03 | Pemandu Talkshow Perspektif

Wimar Witoelar
Wimar Witoelar

Wimar Witoelar menyebutkan kemunculannya di televisi membawakan acara talkshow “Perspektif” tahun 1994 sebagai sekoyong-koyong. Bermula, saat Wimar pimpinan perusahaan konsultan manajemen PT InterMatrix Bina Indonesia yang sedang dimintakan nasehat profesional bagaimana membenahi manajemen stasiun televisi SCTV.

Wimar, salah satunya menyarankan agar SCTV membuat acara khas yang bagus. Tak harus serius tapi bisa menghibur dan tetap berbobot. Ia memberi contoh acara kesukaanya di CNN, “Larry King Show”. Persoalan baru timbul siapa orang Indonesia yang harus menjadi Larry King-nya. Dan biasa, sebagaimana ia pernah mencalonkan diri sebagai presiden tahun 1978 dalam sebuah demonstrasi mahasiswa ITB Bandung, dengan spontan bernada jenaka, Wimar menawarkan diri.

Nama Wimar lalu lekat dengan “Perspektif”, muncul seminggu sekali tiap hari Sabtu sore. Modalnya adalah kepandaian berbicara semasa dahulu aktivis kampus. Ia mengundang nara sumber dari semua strata sosial ekonomi politik budaya dan bahasa. Ia tampil penuh kesantaian dan sarat canda. Kelihaiannya bertanya dan beretorika dengan nara sumber untuk tiba pada jawaban yang diharapkan, itu memberikan hasil akhir kritikan-kritikan tajam atas berbagai kepincangan yang tak disadari ternyata ada di lingkungan sekitar. Wimar ternyata tetap senang protes.

Wimar Witoelar dan Perspektif-nya telah membuka wacana yang mencerahkan alam pikir bangsanya dengan kritis, tajam, ceplas-ceplos juga penuh humor. Namun, tahun 1995, Perspektif dibredel karena dianggap mendiskreditkan pemerintah Orde Baru.
Lantas dia merintis kembali talk show Perspektif Live, yang bergerak dari satu kota ke kota lain. Kemudian menggelar Perspektif Baru lewat perusahaan jasa komunikasi dan public relations yang dipimpinnya, Inter Matrix Communication.

Tidak hanya pada era orde baru acara talk show yang dipandu Wimar dibredel. Pada awal reformasi, saat itu (Agustus 1998) Dialog Aktual di Indosiar dibredel di tengah-tengah penayangan karena secara tajam mengeritik pemerintahan Presiden BJ Habibie.

Wimar menekuni karir profesional medianya lewat talkshow yang sukses Perspektif di SCTV dan Selayang Pandang di Indosiar yang memenangkan hadiah Panasonic Television National Awards tahun 1997 dan 1999 sebagai pemandu talkshow pria terkemuka. Kegiatan-kegiatan lainnya di media cetak, mencakup kolumnis Asal Usul di Kompas, kolumnis kartun di majalah Humor, dan kolumnis bisnis di tabloid Kontan.

Lalu, Wimar yang senang mengeritik pemerintah, sempat masuk Istana Kepresidenan. Presiden KH Abdurahman Wahid, Oktober 2000, mengangkatnya sebagai Ketua Tim Media/Juru Bicara Kepresidenan. Namun tak lama kemudian, Wimar mundur dari pemerintahan seiring dengan jatuhnya Wahid alias Gus Dur dari kursi presiden.

Wimar telah menulis sejumlah buku termasuk bukunya yang terkenal, ditulis dalam bahasa Inggris, No Regrets (Tiada Penyesalan), sebuah kenangan bagi hari-harinya bersama Gus Dur. Buku itu diterbitkan oleh Equinox Publishing dan dapat ditemui di amazon.com. Buku itu laris di Jakarta, Singapura, Melbourne, Sydney, New York dan Washington DC.

Buku-bukunya sebelumnya (dalam bahasa Indonesia), termasuk, Menuju Partai Rakyat Biasa dan Mencuri Peluang di Tengah Kebingungan dan buku pertamanya menyangkut komunikasi Perspektif, jadi dasar talk show di televisi.

Nara Sumber Media Asing
Wimar kembali sebagai orang swasta sejak tahun 2001, usai meninggalkan Istana Presiden. Kerja untuk masyarakat dianggapnya sudah cukup panjang dilakoni antara tahun 1963-2001. Ia kini istirahat dari isu-isu besar, lebih berpaling ke dalam memenahi perusahaan dan menata kehidupan rumah tangga usai ditinggal istri tercinta Suvatchara yang meninggal dunia tahun 2003 karena kanker. Wimar menajalani masa transisi dalam banyak hal. Wimar hanya akan bicara dan protes di ruang-ruang kosong yang tak diisi oleh orang lain.

