjalanan ke Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Wimar berpidato lantang di mana-mana tempat memungkinkan.

Kepemimpinan Wimar terus menanjak. Tahun 1968, ia terpilih menjadi Ketua Majelis Permusyawaratan Mahasiswa ITB (lembaga legislatif mahasiswa), bergandengan dengan Sarwono Kusumaatmaja yang terpilih jadi Ketua Dewan Mahasiswa ITB (lembaga eksekutif). Pasangan Sarwono-Wimar sangat populer hingga menjadi nara sumber tetap sejumlah media massa lokal dan asing.

Tahun sama 1968, Wimar berhasil mencapai puncak karir tertinggi sebagai Ketua Dewan Mahasiswa ITB Bandung, menggantikan Sarwono untuk periode 1968-1969.

Advertisement

Lalu, setiap tahun ada program tahunan Pemerintah AS mengundang sejumlah pemimpin mahasiswa dan pemuda dari 12 negara Asia Pasifik untuk melakukan kunjungan ‘wisata politik’ selama dua bulan di AS. Di tahun 1970 giliran tiba pada Wimar mewakili Indonesia, setelah sebelumnya Arif Budiman, Syahrir, Marsilam Simanjuntak, Sarwono Kusumaatmaja, Haryadi Darmawan dan lain-lain.

Dalam pelesiran politik mahasiswa kali ini, Wimar berkesempatan bertemu kembali untuk kedua kali dengan sahabat perempuannya, sesama aktivis kampus yang sebelumnya sudah dikenalnya di Bangkok. Namanya Suvatchara Leeaphon, masih tercatat sebagai mahasiswa kedokteran Universitas Chulalongkorn, ke AS, mewakili mahasiswa Thailand.

Wimar bersama pemimpin mahasiswa negara Asia Pasifik berkeliling ke beberapa negara bagian AS seperti Washington, Texas, San Fransisco, New York, Hawaii dan Alaska. Mereka juga melakukan tur ke Gedung Putih, meninjau Kongres, mengunjungi Wali Kota, berdiskusi dengan Dewan Mahasiswa setempat dan sebagainya. Wimar malakukan wisata politik meski ia lebih banyak melakukan jalan-jalan pelesiran, termasuk menonton striptease segala.

Berbulan Madu di Kampus
Masa gonjang-ganjing perkuliahan sesungguhnya sudah berakhir setelah 18 bulan penuh marak dengan gerakan demonstrasi. Akan halnya Wimar, hingga tahun kedelapan kuliahnya tetap terbengkalai.

Wimar sering bolos kuliah sekaligus bolos ujian. Kalaupun sering nongol di kampus itu bukan untuk kuliah. Hanya sekedar nongkrong di student center, ngakunya rapat, atau nongkrong di rumah Arifin Panigoro tempat berkumpul anggota PMB.

Wimar terlalu asyik main politik kampus mahasiswa apalagi berdemonstrasi. Maklum, ia adalah Ketua Dewan Mahasiswa ITB Bandung. Keseharian Wimar jika bukan menentang kebijakan rektor, ya menentang kebijakan pemerintah.

Tentang kuliahnya, Wimar mencoba ‘ngeles’. Ia menyebutkan tidak terlalu suka elektro. Pelajarannya susah. Ia pun buka kartu, kuliah elektro awalnya hanya gaya-gayaan. Tebukti bertahun-tahun kuliah betulin radio saja tak bisa.

Rektor Prof Dodi Tisna Amidjaja menyebutkan kuliah Wimar pasti tak akan pernah selesai jika tetap berada di ITB. Dodi memastikan, Wimar tidaklah terlalu bodoh. Sang rektor bersedia merekomendasikan Wimar memperoleh beasiswa ke luar negeri. Semua pihak akhirnya memberi rekomendasi. Mungkin, kata Wimar, itu dimaksudkan supaya Wimar cepat-cepat meninggalkan ITB dan Indonesia. Beasiswa Wimar berasal dari Asia Foundation, kuliah ke George Washington University, AS.

Kepergian Wimar Witoelar adalah sebab sekaligus akibat. Walaupun sebetulnya kedua peristiwa ini tidak nyambung. Wimar harus ke Amerika tahun 1971 sebab kuliahnya tak lulus-lulus. Kata Wimar, tidak enak jika tidak sampai selesai. Padahal Wimar sesungguhnya punya alasan lain: Sedang jatuh cinta sehingga lebih memilih sekolah daripada terjun berpolitik praktis. Karena harus ke Amerika, Wimar cepat-cepat menikah dengan Suvatchara.

