Anies Baswedan
Anies Baswedan | Tokoh.ID

[DIREKTORI] Anies Rasyid Baswedan, Ph.D menjabat sebagai Rektor Universitas Paramadina sejak tahun 2007. Ia dikenal sebagai aktivis, intelektual, dan pemikir yang peduli terhadap dunia pendidikan. Intelektual muda Indonesia yang memiliki talenta pemimpin dunia, yang masuk dalam daftar 100 Intelektual Dunia pilihan Majalah Foreign Policy tahun 2008 danYoung Global Leaders versi World Economic Forum tahun 2009, ini adalah penggagas Gerakan Indonesia Mengajar (GIM).

Dunia pendidikan memang tak bisa dipisahkan dari kehidupan pria yang dikenal energik dan memiliki segudang aktivitas ini. Ia memiliki darah pejuang pendidikan yang mengalir dari orang-tua dan kakeknya. Kedua orang tuanya, Rasyid Baswedan dan Aliyah Rasyid berprofesi sebagai akademisi. Ayahnya pernah menjabat sebagai Wakil Rektor Universitas Islam dan ibunya menjadi guru besar di Universitas Negeri Yogyakarta. Sedangkan, kakeknya AR Baswedan adalah seorang wartawan, anggota dewan, tokoh pejuang pergerakan nasional dan pernah menjadi Menteri Penerangan pada masa awal kemerdekaan Indonesia.

Anies Baswedan, lahir di Kuningan, Jawa Barat 7 Mei 1969 namun ia menghabiskan masa kecilnya di Yogyakarta. Anies memulai pendidikan formalnya pada usia lima tahun di TK Masjid Syuhada di Kota Baru, Yogyakarta. Memasuki usia enam tahun, Anies masuk ke SD Laboratori Yogyakarta dan melanjut ke SMP Negeri 5. Setelah lulus SMP, ia masuk ke SMAN 2 Yogyakarta dan terpilih dalam program pertukaran pelajar selama satu tahun di Milwaukee, Wisconsin, Amerika Serikat (1987-1988). Sehingga Anies menajalani masa SMA selama empat tahun (1985-1989).

Selama belajar di AS, Anies menemukan banyak pengalaman baru yang tidak terlupakan dan membuat pola berpikirnya menjadi lebih terbuka. Anies pun menjadi semakin kritis setiap kali melihat kejanggalan-kejanggalan di sekelilingnya.

Pada tahun 1989, Anies masuk ke Universitas Gadjah Mada dan berhasil merampungkan kuliahnya pada tahun 1995. Semasa kuliah, ia aktif sebagai aktivis mahasiswa dan tampil sebagai Ketua Umum Senat Mahasiswa UGM. Karena keaktifannya pula, Anies berhasil mendapat beasiswa dari Japan Airlines Foundation untuk mengikuti kuliah musim panas bidang Asian Studies di Universitas Sophia di Tokyo, Jepang.

Setelah lulus kuliah, Anies bekerja di Pusat Antar Universitas Studi Ekonomi di UGM. Anies kemudian mendapatkan beasiswa Fulbright untuk pendidikan Master Bidang International Security and Economic Policy di University of Maryland, College Park. Selama kuliah di sana, ia dianugerahi William P. Cole III Fellow di Maryland School of Public Policy, ICF Scholarship, dan ASEAN Student Award. Ia juga aktif menulis artikel mengenai desentralisasi, demokrasi, dan politik Islam di Indonesia serta menjadi pembicara dalam berbagai konferensi.

Pulang dari Amerika, Anies bekerja sebagai National Advisor bidang desentralisasi dan otonomi daerah di Partnership for Governance Reform, Jakarta (2006-2007). Ia juga pernah menjadi peneliti utama di Lembaga Survei Indonesia (LSI) tahun 2005-2007 dan Direktur Riset pada The Indonesian Institute. Pada tahun 2005, ia menjadi peserta Gerald Maryanov Fellow di Departemen Ilmu Politik di Universitas Northern Illinois dengan disertasinya tentang Otonomi Daerah dan Pola Demokrasi di Indonesia.

Hingga suatu ketika, Anies ditawari menjadi rektor di Universitas Paramadina (UPM). Namun Anies tidak segera mengiyakan tawaran itu. Apalagi saat itu, ia masih menjabat sebagai Direktur Riset di The Indonesian Institute, yang penghasilannya melampau gaji seorang rektor. Namun untuk menjawab tantangan tersebut, ia menetapkan tiga kriteria sebelum akhirnya memutuskan. Yaitu, apakah secara intelektual ia bisa bertumbuh, apakah dirinya tetap bisa menjalankan tanggung jawabnya sebagai kepala rumah tangga, dan apakah amanat ini mempunyai pengaruh sosial.

Setelah menimbang dengan matang, Anies memutuskan menerima tawaran itu dan resmi menjadi Rektor Universitas Paramadina pada 15 Mei 2007. Ia dilantik menggantikan cendekiawan intelektual Muslim, Nurcholish Madjid, salah satu pendiri universitas tersebut. Anies menerima jabatan itu saat ia berusia 38 tahun dan menjadi rektor termuda di Indonesia.

Sebagai rektor, Anies bertekad menyukseskan program UPM untuk menyiapkan generasi masa depan Indonesia. Menurut Anies, jika ingin mengubah wajah negeri ini (Indonesia), maka harus fokus pada anak muda dan bidang pendidikan, dan pendidikan yang terbaik hanyalah di universitas. Ia terinspirasi dari pernyataan Joseph Nye, Dekan Kennedy School of Government di Harvard University, AS. Dekan tersebut mengemukakan salah satu kunci keberhasilan universitasnya adalah admit only the best, hanya menerima yang terbaik.

Menurut Anies Baswedan, mahasiswa harus memiliki tiga karakter utama, yakni intelektualitas, moral dan ke-oposisi-an.

Anies kemudian menggagas rekrutmen anak-anak terbaik Indonesia yang ditindaklanjuti dengan mencanangkan Paramadina Fellowship yang memberikan beasiswa penuh kepada mahasiswa. Mahasiswa hanya dibebani tugas untuk belajar sebab keperluan sekolah dan biaya hidup sehari-hari sudah ditanggung. Ide ini mendapat sambutan dari para donatur, baik pribadi maupun institusi.

Usaha Anies Baswedan dalam memajukan pendidikan telah memikat perhatian masyarakat internasional. Ia menjadi satu-satunya orang Indonesia yang masuk dalam daftar 100 Intelektual Publik Dunia, yang dipublikasikan Majalah Foreign Policy Mei 2008, jurnal berpengaruh terbitan Amerika Serikat. Anies masuk dalam jajaran tokoh-tokoh dunia yaitu tokoh perdamaian, Noam Chomsky dan para penerima penghargaan Nobel, seperti Shirin Ebadi, Al Gore, Muhammad Yunus, dan Amartya Sen, serta Vaclav Havel, filsuf, negarawan, sastrawan, dan ikon demokrasi dari Ceko.

Tahun berikutnya, Anies menerima penghargaan dari World Economic Forum yang berpusat di Davos, yang memilih Anies sebagai salah satu Young Global Leaders (Februari 2009). Namanya disejajarkan bersama 230 orang Pemimpin Muda Dunia. Anies dipandang memiliki prestasi dan komitmen dalam memperbaiki keadaan masyarakat. Penghargaan yang diterima Anies tersebut sekaligus menambah panjang daftar tokoh intelektual Indonesia yang pernah mengharumkan nama Indonesia di tingkat internasional. Sebelumnya, sudah ada Presiden Soekarno, Sjahrir, Agus Salim, dan sebagainya.

Pada April 2010, Anies Baswedan terpilih sebagai satu dari 20 tokoh yang membawa perubahan dunia untuk 20 tahun mendatang versi majalah Foresight yang terbit di Jepang. Majalah tersebut menampilkan 20 tokoh yang diperkirakan akan menjadi perhatian dunia dan membawa perubahan dunia dalam dua dekade mendatang. Anies masuk dalam deretan nama tokoh dunia lainnya, seperti Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin, Presiden Venezuela Hugo Chavez, Menlu Inggris David Miliband, anggota Parlemen dan Sekjen Indian National Congress India Rahul Gandhi, serta politisi muda AS, Paul Ryan dari Partai Republik dan anggota House of Representative AS.

Sejauh ini, kermurnian Anies sebagai akademisi yang peduli dengan pendidikan belum terkontaminasi dengan hiruk pikuk perpolitikan nasional. Ia tetap konsisten pada idealismenya mengangkat kehidupan masyarakat melalui pendidikan agar semakin terdidik. Anies masih dipandang sebagai tokoh moderat yang tetap pada pendirian dan tidak memihak pada kekuatan politik.

Karena itu pulalah, Anies dipilih oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menjadi anggota Tim-8 dalam kasus sangkaan pidana terhadap pimpinan KPK yaitu Bibit dan Chandra. Meski Anies bukan pakar hukum, ia dipilih menjadi Juru Bicara Tim-8. Penyampaiannya yang sistematis, tenang dan obyektif dianggap turut membantu menjernihkan suasana dalam suhu politik yang memanas saat itu.

