Politisi Ekonom Bernurani

 
0
71
Hendrawan Supratikno
Hendrawan Supratikno | Tokoh.ID

[ENSIKLOPEDI] Prof. Hendrawan Supratikno MBA., Ph.D, Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Satya Wacana, Salatiga yang juga mengajar di jurusan manajemen Fakultas Ekonomi UI dan Institut Bisnis Indonesia, ini lahir di Sidareja Cilacap, Jawa Tengah, 21 April 1960. Setelah 25 tahun mengajar di USW,dia terpilih menjadi Anggota DPR-RI (2009-2014) Fraksi PDI-P dari Daerah Pemilihan Jawa Tengah X . Ekonom ini menjadi seorang politisi yang memberi penguatan kualitas wakil rakyat di parlemen.

Di DPR (No Anggota A-372), dia menjadi Anggota Komisi VI DPR (2009-2014) yang membidangi Perdagangan, Perindustrian, Investasi, Koperasi, UKM, BUMN dan Standarisasi Nasional. Dia juga aktif sebagai Anggota Panitia Khusus (Pansus) Hak Angket Bank Century DPR, 2010 dan Anggota Tim Pengawas Kasus Bank Century DPR. Peraih gelar doktor dari Tinbergen Institute, Belanda (1998), perguruan tinggi yang didirikan oleh Jan Tinbergen (pemenang Nobel Ekonomi, 1969), itu selalu bersuara dengan pandangan-pandangan yang aspiratif terutama tentang perekonomian rakyat.

Dia memaparkan adanya jarak lebar antara semangat “membela yang benar” dengan fakta “membela yang bayar”; antara “jalan pantas” dan “jalan pintas”, atau antara “transformasional” dan “transaksional”.Tahun 2010, di tengah kesibukannnya sebagai anggota DPR, dia pun menulis buku berjudul: ‘Ekonomi Nurani VS Ekonomi Naluri’ yang diterbitkan Yayasan Obor Indonesia. Buku setebal 400 halaman ini menyiratkan dilema yang selalu dihadapi bangsa ini, yaitu tarik-menarik antara apa yang seharusnya (das sollen), dan sesungguhnya apa yang terjadi (das sein), antara desiderata dan realita. Hal mana pada dataran normatif, berbicara tentang hal-hal yang ideal, tak bercacat, dan bermain dalam imajinasi solusi yang abstrak. Namun, kenyataan sering menunjukkan wajah yang sebaliknya, wajah yang sesungguhnya ingin dihindari. Dia memaparkan adanya jarak lebar antara semangat “membela yang benar” dengan fakta “membela yang bayar”; antara “jalan pantas” dan “jalan pintas”, atau antara “transformasional” dan “transaksional”. [1]

Kegelisahannya tentang kondisi bangsa dalam beberapa tahun terakhir ini, dituangkannya dalam kolom ‘Korupsi Telah Jadi Industri‘. “Dari begitu banyak persoalan yang membelit kehidupan bangsa, satu hal yang paling mencemaskan adalah kebiasaan kita berpura-pura. Tanpa kita sadari, kebiasaan buruk ini telah terinternalisasi sebagai bagian dari kompetensi kolektif kita sebagai bangsa,” tulisnya. Dia pun menyayangkan sistem yang tidak bekerja dengan baik, karena baru berfungsi dengan pelumas upeti. Penyimpangan telah menjadi aturan main, sumber rezeki dan way of life (pandangan hidup). Korupsi telah menjadi industri yang begitu menjanjikan. Bio TokohIndonesia.com | crs

Footnote:
[1] http://www.belbuk.com/ekonomi-nurani-vs-ekonomi-naluri-p-16643.html

Data Singkat
Hendrawan Supratikno, Anggota DPR-RI, 2009-2014 / Politisi Ekonom Bernurani | Ensiklopedi | Guru Besar, Ekonom, DPR, UI, PDI-P

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here