Pemimpin yang Mengenal Bawahan

[ Sasongko Soedarjo ]
 
0
1420
Sasongko Soedarjo
Sasongko Soedarjo | Tokoh.ID

[DIREKTORI] Sasongko Soedarjo yang akrab dipanggil Koko, seorang pemimpin yang mengenal bawahan. Komisaris PT Media Interaksi Utama (PT MIU) penerbit Suara Pembaruan dan Presiden Komisaris PT Radio Pelita Kasih (RPK), kelahiran Solo, 24 Juli 1948, itu meninggal dunia di Jakarta 30 Agustus 2007 akibat serangan jantung.

Anggota Dewan Redaksi Suara Pembaruan, Presiden Komisaris PT Sinar Kasih, Komisaris PT Higina Alhadin (penerbit Kosmopolitan), pengurus Serikat Penerbit Suratkabar (SPS), Presiden Direktur Medikaloka Health Center, dan Pengurus Ikatan Olahraga Dansa Indonesia (IODI), itu dikenal sebagai pribadi yang hangat dan mudah akrab.

Sasongko meninggal karena serangan jantung selepas bermain tenis di lapangan tenis di Kompleks Suara Pembaruan. Ia sempat dilarikan ke RS UKI, namun tidak tertolong.

“Selepas bermain tenis, ia sempat mengeluh sakit dada. Kemudian merasa sesak napas,” kata Yati Tulus, Manajer Umum RPK, yang menemaninya saat-saat terakhir.

Dikenal sebagai sosok yang rajin berolahraga, tidak merokok, kepergiannya yang tiba-tiba itu mengejutkan semua yang ditinggalkannya. “Begitu masuk kantor di pagi hari (Kamis, 30/8/2007) ia sempat bertanya-tanya, mengapa banyak orang memakai baju hitam hari ini. Pukul tiga, ketika beranjak ke lapangan tenis, ia sempat mengajak ngobrol soal kenaikan tarif tol JORR,” kata Maria Pieterz, Sekretaris Direksi PT MIU.

Keluarga terdekat, para direktur koleganya, berbaur dengan karyawannya, bekas karyawannya, dari berbagai lapisan, termasuk sopir dan pesuruh. Semua terkejut, dan semua merasa kehilangan sekaligus.

Tak mengherankan, ketika ia berpulang Kamis (30/8/2007) sore, berbagai lapisan orang, berbagai latar belakang orang, langsung berdatangan ke Ruang Gawat Darurat Rumah Sakit Fakultas Kedokteran UKI, di Cawang, Jakarta Timur, tempat jenazahnya disemayamkan sementara. Sekitar setengah delapan malam, jenazahnya disemayamkan di Rumah Duka RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat.

Rapat Pagi
Awalnya, terutama bagi sebagian besar wartawan, ia terkesan sebagai sosok pemimpin yang jarang tersenyum, apalagi tertawa. Kalaupun berpapasan, ia hanya tersenyum tipis. Dan, singkat. Ternyata hal itu karena masalah kebiasaan saja. Kesan itu segera hilang ketika mulai mengenal akrab.

Terkenal di lingkungan Sinar Group sebagai orang yang datang paling pagi di kantor, acap paling pagi pula ia ketika masih terjun langsung menangani keredaksian memasuki ruang rapat, untuk mengikuti rapat redaksi pagi, pukul 07.00 WIB. Pada kesempatan seperti itu, masing-masing redaktur penanggung jawab mempresentasikan berita dan tulisan yang akan dimuat hari itu. Proses budgeting seperti itu, acap berlangsung sangat serius dan hening.

Namun, ternyata Koko tidak seserius yang ditampakkannya pada kesan awal perjumpaan. Keheningan rapat pun mulai pecah. Itu terjadi ketika Wolas Krenak, yang saat itu menjadi Redaktur Desk Hiburan, membacakan proyeksi. Saat membacakan resensi sinetron Di Sini Ada Setan, dan S Nuke Ernawati, Redaktur Kesra yang dikenal sebagai “komentator”, langsung menyeletuk, “Di sini juga ada,” sontak membuat tawa Koko meledak. “Ya, setan ada di mana-mana,” katanya, sambil mengomentari sejumlah judul sinetron dan film Indonesia.

Rapat pagi, yang dilengkapi sajian kue serta minuman hangat, memang banyak menyimpan kenangan manis, hangat, dan akrab dengannya. Nuke, acap menjadi “referensi” bagi Koko untuk mengetahui kue yang disajikan enak atau tidak.

Dan, itu pula yang terjadi ketika suatu saat onde-onde menjadi sajian rapat. Onde-onde yang sungguh menggugah selera. Bulat sempurna, besar, dengan wijen melekat erat di seluruh permukaan. Di tengah pembacaan proyeksi berita yang berlangsung serius, tiba-tiba ia memecahkan keheningan, “Nuk, kenapa itu onde-ondenya tidak dimakan semua?”

Walau menyimak semua pembicaraan dalam rapat, Koko ternyata tak mengendurkan perhatiannya ke sekeliling. Termasuk mengamati aksi Nuke melubangi onde-onde, memakan hanya isinya, dan menelungkupkan kembali onde-onde di tisu di depannya seolah masih utuh.

Tak Berubah
Rapi, teliti, dan memperhatikan hal-hal kecil yang acap terlewatkan banyak orang, adalah kesan lain tentangnya. Kebiasaan yang tak mengendur walau sudah melepas sebagian besar aktivitasnya memimpin langsung Suara Pembaruan. Ia terus mengikuti perkembangan berita, ia terus mengikuti denyut nadi kehidupan dan pergulatan redaksi.

Ia tetap datang paling pagi, pada saat karyawan belum datang. Tetap ikut “repot” jika pendingin ruangan di kantor mengalami gangguan, bahkan “cerewet” kalau melihat lantai kantor kotor.

Jika tidak ada halangan, ia menghadiri perhelatan pernikahan karyawannya, atau hajatan karyawannya.

“Kalau tidak bisa hadir, ia menitip amplop,” kata Titi Juliasih Kardjono, rekan kerjanya.

Ia acap kali menjadi orang nomor satu yang hadir jika ada kedukaan yang menyangkut karyawan, bahkan pensiunan. Ia meluangkan waktu mengunjungi karyawan yang sakit.

Ia tidak pernah pilih-pilih. Ia mengenal bawahannya. Bukan hanya mengenal muka, tetapi selalu tak lupa menyebut nama. Sangat manusiawi, adalah kesan yang muncul jika menanya sebagian besar anggota Keluarga Sinar Group tentang pribadinya.

Ia pun tak mengubah kebiasaannya memberi semangat anggota Keluarga Sinar Group dengan caranya sendiri. Ia memanggil wartawan yang karyanya menarik perhatiannya, dan mengajaknya berbincang. Ia “menegur” wartawan yang salah menuliskan istilah, nama, atau jabatan sese- orang, dengan memberi catatan dilengkapi tanda tangan di bawah catatannya.

Ia bukan pula orang yang memaksakan kehendak. Ketika koleganya mengirimkan artikel dan redaktur penanggung jawab opini menilai tidak laik muat, ia menerima argumentasi si redaktur. Ia bahkan membantu memberitahu sang kolega.

Dunia Pers
Koko adalah putra tertua pasangan Soekini dan Soedarjo almarhum, Presiden Komisaris PT Sinar Kasih yang menerbitkan Sinar Harapan (kemudian diberedel pemerintah dan menjadi Suara Pembaruan) dan Mutiara, 1983-2000, Presiden Direktur sekaligus Pemimpin Perusahaan PT Media Interaksi Utama, perusahaan yang menerbitkan Suara Pembaruan 1987-1998, Direktur PT Sinar Agape Press, 1973-1998, Komisaris PT Sitra Express, 1978-2001, dan Komisaris PT Pustaka Sinar Harapan, 1981-2000. Ia kakak Soetikno Soedarjo, Direktur Utama PT Mugi Rekso Abadi (MRA) Group.

Selepas meraih gelar master of business administration dari University of San Francisco, California, AS, pada 1973, Koko berkarya di PT Union Carbide Indonesia, sampai 1978. Namun, ia kemudian mengikuti jejak ayahnya berkarya di bidang pers. Ia menjadi Manajer Sirkulasi PT Sinar Kasih, bertanggung jawab atas peredaran surat kabar Sinar Harapan.

Hanya satu tahun, ia mencoba berkarier di perusahaan lain, di antaranya bidang perdagangan.

Rupanya, ia tidak bisa meninggalkan dunia pers. Ia kembali ke lingkungan Sinar Group, menjadi Direktur Keuangan PT MIU sejak Oktober 1987, dan kemudian Presiden Direktur PT MIU sekaligus Pemimpin Umum Suara Pembaruan sejak 2001-2007. Ia melepaskan jabatan itu pada Januari 2007.

Beberapa hari belakangan ini, Koko sedang sibuk mempersiapkan pernikahan putranya, Alvin Darlanika Soedarjo, yang mengikuti jejaknya berkarya di dunia pers. Alvin, wartawan The Jakarta Post, melangsungkan pernikahan pada 8 September mendatang. Koko tak berpangku tangan, ikut sibuk mempersiapkan segala macam, termasuk mengurusi undangan. Mempersunting Jeanne Lotje Augustine, Koko dikaruniai tiga anak laki-laki, Alvin (28), Rendy Diego Soedarjo (26), dan Garibaldi Nataniel Soedarjo (11).

Pada Kamis siang sebelum meninggal, ia sempat menelepon Pdt Dr Sutarno, anggota Dewan Redaksi Suara Pembaruan yang menetap di Salatiga, Jawa Tengah, untuk menanyakan apakah sudah menerima undangan itu dan menanyakan kesediaan untuk hadir.

“Karena pada saat bersamaan saya harus berkhotbah di Yogyakarta, Pak Koko maklum, dan minta doa restu,” kata Sutarno, yang juga mantan Pemimpin redaksi Suara Pembaruan.

Di sela-sela kesibukannya itu, ia masih sempat memikirkan tanggung jawabnya. Pada Selasa (28/8), misalnya, ia tiba-tiba berpesan kepada Titi Juliasih, “Jaga Sinar Kasih (PT Sinar Kasih, Red).”

Kepada Yati Tulus, dalam percakapan terakhir, ia sempat berkata, “Semoga tidak ada apa-apa sampai pernikahan Alvin nanti.”

Namun, Tuhan berkehendak lain.

Kini, tak terdengar lagi suara denting piano di pagi hari di salah satu ruangan di Gedung PT Sinar Kasih. Koko, yang rajin datang pagi-pagi benar di kantor, acap memulai hari-harinya dengan bermain piano.

Tak terdengar lagi sapaannya kepada semua karyawan yang ditemuinya. Siapa pun ia. Tak terlihat lagi kendaraan pribadi bernomor polisi B 247 SS, di tempat parkir, seperti biasa.

Keluarga besar di Sinar Group kehilangan pribadi yang hangat dan akrab. Ia akan dimakamkan Sabtu (1/9), di Taman Pemakaman Umum Petamburan. Selamat jalan, Pak Koko… [Suara Pembaruan, 31 Agustus 2007]

***TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Catatan Sahabat Dekat

Sudah pasti tidak semua kalangan pembaca harian ini mengenal almarhum Sasongko Soedarjo. Namun, kalaupun kita uraikan beberapa aspek dari sosok kepribadiannya, maksudnya supaya Anda juga dapat berkenalan dengan berbagai dimensi manusia Indonesia yang tidak begitu menonjol ke permukaan.

Berita meninggalnya saja merupakan kejutan. Kamis sore (30/8), setelah bermain tenis di kompleks harian Suara Pembaruan di daerah Cawang, ia mengalami serangan jantung yang fatal. Meskipun cepat dilarikan ke Rumah Sakit UKI, namun tidak tertolong lagi. “Koko” (sebutan akrabnya) dipanggil pulang oleh Allah Bapa Maha Pencipta.

Seorang rekan dekat atau anggota keluarga yang tiba-tiba meninggal, memaksa kita yang ditinggalkan segera mencetak sebuah potret di ingatan kita masing-masing, tentang almarhum atau almarhumah.

Khusus tentang Koko Soedarjo, maka ingatan saya bukan saja sebagai rekan sekerja di organisasi penerbitan harian Suara Pembaruan. Karena Keluarga Soedarjo dan Keluarga Siagian, atau konkretnya almarhum Pak Soedarjo, ayah Bung Koko, almarhum Pendeta I Siagian, sebelum Perang Pasifik dan pendudukan militer Jepang tahun 1942, sudah seperti bapak dan anak di lingkungan Gereja Kwitang. Maka, hubungan kerja dengan Koko Soedarjo dan saya bukan sekadar “business like” saja.