Gerakan Indonesia Mengajar

Sebagai seorang akademisi, Anies melihat bahwa pendidikan yang ditunjang oleh kemandirian dalam pembiayaan adalah suatu keniscayaan. Walau pada awal berdirinya, perguruan tinggi memang perlu dibiayai pemerintah, tetapi dalam perjalanan selanjutnya harus dapat mandiri. Bahkan, dalam hal ini, Anies menegaskan bahwa perguruan tinggi harus mampu menerjemahkan bahasa pengelolaan pendidikan dalam bahasa pengelolaan bisnis modern. Seperti yang dilakukannya di Paramadina dengan merintis Program Beasiswa bernama Paramadina Fellowship yang mengadopsi konsep yang biasa digunakan di universitas-universitas di Amerika Utara dan Eropa.

Anies juga melihat bahwa kunci keberhasilan sebuah perguruan tinggi adalah menerima yang terbaik (admit only the best). Selain itu, lulusan perguruan tinggi yang baik adalah bukan yang setelah lulus berlomba membuat CV (Curriculum Vitae) sebagus mungkin. Tapi sebaliknya, mahasiswa dituntut harus mampu membuat proposal bisnis ketika lulus. Dengan harapan para lulusan bukan mencari pekerjaan tetapi mampu membuka lapangan pekerjaan.

Menurut Anies, mahasiswa harus memiliki tiga karakter utama, yakni intelektualitas, moral dan ke-oposisi-an. Selama ini, dua karakter terakhir sudah dapat dikatakan tuntas. Timbulnya pergerakan organisasi-organisasi mahasiswa menunjukkan karakter oposisi mahasiswa. Meski kadang terlihat anarkis tetapi mahasiswa telah mengerti batasan-batasan moral yang harus dijaga. Akan tetapi, karakter pertama, intelektualitas, masih belum dihayati. Implementasi karakter tersebut adalah kemampuan menulis dan berbahasa internasional. Anies menegaskan bahwa dalam satu waktu nanti, seseorang bukan lagi hanya warga sebuah negara, tetapi juga menjadi warga dunia. Dengan kesadaran menjadi warga dunia, mahasiswa bisa mempersiapkan diri untuk menyambut masa depan.

Dalam dunia akademik yang kompetitif, kemampuan menulis menjadi perlu. Penyampaian ide dalam bentuk tulisan akan berharga sekali. Bahkan, menurut Anies, dalam membangun peradaban, kemampuan menulis menjadi fundamental. Selain itu, kemampuan berbahasa internasional akan membantu mahasiswa untuk menyampaikan ide-idenya. Di era globalisasi ini, akumulasi pengetahuan jangan sampai sia-sia hanya karena dua syarat itu diabaikan.

Selain itu, untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang cerdas, Anis menyadari bahwa hal itu bukan lagi hanya sekadar tanggung jawab pemerintah, sekolah dan guru melainkan juga tanggung jawab bersama. Itulah sebabnya, Anis menggagas program Gerakan Indonesia Mengajar (GIM) pada tahun 2009. Ia mengajak putra-putri terbaik dari seluruh Indonesia, yang terdidik, berprestasi dan memiliki semangat juang untuk bekerja sebagai guru SD selama satu tahun dan dikirim ke daerah-daerah pelosok Indonesia.

Anies meyakini, meski Gerakan Indonesia Mengajar tidak dapat menyelesaikan seluruh persoalan pendidikan di Indonesia, setidaknya dengan Gerakan Indonesia Mengajar dan kehadiran tenaga guru yang terbaik ini bisa mendorong pemerataan kualitas pendidikan di Tanah Air, khususnya di daerah terpencil.

Panggilan Hati Pengajar Muda

Sejak Gerakan Indonesia Mengajar digagas, banyak anak-anak muda yang tertarik untuk bergabung. Mereka tamatan dari berbagai universitas ternama seperti UI, ITB, UGM, Unair, Unpad, Undip, Universitas Paramadina, ITS, dan Unhas dengan nilai kelulusan atau IP rata-rata di atas 3. Mereka berangkat atas keikhlasan sendiri, bahkan ada yang rela meninggalkan pekerjaannya yang cukup menjanjikan. Dengan satu tujuan mereka ingin menjadi inspirasi dan cahaya bagi para siswa yang kurang beruntung di daerah terpencil.

Orang-orang muda berusia di bawah 25 tahun yang bergerak di bawah naungan Yayasan “Indonesia Mengajar” (indonesiamengajar.org) ini siap dengan kemungkinan mereka akan berhadapan dengan warga dan murid-murid yang belum tahu berbahasa Indonesia, penginapan di desa yang hanya sekadarnya, transportasi dan listrik yang belum ada, maupun makanan yang ala kadarnya.

