BIOGRAFI TERBARU

Continue to the category
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
More
    25.5 C
    Jakarta
    Trending Hari Ini
    Populer Minggu Ini
    Populer (All Time)
    Ultah Minggu Ini
    Lama Membaca: 4 menit
    Lama Membaca: 4 menit
    Lama Membaca: 4 menit
    Lama Membaca: 4 menit
    Beranda Publikasi Majalah Awas! Racun Politik Uang

    Awas! Racun Politik Uang

    0
    Majalah Berita Indonesia Edisi 65
    Majalah Berita Indonesia Edisi 65 - Awas! Racun Politik Uang
    Lama Membaca: 4 menit

    VISI BERITA (Pilih dengan Cerdas, Maret 2009) – Pemilihan Umum (Pemilu) sebuah sarana demokrasi yang teramat penting untuk memilih putera-puteri terbaik bangsa menjadi wakil rakyat. Agar hasilnya (mereka yang terpilih) memiliki integritas diri, komitmen, idealisme dan visi (bermasyarakat, berbangsa dan bernegara), serta bersih dan tulus (hati, pikiran dan kelakuannya), kiranya rakyat sebagai pemegang hak memilih, pemilik suara dan kedaulatan memilih, secara tulus menggunakan haknya dengan cerdas.

    Baca Online: Majalah Berita Indonesia Edisi 65 | Basic HTML

    Harapan ini kita kemukakan setelah melihat kinerja, komitmen, dan perilaku para wakil rakyat, anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang terhormat saat ini, sungguh menyedihkan. Sangat banyak diwarnai peristiwa aib, korup, malas, angkuh, serta mementingkan diri dan kelompoknya. Sudah amat sering kita menyaksikan anggota dewan yang terhormat ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), jaksa dan polisi karena korupsi dengan berbagai modus. Juga beberapa dikabarkan berselingkuh, malas dan ngantuk mengikuti rapat. Sering bicara arogan dan ngelantur. Sungguh memprihatinkan, sehingga anggota dewan yang baik pun jadi ikut tercemar dan mungkin sulit menunjukkan integritasnya. Mereka ini adalah hasil pilihan rakyat sebelumnya (Pemilu 2004).

    Kini, dalam beberapa hari menjelang masuk bilik suara menentukan pilihan pada Pemilu legislatif, 9 April 2009, kita kiranya jangan lagi terperosok masuk ke lubang yang sama akibat kesalahan dan kecerobohan memilih orang dan partai yang salah. Kesalahan kita mungkin timbul akibat kekurangjelian menilai perilaku para caleg dan petinggi partai peserta pemilu. Kita berharap bahkan berkeyakinan, semua partai politik (Parpol) peserta Pemilu 2009 ini punya visi, misi dan program demi kesejahteraan rakyat, kemajuan bangsa dan negara. Di atas sudut pandang positif inilah, kita menentukan pilihan. Tapi, kita tidak bisa terlena pada konsep dan janji indah tanpa mencermati dengan cerdas, sejauhmana intregritas diri, komitmen, idealisme dan visi (bermasyarakat, berbangsa dan bernegara), kebersihan dan ketulusan (hati, pikiran dan kelakuan) mereka, baik pribadi caleg maupun parpol.

    Salah satu indikasi kuat yang menunjukkan seseorang (calon legislatif) itu punya integritas adalah tidak menjalankan politik uang. Di samping itu, selain bersih dari politik uang, juga jujur, dan punya motivasi untuk membela kepentingan banyak orang. Mereka memiliki motivasi kuat untuk mengabdikan diri, berperan sebagai anggota legislatif yang mempunyai 3 (tiga) fungsi dasar yaitu fungsi anggaran, fungsi pembuatan kebijakan (legislasi) dan fungsi pengawasan. Sementara, mereka (Caleg) yang punya motivasi mencari pekerjaan atau ingin mengejar status sosial dan kesempatan yang lebih baik untuk memperbaiki taraf ekonomi dan kekuasaan, sehingga menghalalkan segala cara agar terpilih jadi anggota dewan, adalah kelompok yang perlu diwaspadai.

    Mereka pastilah berharap, setelah duduk sebagai anggota dewan yang terhormat, akan mendapat berbagai fasilitas dan kemudahan untuk balik modal berlipat-lipat. Kecenderungan mereka ini berharap bisa kebagian kesempatan korupsi, walaupun akhir-akhir ini Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) sudah menangkapi beberapa anggota DPR dan DPRD yang ketahuan terlibat korupsi. Mereka yang tertangkap itu dipandang hanya ketiban sial. Sementara yang tidak ketahuan, ya, tidak tertangkap! Mereka ini gencar melakukan politik uang. Membagi-bagi uang dan pemberian dalam bentuk lain kepada para konstituen, agar dipilih. Politik uang ini memiliki daya rusak yang semakin mengerikan dalam proses demokratisasi di Indonesia. Demokrasi yang diharapkan harus bermuara pada peningkatan kesejahteraan rakyat, malah melahirkan koruptor-koruptor yang akan mengisap uang rakyat.

    Sehubungan dengan itu, salah satu tanda kecerdasan kita dalam menentukan pilihan, kiranya pilihan kita berada dalam prinsip dan tataran antipolitik uang. Marilah kita pilih calon wakil rakyat yang bersih dari politik uang. Kita pilih caleg yang berani melakukan perubahan demi perbaikan, dengan tidak melakukan money politic, tetapi berkemauan melakukan silah al-rahmi yang berkesinambungan dengan rakyat.

    Mari kita bangkitkan kesadaran antipolitik uang, menolak politik uang! Sebab pilihan yang didasarkan pada politik uang berarti menjual harga diri dan ikut menyuburkan praktik korupsi dan suap-menyuap di masyarakat secara luas. Dengan pilihan yang antipolitik uang, berarti kita juga ikut membangun rumah rakyat (DPR) yang dihuni putera-puteri bangsa pilihan untuk menyalurkan aspirasi rakyat, dan demi kesejahteraan rakyat. (red/BeritaIndonesia)

    Daftar Isi Majalah Berita Indonesia Edisi 65

    Dari Redaksi

    Visi Berita

    Advertisement

    Surat Pembaca

    Berita Terdepan

    Highlight / Karikatur Berita

    Berita Utama

    Berita Khas

    Berita Politik

    Lentera

    Berita Tokoh

    Berita Nasional

    Lintas Tajuk

    Berita Hukum

    Berita Daerah

    Berita Humaniora

    Berita Iptek

    Berita Film

    Berita Musik

    Berita Buku

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini