Belajar dari Pengalaman Jepang

 
0
52
Belajar dari Pengalaman Jepang
Ch. Robin Simanullang | Ensikonesia.com | Hotsan

[OPINI] – Oleh Ch. Robin Simanullang SIB 06-05-1990: Presiden Soeharto mengemukakan keyakinannya bahwa kunjungan Perdana Menteri Jepang Toshiki Kaifu akan memperdalam saling pengertian dan mempererat tali persahabatan Indonesia-Jepang. Kunjungan PM Jepang ini (pertemuan kedua pemimpin ini) merupakan kesempatan berharga bagi kedua negara. Pertemuan kedua pemimpin ini sama penting dan bermanfaat bagi kedua negara. Walaupun PM Kaifu dan rombongan berada di Indonesia hanya dalam waktu yang relatif singkat, 4-6 Mei 1990.

Hubungan Indonesia Jepang sudah sedemikian akrab. Pada awal tahun 70-an demikian kuatnya gema pertanyaan sehubungan dengan kerjasama ekonomi perdagangan kedua negara. Apa gerangan yang tersembunyi di balik kemurahan hati Jepang memberi bantuan kepada Indonesia? Ketika itu muncul prasangka bahwa Jepang yang miskin sumber alam ingin ‘menguras’ sumber alam (bahan baku) dari Indonesia. Kenyataan kemudian membuktikan bahwa Indonesia dan Jepang saling membutuhkan. Indonesia penting bagi Jepang. Jepang penting bagi Indonesia.

Jepang dengan perkembangan teknologinya yang demikian pesat memerlukan bahan baku yang di negerinya sendiri tidak ada atau tidak mencukupi. Sementara Indonesia memerlukan teknologi dalam mengakselerasi pembangunan. Pada mulanya, Indonesia memang menganut kebijakan industri subsitusi impor. Jepang menunjang kebijakan ini. Permesinan untuk keperluan industri diimpor dari Jepang. Jepang melakukan proses industri di Indonesia. Industri subsitusi impor memerlukan teknologi dan bahan baku setengah jadi dari Jepang dan negara lain. Berkembanglah berbagai industri di tanah air.

Ditulis di Jakarta, Sabtu 5 Mei 1990 dan diterbitkan sebagai kolom Fokus Peristiwa Sepekan Harian Sinar Indonesia Baru, Medan, Minggu 6 Mei 1990.

Perkembangan industri subsitusi impor ini dapat memenuhi berbagai kebutuhan dalam negeri. Beberapa produk industri Jepang dan negara industri maju lainnya diproses (dirakit) lebih dulu sebelum dipasarkan. Jepang memang punya kepentingan besar melihat potensi pemasaran yang demikian luas di Indonesia. Indonesia memunyai penduduk dalam jumlah besar. Jepang tentu melihat bahwa industri subsitusi impor yang berkembang di Indonesia adalah sebagai perpanjangan tangan pemasaran produk industrinya. Ini tentu sangat menguntungkan Jepang.

Sementara, bagi Indonesia perkembangan industri subsitusi impor itu adalah langkah penting dalam upaya pengembangan industri sehingga berbagai kebutuhan tidak “bulat-bulat” (siap pakai) lagi diimpor. Seperti mobil, sebagian suku cadangnya dibuat di Indonesia kemudian dirakit dengan mesin/suku cadang yang diimpor.

Kemudian perkembangan internal dan eksternal menuntut lain. Harga minyak merosot di pasaran dunia. Indonesia yang mengandalkan ekspor minyak dan gas bumi merasakan akibatnya. Ditambah lagi resesi ekonomi yang melanda dunia. Indonesia melakukan berbagai kebijakan baru. Kebijakan berubah dari industri subsitusi impor menjadi industri (produk) orientasi ekspor. Kebijakan ini didorong dengan melakukan berbagai tindakan debirokratisasi dan deregulasi.

Terjadi perubahan struktur perekonomian di Indonesia. Swasta bergerak cepat. Dalam waktu yang relatif singkat, beberapa kekuatan ekonomi swasta bangkit bergairah dan berkembang jadi “raksasa” yang dapat diandalkan. Beberapa pengusaha besar yang sebelumnya enggan menampakkan kebesarannya (bahkan hampir tabu untuk ditampakkan kebesarannya) bangkit terbuka mengembangkan dan mengumandangkan kebesarannya. Mereka itu kemudian disebut para konglomerat, yang tidak hanya beroperasi di Indonesia melainkan juga di mancanegara. Selain itu, berbagai perusahaan semakin membuka diri dengan go public.

Seiring dengan perkembangan itu pula, bermunculan komentar tentang kehadiran konglomerat terutama dikaitkan dengan kesenjangan sosial. Kekuatiran tidak perlu terlalu berlebihan soal ini. Kehadiran konglomerat, yang pasti diharapkan, akan memperkuat daya saing Indonesia di pasar internasional. Diharapkan, akan semakin memperkuat posisi Indonesia dalam struktur hubungan perekonomian dengan negara lain, yang akan lebih berimbang dan saling menguntungkan.

Barangkali, kita tidak salah bila mengambil perbandingan dari pengalaman Jepang yang kini sudah menempati posisi sebagai salah satu raksasa ekonomi dunia. Pada mulanya Jepang hadir dengan kegiatan industri tradisional (rumah tangga), antara lain mengekspor tekstil. Dari devisa yang diperoleh dari ekspor itu, mereka kemudian membeli teknologi dari Barat. Mereka bekerjasama dengan berbagai negara industri Barat dalam pengembangan pabrik kendaraan. Seperti Mitsubishi dan Chrysler (Amerika) dan Nissan dengan Hirman (Inggris). Dalam hal ini, tentu saja Mitsubishi dan Nissan harus membayar technology fee kepada Chrysler dan Hirman. Kemudian, Jepang melakukan berbagai modifikasi teknologi yang dibelinya itu. Lahirlah produk teknologi Jepang, yang laris di pasaran dunia, termasuk di Amerika dan Inggris yang sebelumnya pemilik teknologi itu.

Dalam hal perdagangan, Jepang memberi kesempatan kepada Shosa. Sebutan Shosa diberikan kepada perusahaan perdagangan yang berskala besar. Mirip sebutan konglomerat di sini. Shosa yang memiliki modal besar didorong untuk melakukan penetrasi pasar ke mancanegara. Sementara pemerintah Jepang aktif melakukan promosi produk industrinya. Sehingga dalam kegiatan keluar, swasta dan pemerintah Jepang adalah satu wajah, tidak tampak garis pemisah. Itulah Japanese Corporation.

Maka, mengambil perbandingan dari keberhasilan negara lain tentu sangat bermanfaat. Namun, kenyataannya kita tidak ‘berhasil’ belajar dari Jepang.

Ditulis di Jakarta, Sabtu 5 Mei 1990 dan diterbitkan sebagai kolom Fokus Peristiwa Sepekan Harian Sinar Indonesia Baru, Medan, Minggu 6 Mei 1990. Penulis: Ch. Robin Simanullang | Arsip Opini TokohIndonesia.com

© ENSIKONESIA – ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA

Tokoh Terkait: Ch. Robin Simanullang, Soeharto, | Kategori: Opini | Tags: industri, Pengalaman

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here