Kalau NU Jadi Plat Merah

 
0
60
Kalau NU Jadi Plat Merah
Hasyim Muzadi | Ensikonesia.com | dp

[OPINI] – Oleh KH Hasyim Muzadi | Semua kalangan Nahdlatul Ulama (NU) penting kiranya mengerti tentang khitah NU. Khitah sebenarnya terdiri dari tiga bagian penting, yakni (1) bagian yang mengatur jati diri NU, (2) bagian yang mengatur tentang kemandirian, (3) bagian yang mengatur soal kebebasan menentukan pilihan.

Pertama, bagian yang mengatur jati diri NU. Bahwa NU menganut ajaran Islam ahslusunnah waljamaah. Dalam bidang fikih menganut salah satu dari Imam empat (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam asy-Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal). Sedangkan dalam bidang tasawuf mengikuti Junaid Al Baghdadi dan Imam Ghazali. Dalam bidang Aqidah mengikuti Al Asy’ari dan Al Maturidi.

Dalam visi NU dan manhaj perjuangan menggunakan garis moderasi atau wasathiyah, tidak ekstrem (tathorruf), baik ekstrem keras maupun ekstrem lunak. Ekstrem keras biasanya menggunakan teror dan formalisasi agama. Di lain pihak, ekstrem lunak melakukan liberalisasi pemikiran agama yang semata-mata yuhakkimuna bi’uqulihim. Padahal ekstremisasi agama dan liberalisasi pemikiran sama-sama melanggar Khitah, bahkan bisa keluar dari prinsip-prinsip ajaran NU.

Keberadaan NU sebagai pemimpin gerakan moral kebangsaan memang sangat penting. Sebaliknya, jika mengambil jarak dengan lintas agama, maka pe-luang untuk memimpin sudah tidak ada lagi, atau bahkan terisolasi. Selanjutnya, kalau NU berplat merah, maka artinya NU telah menjadi bagian dari penguasa (executive). Padahal loyalitas mutlak NU kepada negara (right or wrong is my country), bukan kepada penguasa. Terhadap penguasa (trias politica) diberlakukan amar makruf nahi mungkar.

Kedua, bagian yang mengatur tentang kemandirian. NU adalah organisasi mandiri, tidak merupakan bagian apapun, baik ormas maupun partai. Dalam bidang sosial kenegaraan, NU menjadi organisasi amar ma’ruf nahi mungkar, tidak merupakan bagian dari birokrasi pemerintahan,tidak pula merupakan oposisi terhadap kekuasaan. NU memperkuat yang benar bukan hanya membenarkan yang kuat.

Ketiga, bagian yang mengatur soal kebebasan menentukan pilihan. Dulu, ketika Khitah dilahirkan pada 1984, warga NU hanya memilih satu dari tiga partai, dan tidak memilih orang. Dalam proses selanjutnya, partai di Indonesia sudah sangat banyak. Selain itu,warga NU tidak hanya memilih partai, tapi juga memilih orang. Perkembangan ini perlu diperhatikan NU. Sehingga kebebasan memilih harus seimbang dengan tanggung jawab pilihan itu.

Antara kebebasan memilih dan tanggung jawab dalam memilih diperlukan ukuran-ukuran demi kemaslahatan NU. Kalau tidak, warga NU akan memilih secara sembarangan, termasuk memilih pihak yang kalau besar dan kuat akan menggusur NU. Tanggung jawab dalam memilih, termasuk tanggung jawab kepada agama,umat dan Allah. Saat ini, Khitah sedang disalahpahami oleh warga NU sendiri, seakan- seakan Khitah yang benar adalah tidak berbuat apa-apa, sehingga membuka peluang orang lain untuk mengatur NU atas nama Khitah. Sementara kalau pimpinan NU mengatur umatnya sendiri dianggap tidak Khitah.

Kalau NU Berplat Merah

Semua kalangan di NU perlu mengingat taushiyah Rais Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terdahulu, yaitu Almaghfurlah KH Ahmad Siddiq. Beliau mengatakan, antara lain sebagai berikut: “NU ibarat kereta api yang jelas relnya,ke mana akan menuju,jelas masinis dan kondekturnya, jelas pula siapa penumpangnya dan siapa yang tidak boleh jadi penumpang karena belum punya karcis. Selain itu, stasiunnya juga jelas, kapan berhenti dan kapan berjalan.