Terakhir kami jumpa pada hari Rabu, 22 Agustus lalu, di gedung harian Suara Pembaruan. Sekali sebulan diselenggarakan Dewan (Penasihat) Redaksi untuk memberikan masukan kepada jajaran redaksi dalam mengolah pemberitaan tentang berbagai persoalan yang muncul di masyarakat. Ketika memimpin rapat tersebut, Koko Soedarjo yang duduk di sebelah kiri saya, tampak berdiam diri saja. Dialah yang selalu mendorong diselenggarakannya rapat bulanan Dewan (Penasihat) Redaksi ini supaya cakupan liputan harian Suara Pembaruan selalu setia pada misinya (“Memperjuangkan Harapan Rakyat Berdasarkan Pancasila”).

*

Koko Soedarjo memasuki bidang usaha persuratkabaran setelah bekerja di beberapa perusahaan internasional. Dengan ijazahnya, master of business administration dari University of California, sebenarnya ia dapat mengembangkan karier yang gemilang di perusahaan multinasional. Ketika ia mulai bekerja sebagai Direktur Keuangan PT Media Interaksi Utama, penerbit harian Suara Pembaruan, kuat dugaan saya bahwa hal itu terjadi karena dorongan ayahnya, Bapak Soedarjo.

Harian Sinar Harapan dilarang terbit pada Oktober 1986, setelah berumur 25 tahun. Karena kesalahannya dianggap fatal oleh pemimpin Orde Baru, maka larangan itu mutlak. Dengan susah payah diusahakan sebuah harian baru dengan nama baru dan penerbit baru, terbit. Tapi secara intern disepakati bahwa jiwa Sinar Harapan dan misinya untuk memperjuangkan keadilan, meskipun dalam keterbatasan yang ada, tetap dipertahankan.

Meskipun saya tidak ikuti dari dekat perkembangan terbitan baru itu, karena sudah bertugas sebagai pemimpin redaksi harian berbahasa Inggris The Jakarta Post (PT Sinar Kasih, penerbit Sinar Harapan yang diberedel 1986, ikut menjadi partner dalam usaha bersama menerbitkan harian berbahasa Inggris yang berkualitas), namun saya duga, juga disepakati bahwa koran baru Suara Pembaruan dikelola secara terbuka dan accountable. Pada tahap inilah alm Pak Soedarjo yang sebenarnya sudah menikmati reputasi sebagai usahawan sukses di beberapa bidang lainnya, mendorong putra tertuanya, Sasongko, untuk bersedia menjadi Direktur Keuangan.

Selama 20 tahun, dari 1987 sampai 2007, Koko memikul berbagai tanggung jawab sampai bertugas sebagai Presiden Direktur PT MIU, penerbitan harian Suara Pembaruan. Dan, saya sebagai Presiden Komisaris. Pada tahun-tahun harian tersebut mengalami kesulitan sebagai dampak krismon 1997/1998 dan minat terhadap koran sore secara berangsur berkurang, di situ tampak sifat kebapakan Koko Soedarjo.

Secara berkelekar saya berkomentar, “Dia bukan eksekutif yang jitu”. Maksudnya, meskipun Dewan Komisaris sudah memberikan mandat untuk merumahkan sejumlah karyawan demi penghematan, namun Koko sebagai Presiden Direktur berusaha mengundurkan proses tersebut. Di balik setiap nama seorang karyawan, ia bayangkan keluarga yang nantinya menderita.

Saya juga ingat, beberapa tahun setelah Reformasi, ketika harian Suara Pembaruan masih lumayan bisnisnya, Koko Soedarjo benar-benar sakit hati dan mengeluh kepada saya secara tulus. Rupanya ada rekan yang mulai beragitasi bahwa setelah Reformasi merekah dan demokrasi mulai pulih, maka Suara Pembaruan sebagai “anak haram” tidak punya tempat lagi, dan lebih baik ditutup saja.

Logikanya, koran yang menjadi korban pemerintahan yang sewenang-wenang perlu dihidupkan. Padahal, dalam rapat-rapat gabungan direksi dan komisaris, kami secara intensif berusaha mencari jalan keluar. Yang membuat Koko begitu sakit hati, karena rekan yang beragitasi itu seperti tidak menghargai sikap keterbukaan harian Suara Pembaruan.

