Bicara Kepemimpinan Bangsa

 
0
137
Bicara Kepemimpinan Bangsa
Franz Magnis-Suseno | TokohIndonesia.com – atur

[OPINI] – Kepemimpinan yang bagaimana yang bisa membawa bangsa ini menjadi lebih baik? Menurut Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno, SJ dalam percakapan dengan Wartawan Tokoh Indonesia, dia harus demokratis, inklusif dan punya komitmen pada solidaritas bangsa serta mampu memproyeksikan sebuah misi bagi seluruh bangsa.

Menurut, pastor yang sering dijuluki “Kasman” atau bekas Jerman yang sangat Indonesianis, ini kita perlu seorang pemimpin yang memang mampu memimpin, melihat manakah tantangan, dan ke manakah kita harus berjalan. Ia juga mampu memproyeksikan sebuah misi bagi seluruh bangsa.

Jadi, tidak cukup dia sendiri tahu, dia sendiri mengambil keputusan yang tepat. Tetapi, sebetulnya dia harus menyemangati bangsa, apalagi bangsa yang terpuruk supaya tidak terus sibuk dengan masalahnya sendiri. Perlu dilihat, kami dipimpin ke masa depan yang menjanjikan, dan itu sangat penting. Mengenai substansi, tentu seorang pemimpin sekurang-kurangnya harus mempunyai tiga keyakinan yang kemudian menjadi prakteknya.

Berikut petikan wawancara Wartawan TokohIndonesia.Com Ch. Robin Simanullang dan Marjuka Situmorang dengan Romo Franz Magnis-Suseno, SJ berlangsung pada Senin, 21 Juni 2004 di kantor STF Driyarkara, Jakarta.

Tokoh Indonesia (TI): Indonesia hendak menuju Pemilihan Umum. Menurut Romo, kepemimpinan yang bagaimana yang bisa membawa bangsa ini menjadi lebih baik?

Memang, saya kira ini pertanyaan yang cukup penting sebetulnya. Kita perlu seorang pemimpin yang memang mampu memimpin. Dan, itu berarti dia melihat manakah tantangan, dan ke manakah kita harus berjalan. Ia juga mampu memproyeksikan sebuah misi bagi seluruh bangsa.

Jadi, tidak cukup dia sendiri tahu, dia sendiri mengambil keputusan yang tepat. Tetapi, sebetulnya dia harus menyemangati bangsa, apalagi bangsa yang terpuruk supaya tidak terus sibuk dengan masalahnya sendiri. Perlu dilihat, kami dipimpin ke masa depan yang menjanjikan, dan itu sangat penting. Mengenai substansi, tentu seorang pemimpin sekurang-kurangnya harus mempunyai tiga keyakinan yang kemudian menjadi prakteknya.

Pertama, dia harus yakin demokratis. Jadi, dia tidak boleh kembali ke Orde Baru. Orde Barulah yang menghasilkan situasi politik sekarang. Jangan dilupakan, bukan reformasi. Tapi, keterpurukan ekonomi dan perpecahan itu di bawah Pak Harto. Jadi yang pertama, dia harus demokratis.

Yang kedua, dia harus inklusif. Jadi, seluruh bangsa diterima. Dia harus yakin betul bahwa Indonesia hanya bisa bersatu, dan hanya bisa berdamai, kalau semua bisa kerasan di rumah Indonesia. Itu, secara konstitusi dan undang-undang, negara tidak boleh ditata secara eksklusif menurut cita-cita salah satu kelompok, lalu akan mengasingkan yang tidak termasuk dalam kelompok itu, dan menimbulkan kekerasan, mengancam kesatuan Indonesia, dan Indonesia tidak akan utuh selamanya sebab hanya atas dasar paksaan. Jadi, perlu keyakinan akan nilai pluralisme dan Indonesia kenapa inklusif, itu yang kedua.

Yang ketiga, yang mungkin paling penting dan sangat rawan, adalah komitmen pada solidaritas bangsa khususnya solidaritas dengan masyarakat sederhana dan masyarakat miskin. Yang saya anggap paling berbahaya, kalau orang kecil masyarakat mendapat kesan bahwa negara ini surga bagi orang-orang kaya. Jadi, rakyat harus merasa bahwa itu negara kita, bahwa kami orang sederhana betul-betul menjadi perhatian pemerintah.

Kan, rakyat Indonesia itu sebetulnya sehat cemerlang. Dalam arti, bahwa dia tidak pernah menuntut kerugian, dia tidak menuntut cara hidup seperti orang yang di atas, dia tidak menuntut suatu kesamaan total. Tetapi yang tentu dia harapkan, bahwa mereka yang hidup kaya raya tidak menghancurkan jasa-jasa jerih orang kecil.

Jadi, misalnya masalah tanah negara, tidak boleh dipecahkan dengan membuldozer rumah-rumah orang kecil yang membangun di situ. Karena negara tidak menyediakan kesempatan bagi mereka membangun rumah sederhana di tempat yang legal. Kalau malah mereka dibuldozer, itu keji, dalam pandangan saya dan dalam pandangan mereka. Kan, tidak sedemikian mahalnya untuk mengganti rugi, misalnya kalau tanah itu betul-betul mau dipakai. Nah, bagi saya ini sebetulnya kunci.

Lalu, saya melihat tiga hal tersebut, dan masalah yang lain, tidak akan ditangani kalau korupsi jalan terus. Karena, korupsi itu berarti, bahwa semua melihatnya dari sudut money politics, keuntungan. Lalu sudah tidak ada keikhlasan, kejujuran, kebebasan dari pamrih yang kita tuntut. Jadi, pemberantasan korupsi adalah syarat supaya tiga hal terpenting itu bisa terlaksana.

TI: Tentang korupsi, dari mana memulai pemberantasannya dan bagaimana caranya, menurut Romo?

Saya kira itu hanya bisa berhasil kalau itu betul-betul datang dari atas. Dan, dari atas bagi saya berarti dua. Pemerintah, tentu dengan pimpinan Presiden secara pribadi yang harus betul-betul committed, dan DPR.

Jadi, mestinya, Presiden baru dengan DPR baru, menyadari bahwa korupsi perlu ditindak. Dan mereka, bersama-sama membuat semacam kontrak, yang tidak perlu tertulis, bahwa akan diberantas.

Misalnya pemerintah menyediakan, bukan hanya tidak dia sendiri tidak korup, dan menghilangkan semua kesan korup. Semua hubungan keluarga berbau kesan korup harus diakhiri. Tetapi, dia juga memberdayakan semua unsur institusional mulai dari Kejaksaan, Kejaksaan Agung, Komisi Pemberantasan Korupsi, dan sebagainya supaya mereka itu sepenuhnya menjalankan.

Dan DPR, bersedia memotong keterikatannya dengan yang lain. Mereka semua masih terikat, karena menjadi legislator itu mahal. Belum tentu korupsi, tapi mahal, tentu ratusan juta rupiah setiap orang. Tapi kalau mereka mau bersatu, mereka bisa mengakhiri itu. Sehingga, tidak setiap legislator sebetulnya hanya memikirkan bagaimana duitku kembali, dan bagaimana aku mendapat untung, karena itu terjadi sudah terlambat.

Nah, di situ harus ada semacam semangat bersama. Tetapi, supaya itu terjadi semestinya ada tekanan dari civil society. Dan itu tidak cukup hanya LSM. LSM itu lemah, tidak semua menerima. Tetapi organisasi besar, terutama organisasi agama, misalnya Muhammadiyah dan Gereja-Gereja, syukur kalau juga NU.

Kalau civil society betul-betul menuntut, momentum DPR baru dengan Presiden baru, sebetulnya bisa menciptakan sinergi mulai dari atas. Saya tidak melihat jalan lain. Kalau itu sudah satu tahun belum terjadi, ya, saya akan pesimistis. Kita tantang selama satu tahun itu mulai. Tapi, masih akan lama. Pemerintah juga harus menyadari bahwa tindakan itu akan sepenuhnya didukung oleh rakyat.

TI: Ada masalah dengan civil society tadi. Semua masyarakat Indonesia beragama rajin ke mesjid rajin ke Gereja tapi korupsi terus berlangsung, dan mendapat tempat terhormat di Gereja maupun di mesjid?

