Pembebas Kata dari Belenggu

[ Sutardji Calzoum Bachri ]
 
0
88
Sutardji Calzoum Bachri
Sutardji Calzoum Bachri | Tokoh.ID

[ENSIKLOPEDI] Lewat sajak-sajaknya seperti O, Amuk, dan Kapak, peraih Penghargaan Sastra Chairil Anwar ini menerobos makna kata, jenis kata, bentuk kata, dan tata bahasa sehingga lahir karya otentik yang bebas dari belenggu. Pembaharuan yang dilakukannya terhadap puisi Indonesia modern juga ia tunjukkan di atas panggung dengan gayanya yang “unik”. Kadang kala ia jumpalitan di atas panggung bahkan sambil tiduran dan tengkurap.

Sutardji Calzoum Bachri lahir di Rengat, Riau, pada 24 Juni 1941. Setamat SMA, putra pasangan Mohammad Bachri dan May Calzoum ini melanjutkan studinya sampai tingkat doktoral, Jurusan Administrasi Negara, Fakultas Sosial Universitas Padjadjaran, Bandung. Saat masih menjadi mahasiswa di kota berjuluk Kota Kembang itulah, anak kelima dari sebelas bersaudara ini merintis karirnya di dunia sastra diawali dengan menulis di berbagai media massa. Ia mengirimkan sajak-sajak dan esai karangannya ke berbagai media massa di Jakarta, seperti Sinar Harapan, Kompas, Berita Buana, majalah Horison, dan Budaya Jaya. Ia juga mengirimkan sajak-sajaknya ke surat kabar lokal, seperti Pikiran Rakyat di Bandung dan Haluan di Padang. Sejak itulah, nama Sutardji Calzoum Bachri mulai diperhitungkan sebagai seorang penyair.

Gelar ‘Presiden Penyair Indonesia’ bahkan disematkan padanya. Menurut para seniman di Riau, kemampuan Soetardji laksana rajawali di langit, paus di laut yang bergelombang, kucing yang mencabik-cabik dalam dunia sastra Indonesia yang sempat membeku dan membisu setelah kepergian pujangga besar Chairil Anwar.

Menurut Bung Tardji, demikian sapaan akrabnya, menulis baginya adalah panggilan alam. Ia mengakui bahwa di saat menulis ia bisa merasakan kebebasan. Pria yang karyanya sudah banyak diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa ini juga berkomentar mengenai perkembangan sastra di Indonesia. “Memang telah terjadi perkembangan yang cukup besar dalam ruang sastra di Indonesia, khususnya dari para sastrawangi,” kata Bung Tardji dengan suara serak. “Kaum perempuan sekarang sudah lebih berani tampil dan dalam seksualitas. Mereka banyak melakukan perlawanan terhadap maskulinitas,” ucapnya menambahkan.

Menulis baginya adalah panggilan alam. Ia mengakui bahwa di saat menulis ia bisa merasakan kebebasan.

Dalam kredo puisinya yang terkenal (30 Maret 1973), Sutardji memaparkan lebih dalam tentang pemahamannya akan kata-kata, “Dalam puisi saya, saya bebaskan kata-kata dari tradisi lapuk yang membelenggunya seperti kamus dan penjajahan lain seperti moral kata yang dibebankan masyarakat pada kata tertentu dengan dianggap kotor (obscene) serta penjajahan gramatika. Bila kata dibebaskan, kreativitaspun dimungkinkan. Karena kata-kata bisa menciptakan dirinya sendiri, bermain dengan dirinya sendiri, dan menentukan kemauan dirinya sendiri. Pendadakan yang kreatif bisa timbul, karena kata yang biasanya dianggap berfungsi sebagai penyalur pengertian, tiba-tiba, karena kebebasannya bisa menyungsang terhadap fungsinya. Maka timbullah hal-hal yang tak terduga sebelumnya, yang kreatif.”