*

Kepergian Sasongko Soedarjo secara mendadak setelah bergumul dengan segi manajemen dan bisnis dari persuratkabaran mendorong kolomnis ini untuk merenungkan sejenak ten- tang peranan dan masa depan bidang penerbitan, jurnalistik, dan komunikasi digital di Indonesia. Negeri ini secara sosiologis sedang bergolak mencari keseimbangan baru dan profil baru.

Apakah bangsa ini yang sudah melebihi 220 juta warga tersebar di Nusantara yang amat luas, dengan bentuk geografis yang unik, dapat mempertahankan dan mengembangkan kerukunan yang harmonis, saling menghormati latar belakang keagamaan dan kesukuan, serta pandangan politik sesama warga, hal itu tergantung dari kualitas dan komitmen dari mereka yang bertugas di bidang penerbitan, jurnalistik, dan komunikasi.

Meminjam peristilahan dari sebuah lagu yang pernah populer, mereka menggenggam di tangan mereka sekaligus “madu dan racun”. Para penerbit, wartawan, dan komunikator, pada umumnya dapat mengobarkan konflik dan kebencian antarberbagai suku dan pengikut agama, ataupun antarpendukung politik yang berlainan, sehingga berantakanlah kerukunan dan persatuan bangsa Indonesia.

Namun, bidang penerbitan, jurnalistik dan komunikasi digital, dapat merupakan faktor efektif untuk mendorong pandangan akal sehat, mengembangkan iktikad untuk memahami dan menghargai adat istiadat suku lain, nilai-nilai keagamaan yang berlainan, serta pandangan politik yang aneka ragam.

Justru dalam situasi dan kondisi Indonesia, maka asas pluralisme wajib kita pegang teguh. Kalau tidak, kita akan tercerai-berai sebagai bangsa.

Bagaimana merekrut orang-orang dan angkatan muda di bidang penerbitan, jurnalistik, dan komunikasi digital yang profesional, yang memiliki komitmen terhadap apa yang digambarkan di atas dan tetap yakin akan masa depan Indonesia yang pluralis

Keluarga Besar Soedarjo adalah contoh baik. Almarhum Bapak Soedarjo, setelah sukses di berbagai bidang usaha, ikut berkarya di bidang persuratkabaran. Ia adalah perintis dari percetakan Sinar Agape Press yang mencetak koran Sinar Harapan, kemudian Suara Pembaruan. Ia juga mendorong pembangunan gedung kantor penerbit dan redaksi Sinar Harapan dan Suara Pembaruan. Putranya, Sasongko, meninggalkan perusahaan multinasional supaya dapat menerapkan pengetahuannya tentang administrasi bisnis modern untuk penerbitan koran dan buku yang dapat meningkatkan kecerdasan bangsa.

Dan putra Koko Soedarjo, Alvin, sekarang reporter muda di harian berbahasa Inggris, The Jakarta Post. Ia diterima setelah melalui berbagai tes tanpa mengandalkan nama ayahnya yang menjadi komisaris badan penerbit harian tersebut.

Saya dengar dari seorang rekan di The Jakarta Post, ketika Alvin sedang menangani sebuah berita Kamis sore itu, ia mendapat telepon tentang musibah yang menyergap ayahnya. Dengan tentang Alvin menyelesaikan beritanya, menyerahkan kepada redaktur desk-nya. Dan kemudian pergi tanpa menampakkan kegelisahan ataupun kerisauan. “Dia memperlihatkan bakat seorang wartawan yang ulung: tenang, sambil menyelesaikan tugas yang sedang ditangani.”

Pasti sejumlah keluarga besar seperti Keluarga Besar Soedarjo dengan anggota-anggota keluarga yang serbaberbakat dan terikat pada asas demokrasi, pluralisme, dan toleransi, tersebar di berbagai lokasi wilayah Indonesia. Pasti kita sedih dengan meninggalnya Sasongko Soedarjo secara mendadak. Namun, kita tidak boleh pesimistis, bahwa dengan kepergiannya itu, perjuangan menuju pemantapan demokrasi, pluralisme dan toleransi, akan menjadi kendur. [Suara Pembaruan, 4 September 2007] Sabam Siagian, adalah pengamat perkembangan po litik nasional dan peranan media di Indonesia. TI

Data Singkat
Sasongko Soedarjo, Pengusaha / Pemimpin yang Mengenal Bawahan | Direktori | Pengusaha, direktur, redaksi, radio, Pelita kasih

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here