Nah, ini, kalau agama-agama tidak menyadari bahwa berkorupsi merupakan suatu dosa yang mungkin lebih besar daripada tidak ke Gereja dan tidak ke mesjid. Jadi, memang, di agama-agama perlu ada juga semacam perdebatan. Jangan hanya melihat ritualisme dan formalisme.

Sebagai orang Kristen, ya saya selalu akan mengacu kepada yang dikatakan Yesus tentang pengadilan terakhir di Injil Matius bab 25, dimana kriteria orang masuk surga adalah apakah dia menunjukkan hati dan tangan terbuka bagi saudara yang menderita dan ditinggalkan. Itu kriterianya. Dia tidak bertanya, apa kamu seorang kristen yang baik, apa kamu dibaptis, dan sebagainya, apa kamu berdoa.

“Tetapi ketika Aku lapar, haus, dipenjara, sakit, kamu tidak bantu Aku.” Lalu, mereka akan bertanya, kapan kita bertemu. Lalu, yang paling menentukan adalah, “Apa yang kau lakukan pada saudara-Ku yang paling kecil ini, adalah kau lakukan pada-Ku, dan apa yang kau tidak lakukan pada saudara-Ku yang paling kecil ini, tidak kau lakukan pada-Ku.”

Itu, kan berarti bahwa Yesus mengatakan, setia pada Aku, Yesus, itu tidak mesti terhadap, mesti mengetahui nama Yesus. Mereka kan tidak tahu ketemu Yesus. “Kalau kamu bantu orang miskin, kamu adalah orang-Ku”. Dan, belum tentu kamu tahu nama Yesus, dan sebagainya, tetapi tahu berbuat sesuatu bagi orang itu. Nah, ini, kalau orang Kristen melihat itu ya sudahlah…. ? hp-ms

*** TokohIndonesia.Com (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

 

02 | Kisah Melayani Indonesia

TI: Dapatkah Romo menceritakan, bagaimana kisah hidup Romo semenjak masa kanak-kanak, dan tentang pengasuhan orang tua?

Saya lahir sebagai anak sulung keluarga bangsawan pada tanggal 26 Mei 1936 di Silesia, Ekcsdorft, kabupaten Glatz, yang untuk orang di Indonesia sulit untuk dimengerti. Saya lahir di daerah pertengahan Jerman bagian timur, daerah yang paling timurnya adalah Jerman Timur. Karena orang Indonesia pada umumnya tidak tahu, bahwa Jerman itu dahulu pernah menjorok hingga ke daerah yang sekarang namanya Polandia.
Nah, sesudah Perang Dunia II tahun 1945, seperlima bagian timur itu diambil dikasih Polandia, sebagian lagi masuk Uni Soviet, dan penduduknya semua 9 juta orang Jerman diusir ke Jerman Barat.

Nah, saya termasuk pengungsi, keluarga saya bilangan semuanya dibawa ke Jerman Barat. Sebagai akibat perang dunia II keluarga saya lari dari tentara Uni Soviet menuju ke Cekoslovakia Barat, dan dari situ diusir lagi ke Jerman Barat. Kami kehilangan semua milik kepunyaan kami.

Akhirnya keluarga saya menetap sekitar 80 km di sebelah selatan kota Frankfurt. Tapi kalau dibilang saya orang Jerman timur, dikira di bawah Jerman Timur yang komunis, padahal nggak, daerah saya itu dulu Jerman Tengah.

TI: Romo lahir di Jerman, memilih menjadi rohaniwan sebagai pastor, mendalami ilmu filsafat, lalu datang melayani ke Indonesia?

Saya sudah berada di Indonesia sejak 29 Januari tahun 1961. Saya datang ke Indonesia sesudah lima tahun menjadi rohaniwan muda, anggota salah satu tarekat (“Ordo”) Gereja Katolik yaitu “Sarikat Yesus”, atau “Ordo Jesuit” sejak tahun 1955. Serikat Yesus berkarya demi Gereja di seluruh dunia, ia bersifat internasional.

Waktu saya studi filsafat di Ordo Jesuit, merasa bahwa saya mungkin lebih bisa berguna di negara seperti Indonesia. Nah, mengapa Indonesia, kan di dunia lain juga ada negara, seperti Zimbabwe. Saya melamar dikirim ke Indonesia karena di Indonesia sudah ada beberapa Yesuit Jerman bekerja membantu Gereja, dan surat-surat mereka penuh pujian. Lamaran saya dikabulkan oleh pimpinan Serikat Yesus di Roma, sehingga saya ke Indonesia. Saya tidak pernah menyesali keputusan itu.

