Politisi Negarawan, Plural & Relijius

[ Hatta Rajasa ]
 
0
73
Hatta Rajasa
Hatta Rajasa | Tokoh.ID

[ENSIKLOPEDI] Ir M Hatta Rajasa, seorang pengusaha dan CEO sukses yang kemudian berkonsentrasi jadi politisi. Sebagai politisi, dia gemilang! Sejumlah jabatan penting di partai, legislatif dan eksekutif diembannya. Di partai, dia mencapai puncak sebagai Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional (2010-2015). Dia pun telah menjabat empat jabatan menteri (Menristek, Menhub, Mensesneg dan Menko Perekonomian). Pria relijius penganut pluralisme dalam politik ini memang berobsesi menjadi politisi negarawan yang mendahulukan kepentingan bangsa. Diprediksi, dia akan tampil sebagai Capres atau Cawapres 2014.

Sebagai orang partai politik (politisi) yang duduk dalam kabinet, pria berambut perak kelahiran Palembang, 18 Desember 1953 ini, berupaya menjalankan peran secara optimal, tanpa terjadinya kemungkinan loyalitas ganda dan abuse of power, baik dalam posisinya secara bersamaan sebagai petinggi Partai Amanat Nasional (PAN) dan pejabat tinggi negara (menteri). Dia pernah menjabat Sekjen, Wakil Ketua Dewan Pertimbangan dan Ketua Umum DPP PAN, sekaligus pernah menjabat sebagai pejabat tinggi negara, mulai dari Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Republik Indonesia Kabinet Gotong-Royong, Menteri Perhubungan dan Menteri Sekretaris Negara Kabinet Indonesia Bersatu I dan Menteri Koordinator Perekonomian Kabinet Indonesia Bersatu II.

Bagi Hatta, “power is not our ultimate goal.” “Tujuan utama kita adalah mewujudkan Indonesia baru yang demokratis, berkeadilan, terbuka, dalam masyarakat majemuk yang saling menghormati,” kata Hatta Rajasa dalam percakapan dengan Wartawan TokohIndonesia.com, Ch. Robin Simanullang, Rabu 4 Desember 2002. Pernyataan ini sekaligus bermakna penegasan posisinya yang menjamin tidak akan terjadinya kemungkinan loyalitas ganda dan abuse of power, kendati dia tetap memegang jabatan partai saat bersamaan menjabat menteri. Dia menegaskan bukan karena keinginan diri pribadinya berkuasa, tetapi sebagai kader PAN ingin menganbdikan diri kepada bangsa.

Menurut Hatta, untuk dapat mencapai tujuan itu perlu dibangun dua sasaran utama. Pertama, empowering public, memberikan pemberdayaan kepada masyarakat di segala aspek, apakah itu hukum, sosial, ekonomi dan yang lain. Dan untuk dapat membangun itu, harus dimulai dengan adanya keberpihakan yang jelas akan kebijakan yang mendukung publik. Kedua. Good Government and Clean Government yang hanya dapat terbangun jika ada anggota-anggota parlemen yang selalu mengkritisi pemerintahan, tetapi sekali lagi, bukan untuk maksud menjatuhkan.

Jika diamati, ia tidak pernah bicara politik atau partai ketika berperan sebagai menteri. Ia selalu menempatkan posisinya pada konteks dan waktu yang tepat. Saat ia bekerja sebagai menteri, ia bicara mengenai bidang tugasnya sebagai menteri. Dan jika ia ke daerah, terutama Sabtu-Minggu – waktu yang benar-benar disediakannya untuk partai – ia bicara sebagai fungsionaris partai.

Prinsip ini dibenarkan oleh para pegawai di Kementerian Ristek, Perhubungan, Sekretariat Negara dan Menko Perekonomian. Bahwa sebagai menteri, ia tidak pernah bicara soal partai kepada mereka. Apalagi untuk mempengaruhi dan mengajak-ajak agar ikut mendukung partainya. “Apa yang saya kerjakan ini, orang menilai, oh begitu orang PAN kalau sudah menteri,” ujar mantan Ketua Senat Mahasiswa Institut Teknologi Bandung ini.

Dia memang tidak mau setengah hati terjun dalam dunia politik. Dia benar-benar konsentrasi di satu bidang. “Karena itu sifat saya. Kalau saya berusaha (bisnis), saya tidak mau bercampur dengan kegiatan lain. Begitu juga ketika masuk partai politik, saya konsentrasi dan juga tidak mau mencampur-baurkannya dengan usaha yang lain,” kata mantan Sekjen DPP PAN ini dalam percakapan dengan Wartawan TokohIndonesia.com, Rabu 4 Desember 2002. Memang, semua perusahaannya dijual setelah masuk partai dan menjadi Anggota DPR (1999-2000)..