Advertisement

Wimar kemarin-kemarin telah dengan baik memainkan peran sebagai seseorang yang berperan di lapangan yang kosong. Jaman Presiden Soeharto di mana tidak ada orang yang berbicara beda dengan rejim, sehingga apapun yang dibicarakan Wimar yang berbeda dengan pendapat rejim itu sudah dianggap berarti. Karena itu, kalau sekarang Wimar masih bicara demokrasi, itu sudah tidak aneh lagi sebab semua orang sudah bebas bicara demokrasi.

Wimar masih akan tetap berbicara berbeda. Hanya saja itu, ia munculkan di ruang-ruang kosong. Seperti ketika tak seorang pun membahas dan berbicara tentang kejadian tabrakan beruntun di Pintu Tol Cibubur Jagorawi, selepas kepergian rombongan Presidenan Susilo Bambang Yudhoyono, sekoyong-koyong artikel Wimar muncul di harian Kompas. Ia berbicara tajam mengkritisi kejadian itu.

Wimar mengibaratkan, jika dulu ia turun bermain bola sebagai penyerang tengah seperti hanya Kurniawan Dwi Julianto, kini Wimar hanya sebagai pemain cadangan itu pun tak usahlah diturunkan sebab sudah banyak pemain-pemain muda yang bagus.

Yang tak berbeda dari Wimar dahulu dengan sekarang adalah dia dia selalu ingin berada pada tempat dan situasi yang diperlukan. Belakangan, suaranya diperlukan nyaring di luar negeri. Suara Indonesia di luar negeri paling santer berasal dari Wimar. Jika saja ditanyakan ke stasiun televisi BBC, European Channels, ABC Australia dan Singapura, siapa yang bisa diwawancarai di Indonesia, itu jawabannya masihlah Wimar Witoelar. Tapi di sini sengaja tidak mau tampil berdebat dengan orang yang memang pekerjaannya berdebat. “Jadi, saya ingin berada di mana kita diperlukan,” kata Wimar.

Jika politisi kawakan AM Fatwa menyebutkan ada kecocokan Wimar Witoelar dengan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur sama-sama ‘badut’, karena keduanya selalu mampu tampil jenaka untuk mencairkan kebekuan suasana, sesungguhnya Wimar memang sangat mengagumi Gus Dur yang pro demokrasi. Bahkan disebutnya Gus Dur sebagai Bapak Demokrasi Indonesia. Wimar terpanggil menjadi Juru Bicara Kepresidenan ketika Gus Dur sedang kesulitan pada tahun 2000. Wimar datang untuk membantu tidak pada waktu terpilih baru Oktober 1999.

Sangat konsisten, Wimar dengan Gus Dur sama-sama membela demokrasi. Setelah tidak lagi bertemu Gus Dur karena arenanya sudah berbeda, Wimar sekarang merasa membela demokrasi dengan cara membantu rekan-rekan mudanya pekerja di InterMatrix Communication untuk bisa bekerja secara etis dalam masyarakat yang demokratis. Wimar memastikan dirinya tak pernah berubah konsisten membela demokrasi dengan mengedepankan isu pluralisme, hak asasi manusia, dan anti militerisme.

Ibarat supir angkot ia tetaplah supir angkot yang bergerak sesuai permintaan penumpang, apakah itu narik di Condet, Kelapa Gading atau Jagakarsa, ia tetaplah supir. Masyarakat saja yang berubah. Ketika dahulu perlu orang anti Soeharto maka dideveloplah orang seperti dirinya diperlukan.

Atau ketika jadi mahasiswa Wimar melakukan apa yang harus dilakukan mahasiswa. Belajar. Tapi, ketika negaranya tak beres, ia lalu protes sama rektor. Rektornya juga tak beres, ia protes sama negara. Terus Soeharto naik dan Wimar mengharapkan demokrasi bisa tumbuh sehingga mau studi di luar negeri supaya sekolahnya selesai. “Sejauh itu saya biasa saja melakukan apa yang saya perlu lakukan,” kata Wimar.

Wimar adalah Wimar
Sekarang Wimar merasa dirinya diperlukan sebagai orang professional dalam hal public relation. Ia saat ini adalah komunikator yang bisa menyajikan suaranya di luar negeri di seminar-seminar dan diwawancara media massa.