TI: Lalu, apa yang membuat Romo tertarik menjadi warga negara Indonesia?

Sesudah saya kerasan di Indonesia dan merasa diterima, dengan sendirinya saya mau menjadi warga negara sehingga bisa menyatu sepenuhnya.

Saya kan sebetulnya datang dengan motivasi membantu Gereja. Dan, itu selalu sudah menjadi maksud untuk tetap di sini kalau memang kedua belah pihak cocok. Kalau kita sendiri tidak kerasan lebih baik pulang. Daripada terus tidak bisa tenang, resah, dan sebagainya. Begitu pula kalau jemaat, umat, atau masyarakat terasa susah dengan kita, ya, juga lebih baik pulang.

Tapi, kesan saya bahwa orang di sini tidak terlalu susah dengan saya. Dan saya sendiri sangat tertarik untuk mendapat kewarganegaraan baru, sehingga saya meneruskan untuk tetap di Indonesia.

Hampir sudah sejak semula saya incharge menjadi warga negara Indonesia. Saya mengajukan permohonan dan memenuhi semua syarat sejak tahun 1970. Tapi, dibutuhkan tujuh tahun sampai itu lewat mesin birokrasi. Tahun 1977 keluar, tahun 1977 saya disumpah, dan menyerahkan paspor Jerman saya ke Kedutaan Besar Jerman.

TI: Romo sebagai warga negara Indonesia yang asal Jerman, bagaimana kesan Romo tentang Indonesia?

Begini. Bagi saya, Indonesia negara yang amat mengasyikkan, dan menarik. Dan saya belum pernah menyesali keputusan saya untuk ke sini, maupun untuk menjadi warga negara. Masyarakat di sini majemuk, budaya-budayanya adalah sangat menyenangkan.

Sebetulnya, budaya-budaya tradisional yang saya paling baik kenal adalah budaya Jawa. Karena saya masuk lewat Jawa, lewat kultur Jawa, dan saya merasa kerasan dengan budaya Jawa. Tapi, kemungkinan andaikata saya ke daerah lain, saya juga tidak akan mengalami kesulitan.

Indonesia juga negara yang, tentu secara politis, sosial, penuh tantangan. Dan kita, saya kira semua jangan lupa, bahwa itu sebetulnya normal. Kalau kita melihat di peta, dari Sabang sampai Merauke, sedikit saja negara di dunia yang lebih besar dan tidak ada yang lebih majemuk dengan ribuan pulau, ratusan budaya dan bahasa, berbentuk keagamaan yang cukup banyak variasi.

Bahwa, negara macam itu tidak secara lancar mulus menjadi negara kebangsaan demokrasi pasca tradisional tentu, masuk akal sekali. Negara asal saya, Jerman, membutuhkan lama sekali sampai mengembangkan demokrasi.
Percobaan demokrasi pertama di Jerman gagal. Waktu itu dicoba, sesudah Perang Dunia (PD)-I Kaisar diusir, dibangun demokrasi yang bagus, tetapi akhirnya partai-partai yang paling kuat di Jerman adalah Partai Nazi dan Partai Komunis. Dan, Nazi mencapai kekuasaan lewat pemilihan umum sehingga demokrasi pertama berakhir di dalam suatu kediktatoran.

Jauh lebih buruk daripada di Indonesia. Membawa malapetaka bagi Jerman sendiri, termasuk keluarga saya yang kehilangan seluruh kepunyaan di Jerman timur, juga membunuh puluhan juta orang dan malapetaka lewat perang.

Itu, bagi saya hanya contoh bahwa kita di Indonesia jangan terlalu berkecil hati karena memang masih mengalami kesulitan. Tentu, kita harus menentang semua kesulitan tapi dalam perspektif sedikit lebih jangka jauh. Jangan kita heran bahwa pembentukan kehidupan demokrasi yang mantap, damai, dan beradab memerlukan waktu.