Tidak boleh menjadi taksi yang disewa orang seenaknya secara jam-jaman…” Memang, sebagai kendaraan perjuangan, NU harus tetap sebagai kendaraan plat hitam. Bukan plat kuning atau plat merah. Plat hitam berartinya NU milik sendiri, milik ulama dan umat, lengkap dengan prinsip-prinsip perjuangan assalafussoleh kita sebagai para pendiri NU. NU tidak hanya organisasi, tapi ruh, prinsip dan manhaj pengembangan. Kalau plat kuning, NU akan terombang- ambing ke sana kemari, utamanya di suasana kebangsaan yang karut-marut seperti sekarang ini.

Terkait ini, sejak dahulu, NU menjadi pemimpin gerakan moral kebangsaan lintas agama di Indonesia. Karena itu, seharusnya NU saat ini juga memimpin gerakan lintas agama, karena memang pantas sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia dan dunia,serta punya kompetensi secara visioner,nasionalistik dan universal. Keberadaan NU sebagai pemimpin gerakan moral kebangsaan memang sangat penting.

Sebaliknya, jika mengambil jarak dengan lintas agama, maka pe-luang untuk memimpin sudah tidak ada lagi, atau bahkan terisolasi. Selanjutnya, kalau NU berplat merah, maka artinya NU telah menjadi bagian dari penguasa (executive). Padahal loyalitas mutlak NU kepada negara (right or wrong is my country), bukan kepada penguasa. Terhadap penguasa (trias politica) diberlakukan amar makruf nahi mungkar.

Dukungan atau kritikan/penolakan bersifat kasuistik, kalau benar didukung kalau salah ditolak atau dikritik. Dan, kritik yang dilontarkan NU atas suatu yang tidak benar, adalah bentuk loyalitas kepada Negara. Oleh karenanya, meletakkan NU sebagai bagian dari kekuasaan adalah pelanggaran perjuangan, namun NU juga tidak boleh pula menjadi oposisi. Kalau oposisi, NU tidak bisa melakukan amar makruf, sedangkan jika nge-sub, NU tidak bisa melakukan nahi mungkar.

Tantangan NU

Selanjutnya, seiring dengan usia yang semakin tua, NU menghadapi tantangan yang sangat berat, baik dari dalam maupun luar negeri. Sebab, NU adalah organisasi besar. Dan, tantangan yang dihadapi NU ke depan bersifat komprehensif. Pertama, tantangan ideologis, kanan dan kiri. Ideologi kanan ini ada dua, ada yang bersifat agamis, ada yang agamis politis.

Tantangan agamis yaitu banyaknya kelompokkelompok Islam yang baru. Kalau tantangan yang agamis politis, seperti partai yang secara ideologi berseberangan dengan NU. Kedua, tantangan politis. Masihkah NU mau bermakna politis, meskipun bukan partai politik. Apakah sayap politik yang ada dibenahi atau dibiarkan saja. Ketiga, mampukan NU menjaga kemandirian dari kooptasi luar NU.

Sebagai organisasi terbesar, tidak mungkin orang lain tidak berkepentingan dengan NU, baik secara nasional maupun internasional. Kepentingan orang lain terhadap NU itu ada tiga macam. Ada yang senang sehingga mendukung, karena faktor moderasinya. Ada yang acuh tak acuh saja karena memang dipandang tidak bahaya.

Ada yang tidak suka karena faktor islamophobia atau faktor ditakutinya kristalisasi politik yang akan timbul di NU. Sekali lagi, dalam angka memperingati harlah NU ke-85 yang jatuh kemarin, maka perlu perenungan kembali,apakah kita sebagai warga NU sudah benar-benar NU? Opini TokohIndonesia.com | rbh

© ENSIKONESIA – ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA

Penulis: KH Hasyim Muzadi, Mantan Ketua Umum PBNU dan Pengasuh Ponpes Al- Hikam.

Tokoh Terkait: Hasyim Muzadi, KH, | Kategori: Opini | Tags: Islam, NU, Khitah

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here