Suvatchara adalah anak kedelapan dari 10 bersaudara. Suvat hidup di tengah-tengah keluarga intelektual yang secara ekonomis tergolong keluarga berada. Setelah bertemu kedua kali dalam pelesiran politik di AS tahun 1970, keduanya sepakat berpacaran. Sebelum bersedia diajak menikah Suvat mensyaratkan terlebih dahulu mau berkunjung ke negara yang hendak menjadi negara dan tempat kediamannya, Indonesia.

Suvat kesampaian mengunjungi Jakarta. Ia dijemput di Bandara Halim Perdanakusuma, setelah Wimar meminjam mobil sang kakak. Di tengah perjalanan saat melintasi Jalan Sudirman mobil dihentikan. Wimar lalu menyelipkan cincin polos pertunangan ke jari manis tangan kiri Suvat. Duit pembelian cincin itu adalah hasil pinjaman dari Rachman Toleng.

Tiba di rumah, pertunangan Wimar-Suvat diresmikan sederhana. Hanya dihadiri pihak keluarga Wimar dan tiga sahabat: Sjahrir, Dorojatun Kuntjoro Jakti, dan Yanti Subianto. Kemudian, keduanya menikah pada 27 Februari 1971 di KBRI Bangkok.

Usai menikah, mereka berangkat ke Washington DC. Wimar meneruskan pendidikan teknik elektro, Suvat mengambil spesialisasi ilmu syaraf, di kampus sama, George Washington Universiuty. Wimar yang mahasiswa kehormatan hasil transferan, itu berhasil menyelesaikan sisa pendidikan S-1 teknik elektro satu setengah tahun saja, untuk meraih gelar Bachelor of Science (BS) in Electrical Engineering. Dia banyak dapat nilai A. Di kampus sama Wimar melanjutkan kuliah S-2 bidang Analisis System dan meraih gelar MS in System Analysis tahun 1974. Tahun 1975 Wimar kembali meraih gelar S-2 lain, MBA di bidang Keuangan dan Penanaman Modal.

Sambil kuliah, Wimar akrab dengan stasiun televisi. Ia nyambi rutin memandu acara TVRI “Laporan dari Amerika”, hasil kerjasama Kedutaan Besar RI di AS dan United Stated Information Service (USIS). Istrinya, spesialis syaraf Suvatchara Witoelar bekerja sebagai dokter di rumah sakit setempat.

Kedua suami-isteri itu sama-sama capek, untuk cari uang dan mengerjakan tugas-tugas rumah tangga. Mereka tidak menggunakan jasa pembantu. Karena itu jika Suvat yang bekerja memasak dan menyeterika pakaian, giliran Wimar yang mencuci pakaian dan membersihkan rumah. Jika Suvat mengurus asuransi dan berbagai rekening tagihan, Wimar merawat dan memperbaiki peralatan elektronik.

Sebagian hasil kerja sampingan Wimar dikirim ke Rachmat Witoelar sebagai pembayaran utang yang dahulu banyak dipinjam. Terutama, untuk membayar utang uang jajan selama Wimar kuliah di Bandung yang dibiayai Rachmat. Wimar juga menitipkan uang untuk biaya membangun rumah di Bandung. Wimar bercita-cita bersama Suvat bermukim di Bandung.

Calon Presiden 1978
Wimar dan Suvat kembali ke Indonesia tahun 1975. Mereka tinggal dahulu bersama orangtua Wimar di Jalan Prapanca, Jakarta Selatan. Suvat tanpa kesulitan mampu bergaul dan beradaptasi dengan keluarga besar Wimar yang berpandangan luas. Kemudian, Suvat segera berganti kewarganegaraan.

Rumah Wimar di Jalan Cihampelas, Bandung, begitu selesai dibangun segera ditempati. Wimar pun kembali ke kampus. Ia mengajar di almamaternya. Uniknya, ia menjadi dosen ilmu manajemen pada program pascasarjana. Wimar kembali ke kampus seolah untuk membuktikan tak bisa lulus dari ITB bukan karena bodoh. Walaupun, dia mengaku, menjadi dosen karena suka ngomong saja.

Wimar sesungguhnya pernah bercita-cita, kalau bisa bekerja di Bendungan Jatiluhur. Namun setelah Wimar melihat sendiri, meninjau Jatiluhur ia ketemu turbin melulu. Ia segera mengkoreksi cita-cita. Ia bingung, kalau kerja di Jatiluhur mau ngomong sama siapa nantinya. Menyelesaikan teknik elektro di George Washington University pun, itu sesungguhnya dipaksa-paksakannya.

