Prabowo Merujuk Novel Armada Hantu

[ Prabowo Subianto ] [ Ekonomi Kerakyatan Prabowo ] [ Ch. Robin Simanullang ]
 
0
252

Betapa lugunya kita, jika merujuk buku novel fiksi berjudul ‘Armada Hantu: Novel Perang Dunia Berikutnya’ (Ghost Fleet: a Novel of The Next World War) sebagai acuan memimpin negara, sekalipun hal itu hanya sekadar early warning bahwa Indonesia akan bubar 2030. Jangan-jangan oleh penulis novel ini, kita dianggap naif jika meyakini novel fiksi ini sebagai prediksi kajian ahli intelijen strategis.

Pidato politik Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang menyatakan (prediksi) Indonesia bubar tahun 2030, menuai kontroversi. Prediksi pesimis itu ternyata bukan hanya sekali dinyatakan Prabowo. Selain dalam pidato pada acara “Konferensi Nasional dan Temu Kader”, yang diunggah melalui akun Facebook Partai Gerindra (19 Maret 2018), Prabowo juga pernah mengemukakannya dalam acara bedah buku di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, 18 September 2017 lalu, terlihat dalam video yang diunggah dalam kanal Gerindra TV di YouTube (19 September 2017).

Prabowo menyatakan bahwa Indonesia akan bubar pada 2030 akibat ketimpangan pembagian kekayaan dan tanah di negara ini. Ia mengaku mendasarkan itu dari kajian negara lain. