Generasi Kedua Namarina

[ Maya Tamara ]
 
0
192
Maya Tamara
Maya Tamara | Tokoh.ID

[DIREKTORI] Maya Tamara, generasi kedua dari Namarina, sekolah balet dan senam terkemuka di Indonesia. Sejak 1993 dia memimpin Namarina yang didirikan ibunya, Nanny Anastasia Lubis (almarhumah 1926-1993), pada 30 Desember 1956. Untuk merayakan usia setengah abad Namarina, diadakan pertunjukan bertema Pointe of No Return di Gedung Kesenian Jakarta, 30 Desember 2006 dan 20-21 Januari 2007.

Menurut Maya Tamara, Pimpinan dan Direktur Artistik Namarina, Pointe of No Return menggambarkan perjalanan NAMARINA 50 tahun dalam 3 rentang waktu : THE BEGINNING – THE GROWTH – THE FUTURE. Repertoar ini berkolaborasi dengan iringan piano ‘ duo Iravati & Aisha-YPM’ serta ‘Indonesian Traditional Music Performance oleh Irwansyah Harahap-SUARASAMA’, dan kostum yang di desain oleh Ary Seputra.

Dijelaskan, tema Pointe of No Return dipilih sebagai penegasan bahwa Namarina akan terus menggeluti dunia pendidikan tari yang didirikan ibundanya itu. Waktu itu Namarina tidak menggunakan sebutan balet atau senam, tetapi gerak badan. Kini Namarina menjadi pusat latihan balet-jazz-fitness.

“Waktu pertama berdiri muridnya cuma lima, terus sepuluh orang, terus jadi ribuan. Ibu Fatmawati, istri Presiden Soekarno, pernah ikut berlatih senam di Namarina,” kata Maya Tamara, yang sejak tahun 1993 menjadi Pimpinan dan Direktur Artistik Namarina.

Berikut ini penuturan Maya sebagaimana dipublikasikan Kompas pada Rubrik Pesona, Minggu, 24 Desember 2006:

Apa arti 50 tahun bagi Namarina?

Saya merinding mendengar 50 tahun ini. Kok bisa bertahan selama itu. Kami berintrospeksi. Sudah banyak yang kita lakukan, tapi banyak juga kekurangan. Yang kami anggap kekurangan itu akan menjadi sebuah pengalaman yang nantinya bisa menjadi kekuatan.

Ini perjuangan almarhumah mami, Ibu Nanny (Lubis). Mami orangnya kenceng, tegas, tapi tidak bikin orang sakit hati. Tanpa mami, Namarina gak bakalan ada 50 tahun ini. Kami anak didik yang berusaha terusin.

Sejak kapan terlibat menangani Namarina?

Saya menjadi artistic director tahun 1985. Itu empat tahun setelah saya pulang sekolah dari Royal Academy of Dance, London, tahun 1981. Sebelumnya, tahun 1981-1985, saya menjadi tenaga pengajar. Itu pun saya belum boleh pegang senam, cuma balet.

Saya sama sekali tidak dilibatkan di manajemen. Begitu beliau meninggal, waduh! Kelabakan juga saya. Jadi, sebelumnya tidak pernah ada persiapan transisi manajemen dari mami ke saya. Tapi secara ilmu dan teknik menangani murid, ya saya belajar dari apa yang pernah mami lakukan.

Bagaimana saat pertama kali memegang Namarina?

Pada awalnya ada yang underestimate saya. Mami meninggal dunia tahun 1993 itu tiba-tiba. Bulan Mei masuk rumah sakit, awalnya dikira saraf, gak taunya kanker lever. Sejak itu mami tidak pernah keluar rumah sakit lagi, sampai meninggal bulan Agustus pada usia 67 tahun.

Waktu mami sakit, saya gak berani nanya-nanya soal kelangsungan Namarina. Akhirnya saya belajar dari meja mami. Saya pelajari kertas-kertas yang ditinggalkan beliau. Dari situ saya tahu bagaimana me-manage ini, sampai ke masalah gaji pegawai. Dulunya saya sama sekali tidak pernah dilibatkan dalam hal-hal seperti itu.

Untungnya saya termasuk orang yang cepat belajar. Saya mungkin juga punya sense of management yang baik. Jadi dalam waktu enam bulan sudah bisa mengatasi semuanya. Tapi dalam enam bulan pertama ya struggle banget.

Anda mengajar dengan gaya Ibu Nanny?

Saya gak bisa sekeras mami, karena itu bukan tipe saya sih. Anak-anak generasi sekarang juga tidak bisa diperlakukan seperti itu. Orangtua juga suka campur tangan. Balet kan penuh disiplin, harus dilakukan sesuai aturan. Tapi orangtua kemudian belain anak. Lama-kelamaan kita harus menyesuaikan juga. Tapi, untuk yang prinsip-prinsip saya tidak akan langgar.

Balet Indonesia

Maya Tamara belajar di Royal Academy of Dance, London, Inggris, pada 1976-1981. Ia mendapat diploma sebagai guru tari Licensed Royal Academy of Dance (LRAD). Sebagai semacam pelatihan kerja, Maya sempat mengajar balet untuk anak-anak di London.

Apa kelebihan orang Asia dalam balet dibanding pebalet Eropa?

Kita orang Asia ini dikaruniai musikalitas lebih dibanding orang Barat. Dan itu jadi plus point saya waktu di college dulu. Anak-anak kecil di sana (Inggris) beda dengan anak-anak di sini. Anak-anak kita itu lebih talented, lebih cepat menerima pelajaran, dan lebih luwes.

Kelemahan orang kita untuk balet itu di postur tubuh. Balet kan asalnya dari Eropa, Perancis. Badan bule lebih nguntungin untuk belajar balet. Terus ada incep, otot di kaki yang pada posisi pointe akan berbentuk melengkung atau arch. Di kita, untuk memunculkan bentuk otot seperti itu harus dilatih. Mungkin karena kita dari kecil jarang pake sepatu. Maka kaki kita kebanyakan flat, tidak ada arch-nya. Itu unsur penting, karena yang punya bentuk kaki seperti itu sudah punya nilai tambah ketimbang yang harus melatihnya dulu.

Jadi soal fisik?

Karena keturunan, orang- orang kita berat pada lower body, bagian pinggul sampai paha. Apalagi anak-anak sekarang. Enggak tahu apa saja yang mereka makan…. Makanya saya waktu mau membentuk Namarina Youth Dance sudah keras sekali ke anak-anak. Kalau tidak mau menurunkan berat badan ya susah, karena kita mau go professional.

Dengan kondisi postur itu, apakah tidak ada penyesuaian?

Harus ada! Kami memberi latihan-latihan yang lebih intensif untuk mencapai postur, kekuatan otot, dan pointe kaki yang diinginkan. Gerakan-gerakannya juga banyak dimodifikasi.

Apakah anak-anak tidak tersiksa berlatih?

Memang pada awalnya pasti merasa tersiksa untuk melakukan gerakan-gerakan yang sulit. Tapi bagi yang sudah latihan lama, sudah tahu pakemnya, tahu cara geraknya, mereka sudah bisa lepas, kayak ada magnetnya.

Pada akhirnya orang-orang kita yang berlatih ekstra keras itu justru memiliki kelebihan dibanding para penari balet di Eropa. Lebih ulet, lebih disiplin. Balet kan harus dimulai dari kecil, dari lima tahun. Terus harus ada passion (hasrat kuat). Kalau gak ada passion, gak bakalan bisa deh.

Ada balet yang lebih pas untuk penari Asia?

Ke depan pengin menampilkan bentuk balet Indonesia. Saya kemarin nonton balet Filipina. Kalau biasanya balet itu sangat Barat, yang ini terasa Filipina-nya. Mungkin itu dari muka dan postur tubuh mereka. Terus ada permainan tradisional pakai bambu, dimasukkan dalam balet.

Balet Indonesia bisa ditampilkan tidak hanya dari gerak, tapi bisa dari kostum, musik, gerak kombinasi yang diperkaya dari tari tradisi. Tapi akarnya tetap balet. Jadi orang melihat itu tetap balet.

Dulu Mbak Fari (Farida Oetoyo) dan Julianti Parani juga pernah mencoba membuat balet Indonesia ini. Saya lihat kok sekarang enggak diterusin. Mungkin kendalanya ya sama kayak yang saya hadapi, yaitu dana.

“Dance company”

Maya dan Namarina akan meresmikan Namarina Youth Dance (NYD). Ini semacam kelompok balet semiprofesional.

Mengapa Namarina tidak menjadi dance company?

Saya sudah kepengin banget punya dance company. Itu dari zaman saya pulang sekolah dari London dulu. Suatu saat saya mesti punya. Tidak harus sayalah, tetapi Indonesia harus punya.

Di masa Nanny Lubis itu pernah terpikir?

Dulu saya pernah menyampaikan keinginan membuat dance company ke mami, tetapi mami gak ada keinginan ke situ. Mami is a real teacher. Kalau saya lebih banyak maunya. Mungkin karena lebih muda, he-he-he.

NYD mengarah ke dance company?

Di sini saya ingin siapkan secuil murid saya, untuk dididik seni tari agar suatu saat nanti bisa punya dance company yang profesional, bukan sekadar penari cabutan. Maka saya pilih 17 penari dan akan saya kelola dengan baik. Manajemennya juga profesional. Tapi saya gak mau langsung memproklamirkan ini sudah profesional. Saya maunya semiprofesional dulu.

Mengapa?

