Menyulam Imajinasi Menjadi Cerita

[ Yanusa Nugroho ]
 
0
287
Yanusa Nugroho
Yanusa Nugroho | Tokoh.ID

[DIREKTORI] Menulis apa saja yang ada di benaknya dan tak segan menembus batas nilai-nilai yang dapat membelenggunya dari kreativitas. Itulah gaya penulisan Yanusa Nugroho. Karya-karya cerpen peraih Anugerah Kebudayaan 2006 dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata ini sudah menghiasi halaman media massa sejak tahun 80-an.

Nama Yanusa Nugroho di dunia sastra Indonesia dikenal lewat cerpen-cerpennya yang mengangkat kisah pewayangan. Hampir semua cerpennya yang terkumpul dalam buku Di Batas Angin dan Manyura, bercerita tentang kisah-kisah wayang.

Namun, jika selama ini pencitraan wayang selalu lekat dengan nilai-nilai yang konservatif, tidak demikian dengan gaya penulisan Yanusa. Pria kelahiran Surabaya, 2 Januari 1960 ini berani merobohkan nilai-nilai yang ada dalam pewayangan. Lewat cerpennya Di Batas Angin, Yanusa berusaha meruntuhkan keyakinan pembaca akan sifat Pandawa yang penuh dengan kebaikan. Dalam karyanya yang lain, tak tanggung-tanggung Yanusa menyebut bahwa negeri Hastinapura hancur karena kecerobohan Yudhistira.

Dari kisah-kisah pewayangan itu pula, suami dari Yuli ini akhirnya dapat melahirkan konsep pertunjukan wayang kulit televisi KALASINEMA yang digarapnya bersama Ki Manteb Sudharsono dan para seniman pengajar STSI, Surakarta. Konsep pertunjukan wayang purwa yang sempat dijadikan VCD oleh Mathew Cohen, pengamat seni pertunjukan Asia dan pengajar di Glossgow University, untuk materi pembelajaran di fakultas yang dipimpinnya.

Pria yang hobi membaca ini menjalani masa kecilnya di Surabaya. Saat bersekolah di SD YMCA Surabaya, kesenian tradisional khas Jawa, seperti ludruk, ketoprak, wayang orang, dan wayang kulit masih dapat dengan mudah dijumpai di kota Pahlawan itu. Tak heran jika sejak kecil, Yanusa sudah jatuh cinta pada wayang, terutama wayang kulit.

Belum sempat menamatkan pendidikan dasar di Surabaya, pada tahun 1970 Yanusa kemudian diboyong orangtuanya ke Palembang dan melanjutkan pendidikannya di SD Methodist II Palembang dan lulus pada tahun 1974. Setamat SD, Yanusa melanjutkan studi ke SMP Negeri I Sidoarjo, Jawa Timur. Selepas SMP pada tahun 1977, ia kemudian pindah dari Jawa Timur ke Jakarta untuk bersekolah di SMAN 43, Jakarta Selatan.

Selepas dari sekolah lanjutan atas, ia pernah tercatat sebagai mahasiswa di IPB (Institut Pertanian Bogor), namun drop out pada tahun 1983. Ia kembali hijrah ke ibukota dan mendaftar lagi menjadi mahasiswa di Fakultas Sastra UI, jurusan Sastra Indonesia yang diselesaikannya pada tahun 1989.

Ia mulai berkarya pada tahun 1991 dengan menjadi penulis naskah di biro iklan Adwork Advertising. Ayah dua anak ini rupanya bukan tipe orang yang cepat puas dengan apa yang telah diraihnya. Setelah Adwork Advertising, ia kemudian mencari pengalaman di tempat baru. Indo-Ad (sekarang bernama Ogilvy, Jakarta) menjadi tujuan selanjutnya. Di sana, ia tetap berprofesi sebagai penulis naskah iklan.

Kemampuan menulis Yanusa beberapa kali mendapat apresiasi, antara lain penghargaan Multatuli dari Radio Nederland untuk cerpen Kunang-Kunang Kuning (1987), kumpulan cerpen Segulung Cerita Tua yang sempat masuk nominasi Hadiah Sastra Katulistiwa, dan Anugerah Kebudayaan tahun 2006 dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata untuk cerpennya yang berjudul Wening.

Petualangan Yanusa ke berbagai biro iklan akhirnya berakhir pada tahun 1998. Sejak tahun itu, ia lebih menikmati hidup sebagai penulis lepas. Seiring dengan berjalannya waktu, Yanusa banyak menulis cerpen di media massa seperti Kompas, Matra, Suara Pembaruan, Media Indonesia, Koran Tempo, Suara Merdeka, Republika, Femina, Amanah, Syir’ah, Noor, dan Ayah Bunda. Sebagian besar dari cerpen-cerpennya itu telah dibukukan. Bulan Bugil Bulat (1989), Cerita di Daun Tal (1992), Menggenggam Petir (1996), Segulung Cerita Tua (2002), Kuda Kayu Bersayap (2004), Tamu dari Paris (2005) adalah karya cerpennya yang diterbitkan oleh penerbit Gramedia dan Grasindo.

Selain itu, cerpen-cerpennya pernah dibukukan bersama sastrawan lainnya di dalam Kado Istimewa (1992), Lampor (1994), Laki-Laki yang Kawin dengan Peri (1995), Mata yang Indah (2001), Jejak Tanah (2002), Sepi pun Menari di Tepi Hari (2004), Kurma (2003), China Moon (2003), dan satu kumpulan cerpen yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, juga bersama sastrawan lainnya, berjudul Diverse Lives-editor Jeanette Lingard (1995). Novelnya yang sudah diterbitkan antara lain Di Batas Angin (2003), Manyura (2004), Boma (2005).

Menurut pengarang yang lebih suka menulis di kamar sempitnya ini, cerpen-cerpen yang ditulisnya itu berawal dari ilham yang didapatnya. Seperti kala ia mendengarkan kaset rekaman wayang kulit almarhum Ki Narto Sabdo. Bunyi-bunyian gendhing pengiring membuahkan inspirasi bagi Yanusa. Saat itu ia seperti melihat sebuah adegan gelak tawa, sedih, perang, air mata, darah, secara jelas dan gamblang.

Yanusa juga mengaku, sering kali dalam berkarya ia terilhami cerita-cerita yang telah ia dapat puluhan tahun sebelumnya. Atau bahkan cerita yang ia dapat dari ibunya saat ia masih kecil. Begitu pula saat ia mendengarkan khotbah dari seorang khatib. Khotbah itu kadang memberinya ide untuk menulis, seperti dalam penulisan cerpen berjudul Umairah misalnya. Padahal, cerita yang bertutur tentang nabi yang tertidur di luar rumah karena tidak mau membangunkan istrinya itu, menurut Yanusa, telah didengarnya saat dirinya masih di bangku SMA.

Tak hanya Umairah, banyak cerita-cerita lain yang didapat Yanusa sejak puluhan tahun sebelumnya. Dan rata-rata dari cerita itu, berasal dari kejadian-kejadian kecil yang terjadi tanpa ia tahu persis kapan. Kemudian cerita itu mengendap dalam pikirannya, dan tiba-tiba saja muncul lewat imajinasinya. Ia pun berhasil membuat tokoh beserta tabiatnya dan jadilah sebuah peristiwa dalam bentuk tulisan. Saat membaca ulang cerpen yang telah ia buat, Yanusa hanya bisa terkekeh. Pasalnya ia baru sadar betapa banyaknya elemen yang telah ia ramu di dalam cerpen itu. Jadi, Yanusa “hanya” menulis apa-apa yang ada dalam benaknya.

Seorang penulis, Damhuri Muhammad bahkan mengumpamakan cerpen Yanusa seperti percikan-percikan api di ujung sebatang Dji Sam Soe saat Yanusa menghisapnya dalam-dalam. Jika lengah dapat mengenai baju. Mungkin panasnya tak seberapa, tapi bisa membuat baju bolong-bolong.

Kepiawaian Yanusa Nugroho dalam merangkai kata juga ia buktikan dengan membuat naskah skenario yang menarik untuk anak-anak. Naskah itu diproduksi oleh Red Rocket Bandung yang dikemas dalam bentuk serial animasi berjudul Dongeng Untuk Anak dan Kau. Mantan redaktur Majalah Berita Buku IKAPI ini juga pernah menulis salah satu skenario seri Tokoh Bangsa, Bung Hatta untuk SET Production. Ia juga menulis naskah berjudul Gallery of Kisses di EKI Dance Company dan membantu kelompok Deddy Luthan Dance Company dalam menggarap beberapa karya tari mereka.

Di rumahnya yang asri di ujung selatan Jakarta, tepatnya di Bukit Nusa Indah, Jalan Pinang kav. 982, Ciputat 15414, didampingi istri dan kedua buah hatinya, Yanusa terus berkarya, terutama menulis cerita bersambung dan cerita pendek. Di samping menulis, Yanusa Nugroho mengajar penulisan kreatif (copywriting) di Yayasan Buddha Dharma Indonesia (BDI), pembimbing penulisan naskah iklan, pembimbing workshop penulisan cerita fiksi (cerpen) di berbagai tempat dan menulis artikel pentas-pentas kesenian di berbagai daerah di Indonesia.

Kemampuan menulis Yanusa beberapa kali mendapat apresiasi, antara lain penghargaan Multatuli dari Radio Nederland untuk cerpen Kunang-Kunang Kuning (1987), kumpulan cerpen Segulung Cerita Tua yang sempat masuk nominasi Hadiah Sastra Katulistiwa, dan Anugerah Kebudayaan tahun 2006 dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata untuk cerpennya yang berjudul Wening. eti | muli, red

Data Singkat
Yanusa Nugroho, Penulis / Menyulam Imajinasi Menjadi Cerita | Direktori | IPB, UI, cerpen, penulis, cerpenis

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here