Politisi Jenderal yang Kalem

[ Wahono ]
 
0
518
Wahono
Wahono | Tokoh.ID

[ENSIKLOPEDI] Wahono, seorang jenderal (Letjen TNI Purnawirawan) dan politisi yang kalem, bersahaja, disiplin dan teguh pada prinsip. Pria kelahiran Tulungagung, Jawa Timur, 25 Maret 1925 itu menjabat Ketua DPR/MPR (1992-1997) setelah menjabat Ketua Umum DPP Golkar (1988-1993). Sebelumnya dia menjabat Gubernur Jawa Timur periode 1983-1988. Dia pejabat yang kurang suka upacara dengan sambutan berlebihan.

Politisi jenderal yang dicintai rakyat Jatim tersebut pernah menolak rumah dinas Gubernur Jawa Timur (Wisma Grahadi). Putra dari R. Soerodidjojo ini menamatkan pendidikan MULO di Kediri, 1941. Kemudian, dia mengawali karir militer pada zaman pendudukan Jepang, dimana dia masuk Peta dan memperoleh pendidikan militer Kanbu Kyoiku di Bogor, 1943. Lalu, pada 1945 bergabung dalam Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang merupakan cikal bakal TNI.

Dia pun mengasah diri dengan melanjutkan pendidikan SMA sore di Bandung, Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat, Bandung dan Sarjana muda Sospol Universitas Jayabaya (1976). Wahono adalah angkatan pertama Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) tahun 1962. Ia juga banyak bertugas dalam berbagai operasi militer.

Wahono menjadi salah satu kepercayaan Soeharto (Presiden RI Ke-2) saat menjabat Panglima Kostrad. Wahono menjabat sebagai Asisten II Kostrad (Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat). Setelah Soeharto menjabat Presiden, Wahono menggantikannya sebagai Penjabat Pangkostrad (1969–1970). Kemudian, dia menjabat Pangdam VIII/Brawijaya (1970–1972), lalu kembali ke Kostrad sebagai Panglima Kostrad (1972–1973), Pangkostranas (1973–1974), dan Deputi Kasad (1974–1977). Di tengah kesibukannya sebagai Deputi Kasad, dia masih menyempatkan kuliah di Universitas Jayabaya, hingga meraih gelar sarjana muda Sospol tahun 1976.

Tampaknya dia sudah mempersiapkan diri untuk terjun kejabatan politik (sipil) yang pada masa itu diistilahkan jabatan kekaryaan (dwifungsi ABRI). Pertama kali meninggalkan jabatan militer, dia diangkat (dikaryakan) menjabat Dubes RI di Burma dan Nepal (1977–1981). Setelah itu menjabat Dirjen Bea Cukai (1981–1983). Kemudian dia terpilih (pemilihan DPRD) menjabat Gubernur Jawa Timur (1983–1988).

Sebagai Gubernur Jawa Timur, yang bertugas sejak tanggal 26 Agustus 1983 sampai 26 Agustus 1988, dia cukup berhasil melaksanakan banyak program pembangunan untuk menyejahterakan masyarakat Jawa Timur. Setidaknya ada 11 masalah pokok dalam pembangunan yang mendapat perhatian di antaranya masalah kependudukan, ketenagakerjaan, swasembada pangan, prasarana pembangunan, kesehatan masyarakat maupun pendidikan, meningkatkan tarat hidup, kecerdasan, serta kesejahteraan masyarakat. (http://www.arsipjatim.go.id)

Pada tahun 1984, Jawa Timur mendapat penghargaan Prayojanakarya Pata Parasamya Purnakarya Nugraha dari Presiden Soeharto. Dia mengakhiri jabatan sebagai Gubernur Jawa Timur dengan prestasi cukup gemilang. Setelah itu, dia masuk dunia politik secara paripurna dengan menjabat Ketua Umum DPP Golkar (1988-1993). Posisi puncak elit Golkar tersebut mengantarnya menduduki jabatan puncak politik sebagai Ketua DPR/MPR (1992-1997).

Pembangunan bidang pertanian juga dilakukan dengan program intensifikasi, ekstensifikasi, diversifikasi juga rehabilitasi. Di bidang kewanitaan, melalui program P2W -KSS (Peningkatan Peranan Wanita menuju Keluarga Sehat Sejahtera) melalui PKK dan organisasi kewanitaan. Sehingga pada tahun 1984, Jawa Timur mendapat penghargaan Prayojanakarya Pata Parasamya Purnakarya Nugraha dari Presiden Soeharto. Dia mengakhiri jabatan sebagai Gubernur Jawa Timur dengan prestasi cukup gemilang.

Setelah itu, dia masuk dunia politik secara paripurna dengan menjabat Ketua Umum DPP Golkar (1988-1993). Posisi Ketua Umum Golkar tersebut mengantarnya menduduki jabatan puncak politik sebagai Ketua DPR/MPR (1992-1997). Dia menggantikan Kharis Suhud dan digantikan oleh Harmoko, yang juga melanjutkan kepemimpinan (Ketua Umum) DPP Golkar.

Selain itu, Wahono juga aktif dalam meningkatkan prestasi olahraga nasional. Antara lain, dia pernah menjabat Ketua Umum Persatuan Catur Indonesia (Percasi) pada 1982.

Atas berbagai tugas pengabdiannya, Wahono telah dianugerahi berbagai penghargaan, di antaranya sembilan bintang jasa dan 11 Satya Lencana. Bahkan, pemerintah Korea Selatan juga menganugerahkan penghargaan Order of National Security Merit Gugseon Medal, tahun 1977 kepadanya.

Wahono meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Pertamina pada 8 November 2004 pukul 16.05 WIB akibat sakit tenggorokan dan paru-paru. Dia meninggalkan seorang istri, Mintarsih Syahbandar yang dinikahinya pada 1951, dan dikaruniai enam anak, empat laki-laki dan dua perempuan dan cucu delapan orang.

Setelah jenazahnya disemayamkan di rumah duka Jalan Iskandarsyah II No 85 A Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, Selasa siang pukul 14.00 WIB, dalam upacara kebesaran militer. Penulis: Ch. Robin Simanullang | Bio TokohIndonesia.com

Data Singkat
Wahono, Ketua DPR/MPR (1992-1997) / Politisi Jenderal yang Kalem | Ensiklopedi | Jenderal, Pangkostrad, Ketua MPR, Gubernur, Pangdam, Ketua DPR, Dubes

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here