Terima Kasih Megawati

 
0
119
Terima Kasih Megawati
Jeffrie Geovanie || WikiTokoh – Ist

[OPINI] – Oleh Jeffrie Geovanie Anggota Komisi I DPR RI Selama ini, harus diakui, sebagian besar pengamat meragukan kemampuan Megawati Soekarnoputri sebagai sosok yang bisa mewarisi semangat politik sang ayah yang menyandang nama besar sebagai proklamator dan Putra sang Fajar.

Pada saat ia teraniaya oleh Suryadi (lebih tepatnya oleh rezim Orde Baru) dalam PDI yang kemudian menjadi PDI Perjuangan (PDIP), dan meskipun memperoleh kemenangan gemilang (33%) pada Pemilu 1999 yang dilakukan secara demokratis, saya yang masih buta politik saat itu sama sekali tidak merasakan kekagum an pada sosok Megawati.

Begitu pun pada masa-masa sepanjang 1999 hingga 2004, justru saya menikmati menyaksikan kejatuhan PDIP dari 33% menjadi 18%. Karena saya sama sekali tidak melihat keistimewaan pada kepemimpinan Megawati, baik sebagai Presiden RI yang mengganti- kan KH Abdurrahman Wahid (dari Juli 2001 hingga Oktober 2004) maupun sebagai Ketua Umum PDIP.

Tetapi, pada Selasa (6/4) minggu lalu saat untuk pertama kalinya saya menghadiri Kongres PDIP di Sanur, Bali, menyaksikan secara langsung Megawati berpidato, secara jujur harus saya sampaikan terima kasih kepada Megawati. Megawati yang dalam kancah politik di Tanah Air sempat menjadi ikon aktor politik ‘pendiam’ itu menyampaikan sikap politiknya secara amat gamblang, tegas, dan bernas. Saya, juga banyak pihak, menilai itulah pidato terbaik selama Megawati memimpin PDIP.

Semua kalangan, terutama para aktivis muda yang sudah geram dengan kondisi politik di Tanah Air, tetapi tak mampu menyampaikan kegeramannya lantaran tertekan, mengalami keterbatasan, atau hal-hal lain yang membuatnya hanya bisa menggerutu di balik pintu, kini harus berterima kasih kepada Megawati karena apa yang disampaikannya dalam pidato politik itu benar-benar mewakili perasaan setiap orang yang geram terhadap rezim yang tengah berkuasa saat ini.

Sikap Megawati telah meng- ingatkan banyak pihak yang meyakini kancah politik di Tanah Air hanya berisi para petualang yang haus jabatan dan kekuasaan. Bahwa partai- partai politik bukan lagi sebagai wadah kaderisasi para pemimpin yang berpegang teguh pada ideologi kebangsaan. Megawati telah meyakinkan kepada kita bahwa masih ada pemimpin yang berpegang teguh pada asas kepatutan moral dalam ber- demokrasi, masih berpegang teguh pada prinsip-prinsip dasar ideologi.

Di tengah fenomena pengartelan politik kepartaian yang kian memprihatinkan, serta di tengah aktor-aktor politik yang makin jauh dari nilai-nilai dasar moral berdemokrasi, yang menjadikan partai politik sebagai wahana meraih kekuasaan dan keuntungan- keuntungan material, pidato Megawati menjadi bagaikan tetes-tetes embun di padang pasir tandus. Begitu menyejukkan, walaupun jumlahnya tak signi?kan.

Bagi saya, bukan cara ia berpidato yang luar biasa. Isi dan substansi pidato Megawati mengajarkan banyak hal untuk bangsa ini. Ia tidak hanya menyelamatkan pribadi Megawati, tapi Megawati telah menyelamatkan negeri ini dari pragmatisme politik dan hal-hal yang mendangkalkan seperti sikap politik transaksional yang dilakukan sebagian besar elite politik negeri ini. Karena itu, Megawati, Anda tidak sendiri. Saya dan masih banyak generasi baru Indonesia bahu-membahu bersama Anda memperjuangkan keyakinan itu.

Walau partai kita berbeda, di dalam harapan-harapan saya, tetaplah ada keinginan agar PDIP kembali mendapatkan kepercayaan rakyat pada Pemilu 2014. Walaupun misalnya, pada Pemilu 2014 nanti perolehan suara tidak sesuai dengan harapan PDIP, bagi saya, apa yang dipertontonkan Megawati dengan konsistensinya dalam menentukan pilihan-pilihan politik tetaplah fenomenal. Untuk itu, sekali lagi, terima kasih, Megawati. Podium, Media Indonesia, 14 pril 2010

***WikiTokoh – TokohIndonesia.com

Tokoh Terkait: Jeffrie Geovanie, Megawati Soekarnoputri, | Kategori: Opini | Tags: Politisi

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here