Kami masih kesulitan dana. Pemerintah kita dan perusahaan belum berminat ke sini (tari). Coba saja lihat di Singapura, punya Singapore Dance Theater dan disponsori perusahaan-perusahaan besar seperti UOB dan SingTel. Karena mungkin menteri kebudayaannya juga men-support, jadi perusahaannya juga tertarik. Yah, semuanya memang saling terkait sih. Kalau pemerintah saja tidak tertarik seni, ya mau bagaimana.

Bagaimana soal teknik dan artistik?

Kami ada kendala untuk mendidik gereget atau roh para penarinya. Teknik sudah mulai bagus. Gak malu-maluin amatlah. Tapi teknik saja gak cukup kan? Penari harus punya passion dan itu harus saya ajarin setengah mati. Kita harus ajari mereka menjadi penari profesional.

Masa depan

Namarina: Ballet-Jazz-Fitness kini mempunyai sekitar 2.000 murid untuk kelas balet, senam, dan senam jazz. Murid balet berjumlah 1.200. Mereka tersebar di enam tempat, yaitu di kantor pusat Jalan Halimun, Jakarta Selatan, dan di cabang Kebayoran Baru, Grogol, Tebet, Pondok Gede, dan Bintaro. Usia peserta mulai 3 tahun sampai 82 tahun. “Yang usia 82 itu ibu-ibu yang ikut kelas senam. Bukan balet,” kata Maya.

Apakah masih ada orangtua yang menyekolahkan anaknya balet hanya sekadar demi prestise?

Masih. Tapi dari yang sekadar prestise seperti itu, kadang malah ada anak yang memang berbakat dan bisa jadi bagus. Banyak juga anak-anak yang enggak tahu apa itu balet. Tapi sekarang dengan ada promosi visual, seperti produsen boneka Barbie yang mengeluarkan seri bertema balet, seperti 12 Dancing Princess, Swan Lake, Nutcracker, jadi anak-anak sekarang sudah banyak yang ingin belajar balet karena sudah melihat bentuk visualnya itu. Ada juga ambisi orangtua pengin balet, tapi gak kesampaian, terus nyuruh anaknya balet.

Gimana Namarina ke depan?

Saya pengin Namarina bisa langgeng. Saya tidak punya anak perempuan, jadi saya pengin menjalani ini secara profesional saja. Siapa nanti yang akan menggantikan saya, ya biarkan melalui proses profesional saja. Mungkin lebih baik begitu daripada menjadi perusahaan keluarga. Belum tentu ada keluarga saya yang mau meneruskan. Saya sudah mulai ngeker-ngeker (meneropong) siapa yang kira-kira bisa melanjutkan.

Bagaimana mempertahankan nama besar Namarina?

Manajemen harus dikelola dengan baik. Peraturan dipegang teguh, pasti ke bawah akan lebih mudah. Harus ada standar dalam mendidik murid-murid di Namarina ini. Ke depan, saya harus lebih menguatkan manajemen.

Ada sejumlah kepala bidang yang saya latih langsung supaya memiliki artistic feeling mendekati saya. Sampai sekarang saya belum berani memberikan posisi artistic director ke salah satu dari mereka. Karena seorang artistic director harus memiliki wawasan yang lebih luas, tidak hanya soal tari saja, tetapi juga memahami panggung, lighting, dan kostum.

Soal mengajar dan koreografi, saya kira sudah bisa saya lepas, tetapi untuk artistic director harus pelan-pelan. Saya sendiri sebenarnya masih pengin banget bisa mencipta sebuah koreografi baru, tetapi karena ini acara 50 tahun yang sangat penting, saya menahan diri dulu untuk tidak ikut dalam proses kreatif bikin koreografi.

Urusan manajemen tidak menyita energi kreatif dan artistik Anda?

Jelas terganggu. Dulu waktu masih ada mami, saya lebih bisa membuat koreografi dengan tenang. Kalau sekarang harus membagi waktu untuk memeriksa pekerjaan-pekerjaan manajemen.

Makanya saya sudah mulai mendidik koreografer residen. Kini mereka sudah saya percaya penuh untuk membuat koreografi satu pentas utuh. Dulunya saya bagi-bagi, kalau satu pentas ada tiga babak, paling-paling saya kasih koreografi yang kecil-kecil dulu. Lama-lama nambah, dan sekarang mereka sudah bisa sendiri, bahkan sudah bisa lebih bagus dari saya.

Masih menari dan mencipta?

Saya terakhir kali menari di pentas tahun 1986. Sampai sekarang sih masih ngajar senam, karena senam sekarang kan sudah senam seni. Kalau tari sebagai ekspresi, saat sendirian mendengar musik Vivaldi, misalnya, kadang-kadang terinspirasi, yang saya catat jadi sebuah movement pendek, terus saya simpan. Siapa tahu nantinya bisa jadi bagian dari koreografi. (Dahono Fitrianto dan Frans Sartono, Kompas 24 Desember 2006) e-ti

Data Singkat
Maya Tamara, Pimpinan dan Direktur Artistik Namarina / Generasi Kedua Namarina | Direktori | penari, Dance, Namarina

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here