Wimar menyebutkan dirinya gini-gini saja. Dari dulu juga begini. Jika dibilang dulu memperjuangkan rakyat sekarang nggak, Wimar meluruskan dari dulu juga dia nggak memperjuangkan rakyat. “Saya hanya memperjuangkan diri sendiri,” kata Wimar. “Yaitu ketenangan jiwa saya, bahwa saya melakukan hal yang tidak merugikan rakyat,” kata Wimar. Sekarang Wimar juga begitu. Jadi baginya nggak ada perubahan. Cuma saja suatu saat, ia di Istana, suatu saat saya di Jalan Fatmawati, suatu saat di luar negeri. “Tapi, I’m always what I’m. Saya selalu gini.”

Wimar memastikan tak menyesal masa kepresidenan Gus Dur singkat saja. Ia hanya sedih Gus Dur tak punya cukup waktu untuk merealisasikan visi dan wacana demokrasi dari kursi kepresidenan. Namun dalam waktu sesingkat itu Wimar sangat bangga berada bersama Gus Dur sebagai orang yang melemparkan visi dan wacana demokratisasi, plurasime, hak asasi manusia, anti militerisme, dan kebebasan pers kepada masyarakat.

Wimar masih mampu bersyukur berujar alhamdulillah, visi itu begitu kuatnya bergetar sehingga berkembang terus melalui cara-cara di luar institusi terutama di luar negeri. Karena, kebetulan usai kejatuhan Gus Dur, kita lalu masuk ke dalam situasi pasca September Eleven (11/9-2001) kontra terorisme. Islam di negara Barat di cap sebagai teroris radikal. Wimar ikut menyertai perjalanan Gus Dur yang sudah tidak lagi Presiden, ke AS untuk memberikan pesan mengenai Islam yang moderat. “Jadi, saya bangga akan hal-hal itu,” ucap Wimar.

Wimar sedih bahwa pemerintahan Gus Dur tak efektif, tidak berhasil dan akhirnya tumbang. Tumbangnya Gus Dur itu proses politik yang kita harus terima saja. “Kaya main bola ya kalah, gitu. Sedih kita kalah, tapi ya kalah nggak apa-apa,” kata Wimar yang hobi nonton bola sehingga seringkali menganalogikan lakon kehidupan ini ke dalam frame permainan sepakbola.

Wimar merasa harus menulis buku untuk mempertegas sikap tidak menyesal berada bersama seseorang yang demokrat, judulnya pun diberi “No Regrets”. “Setiap Hari Raya Imlek kita ingat kapan itu mulainya. Setiap kita lihat TNI berusaha memperbaiki diri kita tahu jaman Jenderal Wiranto dicopot,” kata Wimar mengurai sedikit keberanian langkah politis Gus Dur, termasuk membubarkan Departemen Penerangan dan Departemen Sosial.

Awal-awal demokratisasi semua banyak dilakukan di jaman Gus Dur, dan sesudahnya sudah menjadi tanggung jawab seluruh masyarakat untuk memelihari demokratisasi dan pluralisme dimaksud.

Sebagai Juru Bicara Kepresidenan, Wimar banyak bersuara tentang keberhasilan Pemerintahan Gus Dur. Tapi sesering itu pula pers, waktu itu, kata Wimar, sangat berat sebelah. Waktu Gus Dur hendak jatuh, Wimar yang sedang berada di Australia diminta untuk jangan pulang. Sebab di situ, Wimar melakukan press conference beberapa kali dan setiap hari muncul TV menjelaskan bahwa Gus Dur yang jatuh dia adalah pencetus demokrasi di Indonesia.

“Jadi orang yang tahu, yang ingin tahu mengenai demokrasi, tahulah bahwa dia itu Bapaknya Demokrasi. Orang yang nggak mau tahu ya memang hak mereka untuk mempunyai kesan lain,” kata Wimar tentang mantan bos sekaligus sahabatnya itu.

Walau bukan Juru Bicara Gus Dur dan memang tak pernah menjadi Juru Bicara Gus Dur, di setiap kesempatan jika tersedia Wimar rajin mewacanakan visi demokratisasi dan pluralisme dari GusDur. “Karena kita harus menjalankan peran kita di masyarakat secara konstruktif,” kata Wimar. Ia menyebut dirinya bukan ahli sejarah. Juga tidak merasa bertugas untuk membela Gus Dur, karena dia memang tidak perlu dibela.

Wimar Dicari
Setelah kehilangan istri tercinta banyak pertanyaan ke mana Wimar. Ia ternyata lebih banyak terlibat menjalankan bisnis komunikasi PR PT InterMatrix Communication. Dia masih ingin menghindari beban emosi yang terlalu berat. Ia ingin jauh dari politik.

Wimar mau mengerjakan pekerjaan yang tenang-tenang saja dulu sementara ia mencari keseimbangan hidup. “Karena saya belum pengalaman hidup tanpa istri,” kata Wimar.

Walau tak ke mana-mana, Wimar masih saja sangat percaya bahwa demokrasi itu sederhana. Jadi nggak usah bilang itu rumit dan harus gini-gitu. Demokrasi, itu intinya satu sikap. Dan prasyarat demokrasi adalah pluralisme.

“Karena bagaimana kita mau demokrat kalau kita membedakan orang atas dasar asal usul, etnis, agama dan sebagainya. Bagaimana kita bisa berdemokrasi kalau kita membiarkan oknum-oknum tentara melanggar hak asasi. Bagaimana kita bisa berdemokrasi kalau sebagian orang boleh mencuri dana publik dari orang lain. Jadi dari demokrasi lahir pengertian anti korupsi, hak sipil, pluralisme.

Sederhana. Jadi kalau ada orang Cina jangan dimaki. Kalau ada orang India juga jangan di cemoohkan. Kalau orangnya nggak benar kita bilang nggak benar. Tapi nggak usah dijadikan sesuatu sentimen rasial atau agama. Itu yang paling penting. Karena hal-hal lain seperti pembangunan ekonomi, itu adalah yang akan terjadi di mana pun,” urai Wimar.

Buktinya, jaman Soeharto yang diktator ekonomi jalan. Di India demokrasi ekonomi jalan. Jadi jangan demi ekonomi kita mengorbankan hak sipil. Demi ekonomi mendahulukan pribumi terhadap keturunan. Wimar sangat tidak setuju akan hal itu. Ekonomi harus berjalan di atas landasan yang jujur. Karena, Wimar bilang, sederhana ya segitu saja nggak perlu diperpanjang-panjang.

Keinginan Wimar menjauh dari politik dibuiktikannya pada Pemilu 2004. Walau banyak sekali panggilan-panggilan untuk ikut berkampanye, Wimar memilih untuk tidak ikut. Ia hanya sekali saja nongol. Itupun karena persahabatannya dengan Gus Dur dan SBY. Waktu itu di Sidoarjo tapi SBY-nya sendiri tidak datang.

Terus pada waktu pembentukan kabinet pun, Wimar masih diajak ikut-ikut. Tapi Wimar malah ngumpet-ngumpet. Hal itu betul, karena Wimar merasa ia masih berada dalam transisi pribadi. Dua tahun ini, ia sendiri. Belum lagi semakin banyak kerjaan di perusahaan mampu melarutkannya terhindar dari rasa kesepian. “Saya merasa lebih segar di sini saja, dengan kawan-kawan saya yang muda-muda ini,” ucap Wimar menunjuk stafnya di InterMatrix Communication.

Namun, dalam kesendirian itu, dia tetap berperan sebagai juru bicara demokrasi. Di perusahaan itu, Wimar bukan hanya melakukan pekerjaan PR dan konsultansi komunikasi. Ia juga menjalankan program pemerhatian sosial melalui Perspektif Baru.

Voter Education, misalnya, pendidikan pemilih menjelang Pemilu, kemudian juga wawancara mengenai berbagai topik. Dengan koran-koran daerah tiap minggu ada saja wawancara Perspektif Baru. Darah keprihatinan sosial Wimar sangat kuat di InterMatrix. Mereka bekerja keras dan profesional supaya pekerjaan bernada keprihatinan sosial itu tidak usah disubsidi, apalagi jangan sampai menggunakan dana politik.

Semakin Lebih Arif
Bertambahnya umur dan semakin panjangnya pengalaman hidup membuat Wimar bisa semakin arif memaknai kehidupan. Sebagai missal, Wimar telah beberapa kali sakit. Satu kali di antaranya hampir meninggal. Istrinya juga meninggal tahun 2003, lalu kakaknya meninggal. Wimar melihat ada keterbatasan umur orang. Karenanya, Wimar mulai tidak mau bikin rencana dalam ukuran 100 hari atau 5 tahun. Tetapi berbuat baik tiap hari. Dijalani saja mengalir dan jangan menangguhkan.

“Kalau mau berbuat baik dari sekarang saja. Jangan cari duit dulu baru berbuat baik. Dari sekarang saja,” kata Wimar yang setiap langkah demi langkahnya dicoba dijalankannya secara etis. Dan itu menyenangkan juga. Karena tidak selamanya Wimar begini. Waktu Wimar mahasiswa ambisiusnya tinggi sekali untuk ikut memperbaiki negara. Sesudah dicobanya selama 30 tahun beginilah hasilnya.

“Tambah baik tambah jelek saya nggak tahu,” kata Wimar enteng. Dia memang tipe manusia yang easy going, bukun menyepelekan tetapi mengalir laksana air. “Begitu kata orang,” kata Wimar, dan dipastikannya lagi, “Ya. Karena saya sendiri terus terang saja tidak punya tujuan komersil di sini,” kata Wimar menunjuk InterMatrix Communication.

Kearifan lain yang ditemukan Wimar sepeninggal istrinya adalah kesimpulan bahwa pernikahan itu adalah ujung dari satu proses yang kita jalankan juga secara mengalir. Bagi Wimar, istri adalah pelembagaan dari partnership yang kita harus jalankan dan kita uji.

Wimar tidak anti untuk tidak menikah lagi, tetapi juga tidak harus menikah. Apalagi dengan keluarga harus ada sinkronisasi. Wimar yang dijuluki Duren alias duda keren’, menganggap lebih penting kebahagiaan anak-anak yang hidupnya masih jauh lebih panjang. “Saya menderita beberapa tahun nggak apa-apa, karena sudah senang sekian puluh tahun,” kata Wimar.

Wimar menganggap istrinya orang yang sangat sempurna yang tak akan ada gantinya. “Tapi berteman oh, jangan dibilang Wimar tidak mau berkenalan dengan wanita, please, ngopi di Citos,” katanya merujuk kepada mall Cilandak Town Square, radius arena permainan Wimar sehari-hari, lalu Pondok Indah Mall dan kantornya di Jalan Fatmawati, Jakarta Selatan.

Wimar akhirnya memberikan juga komentarnya tentang kondisi sosial politik terbaru khususnya tentang Pemerintahan SBY-JK. Ia mengawali komentarnya terhadap situasi penataan politik saat ini yang telah terwujud berkat adanya Pemilu-Pemilu yang demokratis. Itu yang harus dipegang lebih penting, daripada hasilnya.

Wimar menyebutkan pada Pemilu tidak bisa dukung salah satu calon presiden karena dodol semua. Pemilunya sih oke dalam pandangan Wimar. Kepada setiap orang saran Wimar adalah pilih saja siapa yang paling Anda sukai atau paling sedikit Anda tidak sukai. Karena ibarat pompa air kalau baru jangan harapkan begitu dijalankan keluar air jernih. Harus keluar lumpur dulu, cacing, kecoa dan sebagainya.

Pemilu pertama juga begitu. Tapi kalau kita terus rajin lama-lama akan keluar yang bersih. “Sekarang kita membuat Pemilu, membuat presiden yang punya keistimewaan, start kuat, kemudian wuuu…ut begitu ya, turun terus. Tapi biarin saja. Karena sekarang adalah test untuk masyarakat bagaimana menanggapi pemerintah yang begitu,” katanya.

Menurut Wimar, pemerintah ini tidak jalan tapi tidak usah diapa-apakan. Yang sekarang harus jalan masyarakatnya. Seperti, apa betul sih kita selalu perlu pemerintah? Sebab banyak sekali kegiatan kita yang tidak memerlukan pemerintah. Pemerintah diperlukan untuk pekerjaan besar, seperti memberantas korupsi dan sebagainya. Tapi, kalau semua mengurusi pemberantasan korupsi lalu siapa yang ngurusin kerjaan sehari-hari.

Wimar berprinsip biarlah beberapa orang menanggapi pemerintahan itu. Atau, orang seperti Wimar menanggapinya setiap ada isu yang perlu ditanggapi saja. “Saya ngomong, sih, kalau orang lain nggak ngomong,” kata Wimar memberi contoh artikelnya pernah keluar di harian Kompas mengenai tabrakan Jagorawi. Wimar ngomong soal itu karena nggak ada yang ngomong. “Tapi kalau orang lagi ramai-ramai ngomongin sesuatu, nggak usah ngeroyok, gitu. Karena kita perlu membagi diri,” kata Wimar.

“Jadi menurut saya, pandangan saya terhadap pemerintah ini, kita amati dia terutama melalui pers bagaimana kelanjutannya. Tapi kita juga berusaha untuk bekerja secara produktif supaya paling tidak di Pemilu yang akan dating, kita punya pilihan yang lebih baik,” tutur Wimar. e-ti/ht-ms

Data Singkat
Wimar Witoelar, Juru Bicara Kepresidenan Indonesia (1999–2001) / Kepala Juru Bicara Demokrasi | Ensiklopedi | Wartawan, ITB, Dosen, kolumnis, penulis, presenter, juru bicara, talkshow

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here