Bangsa Jerman yang membanggakan diri sebagai bangsa para filsuf dan penyair, itu di abad yang lalu melakukan hal yang teramat biadab. Jadi, bahwa di negara ini pun ada hal lain yang biadab, supaya kita selesaikan, tapi bukan alasan untuk merasa minder atau putus asa.

TI: Romo dibesarkan di Jerman, lalu datang ke Indonesia, menjadi warga negara, masihkah ada hubungan emosional dengan keluarga di sana? Bagaimana reaksi mereka saat Romo memutuskan datang ke Indonesia?

Ya, tentu masih ada. Saya dari keluarga yang sangat Katolik. Jadi, mereka menerima saya menjadi rohaniwan dan tidak berkeluarga. Mereka mau terima, katakanlah sebagai semacam pengorbanan. Dan mereka akhirnya juga terima waktu saya mengatakan, saya memberitahu bahwa akan ke Indonesia. Saya separuh memberitahu sesudah saya pastikan bahwa saya diizinkan ke sini.

Jadi, mereka merelakan. Dan orangtua saya pernah ke Indonesia, waktu saya ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1967 di Yogyakarta. Ayah dan ibu saya datang, mereka tiga minggu tinggal di Indonesia, kami putar-putar, dan itu sangat menghibur mereka karena mereka mendapat kesan baik dari Indonesia waktu itu, dan melihat Indonesia negara yang bagus, tidak lagi membayangkan macam-macam, tidak takut saya dalam bahaya.

Dan, saya kan lima atau enam tahun sekali kurang lebih pulang, beberapa bulan berada di sana. Sekarang orangtua saya sudah tidak ada, tetapi saya masih punya lima keluarga adik. Dan biasanya, kalau ke Jerman saya mengunjungi mereka, atau sebagian dari mereka.

Saya akhir-akhir ini cukup sering ke Jerman, rata-rata dua kali setahun. Tapi pendek, atas undangan orang. Jadi, saya dibayar, dibayar tiketnya, diminta mengikuti seminar tentang Indonesia, dan saya biasanya lalu menambah dua minggu di sana. Sekarang, kan, saya sudah tua, jadi tidak apa-apa lama-lama.

TI: Apa saja pertanyaan pokok warga Jerman tentang Indonesia, kepada Romo?

Susah. Bertanya bagaimana Indonesia itu sangat susah dijawab.Tapi, yang ingin mereka tanya, apa saya baik-baik, apa saya kerasan, apa ada ancaman, apa ada bom yang meledak di dekat saya. Saya selalu menjawab pertanyaan itu. Saya, dengan semua orang Indonesia ini, barangkali tidak takut bom karena memang bom bisa meledak tidak hanya di Indonesia. Kalau menjadi kehendak Tuhan, ya, kita yang kena. Tapi dari dua ratus sekian juta orang, yang kena biasanya hanya sepuluh.

Dan, yang jauh lebih berbahaya, saya katakan selalu, di Indonesia itu lalu lintas biasa. Itu selalu berbahaya. Saya, kalau terbang ke Eropa resiko paling besar adalah perjalanan ke Soekarno-Hatta itu. Lalu, yang kedua di sini kriminal biasa.

Tapi, mereka terutama, juga kadang-kadang tanya, apakah saya sebagai Romo Katolik terancam atau tidak. Saya katakan, saya tidak terancam, saya tidak mengkhawatirkan hal itu sama sekali, dan itu tidak akan terjadi kalau kita tidak kebetulan ada di daerah yang memang perang.

Justru, saya akan sangat aman dengan saudara muslim. Dengan masyarakat muslim saya selalu diterima dengan amat baik. Sama sekali saya tidak perlu takut. Tidak ada itu, orang karena dia seorang Pastor Katolik menusuk. ? hp-ms

*** TokohIndonesia.Com (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

 

 

03 | Supaya Berani Bersikap Terbuka

TI: Apa sumbangan terbesar yang ingin Romo berikan kepada bangsa, yang mayoritas berpenduduk muslim, negara muslim terbesar di dunia, berpenduduk terbesar keempat di dunia, negara demokrasi terbesar ketiga dunia setelah Amerika Serikat dan India?

Saya ingin membantu, baik umat saya sendiri, maupun umat beragama lain sejauh mereka menginginkannya, untuk berani bersikap terbuka, berpikir secara rasional dan dialogal, untuk saling bertoleransi, dan saling menghormati.

