Paling Berkesan Ketika Juara I Azan

[ Ali Umri ]
 
0
58
Ali Umri
Ali Umri | Tokoh.ID

[DIREKTORI] MTI-37: Filsafat hidup HM Ali Umri menujukkan dia seorang yang agamis, sangat familiar dan tidak pernah merasa dendam dan curiga terhadap seseorang.

Semua hal menarik dan perlu dinikmati. Artinya, jangan pernah menaruh kebencian terhadap sesuatu meskipun hal itu mungkin tidak disukai. Setiap sesuatu itu ada minus-plusnya. Karenya, jangan pernah menilai seseorang tidak menarik. “Itu filsafat hidup saya,” tegas Umri.

Namun dalam perjalan hidup, menurut Umri, paling berkesan dalam hidupnya adalah ketika masih duduk di sekolah dasar. Dia bersama-sama teman sebaya setiap menjelang magrib selalu berlomba-lomba datang ke masjid Baturrahman di dekat rumahnya di kota Binjai untuk memukul bedug dan azan. Siapa yang berhasil memukul bedug dia akan diberikan kesempatan untuk azan.

Salah satu kelebihan Umri berbeda dengan sebagain teman-teman sebayanya, tidak semua bisa azan meski pun berhasil memukul bedug. Berbeda dengan Umri, di masa kecilnya dia dikenal seorang yang sangat baik melantunkan azan.

Kepiawaiannya dalam melantunkan azan, dibutktikan dengan keberhasilannya menjadi Juara I Azan ketika masih duduk di sekolah dasar. Tak mengherankan, sejak kecil Umri sudah sangat dikenal tidak hanya di kalangan rekan-rekan sebayanya tapi juga di kalangan orang tua di lingkungan tempatnya tinggal.

Ketika masih duduk di sekolah dasar, Umri juga dikenal di kalangan teman-temannya dan keluargnya sebagai guru ngaji. Mengawali predikatnya sebagai guru ngaji, ketika belajar kepada HM Djamil Siregar. Baru beberapa minggu belajar, Umri sudah bisa membaca Al’Quran. Karena kepintarannya, Umri kemudian diangkat Haji Djamil sebagai asisten yang selanjutnya menjadi guru ngaji di kalangan keluarganya.

Selain dikenal karena kepiawaiannya azan dan guru ngaji keluarganya, Umri juga di kalangan rekan-rekannya sangat dikenal seorang yang sangat sosial. Dalam kesehariannya, selain akrab dengan teman-temannya, dia juga selalu makan dan jajan berjamaah mentraktir sahabat-sahabatnya. Maklum ketika itu, orang tuanya, H Syaiful Bahri pejabat di perkebunan, uang jajannya selalu lebih dari cukup.

Ketika beranjak memasuki SMP, Umri mengaku pernah merasa sangat kecewa terhadap dirinya. Mungkin disebabkan lebih banyak bermain-main dengan teman-temannya, nilai rapornya anjlok, pernah rangking ke-39 dari 42 siswa. Tapi sebaliknya pernah menjadi rangking ke-11 dari 300 murid di SMP Negeri I Binjai tempatnya sekolah.

Di SMP Negeri I Binjai, selain Umri dikenal sosial, dia juga dikenal seorang yang sangat dekat dengan dunia olah raga seperti volly, bola kaki dan pimpong. Meski badannya kecil dan pendek, tapi dalam berbagai kegiatan olahraga, Umri selalu tampil dengan prima. Bahkan dalam olahraga sepak bola, dia dikenal sebagai salah seorang pemain andal dalam klub Semut Hitam.

Imam Setiap Ramadhan
Menyimak perjalanan hidup Umri sejak kecil hingga kini menduduki jabatan orang nomor satu di Pemko Binjai dan Partai Golkar Sumut, kini didukung berbagai elemen masyarakat dari pelosok desa sampai ke kota menjadi Gubsu priode 2008/2015, lima tahun ke-depan, cukup menarik memang. Bahkan banyak di antaranya pantas untuk diteladani.

Salah satu yang patut diacungkan jempol dan boleh jadi tidak semua di antara pejabat muslim bisa, adalah kemampuan Umri bertindak sebagai iman dan bilal pada saat bulan suci Ramdhan, meski itu hanya dilingkungan keluarganya dan mereka yang bekerja di rumahnya.

“Saat-saat bulan suci Ramadhan, kita berkumpul bersama, sholat berjamaah dan saya bertindak sebagai imam dan bilal. Semua keluarga dan orang-orang yang tinggal di rumah meski di antaranya ada yang berstatus pekerja, kita tidak membedakannya, semua menyatu bagaikan keluarga besar,” tegas Umri.

Bahkan dalam kesehariannya di luar bulan suci Ramadhan, Umri memang nyaris tidak pernah membedakan pekerja di rumah dan ladangnya dengan keluarga. Malah ada di antaranya diberangkatkan Umroh dan ikut bersama dengan keluarganya jalan-jalan, misalnya ke mal dan tempat-tempat rekreasi bahkan ke Malaysia.

“Saya tidak melihat mereka sebagai pekerja, tapi sebagai teman yang membantu saya dan keluarga,” tegas Umri menyebut mereka, orang-orang yang menjadi pembantu di rumah mau pun di ladangnya.