“Dalam (penciptaan) puisi saya, kata-kata saya biarkan bebas dalam gairahnya karena telah menemukan kebebasan, kata-kata meloncat-loncat dan menari di atas kertas, mabuk dan menelanjangi dirinya sendiri, mundar-mandir dan berkali-kali menunjukkan muka dan belakangnya yang mungkin sama atau tak sama, membelah dirinya dengan bebas, menyatukan dirinya sendiri dengan yang lain untuk memperkuat dirinya, membalik atau menyungsangkan sendiri dirinya dengan bebas, saling bertentangan sendiri satu sama lainnya karena mereka bebas berbuat semaunya atau bila perlu membunuh dirinya sendiri untuk menunjukkan dirinya bisa menolak dan berontak terhadap pengertian yang ingin dibebankan kepadanya.”

Untuk mempertajam kemampuan menulisnya, pada musim panas 1974, ia mengikuti Poetry Reading International di Rotterdam. Terhitung sejak Oktober 1974 hingga April 1975, Sutardji mengikuti seminar International Writing Program di Iowa City, Amerika Serikat, bersama Kiai Haji Mustofa Bisri dan Taufiq Ismail. Empat tahun kemudian di tahun 1979, Sutardji Calzoum Bachri diangkat menjadi redaktur majalah sastra Horison. Setelah bertahun-tahun bekerja, Sutardji akhirnya memutuskan untuk keluar dari Horison. Pada tahun 2000 hingga 2002, ia menjadi penjaga ruangan seni “Bentara”, terutama menangani puisi pada harian Kompas.

Karyanya yang pertama dibuat pada tahun 1973 dengan judul O. Tiga tahun setelah dipublikasikan, sajak tersebut mendapat Hadiah Puisi DKJ. Karya Sutadji lainnya adalah Amuk (1977), Kapak (1979), kemudian pada tahun 1981, ketiga buku kumpulan pusinya itu digabungkan dengan judul O, Amuk, Kapak yang diterbitkan oleh Sinar Harapan. Ada pula kumpulan esai berjudul Isyarat, dan kumpulan cerpen berjudul Hujan Menulis Ayam. Sementara itu, esainya berjudul Gerak Esai dan Ombak Sajak Anno 2001 dan Hujan Kelon dan Puisi 2002 mengantar kumpulan puisi “Bentara”.

Selain itu, sejumlah puisinya telah diterjemahkan Harry Aveling dan dimuat dalam antologi berbahasa Inggris: Arjuna in Meditation (Calcutta), 1976 ; Writing from the World (Amerika Serikat) ; Westerly Review (Australia) dan dalam dua antologi berbahasa Belanda: Dichters in Rotterdam (Rotterdamse Kunststichting, 1975) dan Ik wil nog duizend jaar leven, negen moderne Indonesische dichters (1979

Di dunia persajakan, ia dikenal dengan ciri khas gayanya yang “edan” saat membacakan puisi yang berbeda dari penyair kebanyakan. Kadang kala ia jumpalitan di atas panggung, bahkan sambil tiduran dan tengkurap. ”Setiap orang harus membikin sidik jarinya sendiri, karakternya sendiri. Biar tak tenggelam dan bisa memberi warna,” kata pujangga nyentrik ini.

Lewat karya-karyanya, suami Mariham Linda ini banyak meraup penghargaan. Pada tahun 1979, ia dianugerahi hadiah South East Asia Writer Awards di Bangkok, Thailand atas prestasinya dalam dunia sastra. Kemudian di tahun 1988, ia mendapat penghargaan tertinggi dalam bidang kesusastraan di Indonesia yakni Penghargaan Sastra Chairil Anwar yang sebelumnya diraih Mochtar Lubis.

Ayah satu putri bernama Mila Seraiwangi ini juga kerap mendapat undangan dari berbagai negara. Ia pernah menghadiri Pertemuan International Para Pelajar di Bagdad, Irak ; membaca puisi di Departemen Keuangan Malaysia atas undangan Menteri keuangan Malaysia, Dato Anwar Ibrahim ; mengikuti berbagai pertemuan Sastrawan ASEAN ; Pertemuan Sastrawan Nusantara di Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam ; serta membaca puisi di Festival Puisi International Medellin, Columbia, pada tahun 1997. eti | muli, mlp

Data Singkat
Sutardji Calzoum Bachri, Penyair / Pembebas Kata dari Belenggu | Ensiklopedi | penyair, redaktur, pembaharu, Universitas Padjajaran

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here