Begitu memasuki Kampus Ganesha kebiasaan lama berlanjut. Wimar kembali rajin kumpul-kumpul dengan mahasiswa. Bedanya, Wimar kali ini adalah dosen. Dosen baru yang mantan demonstran ini mengajar dengan gaya yang santai, egaliter, tidak nge-bossy. Maka dia pun cepat menjadi dosen favorit. Mahasiswa sering mengajaknya diskusi, rapat atau sekedar ngobrol-ngobrol hingga main basket segala. Wimar merasakan dirinya menjadi muda kembali.

Sebagai dosen favorit, Wimar adalah calon kuat Pembantu Rektor Urusan Kemahasiswaan, di tahun 1977, ketika Iskandar Alisjahbana terpilih sebagai rektor baru. Ia gagal terpilih karena kepentok status kepegawaiannya yang masih golongan IIIA, menjadi dosen pun belum genap dua tahun.

Sebagai dosen yang akrab dengan mahasiswa, Wimar akrab pula dengan dinamika kehidupan politik dunia kampus. Hal itulah yang akhirnya menjadi awal kejatuhan Wimar sebagai dosen. Sebab Wimar menjadi lebih senang bertukar pendapatnya daripada menjadi dosen. Sebagai dosen, Wimar sebetulnya bagus, beberapa kali terpilih menjadi dosen teladan. Karena kalau kuliah ia selalu datang, dan kalau ditanya selalu jawab. Karena memang senang.

Tapi karena pelajaran yang diajarkan juga ilmu ekonomi, menyangkut hal-hal yang sosial, jadilah Wimar terlibat dalam gerakan mahasiswa. “Ya, sebagai orang yang ikut berpikir,” kata Wimar. Momentum awal pergerakan baru Wimar terjadi di penghujung tahun 1977, menjelang Sidang Umum MPR 1978.

Menjelang Pemilu 1977, nama Wimar sesungguhnya sudah kembali masuk sebagai caleg Golkar dari Bandung, kendati ia masih di Amerika ketika itu. Dianggap Wimar masih dibutuhkan dan punya pengaruh yang layak dijual ke massa pemilih.

Tapi tawaran itu ditampik. Ia melihat Soeharto yang akan dicalonkan kembali, bahkan tampil sebagai calon tunggal presiden 1978-1983, sudah terlalu lama memerintah 12 tahun. Langkah Soeharto sebagai pemimpin pun dilihatnya sudah terlalu melenceng.

Wimar akhirnya ikut kecewa pula terhadap Golkar, organisasi politik yang ikut dibentukannya yang kemudian mau saja dijadikan kendaraan politik oleh Pak Harto.

Bersama mahasiswa ITB dan teman-teman angkatan tahun 1972 dan 1973, Wimar mulai bergerak. Ia menentang pencalonan kembali Soeharto sebagai presiden. Ia membentangkan spanduk besar di gerbang Kampus Ganesha: “Tidak Mempercayai Lagi Soeharto sebagai Presiden RI.” Sebagai bukti nyata penolakan, agar Soeharto bukan calon tunggal, Wimar lalu ikut mencalonkan diri sebagai calon presiden 1978.

Hasil gerakan itu jelas. Militer segera menyerbu demonstran, kampus diduduki tiga bulan penuh, sejumlah pimpinan mahasiswa ditangkap. Wimar adalah satu-satunya dosen yang ikut ditangkap. Kejadian penangkapannya berlangsung di rumah. Wimar sedang ngobrol dengan seorang teman di ruang tamu. Tiba-tiba saja truk rombongan tentara berhenti di depan rumah dan menerobos masuk. Tidak lama, sekejap saja, Wimar sudah dibawa pergi. Ia dimasukkan truk tanpa sempat berpesan ke istri yang sedang mengandung anak kedua. Sementara, anak pertama, Satya, saat itu berusia dua setengah tahun.

Pledoi Bawah Tanah
Wimar bersama mahasiswa yang ditahan membuat pledoi bawah tanah sebagai pembelaan diri. Buku putih ini menjadi misterius sebab oleh penguasa dilarang beredar.

Wimar tetap kukuh pada perjuangan politiknya. Ia tak perlu meminta bantuan kepada kakaknya yang waktu itu sudah semakin mantap karirnya sebagai petinggi Golkar.

Rachmat sendiri tak bisa berbuat apa-apa menyelamatkan adiknya, kecuali sebatas meminta jaminan dari pihak-pihak tertentu agar sang adik diperlakukan dengan wajar saja selama dalam tahanan. Enam bulan lamanya Wimar mendekam dalam tahanan tanpa pernah diproses verbal.

Peristiwa ini lama membekas. Menjelang Pemilu berikutnya nama Rachmat Witoelar pernah dicoret dari daftar calon tetap anggota legislatif. Alasan pencoretan, dikatakan ada keberatan masyarakat Jawa Barat, Rachmat tak bersih lingkungan. Wimar, adik Rachmat, pernah bikin onar di Bandung.

