Potret Pelayanan Pastor Indonesianis

[ Franz Magnis-Suseno ]
 
0
214

05 | Menjadi Warga Negara Indonesia

Franz Magnis Suseno
Franz Magnis Suseno

Pada tahun 1970 atau tepat sesudah sembilan tahun hidup menetap di alam Indonesia dirasakan sudah cukup waktunya bagi Franz Magnis untuk mengajukan permohonan menjadi warga negara Indonesia. Dia datang ke Indonesia awalnya dengan motivasi membantu gereja. Semua persyaratan dia penuhi dan dibutuhkan waktu tujuh tahun untuk dikabulkan. Sejak mengajukan permohonan dia sudah incharge menjadi warga negara Indonesia.

“Tahun 1977 saya disumpah, dan menyerahkan paspor Jerman saya ke Kedutaan Jerman,” ujar Franz. Nama baru dia adalah Franz Magnis-Suseno, SJ, ada tambahan nama Suseno di dalamnya. Bersamaan itu dia menanggalkan kewarganegaraan lama Jerman, sebuah negeri yang selama 24 tahun pertama hidupnya berkesempatan membentuk diri Franz Magnis. Dia tidak pernah menyesali pilihan terbaik menjadi warga negara Indonesia sebab langkah penting itu dia lakukan dengan kesadaran penuh.

Tentang kecocokan dirinya dengan Indonesia, dia berkomentar, “Kalau kita sendiri tidak kerasan lebih baik pulang daripada terus tidak bisa tenang, resah, dan sebagainya. Begitu pula kalau jemaat, umat, atau masyarakat terasa susah dengan kita, ya, juga lebih baik pulang. Tapi, kesan saya bahwa orang di sini tidak terlalu susah dengan saya. Dan saya sendiri sangat tertarik mendapat kewarganegaraan baru,” kata Romo Franz Magnis.

Bagi Franz Magnis Indonesia adalah sebuah negara yang amat mengasyikkan dan menarik. Dia belum pernah menyesal mengambil keputusan untuk datang ke Indonesia. Termasuk keputusan untuk menjadi warga negara Indonesia. Dia tertarik akan masyarakat Indonesia yang sangat majemuk. Demikian pula budayanya yang sangat menyenangkan. Dia paling kenal betul dengan budaya tradisional Jawa. Sebab dia masuk ke Indonesia lewat “pintu” Jawa, lewat kultur Jawa. Dia sangat kerasan dengan budaya Jawa. Keberhasilan Franz Magnis menjadi “orang Jawa” adalah salah satu alasan utama mengapa dia bersedia sekaligus senang menjadi warga negara Indonesia.

Setelah memperoleh kewarganegaraan Indonesia, dia semakin akrab dengan dunia pendidikan, khususnya sebagai pengajar filsafat. Dia juga seorang penceramah laris yang suaranya didengar dimana-mana, serta penulis buku karangan ilmiah populer produktif. Sejak tahun 1975 hingga 2004 sudah 28 judul buku dia terbitkan. Itu, belum termasuk 400 judul karangan ilmiah populer. Pada tahun 2004 (sampai Juni) saja dia sudah menerbitkan dua judul buku, “Mencari Makna Rasionalitas,” diterbitkan oleh Kanisius, Yogyakarta, serta buku “Menjadi Saksi Kristus di Tengah Masyarakat Majemuk”, diterbitkan Obor, Jakarta.

Sejak tahun 1979-1984, dia menjadi dosen luar biasa di Fakultas Psikologi UI. Tahun 1979 dia menjadi dosen tamu pada Geschwister-Scholl-Institut dari Ludwig-Maximilians-Iniversitat, dan pada Hochschule fur Philosophie, keduanya di Munchen, Jerman. Tahun 1985-1993 dia menjadi dosen luar biasa di Fakultas Filsafat Universitas Parahyangan, Bandung.

Tahun 1983-1987 dia kembali menjadi dosen tamu pada Hochschule for Philosophie, Munchen, serta pada Fakultas Teologi Universitas Innsbruck.