Kebetulan saya menekuni filsafat yang membantu orang mengembangkan sikap-sikap itu. Saya merasa bahwa dengan membantu orang berpikir dengan jernih, terbuka, berani, dan tenang, saya dgpat menyumbangkan sesuatu pada perkembangan masyarakat.

TI: Apa yang Romo maksud dengan hipotesa, Indonesia sedang terlibat dalam perubahan paham tentang manusia, dari “orang kita-orang asing” menuju ke “martabat manusia universal”?

Manusia pasca-tradisional mampu berkomunikasi dengan orang lain sebagai manusia, bukan hanya atas dasar hubungan primordial. Ia melihat orang lain bukan hanya sebagai orang se-keluarga, se-kampung, se-suku, se-umat beragama, atau pun sebagai orang asing, melainkan sebagai manusia.

Ia sadar bahwa ada macam-macam manusia, dengan pandangan budaya, bahkan dengan tampak lahiriah, yang cukup berbeda. Ia menerima kenyataan itu. Ia tidak lagi resah dengan kenyataan itu. Maka ia juga mampu memperlakukan mereka semua dengan adil, menghormati hak-hak mereka, memahami apa yang dimaksud dengan hak-hak asasi manusia. Proses itu berkaitan erat dengan modernisasi kultural. Proses itu sedang terjadi di Indonesia sekarang ini.

TI: Cukup dominankah peran agama pada proses perubahan paradigma itu, mengapa perubahan baru terjadi sekarang?

Agama tidak memainkan peranan signifikan dalam proses ini, meskipun secara normatif, apabila orang sudah menjadi manusia pasca-tradisional, ternyata mendukungnya.
Tetapi, keanggotaan dalam agama merupakan realitas primordial. Dan, tidak mudah mengatasi primoridalisme sedemikian rupa hingga orang dari agama dan keyakinan religius lain juga sepenuhnya diakui sebagai orang yang sama hak dan kewajibannya. Akan tetapi, bagi orang yang semakin menghayati paradigma baru, ajaran agama sendiri merupakan dukungan.

TI: Faham sekularistik membawa zaman maju dan berkembang. Mengapa kemunculan awalnya bernada anti-agama, adakah paham dalam agama menghambat kemajuan?

Tidak di mana-mana sekularisasi bersifat anti-agama. Di AS, misalnya, tidak pernah ada sentimen anti-agama. Masyarakat itu sekuler dan agamis sekaligus. Tetapi di beberapa daerah di Eropa, khususnya yang Katolik di Eropa selatan, sekularisasi muncul dalam bentuk sekularisme yang keras anti-agama, anti agama Katolik.

Latar belakangnya adalah kedudukan kuat Gereja Katolik dalam bidang politik dan budaya, yang di abad ke-18 dianggap menghambat modernitas. Baru di abad ke-20 ketegangan itu teratasi. Maka “laikalisme”, sikap keras anti “klerus” (hirarki dan rohaniwan/rohaniwati Katolik) –yang di Prancis mendasari sekularisme di sekolah-sekolah– sekarang tidak lagi begitu terasa. (Dan, di Prancis, malah Islam yang merasakan akibat sikap negara yang semula diarahkan ke Gereja Katolik).

TI: Romo mengatakan untuk menegakkan toleransi, mencapai perdamaian multikultural, alasan klasik benturan perbedaan etnis dan agama sudah tergantikan oleh antara “pendatang dan penduduk asli”. Dalam konteks Indonesia yang multikultural, bagaimana melepaskan sekat-sekat golongan eksklusivisme?

Sekat-sekat eksklusivisme hanya bisa diatasi dengan mengembangkan kehidupan demokratis, serta memfasilitasi komunikasi antar suku, golongan, umat beragama, ras. Segala usaha untuk menyekat masyarakat, misalnya melarang anak bergaul dengan anak beragama lain, itu mengancam perdamaian dalam masyarakat dan merupakan sikap jalan buntu. Hanya komunikasi terbuka mengajar anak, jadi orang untuk tahu betul bahwa saudara-saudari lain suku, lain agama, sama saja manusia dengan baiknya dan buruknya.

