Kecerdasan ‘Miss Telat’

[ Miranda Goeltom ]
 
0
72
Miranda Goeltom
Miranda Goeltom | Tokoh.ID

[DIREKTORI] Deputi Senior Bank Indonesia (2004-2008) ini seorang srikandi keuangan Indonesia yang terbilang cerdas. AlumniĀ  S1 FE-UI dan Doktor (S3) dalam Ilmu Ekonomi Boston University, USA, ini digelari teman-temannya Miss Telat, saking seringnya telat. Tapi, saat teroris meledakkan bom di Hotel JW Marriot, kebiasaan telat, telah membuatnya luput dari bahaya.

Mantan Deputi Asisten Menko Ekku Wasbang dan dosen FE Universitas Indonesia, ini nyaris jadi korban bom di Hotel JW Marriot Jakarta. Siang itu, dia memang tengah menuju Hotel JW Marriot itu untuk memenuhi janji makan siang di restoran Syailendra di hotel itu dengan Hans WinkelBolen, Direktur Rabo Bank yang akan mengakhir masa tugasnya di Jakarta. Tapi karena ia telat seperti kebiasaannya — sehingga teman-temannya menjulukinya ‘Miss Telat’ — ia selamat tak terkena bom.

Miranda berjanji akan datang pukul 12.00 Wib untuk makan siang itu. Tapi sampi pukul 12.30 Wib ia masih sedang menuju tempat. Alasannya klasik, jalanan seputar lokasi itu macet. Sopirnya Zaenal sudah mencoba potong jalan, tetapi tetap juga telat. Beberapa puluh meter dari hotel itu, ia pun sempat menelepon Hans memberitahu keterlambatannya karena macet.

Tiba-tiba terdengar suara ledakan, lalu nyala api menyembur, asap tebal mengepul dan jerit tangis melengking. Miranda meminta sopirnya putar balik. Ia bersyukur terhindar dari maut itu. Ia pun mencoba menelepon Hans berulangkali, tapi tidak ada jawaban. Belakangan diketahui, Hans WinkelBolen tewas akibat ledakan bom itu.

Itu sepenggal kisah perjalanan hidup Miranda. Sebuah kisah yang sungguh menggambarkan betapa betapa Tuhan masih menghendakinya hidup. Hidup matinya seseorang manusia, sehebat apa pun dia, adalah tergantung pada Khalik Pencipta.

Begitu pula perjalanan karir seseorang. Tidaklah semata-mata ditentukan kecerdasan atau kemampuan seseorang. Sebagai seorang beriman, Miranda juga percaya, bahwa jabatan apa pun yang dipercayakan kepadanya adalah atas kehendak Tuhan.

Hal ini juga dirasakannya saat mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia (1999-2003) ini terpilih menjadi Deputi Senior, mengggantikan Anwar Nasution. Sebelumnya, dia tidak menduga akan kembali berkiprah di Bank Indonesia, setelah tidak terpilih menjadi Gubernur BI, kalah bersaing dengan Burhanuddin Abdullah.

Namun, Presiden Megawati Soekarnoputri kembali mengajukannya sebagai calon Deputi Senior Gubernur BI bersama S Budi Rochadi dan Hartadi A Sarwono. Ia dipilih Komisi IX DPR setelah melalui rangkaian penilaian kemampuan dan kepatutan (fit and proper test) yang berlangsung lebih dari 10 jam, Selasa (8/6/2004), dengan memperoleh 41 suara mengungguli S Budi Rochadi (12 suara) dan Hartadi A Sarwono (1 suara) dari 54 anggota Komisi IX DPR yang hadir. Jumlah anggota Komisi IX DPR 56, dua tidak hadir. Kemudian ia dilantik Ketua MA Bagir Manan, Selasa 27 Juli 2004 untuk masa jabatan 2004-2008.

Wanita cerdas ini dilahirkan di Jakarta tanggal 19 Juni 1949. Menyelesaikan pendidikannya sebagai Sarjana Ekonomi di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, meraih gelar Master in Political Economy di Boston University , USA dan gelar Ph D dalam Ilmu Ekonomi juga dari Graduate School of Economics di Boston University, USA. Disertasinya berjudul “Financial Liberalization, Capital Structure, and Investment: An Empirical Analysis of Indonesian Panel Data, 1981-1988“.