Profesional dan konsentrasi penuh membuat kinerjanya menonjol. Ketika itu, walau masih sebagai pendatang baru di Senayan, dia langsung menonjol dalam loby politik. Sejak kecil, dia memang sudah terlatih bekerja keras, jujur, mandiri dan bekerjasama tanpa pandang bulu.Dia memerankan posisinya sebagai Ketua Fraksi Reformasi DPR (PAN dan Partai Keadilan) dengan amat baik. Sejak kecil, dia memang sudah terlatih bekerja keras, jujur, mandiri dan bekerjasama tanpa pandang bulu. Dia terbiasa bergaul dengan banyak orang yang berbeda latarbelakang. Maka, ketika terjadi persaingan dalam mengisi jabatan Sekretaris Jenderal Partai Amanat Nasional (DPP-PAN) yang dilepas Faisal Basri, Hatta mendapat dukungan dari berbagai ‘aliran’ dalam internal PAN. Dia terpilih menjabat Sekjen DPP PAN (2000-2005).

Perannya yang menonjol sebagai Ketua Fraksi Amanat Reformasi (1999-2000), selain berperan mengantarkannya jadi Sekjen PAN, bahkan juga mengantarnya menjabat Menteri Riset dan Teknologi Kabinet Gotong Royong, pada pemerintahan Presiden Megawati (2001-2004). Kemudian, tatkala pucuk pimpinan pemerintahan beralih kepada duet Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, dia pun dipercaya Menteri Perhubungan Kabinet Indonesia Bersatu I.

Banyak orang tak menduga dia menjadi Menteri Perhubungan Kabinet Indonesia Bersatu. Sama seperti saat dia dipercaya menjabat Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Kabinet Gotong-Royong. Maklum, lulusan perminyakan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini, diprediksi banyak orang lebih pas menjabat Menteri Enerji dan Sumber Daya Mineral. Namun, dengan kemampuan manajerial yang dimilikinya, jabatan apa pun dapat diemban dengan baik. Terbukti, semasih menjabat Menristek, ia antara lain berhasil mengangkat nama bangsa, manakala terpilih menjadi Presiden Ke-46 Konfrensi IAEA (The International Atomic Energy Agency).

Kemudian ketika terjadi perombakan KIB, Hatta makin dipercaya memegang kendali tata kelola organisasi pada pusat kekuasaan sebagai Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) menggantikan Yusril Ihza Mahendra. Dia pun dengan cepat mampu memegang kendali Sekretariat Negara dengan amat baik. Berbeda partai dengan Presiden SBY, tidak menjadi halangan dalam kedekatan hubungan. Bahkan, secara mengejutkan dalam Pemilu Presiden 2009, dia dipercaya oleh SBY menjadi Ketua Tim Kampanye Nasional Capres SBY – Cawapres Boediono.

Dia terlihat amat diandalkan Presiden SBY dalam melakukan loby tingkat tinggi. Dimana ada jalan susah dan buntu secara politik, Hatta Rajasa sanggup dengan elegan mencairkannya. Antara lain, di tengah suasana politi yang memanas menjelang Pemilu presiden 8 Juni 2009, Hatta mampu menghidupkan komunikasi politik yang lama buntu antara Megawati Soekarnoputri (PDIP) dengan SBY (Partai Demokrat). Kendati kedua tokoh dan partai ini tetap bersaing dalam Pilpres, tetapi sudah terjadi kelenturan komunikasi politik.

Setelah Pilpres 2009, usai, yang dimenangkan SBY-Boediono, Hatta yang lulusan insinyur perminyakan ITB, pun dipercaya menjadi Menteri Koordinator Perekonomian (2009-2014). Dia pun mengemban amanat ini dengan baik. Ketika terjadi benturan antara DPR dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani yang oleh DPR diduga terlibat dalam kasus Bank Century, sehingga Sri Mulyani ditolak kehadirannya di DPR, Hatta mampu mencairkannya tanpa ada yang merasa dipermalukan.

Dalam posisinya sebagai Menko Perekonomian, Hatta justru dipercaya partainya melalui Kongres III di Batam menjadi Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional (2010-2015). Dalam posisi Ketua Umum PAN merangkap Menko Perekonomian, dengan kepiawian politiknya, diprediksi Hatta Rajasa akan menjadi Calon Presiden, setidaknya Calon Wakil Presiden, pada Pemilu Presiden 2014 nanti. Ch. Robin Simanullang

Data Singkat
Hatta Rajasa, Menko Perekonomian (2009-2014) / Politisi Negarawan, Plural & Relijius | Ensiklopedi | Politisi, DPR, Menteri, PAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here