Belajar dari Mimpi Gatot jadi Presiden

Mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo

Gatot Nurmantyo Lorong Politik Gatot Nurmantyo Panutan Prajurit TNI Profesional
 
0
104
Gatot Nurmantyo bersahabat dengan aktivis 212

Catatan Kilas Ch Robin Simanullang

Seorang Panglima TNI sangat wajar bermimpi menjadi Presiden. Namun mimpi besar itu semestinya jangan sampai kebablasan menodai integritasnya sebagai prajurit pejuang. Hal seperti itu pernah kami ditulis di Majalah Berita Indonesia Edisi 96 halaman 22-29 bertajuk Lorong Politik “Panglima TNI Gatot Nurmantyo.

Saat Jenderal Gatot Nurmantyo masih menjabat Panglima TNI menjadi perbincangan publik. Beberapa langkahnya dipandang sebagai manuver politik menuju Pilpres 2019. Sayang, kepercayaan dirinya terkesan berlebihan, sehingga (kemungkinan akan) membuatnya terjebak dalam lorong politik remang-temaram bahkan mungkin gelap-gulita. Saat ini ternyata menjadi kenyataan.

Saat itu Jenderal Gatot Nurmantyo menjadi perbincangan politik sejak dia diisukan mengetahui bahkan setuju upaya makar, bersamaan demo besar-besaran bela Islam 212. Saat itu, wartawan Allan Nairn menulis ‘laporan investigasi’ di The Intercept, bahwa Gatot mengetahui dan merestui adanya dugaan upaya makar. Guna mendukung investigasinya, Allan mengutip pernyataan Mayor Jenderal (Purn) Kivlan Zen saat menjalani pemeriksaan terkait tuduhan makar oleh polisi. Namun isu ini disebut hoax oleh Jenderal Gatot Nurmantyo.

Tetapi beberapa manuver yang dilakukan Gatot saat itu dan kemudian setelah dia diberhentikan sebagai Panglima TNI menunjukkan indikasi ke arah itu. Saat itu, kami menulis, sayang manuvernya dilakukan dalam posisinya masih aktif sebagai Panglima TNI. Hal ini mungkin luput dari pertimbangannya bersama timnya (kalau sudah ada), sehingga kesan kurang etis dan overconfidence sulit dinafikan. Manuver yang membawa-bawa militer ke ranah politik, sudah tidak ampuh dilakukan saat ini. Reformasi telah menyepakati demokrasi dengan supremasi politik sipil. Dalam menyikapi hal ini (militer berpolitik) para pihak yang tadinya berseberangan bisa menjadi satu suara, menolak. Akhirnya menggiring Gatot memasuki lorong politik gelap-gulita.

Kendati teranyar, Gatot cukup menghibur diri dengan mengklaim bahwa sudah ada dua partai yang meminta dia untuk menjadi bakal cawapres mendampingi Anies Baswedan di Pemilu 2024. Tetapi Gatot tidak menyebut kedua partai yang dimaksud. Dia juga tidak membocorkan apakah kedua partai itu berasal dari koalisi pengusung Anies Baswedan atau bukan.

“Partai sudah ada yang menghubungi. Ada dua (partai). Tidak bisa disebutkan,” kata Gatot saat ditemui pers di Kawasan Jakarta Pusat, Jumat (24/2/2023). Dia pun mengaku tidak menerima tawaran itu, dengan alasan tidak berminat untuk maju di Pemilu 2024, baik sebagai capres maupun cawapres. Suatu sikap realistis, karena ‘lorong politiknya’ sudah sedang gelap-gulita. Ini pelajaran penting bagi para Panglima TNI yang mau belajar dari orang lain. (Ch. Robin Simanullang)

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini