Potret Pelayanan Pastor Indonesianis

[ Franz Magnis-Suseno ]
 
0
189
Franz Magnis-Suseno
Franz Magnis-Suseno | Tokoh.ID

[ENSIKLOPEDI] Dia seorang pastor yang sering dijuluki “Kasman” atau bekas Jerman yang sangat Indonesianis. Direktur Program Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta, ini akrab dipanggil Romo Magnis. Pelayanannya sebagai pastor (rohaniawan Katolik) melahirkan kecintaannya pada Indonesia. Dia pun menanggalkan kewarganegaraan Jerman beralih menjadi warga negara Indonesia.

Guru Besar Filsafat ini dapat bergaul dengan siapa saja tanpa batas sosial, agama dan golongan. Dia pun disenangi semua orang! Hampir duapertiga usia pria kelahiran Eckersdorft, Jerman 26 Mei 1936, ini dihabiskan di Indonesia. Datang dengan motivasi tunggal berkarya melayani melalui Gereja Katolik di Indonesia, sebuah negeri yang diketahuinya sangat indah dan menyenangkan. Sudah sejak 29 Januari 1961 dia tinggal menetap di Indonesia.

Ditahbiskan menjadi imam atau pastor tahun 1967 di Yogyakarta. Kemudian tahun 1977 menjadi warga negara Indonesia, setelah menunggu tujuh tahun proses pengurusannya. Dia tak pernah menyesal memilih menjadi warga negara Indonesia. Kemudian sejak 1 April 1996, dia menjadi guru besar filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta.

Franz Magnis-Suseno, SJ adalah anak sulung dari enam bersaudara dari sebuah keluarga bangsawan Jerman. Dia lahir pada tanggal 26 Mei 1936 di Eckersdorf, Silesia, kabupaten Glatz, sebuah daerah Jerman paling timur yang dahulu menjorok sampai ke daerah yang kini bernama Polandia. Semasa kanak-kanak, bersama keluarga dia pernah mengalami situasi yang sangat buruk akibat Perang Dunia (PD) II.

Daerah Jerman bagian paling timur itu, sesudah PD-II dipotong lalu diberikan seperlimanya kepada Polandia dan sisanya kepada Uni Soviet. Sedangkan, seluruh penduduk 9 juta orang Jerman dari situ diusir paksa ke Jerman Barat. Franz Magnis, seorang bangsawan anak sulung yang belum genap berusia 10 tahun bersama seluruh keluarga harus lari dari kejaran tentara Uni Soviet menuju ke Cekoslovakia Barat, dan dari situ kemudian melarikan diri lagi menuju Jerman Barat. Mereka, bersama 9 juta warga Jerman lainnya harus kehilangan segala sesuatu harta benda kepunyaan. Sebuah perjuangan yang sangat sulit dan melelahkan.

Dia bersama keluarga lalu menetap sekitar 80 kilometer di sebelah selatan kota Frankfurt. Mereka memilih tinggal dan menetap ke Jerman bagian barat yang berada di bawah pengawasan tentara sekutu pimpinan Amerika Serikat.

Jerman Raya yang dahulu berbentuk kerajaan mencoba mengubah diri menjadi negara demokrasi dan memunculkan dua partai terbesar, yakni partai Nazi dan partai komunis. Partai Nazi pimpinan Adolf Hitler berkuasa sebagai pemenang pemilihan umum, namun kemudian berubah muka menjadi otoriter. Pemerintahan Hitler ini pun menyerang dan merebut Polandia tahun 1939 yang menjadi pemicu bergolaknya Perang Dunia II. Saat itu, usia Franz Magnis masih tiga tahun. Pendaratan tentara Sekutu pimpinan Amerika Serikat di Pantai Laut Normandia pada tanggal 6 Juni 1944 menjadi titik balik kekalahan tentara Nazi Jerman, yang puncaknya terjadi setahun kemudian (1945) Nazi Jerman menyerah kalah perang. e-ti | crs-marjuka situmorang | Majalah Tokoh Indonesia Edisi 12

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here