Potret Pelayanan Pastor Indonesianis

[ Franz Magnis-Suseno ]
 
0
214

02 | Keluarga Bangsawan, Mohon Dikirim ke Indonesia

Franz Magnis Suseno
Franz Magnis Suseno

Selain keluarga bangsawan, keluarga Franz Magnis juga tergolong keluarga rohaniwan yang sangat Katolik. Setelah berusia 19 tahun (1955), dia menyelesaikan pendidikan di Humanistisches Gymnasium, setingkat SLTA, kemudian masuk menjadi anggota tarekat Serikat Yesus (SY) atau Ordo Yesuit. Di situ dia menjadi seorang rohaniwan muda Katolik. Serikat Yesus berkarya demi gereja di seluruh dunia dan bersifat internasional. Dua tahun pertama masuk Ordo Yesuit, rohaniwan muda ini mengisinya dengan mendalami kerohanian di Neuhausen, antara tahun 1955-1957.

Semasa pendalaman itu, dia makin sering menerima dan membaca surat-surat dari para Yesuit Jerman yang sudah lebih dahulu bekerja dan berkarya membantu Gereja di Indonesia. Surat-surat itu berisi penuh pujian tentang Indonesia. Dia lalu merasakan ada sebentuk ketertarikan jika suatu saat nanti berkarya membantu gereja-gereja di negara lain, seperti Indonesia, daripada di Jerman.

Usai pendalaman kerohanian di Neuhausen, sebagaimana biasa berlaku umum di lingkungan Serikat Yesus, Franz Magnis mendalami studi filsafat di Philosophissche Hochschule, Pullach, dekat kota Munchen antara tahun 1957-1960. Pada tahun 1959 dia sudah mencapai gelar akademik Bakalaureat dalam filsafat, dan setahun kemudian (1960) mencapai Lizentiat juga dalam filsafat. Pada tahun ketiga studi filsafat itulah, tepatnya di tahun 1959, Franz Magnis secara resmi mengajukan lamaran untuk dikirim berkarya melayani gereja di Indonesia. Lamaran yang ditujukan kepada pimpinan Serikat Yesuit di Roma, itu ternyata dikabulkan.

Permohonan untuk dikirim ke Indonesia itu diajukan, dengan kesadaran yang tiba-tiba muncul bahwa bidang studi filsafat tidaklah seberapa diperlukan lagi di Jerman. Sebab di Jerman sudah banyak pakar filsafat dan di antara mereka terdapat pula beberapa anggota terkenal Serikat Yesus.

“Tetapi, barangkali saja saya bisa membantu Gereja di Indonesia. Saya telah mengikuti perkembangan Indonesia paling tidak mulai tahun 1957, ketika beberapa rekan muda Jerman setarekat berangkat ke Indonesia untuk berkarya dalam Gereja Katolik di sana. Mereka mengirim berita-berita menarik. Saya pikir, kemudian juga ternyata tidak terlalu meleset, di sana ada kebutuhan terhadap bidang-bidang ilmu yang menarik bagi saya dan belum ada para ahli untuk bidang-bidang ilmu tersebut,” kenang Franz Magnis.

Setelah mengetahui kepastian permohonannya melayani ke Indonesia dikabulkan, barulah Franz berbicara memberitahu kepada keluarga. Dia berbicara kepada ayahnya, Dr Ferdinand Graf von Magnis, kepada ibunya Maria Anna Grafin von Magnis, serta kepada seorang adik laki-laki dan keempat adik perempuannya, bahwa dia akan pergi melayani ke Indonesia.

Keluarga yang sudah tulus merelakan pilihan Franz Magnis menjadi rohaniwan, pastor tidak berkeluarga, juga merelakannya pergi melayani jauh ke Indonesia, walaupun secara manusiawi pada awalnya hati rasanya berat. Namun karena menganggap pilihan itu sebagai sebuah pengorbanan hidup terbesar atau sacrifice melayani Tuhan, mereka pun semua rela dan tulus mengijinkan Franz Magnis menempuh hidup menjadi hamba, berkarya, dan melayani Tuhan jauh di negeri orang.

Sesudah studi filsafatnya selesai ia pun berangkat menuju Indonesia. Pada tanggal 29 Januari 1961, di suatu siang, tengah hari, hujan turun namun suhu udara terasakan panas pengap, tampaklah pemuda Jerman yang berusia 25 tahun itu keluar dari pintu pesawat Superkonstelation milik maskapai penerbangan Air India, di Bandar Udara Kemayoran, Jakarta.

Dalam waktu 13 bulan pertama di Indonesia, dia isi dengan mempelajari bahasa Jawa. Empat bulan terakhirnya dia habiskan di Boro, atau Kulon Progo, sebelah barat Yogyakarta. Daerah ini adalah sebuah desa dengan suasana lingkungan Jawa yang murni terletak indah di kaki gunung Menoreh. Setiap malam Franz bersosialisasi, berjalan-jalan mengunjungi dan berbicara dengan orang-orang di setiap rumah. Tujuannya, selain bersosialisasi, juga agar bisa mempraktekkan bahasa Jawa. Masa selama empat bulan terakhir itu dirasakannya benar-benar sangat indah.

Banyak saudara setarekatnya yang berkarya di Jawa Tengah, yang masih tetap memakai bahasa Jawa sebagai bahasa percakapan dan kebanyakan mereka memang orang Jawa, selalu menganjurkan kepada setiap orang setarekat yang baru datang dari luar negeri, seperti Franz Magnis, untuk terlebih dahulu belajar bahasa Jawa. Pertimbangannya, bahasa Indonesia akan bisa dipelajari dengan sendirinya. Sedangkan, jika sudah bisa berbahasa Indonesia biasanya akan malas belajar bahasa daerah yang begitu rumit. Dia pun menurutinya. Sesudah itu, dia lalu belajar mendalami bahasa Indonesia kurang lebih empat bulan lamanya.

Dengan demikian Jawa, bahasa Jawa, dengan segala sesuatu yang tercakup di dalamnya menjadi pintu masuk bagi Franz ke Indonesia. Identitas Indonesia secara hakiki diresapinya dalam (bahasa) Jawa. Sedemikian hebatnya sehingga dialek bahasa Indonesianya sangat diwarnai bahasa Jawa. Dia sangat lancar berbahasa Jawa dan bahasa Indonesia, sehingga orang kadang-kadang nyeletuk, ‘kok medog amat’. e-ti | crs-marjuka situmorang | Majalah Tokoh Indonesia Edisi 12

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here