Selama mengajar, mereka memang akan mendapat gaji sebesar Rp3,2 juta hingga Rp4,8 juta. Kemudian usai mengajar selama satu tahun, mereka juga akan diberi kesempatan untuk memulai karier sesuai bidang yang diminati di perusahaan-perusahaan yang bermitra dengan Yayasan “Indonesia Mengajar”.

Adeline Magdalena, seorang sarjana sains dari ITB misalnya, mengaku ikut program ini karena ingin berbagi mimpi dengan anak-anak yang mungkin tidak dapat mengenyam pendidikan tinggi seperti dirinya. “Secara pribadi saya tidak berencana menjadi guru tapi saya ingin berbagi pengalaman dan mimpi dengan anak-anak di daerah terpencil,” katanya.

Ayu Kartika Dewi, lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga, Surabaya yang sudah bekerja di perusahaan multinasional di Singapura bahkan rela meninggalkan pekerjaannya demi program “Indonesia Mengajar”.

Erwin Puspaningtyas Irjayanti (24 tahun), jebolan IPB Bogor yang sebelumnya sudah bekerja di sebuah bank terkemuka di Jakarta juga rela meninggalkan pekerjaannya untuk mengabdi menjadi guru sekolah dasar nun jauh di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. “Ini kesempatan emas berbuat untuk negeri sekaligus memenuhi panggilan hati,” kata wanita penulis novel The Sacred Romance of King Sulaiman & Queen Sheba (1986) ini.

Begitu juga dengan Bagus Arya, pemuda yang gagasannya mengenai koperasi pemuda diakui World Bank sebagai salah satu ide terbaik, meninggalkan pekerjaannya di Bank Indonesia karena tertarik untuk memajukan pendidikan dan ingin membaktikan diri bagi Indonesia secara langsung melalui pengajaran.

Gerakan Indonesia Mengajar, melakukan seleksi pertama ‘Pengajar Muda’ dengan proses yang ketat pada Juli 2010. Kemudian menjalani pelatihan (19 September-9 November 2010) di Ciawi, Bogor. Pemberangkatan pertama para pengajar muda dilakukan pada 10 November 2010 ke berbagai daerah tujuan yang telah ditetapkan.

Menanggapi semangat para “Pengajar Muda” ini, Anies Baswedan yang merupakan penggagas sekaligus Ketua Yayasan “Indonesia Mengajar” mengatakan bahwa itu murni dari hati peserta. “Sudah dikatakan lokasi sebagian besar SD terpencil ini tidak ada listrik, tidak ada sinyal HP. Tapi masih banyak saja anak Indonesia yang terdidik baik, dari keluarga mapan, dan berbagai strata siap mendidik saudara-saudaranya,” kata suami dari Fery Farhati dan ayah dari Mutiara Annisa, Mikail Azizi, dan Kaisar Hakam ini.

Program ini menurut Anis merupakan bagian dari upaya untuk mengisi kekurangan guru di tingkat sekolah dasar di pelosok Indonesia. Ke-51 pengajar muda itu dikirim ke daerah terpencil di 5 kabupaten (Bengkalis-Riau, Tulang Bawang Barat-Lampung, Passer-Kaltim, Majene-Sulbar dan Halmahera Selatan-Maluku Utara).

Menteri Pendidikan Nasional, Mohammad Nuh sangat mendukung program ini. “Indonesia Mengajar menjadi satu contoh inisiatif masyarakat untuk mendukung upaya menciptakan manusia Indonesia yang berkualitas,” katanya. Arifin Panigoro, pemilik Medco Group juga mendukung program ini karena pendidikan menurutnya merupakan tonggak utama kemajuan bangsa. Sementara Indika Energi yang merupakan salah satu sponsor kegiatan ini, melalui Presiden Direktur-nya, M. Arsjad Rasjid berharap kegiatan ini dapat menciptakan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas.

Sejak Gerakan Indonesia Mengajar digagas, Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar telah berhasil mendidik dan mengirimkan Pengajar Muda ke pelbagai daerah. Dari empat gelombang yang sudah dilakukan, sebanyak 241 generasi muda terpilih telah ditempatkan di 134 desa di 16 kabupaten di Indonesia. Penulis: hotsan, atur | Bio TokohIndonesia.com

Data Singkat
Anies Baswedan, Rektor Universitas Paramadina / Intelektual Muda Bertalenta Pemimpin | Direktori | UGM, Pendidikan, Rektor, intelektual, paramadina, pengajar, GIM

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here