TI: Dikotomi pendatang dan penduduk asli adalah keniscahyaan di Indonesia. Apakah benturan kultural sesuatu yang tak mungkin berakhir, apalagi semangat mementingkan golongan alamiah sifatnya?

Khususnya kemungkinan konflik antara penduduk asli dan pendatang perlu diwaspadai, karena bisa dipicu oleh persaingan ekonomis. Pendatang sering oleh penduduk asli dianggap “kurang peka”, diberi kesempatan lebih banyak, “mau merebut”, dan lain sebagainya.

Dan sebaliknya, para pendatang menganggap penduduk asli “malas”, “tertutup”, “berprasangka”, dan lain sebagainya. Di situ, baik pendidikan di sekolah maupun bimbingan oleh pemerintah penting. ? hp-ms

*** TokohIndonesia.Com (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

 

 

04 | Menjadi Makhluk Berbudaya

TI: Untuk menjadi makhluk berbudaya, meninggalkan sikap lama “agama saya yang paling betul dan yang lain patut dicurigai”, peranan pendidikan strategis. Menurut Romo, substansi pendidikan seperti apa yang melahirkan makhluk berbudaya seperti itu?

Pendidikan agama yang benar boleh saja tetap menegaskan keyakinan akan kebenaran agamanya sendiri. Tetapi, sekaligus mengajarkan hormat terhadap keyakinan-keyakinan lain.

Diajarkan bahwa yang menilai keyakinan orang adalah Tuhan, bukan manusia. Maka, kalau “saya” meyakini agama saya sebagai “kebenaran”, saya memang tidak akan mengakui agama lain sebagai kebenaran (dan itu wajar). Tetapi, saya dapat menghormati keyakinan lain, saya dapat melihat segi-segi positif dalam keyakinan beragama lain. Dan kita dapat bekerja sama untuk menciptakan masyarakat lebih baik.

TI: Makhluk yang berbudaya itu sendiri, apa ciri-ciri dan orientasinya?

Makhluk berbudaya, pertama-tama adalah orang yang mampu membawa diri secara beradab dalam segala situasi dan dengan sendirinya tidak pernah memakai kekerasan, kecuali untuk membela diri, atau dalam menjalankan tugasnya sebagai polisi/tentara.

Ia tidak memukul orang dengannya ia bertabrakan. Ia bisa berbeda pendapat tajam, bahkan bertengkar, tetapi tidak memakai kekerasan. Ia selalu membawa diri secara beradab.

TI: Agama-agama Abrahami mempunyai kekhasan eksklusif dan menganggap diri yang paling benar. Mengapa demikian padahal sumbernya sama, sedangkan dengan agama lain di luar Abrahami justru jarang terjadi benturan?

Keyakinan akan sebuah kebenaran dengan sendirinya eksklusif. Itu, belum suatu kelemahan.

Apabila saya sebagai orang Kristen meyakini Yesus sebagai “jalan, kehidupan, dan kebenaran” (Joh. 14:6), dan bahwa “tidak ada nama lain diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan” (Kisah 4:12), dengan sendirinya yakin bahwa Yesuslah pewahyuan diri Allah yang total, sehingga ia tidak dapat menemukan dalam tulisan-tulisan lain wahyu Tuhan.

Begitu orang Islam, dapat saja mengakui bahwa Yesus seorang nabi besar, tetapi tidak mungkin ia menerima bahwa Yesus adalah “Putera Allah”. Kalau dua agama berbeda, itu sama dengan mengatakan bahwa mereka mempunyai pandangan yang tidak, sekurang-kurangnya tidak seluruhnya, dapat disesuaikan.

Sikap meyakini kebenaran agamanya sendiri adalah wajar, asal tidak menghina keyakinan agama lain. Serahkan kepada Allah. Jadi, toleransi tidak menuntut agar orang mengurangi iman dalam rangka agamanya sendiri. Melainkan, bahwa orang bersedia menerima baik eksistensi orang berkeyakinan lain dalam keberlainannya.

Justru itulah yang dituntut dalam masyarakat plural modern. Kita tahu dan menerima bahwa orang dengan segala macam keyakinan religius yang tidak dapat kita ikuti sendiri, yang juga tidak perlu kita nilai, kita akui benar, tetapi kita menghormati keberadaan semua umat dan orang itu. Baru, itulah sikap sesuai modernitas.

