Toleransi

 
0
133
Toleransi
Al-Zaytun | Majalah Tokoh Indonesia 15

[OPINI] – Bangsa ini, hari-hari ini menginjakkan kaki ke tahun ke-60 sejak Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Sudah banyak pengalaman yang dikecap dengan berbagai suka dan tantangannya. Salah satu tantangan yang sering menimbulkan kepiluan dan keprihatinan adalah masih sering terjadinya konflik antaretnis terutama antar penganut agama yang berbeda.

Founding fathers bangsa ini sesungguhnya sudah mewariskan nilai-nilai pluralisme yang sepatutnya dianut oleh segenap lapisan anak bangsa ini, yang mereka simbolkan dalam kata Bhinneka Tunggal Ika. Namun sering kali beberapa anak bangsa ini, bahkan para elitnya, tak sungguh-sungguh dalam sikap-tindak nyata mengejawantahkan nilai pluralisme kebhinekatunggalikaan itu.

Media ini (web site dan majalah Tokoh Indonesia), sebagai sebuah institusi yang masih sangat kecil, berupaya berperan menjadi pelayan informasi bagi publik dengan komitmen kuat atas pluralisme bangsa ini. Metode penulisan yang ingin kami terapkan adalah narasi subjektif berkualitas. Mungkin agak aneh kedengarannya, sebab mungkin saja belum ditemukan dalam teori jurnalistik.

MAJALAH TOKOH INDONESIA 15 ? REPORTASE: Al-Zaytun Pancarkan Toleransi = Laboratorium Toleransi = Awalnya sepucuk Kartu Natal = TOKOH UTAMA: Syaykh Abdussalam Panji Gumilang, Pembawa Damai = TOKOH UTAMA II: Pdt. Rudolf Tendean, Jadikan Gereja Inklusif = Berniat Sekolahkan Anak di Al-Zaytun = TOKOH PILIHAN: Nurdin Tampubolon, Berpolitik Demi Rakyat = BERITA: Koalisi Kebangsaan = Bintang Jasa = Bakrie Award = KAPUR SIRIH: Toleransi.Dalam metode itu, kami menempatkan diri sebagai awam yang berupaya menulis biografi-profil seorang tokoh sesuai visi tokoh yang bersangkutan secara naratif. Dengan demikian kami berharap akan mampu mempresentasikan setiap kebenaran yang dimiliki setiap orang, yang pasti tidak selamanya sesuai dengan kebenaran yang diyakini orang lain, juga kami. Dalam posisi ini, media ini dapat menempatkan diri independen dan menjadi sahabat yang berguna bagi setiap orang.

Pada edisi ini, pertama kali kami menyajikan reportase sebuah nilai damai dan toleransi, yang dipraktekkan, diproduksi, secara nyata dan jelas (tidak sekadar diwacanakan). Ada sebuah event spektakuler, yang nyaris luput dari liputan media massa negeri ini. Event toleransi antarumat beragama itu berlangsung di Ma’had Al-Zaytun (yang di mata beberapa orang, Ponpes ini dicurigai). Namun, kami menemukan pancaran cahaya damai dan toleransi meluncur dari Ponpes modern ini.

Ponpes ini menyambut meriah kunjungan 200-an jemaat Gereja Kristen Protestan Indonesia bagian Barat (GPIB) Koinonia, Jakarta. Rupanya saling berkunjung dan memberi sudah mereka lakukan sebelumnya. Adalah Syaykh AS Panji Gumilang, pimpinan Ma’had Al-Zaytun yang memulainya dengan mengirim kartu ucapan Selamat Natal 2003 bagi beberapa pimpinan gereja dan jemaatnya. Kartu Natal itu, oleh Pendeta Rudolf Tendean, tak hanya dibalas dengan kartu ucapan terimakasih sebagaimana lazimnya. Tapi membuka komunikasi langsung dan mengirim utusan menyambut pesan damai dan toleransi yang diluncurkan Syaykh Panji Gumilang tersebut. Kedua tokoh ini kami tampilkan sebagai Tokoh utama pada edisi ini. Jakarta, Oktober 2004 * Redaksi ?Kapur Sirih, Majalah Tokoh Indonesia 15

Tokoh Terkait: AS Panji Gumilang, | Kategori: Opini | Tags: al-zaytun, Toleransi, Kapur Sirih, Majalah Tokoh Indonesia

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here