Sempat Dianggap Mencari Sensasi

[ Aris Rahman & Humaira ]
 
0
60
Aris Rahman & Humaira
Aris Rahman & Humaira | Tokoh.ID

[WIKI-TOKOH] Keduanya mampu mewujudkan plastik ramah lingkungan yang terurai dalam sepekan.

Campuran pati lidah buaya dan kitosan temuan Humaira dan Aris Rahman memudahkan plastik terurai tanah. Tidak lama, cukup sepekan. Temuan yang pertama kali di Indonesia itu sempat dinilai sekadar mencari sensasi. Lantaran plastik ialah materi yang sulit terurai dalam hitungan tahun.

Saat dipandang begitu/ Humaira dan Aris tak ciut hati. Keduanya meneliti secara mandiri. Dana dari kocek mereka sendiri. Pun seluruh prosesnya nyaris dilakukan hanya berdua, meskipun kadangkala mendapat masukan dari dosen pembimbing.

Justru dari sikap mandiri itulah, hasil karya yang mereka ciptakan mencengangkan banyak orang. Kini sejumlah perusahaan plastik sudah mengincar prestasi keduanya.

Mereka bercerita, hampir enam bulan harus banting tulang mencari bahan-bahan untuk dijadikan plastik biode-gradabel. Keduanya berangkat dari rasa prihatin terhadap kondisi lingkungan, khususnya limbah plastik yang hingga kini belum ditemukan adanya plastik yang gampang terurai.

“Kalaupun dibakar, akan menimbulkan polusi udara yang bersifat karsinogenik bagi manusia karena penggunaan bahan aditif dalam plastik sintetis tersebut seperti PCB dan DEHA. Kita berusaha keras bagaimana bisa menciptakan plastik yang ramah lingkungan dengan memadukan unsur kimia serta dari bahan-bahanyang ada,” terang Humaira.

Humaira dan Aris lantas menengok Lamongan, Jawa Timur. Di daerah itu, banyak limbah kulit udang yang menumpuk. Bahan itulah yang bisa dijadikan bahan plastik ramah lingkungan. “Lidah buaya, bekas kulit udang yang menumpuk, bisa dijadikan salah satu bahan untuk membual plastik ramah lingkungan,” jelas Humaira.

Liku-liku riset

Namun, tidak mudah untuk melakukan riset. Ketika mengajukan proposal ke sebuah perusahaan farmasi, keduanya tidak ditanggapi dengan baik. Sudah berbelit-belit, mereka malah minta hak cipta untuk hasil akhir penelitian.

“Enak saja. Kita yang meneliti, perusahaan itu minta hak patennya. Terpaksa kita tarik dan tidak mau dibiayai mereka,” kata Humaira yang dibenarkan Aris.

Sejak itu, keduanya membiayai sendiri riset mereka. Uang hasil menang pada sebuah lomba karya ilmiah Rp450 ribu dijadikan modal untuk riset awal. Kekurangan dana riset diganjal uang saku dari orang tua yang mereka sisihkan. Bagaimana dengan dukungan dari kampus? Aris dan Humaira hanya terdiam seribu bahasa. “Terlalu birokratis,” ujar mereka singkat.

Mereka lantas mengirim proposal ke sejumlah perusahaan, juga ke lembaga penelitian. Tapi, tidak ada yang menyetujui proposal itu. Padahal, biaya tidak besar hanya Rp2 juta hingga Rp4 juta.

Banyak yang meremehkan dan tidak percaya. Mereka beranggapan kedua mahasiswa tersebut hanya mencari sensasi, apalagi Humaira masih belum selesai menempuh studi. “Sempat mau frustrasi, ke mana-mana enggak dapat,” ujar Humaira.

Namun, keteguhan keduanya didorong rasa penasaran sertaingin menunjukkan hasil karya. Sedikit demi sedikit akhirnya dana pribadi terkumpul sekitar Rp2 juta yang dijadikan penggerak penelitian.

Hasil penelitian selama 6 bulan itu mencengangkan. Plastik yang sulit terurai itu, dengan berbagai campuran, mampu memuai dalam waktu tujuh hari. “Riset ini baru satu dari sekian rangkaian riset, tapi sudah cukup bagus hasilnya,” kata Aris.

Temuan keduanya menarik banyak perusahaan. Kini salah satu perusahaan di Semarang telah meminta mereka melakukan riset, dengan seluruh biaya ditanggung sepenuhnya oleh perusahaan tersebut. Humaira juga mendapat tawaran menjadi penelitian di sebuah lembaga penelitian di Jakarta. “Tapi, saya komitmen untuk tidak menerima tawaran itu, masih kosentrasi studi,” ujar Humaira.

Adapun Aris kini sudah bekerja di sebuah perusahaan kimia di Gresik, sambil tetap melakukan riset bersama Humaira guna mematangkan temuan itu. Keduanya tampaknya sangat hati-hati terhadap temuan plastik biodegradabel tersebut agar jangan sampai disalahgunakan pihak yang tidak benar.

Keduanya berkeinginan-, agar kelak temuan mereka bisa diproduksi massal. Bukan cuma plastik tenteng, tapi hampir semua bahan produksi yang terbuat dari plastik mengunakan bahan tersebut, seperti botol, galon air mineral, semuanya harus ramah lingkungan.