Di STF Driyarkara Romo Magnis pernah menjabat sebagai Ketua Jurusan Filsafat Indonesia pada tahun 1987-1990, pejabat Ketua STF Driyarkara tahun 1988-1990, Ketua STF Driyarkara tahun 1990-1998, dan sejak tahun 1995 hingga sekarang menjabat sebagai Direktur Program Pasca Sarjana STF Driyarkara.

Selain itu, Franz Magnis adalah dosen luar biasa pada Program Magister Fakultas Pasca Sarjana Universitas Indonesia sejak tahun 1990 hingga sekarang. Pada tahun 2000 dia menjadi dosen tamu di Hochschuke fur Philosophie, Munchen. Dan, pada tahun 2002 Franz Magnis menerima Gelar Doktor Teologi Honoris Causa dari Fakultas Teologi Universitas Luzern, Swiss.

Belakangan ini, di usia yang semakin senja dengan segudang pengalaman dan pengetahuan tentang Indonesia, dia semakin sering diundang ke Jerman menjadi pembicara berbagai seminar. Dia biasanya memberikan ceramah tentang Indonesia. Sebelumnya, dia hanya berkesempatan sekali dalam enam tahun pergi ke Jerman mengunjungi sanak famili selama beberapa bulan.

Belakangan, frekuensi kunjungan ke Jerman semakin sering dia lakukan, namun singkat-singkat saja, sekitar dua atau tiga minggu. Dalam setahun, Franz Magnis bisa berkunjung ke Jerman dua atau tiga kali untuk berbicara dalam seminar. Waktu berkunjung seminar itu, dia perpanjang untuk mengunjungi keluarga almarhum adik lelaki satu-satunya, serta keluarga empat adik perempuannya. Ayah dan ibu Franz Magnis sudah meninggal dunia.

Biasanya setiap kali dia diundang ke Jerman menjadi pembicara dalam seminar, selalu disediakan tiket pesawat berikut akomodasi oleh pihak pengundang.

Jika sudah berada di Jerman, pertanyaan yang lebih sering diajukan warga kepadanya, apakah keadaan Romo baik-baik saja, apakah kerasan tinggal di Indonesia, apakah menghadapi ancaman seperti bom meledak di dekatnya, dan sebagainya. Semua pertanyaan itu berdimensi kemanusiaan semata.

Franz Magnis selalu menjawab bahwa dia dan semua orang Indonesia barangkali sudah tidak takut bom. Sebab, bom bisa saja meledak di mana saja bukan hanya di Indonesia. “Kalau menjadi kehendak Tuhan, ya kita yang kena,” kata Romo ringan saja. “Dari dua ratus juta lebih penduduk Indonesia paling yang kena sepuluh,” tambahnya lagi.

Romo Magnis selalu berujar kepada warga Jerman, bahwa di Indonesia ancaman lalu lintas biasa jauh lebih berbahaya. Kemudian menyusul ancaman kejahatan kriminal biasa. “Tapi, mereka terutama, juga kadang-kadang bertanya apakah saya sebagai Romo Katolik terancam atau tidak. Saya katakan saya tidak terancam. Saya tidak mengkhawatirkan hal itu sama sekali. Dan itu tidak akan terjadi kalau kita tidak kebetulan ada di daerah yang memang perang. Justru, saya akan sangat aman dengan saudara muslim. Dengan masyarakat muslim saya selalu diterima dengan amat baik. Sama sekali saya tidak perlu takut, tidak ada itu orang karena dia seorang pastor katolik lalu dibunuh,” jelas Romo. e-ti | crs-marjuka situmorang | Majalah Tokoh Indonesia Edisi 12

Data Singkat
Franz Magnis-Suseno, Direktur Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara / Potret Pelayanan Pastor Indonesianis | Ensiklopedi | Guru Besar, Dosen, Pastor, pendiri, rohaniawan, filsafat, STF

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here