Ajaran agama Islam yang dianut, dihayati dan ditekuninya sejak kecil, terlihat memang dari keseharian dan keberadaan kediamannya. Selain bertindak sebagai imam saat sholat berjamaah dengan keluarga dan orang-orang yang bekerja di rumah dan ladangnya, di rumahnya juga selalu disediakan musolla keluarga. Bahkan berbagai ornamen dan kaligrafi ayat-ayat suci, selalu menghiasi setiap rumah miliknya. mti/aep

02 | Amat Sedih Saat Ibunda Tercinta Wafat

MTI-37: Kisah seperempat abad lalu, tahun 1982, ketika masih duduk di bangku kelas 1 SMA, mungkin paling menyedihkan dalam kehidupan Umri. Saat ibunda tercintanya wafat. Meski disadarinya semuanya itu adalah atas takdir dan kehendak yang maha kuasa, Allah Maha Pecipta.

Kala itu, saat ibunda tercintanya, Hj Siti Maliah Hasibuan, sakit dan memerlukan obat yang harus dijemput dari rumah Pak Haji Saleh di Langsa, Aceh Timur. Sebagai seorang anak laki-laki satu-satunya dari 4 bersaudara dan selalu patuh perintah orangtua, Umri pun berangkat ke Langsa. Satu-satunya keinginannya, ibunda tercinta sembuh dari penyakitnya.

Namun takdir berbicara lain. Ketika Umri pulang dari Langsa dengan hati ceria dan berbunga-bunga membawa obat ibundanya serta buah tangan (oleh-oleh) duku, ternyata ibundanya telah dipanggil keharibaan Ilahi.

Menghadapi kenyataan itu, Umri nyaris tak kuasa menahan rasa kesedihannya. Namun sebagai seorang yang sudah ditempa ajaran agama, Umri sadar, semuanya adalah kehendak-Nya. Umri kemudian mengambil air wuduq, selanjutnya membaca Yasin untuk dipersembahkan kepada almarhum ibundanya tercinta.

Selama menunggui jenazah ibundanya, sebelum diberangkatkan ke tempat peristirahatan terakhir, Umri terus membaca Yasin sampai sepuluh kali. Hanya itu yang bisa saya lakukan dan persembahkan kepada ibunda sesuai dengan ajaran agama, kenang Umri dengan wajah sendu mengenang kisah seperempat abad lalu.

Dalam perjalanan hidupnya hingga berhasil menjadi orang nomor satu di Pemerintah Kota Binjai dua periode dan memimpin (ketua) partai terbesar, Golkar di Sumut, Umri tidak pernah melupakan kepergian ibundanya tercinta tersebut. Itu sebabnya, setiap imfaq/sedekah yang diberikannya kepada siapa pun termasuk membantu membiayai keberangkatan haji dan umroh, ratusan warga masyarakat, Umri selalu meniatkannya untuk dipersembahkan sebagai amal kepada ibundanya.

Dalam ajaran agama Islam, seseorang yang telah berpulang kerahmatullah (meninggal), maka putuslah hubungannya dengan dunia kecuali amal perbuatanya selama hidup dan doa anak yang sholeh. Agaknya Umri sangat mahfum akan ajaran agama tersebut. Hanya doa anak yang sholeh dan amal ibadahnya yang bisa membantu ibundanya di akhirat.

Sebuah contoh yang patut diteladani dari seorang anak yang berhasil dan sholeh, tak pernah lupa akan ibunya, melalui doa dan perbuatan amal.

Harapan ibunya ketika masih hiudp, “harus berusaha berbuat baik terhadap sesama” dan “tidak melupakan kodrat meski berhasil dalam hidup” selalu menjadi barometer dalam perjalan kehidupan Umri. Itulah sebabnya, dia selalu berusaha membantu teman-temannya bahkan siapa saja dalam berbagai kesempatan sepanjang tidak menyalahi. Dan tidak melihat latar belakang sosial, etnis dan kepercayaan seseorang.

Umri memang selama ini dikenal seorang yang berjiwa nasional yang berwawasan kebangsaan. Tak mengherankan, seorang rekannya meski berbeda agama dan etnis seperti Richard Marolop Nainggolan, seusai tamat SMA bercita-cita masuk ke Akabri Kepolisian mengeluhkan dana untuk mengurus keperluan surat-surat administrasi dan perlengkapan lainnya.

Mendengar keluhan rekannya ini tanpa pikir panjang, Umri menyatakan kesediaannya membantu, apa pun yang memungkinkan untuk mewujudkan cita-cita sahabatnya ini. Maklum keluarga Umri di kota Binjai termasuk orang terpandang dan berkecukupan tapi dikenal bejiwa sosial dan dermawan.

Berkat persahabatan dan dukungan Umri, apalagi Richard memang memenuhi kriteria yang dibutuhkan, akhirnya berhasil memasuki AKBRI. Kini sudah berpangkat AKBP (Ajun Komisari Besar Polisi) dan bertugas di Indonesia Timur dengan jabatan bergengsi. “Sampai sekarang hubungan kami tetap baik, saling berkomonikasi meski lewat polsel,” cerita Umri. mti/aep

Data Singkat
Ali Umri, Walikota Binjai (2000-2010) / Paling Berkesan Ketika Juara I Azan | Direktori | golkar, Walikota

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here