Pengalaman kerjanya di samping sebagai staf pengajar di berbagai lembaga juga sebagai anggota kelompok kerja Dewan Moneter, anggota Tim Teknis Pengkajian Proyek Pemerintah, BUMN dan Swasta yang berkaitan dengan Pemerintah/BUMN, serta sebagai Deputi Asisten Menko Ekku Wasbang, Republik Indonesia.

Tahun 1993-1997 menjabat sebagai Deputi Asisten Menteri di bidang Kebijakan Moneter dan Fiskal untuk Ekonomi, Keuangan dan Pengawasan Pembangunan RI. Kemudian 1997-1999 dan 1999-2003, menjabat sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia berdasarkan Keppres Nomor 150/M Tahun 1999 tanggal 17 Mei 1999, setelah disahkannya UU No 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia. Di samping itu, dia juga ditunjuk sebagai Gubernur Pengganti (Alternate Governor) untuk Indonesia di Bank Dunia.

Kemudian Presiden Megawati Soekarnoputri mengajukannya salah satu dari tiga calon Gubernur Bank Indonesia (BI), untuk menggantikan Syahril Sabirin yang berakhir masa jabatannya, 17 Mei 2003, yakni Miranda S Goeltom, Burhanuddin Abdullah, dan Cyrillus Harinowo, Jumat 14 Februari 2003.

Pada proses pencalonan, terutama proses fit and proper test (uji kelayakan dan kepatutan) yang dilakukan DPR dirasakannya berlangsung tidak fair. Banyak hal-hal yang menyimpang dari substansi. mantan suaminya, Siregar, juga mengumbar cerita-cerita kurang baik tentang dia.

DPR pun terbawa, sengaja atau tidak, ke arah cerita Siregar itu. Dalam proses fit and proper test yang dimulai sejak pukul 10.00 pagi, masing-masing calon menyampaikan misi dan visi. Miranda S Goeltom mendapat kesempatan pertama, Cyrillus Harinowo mendapat giliran kedua dan Burhanuddin mendapat kesempatan paling akhir pada malam hari.

Pemungutan suara berlangsung hingga tengah malam, Senin (12/5/03),. Akhirnya Burhanuddin Abdullah terpilih menjadi Gubernur Bank Indonesia (BI) yang baru. Ia meraih 34 suara dari 52 anggota Komisi IX DPR. Miranda S Goeltom hanya meraih 18 suara dan Cyrillus Harinowo tidak meraih satu suara pun.

Setelah itu, dia sempat beristerahat dan berkiprah di luar Bank Indonesia. Tetapi, Presiden Megawati Soekarnoputri kembali mengajukannya kepada DPR sebagai calon Deputi Senior Gubernur BI. Dia terpilih. Kemudian pada tanggal 26 Juni 2004 ditetapkan sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia berdasarkan Kepres RI Nomor 98/M tahun 2004 dan dilantik Ketua MA Bagir Manan, Selasa 27 Juli 2004 untuk masa jabatan 2004-2008.

Dalam penyampaian visi dan misi Miranda menekankan reposisi BI dalam mendukung perekonomian. Pertama, reposisi itu meliputi tantangan perekonomian dan peranan BI sendiri, di antaranya dukungan BI terhadap pencapaian kestabilan ekonomi makro dan peningkatan fungsi intermediasi perbankan, kebijakan suku bunga dan nilai tukar, serta usaha kecil menengah dan Bank Syariah. Kedua, peranan BI dalam menciptakan stabilitas sistem keuangan dan kaitannya dengan stabilitas moneter. Ketiga, peningkatan good governance. ti/tsl

Data Singkat
Miranda Goeltom, Deputi Senior Gubernur BI 2004-2008 / Kecerdasan ‘Miss Telat’ | Direktori | Dosen, UI, BI, Deputi Gubernur

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here