TI: Dalam konteks sebagai penganut agama yang baik toleransi masih sesuatu yang mustahil, walau semua agama mengajarkan sama kebaikan. Haruskah kadar keagamaan umat direduksi agar terhindar benturan?

Maka toleransi sangat perlu. Masyarakat Indonesia secara tradisional, barangkali karena pluralitas suku dan kepulauan, sudah tahu ada banyak perbedaan dan mampu menerimanya dengan baik. Itulah toleransi tradisional bangsa Indonesia.

Maka, bangsa Indonesia tidak perlu mengalami kesulitan untuk membangun masyarakat modern yang toleran.

Ancaman terhadap toleransi tidak terletak dalam budaya masyarakat, melainkan dalam eksklusivisme ideologis dan agamis. Jadi, orang-orang yang berdasarkan teori dan keyakinan sempit-fanatik mau memaksakan pandangan mereka kepada yang lain-lain.

TI: Untuk menjadikan pluralisme berkembang baik, seperti di Amerika, mana sumbangan terbesar agama atau sekuralistik? Mengapa rakyat Indonesia tidak bisa inklusif, merasa di rumah sendiri jika merantau ke daerah lain?

Rakyat Indonesia bisa cukup inklusif asal tidak dihasut oleh pihak-pihak sempit-fanatik. Ajaran agama-agama benar sebetulnya mendukung penerimaan pluralitas. Maka yang penting agar di dalam umat masing-masing inklusivisme dikembangkan.

TI: Tentang masih adanya aliran atau faham-faham sempit-fanatik di Indonesia, apa pendapat Romo?

Saya sendiri paling banyak tahu dengan orang-orang yang fahamnya terbuka, atau sekurang-kurangnya yang fahamnya di tengah. Kalau mereka, yang sungguh-sungguh sangat ekstrim, tidak terima untuk berkomunikasi dengan orang luar, mereka merasa malah akan memperlemah iman sendiri.

Tetapi, khususnya menyangkut Islam sebagian besar misalnya pemuda atau remaja Muhammadiyah, Ikatan Remaja Muhammadiyah, NU, HMI, itu justru ingin mendengar sesuatu dari saya, lihat saya sebagai kesempatan bertanya tentang segala pertanyaan kekristenan yang menggganggu mereka, mereka akan tanya.

Jadi, yang sungguh ekstrim ya sudah, saya tidak bisa mengubah. Sikap saya adalah, bahwa itu urusan masing-masing agama. Jadi saya akan mengecam orang garis keras di kalangan Kristen, bukan di kalangan Islam. Di kalangan Islam biar orang Islam yang mengecam.

Saya bukan orang yang bisa mengatakan, Islam harus begini, Islam harus begitu. Saya bisa mengatakan, bersyukurlah bahwa bagian terbesar Islam ternyata tidak mengancam eksistensi yang lain-lain. Harus juga dikatakan, ini suatu fakta, bahwa bahkan kelompok-kelompok yang garis keras, yang misalnya memperjuangkan syariah, sebetulnya tidak pernah mengancam eksistensi agama-agama lain.

Mereka mengatakan kami tidak akan merugikan agama lain karena syariah itu bagi umat Islam. Apakah dalam praktek ada diskriminasi, itu lain masalah. Tapi, dalam sasaran mereka tidak ada misalnya penghancuran umat Kristen.

Islam selalu memberi tempat pada agama-agama buku. Dan saya kira, sekarang agama buku tidak terbatas pada Kristen dan Yahudi, tetapi juga Budhisme dan Hinduisme termasuk. Tentu, dulu sebagai warga negara kelas dua. Tapi di situ, di Eropa, malah sama sekali tidak diizinkan. Nah, sekarang tentu minoritas tidak menerima menjadi warga negara kelas dua. Tapi, saya tidak melihat suatu tujuan untuk membersihkan negara ini dari yang non Islam. Saya tidak melihat itu. ? hp-ms

*** TokohIndonesia.Com (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Tokoh Terkait: Franz Magnis-Suseno, | Kategori: Opini | Tags: Katolik, Pastor, Kepemimpinan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here