“Tapi, ini membutuhkan perjuangan keras dan lama sebab untuk bisa ke arah itu membutuhkan dana besar dan waktu yang cukup lama. Tapi, saya yakin dengan kesungguhan serta dukungan semua pihak, Indonesia bisa mengarah ke arah itu semua,” kata Aris.(M-4)

***

Plastik itu Dapat Terurai Tujuh Hari

Dalam kehidupan modern, plastik merupakan kebutuhan yang sangat vital bagi manusia. Sifatnya yang tahan panas, tidak kaku, tidak mudah rapuh, dan elastis menjadikan plastik sebagai bahan pengemas makanan, material peralatan rumah tangga, kantor, dan elektronik. Konsumsi plastik di Indonesia sangat besar, yaitu mencapai 2,54 juta ton per tahun.

Selama ini, bahan baku untuk pembuatan plastik berasal dari turunan minyak bumi yang bersifat tak terbarukan (non-renewable) seperti polietilena, polipropilena, poliamida, poliester, dan polivinil klorida (PVC). Akibatnya, plastik sulit terurai oleh mikroorganisme dalam tanah. Butuh waktu ratusan tahun.Oleh karena itu, solusi yang efektif adalah dengan membuat plastik dari bahan alami atau dikenal dengan plastik biode-gradabel. “Plastik biodegrada-bel yang kami teliti menyumbangkan solusi cerdas yang inovatif bagi permasalahan yang ditimbulkan oleh plastik sintetis,” kata Aris Rahman.

Plastik biodegradabel tersebut berasal dari pati lidah buaya dan limbah kulit udang. Kedua bahan tersebut merupakan bahan yang terbarukan (renewable). Pati lidah buaya dibuat dari bagian daging tanaman lidah buaya yang dicacah kemudian dikeringkan sampai berbentuk serbuk. Limbah kulit udang diproses melalui tahap deproteinasi, demine-ralisasi, dan deasetilasi hingga diperoleh serbuk yang dikenal sebagai ki tosari.Baik pati lidah buaya ataupun kitosan memiliki kandungan polisakarida sebagai bahan baku pembuatan plastikbiodegradabel.

Bahan pati lidah buaya dan kitosan juga memiliki sifat an-tibakteri. Pati lidah buaya yang digunakan dapat membentuk film plastik, tetapi masih sangat rapuh. Oleh karena itu, dicam-purkan kitosan untuk menambah kekuatan dari film plastik. Agar plastik yang dibuat tidak kaku atau lebih elastis, ditambahkan gliseroL suatu senyawa gula alkohol yang ramah lingkungan sebagai plasticizer.”Kami mengangkat limbah kulit udang dan lidah buaya sebagai bahan baku plastik biodegradabel karena kedua bahan tersebut bukan merupakan bahan makanan pokok dengan ketersediaan yang melimpah di Indonesia,” katanya.

Cara pembuatan

Pembuatan plastik biodegradabel dapat dilakukan dengan cara yang sederhana dan mudah. Pertama adalah mela-rutkan tiap bahan pembuat plastik. Kitosan dapat larut dalam asam asetat (asam cuka) dengan konsentrasi rendah, sedangkan pati lidah buayadan gliserol larut dalam air. Selanjutnya bahan-bahan yang sudah dilarutkan dicampur dan diaduk sampai merata.

Kemudian, campuran yang berupa gel tersebut dicetak pada pelat kaca dengan ketebalan tertentu menggunakan silinder dari stainless steel. Selanjutnya, campuran tersebut dipanaskan selama 30 menit dalam oven pada suhu 600 derajat celsius untuk menguap-kan pelarut asam asetat.

Setelah campuran mengering, biarkan beberapa menit supaya dingin dan plastik siap dikelupas dari pelat kaca. Plastik yang dihasilkan berupa lembaran tipis yang transparan, tidak berwarna, dan tidak berbau.Untuk mengetahui kualitas plastik biodegradabel yang dihasilkan, perlu dilakukan uji karakterisasi. Antara lain kekuatan tarik, persentase elongation at break, modulus Young, persentase sivelling (penggem-bungan) dan uji biodegradasi (penguraian) plastik.

Nilai kuat tarik plastik yang paling optimal adalah 461,538 MPa, persentase elongation at break 6,2%, modulus Young 744,416 Mpa, dan persentase swelling 12,5%. Untuk uji biodegradasi plastik dilakukan dengan menggunakan media cair dengan mikroorganisme tipe EM4.Hasil yang diperoleh plastik dapat terurai hanya dalam waktu tujuh hari.”Tentunya sangat perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk menghasilkan produk plastik biodegradabel yang berkualitas dengan sifat mekanik yang kuat, tahan terhadap panas, air, dan udara,” ungkap Aris. (FL/M-4) e-ti

Sumber: Media Indonesia, Senin, 30 Agustus 2010 | Penulis: Faishol Taselan

Data Singkat
Aris Rahman & Humaira, Peneliti / Sempat Dianggap Mencari Sensasi | Wiki-tokoh | peneliti, Plastik, Sintesis, Pati, Lidah, Buaya

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here