Persoalan ini sampai juga ke tangan Pak Harto. Pak Harto membandingkan persoalan itu seperti antara Mayor Jenderal S. Parman pahlawan revolusi, dengan Sukirman anggota CC PKI yang kakak-adik. Jadi, antara Rachmat dan Wimar pun kata Pak Harto nggak ada masalah. Nama Rachmat akhirnya tetap melaju bahkan hingga terpilih sebagai Sekjen Golkar 1988-1993.

Wimar akhirnya bisa melihat kali ini Pak Harto bisa bersikap bijaksana. Walaupun Wimar dalam nada canda menjadi bingung, dalam hal ini siapa yang PKI, siapa yang pahlawan di antara mereka berdua.

Menjadi Wirawasta di Jakarta
Wimar tercatat mengajar di almamaternya hanya antara tahun 1975-1982, sebagai Dosen Pasca Sarjana Program Transportasi ITB dan Dosen Magister Manajemen dan Bisnis Administrasi Teknologi ITB. Di tingkat S-1, lulusan teknik elektro ini malah disuruh mengajar di Jurusan Teknik Industri.

Wimar dan istri boyongan pindah ke Jakarta. Wimar berhenti menjadi dosen di Bandung. Statusnya sebagai pegawai negeri digantikan istri yang dokter spesialis syaraf, di RSCM Jakarta. Suvat pindah ke RS Fatmawati Jakarta Selatan untuk menjabat Kepala Bagian Syaraf. Sebelum akhir hayat, Suvat tetap berpraktek di paviliun rumahnya yang asri, di Jalan Madrasah, Cipete, Jakarta Selatan. Suvat juga menangani pasien di RS Pondok Indah, Jakarta Selatan.

Di Jakarta, Wimar mencoba berbagai profesi. Ceritanya, ia menjadi wiraswasta. Wimar pernah dan masih memimpin sejumlah perusahaan. Wimar pernah menjadi konsultan, pengusaha real estate, keuangan, jual beli komputer, pelayanan audio visual yang menyuplai film ke sejumlah stasiun TV asing, termasuk mendirikan perusahaan modal ventura namun harus bubar karena seorang partner bisnisnya keburu menjadi menteri. Lain-lain usaha juga diterjuni Wimar.

Di Jakarta, Wimar juga pernah menjadi dosen tamu di Institut Manajemen Prasetya Mulya (1982-1993). Ia juga pernah Direktur Eksekutif Summa Exellence Institute (1990-1991). Karena ketika masih menjadi dosen ITB, Wimar sudah nyambi sebagai konsultan manajemen, pas keluar dari ITB profesi konsultan secara pribadi itu diteruskan dengan menggunakan bendera perusahaan orang lain. Klien utamanya antara lain Bank Dunia dan ADB.

Menggunakan bendera perusahaan orang lain, kendati dibayar, akhirnya Wimar berpikir mendingan bikin bendera sendiri. Berdirilah PT InterMatrix Bina Indonesia, di tahun 1986, untuk mengerjakan sejumlah studi dan konsultansi manajemen.

Lalu sekoyong-koyong saja, Wimar sejak tahun 1994 masuk televisi membawakan acara talkshow “Perspektif”. Dukungan masyarakat terdahap acara itu cukup mengagetkan Wimar. Pekerjaan konsultannya di InterMatrix Bina Indonesia sempat menjadi terbengkalai. Bahkan, satu dua tahun pernah nggak punya uang.

Wimar lalu melihat peluang pekerjaan baru. Ia bisa melakukan jasa public relation (PR). Ia lalu membikin perusahaan PR PT InterMatirx Communication, bergerak di bidang komunikasi. Sedangkan PT InterMatrix Bina Indonesia tetap sebagai perusahaan konsultan manajemen.

InterMatrix Communication semakin serius ditekuni Wimar selepas tugas profesional kenegaraannya sebagai Juru Bicara Kepresidenan. Perusahaan yang memiliki tak kurang 25 tenaga prosesional ini memiliki sejumlah klien besar. Jasanya antara lain melakukan public relation dan komunikasi untuk perusahaan-perusahaan, orang-orang dan isu-isu. Wimar beruntung pernah menjadi demonstran dengan kemampuan komunikasi yang baik. Kemampuan sebagai komunikator itulah yang dikelolanya menjadi business entity baru yang menjanjikan.

Serba mengagetkan, memang. Sama kagetnya dengan kepercayaan Deakin University, Asutralia, yang mengangkat Wimar Witoelar menjadi Guru Besar bergelar Profesor di bidang Jurnalis dan Public Relation, setelah tahun 2002 Wimar hadir di situ sebagai dosen tamu.e-ti/ht-ms

***TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here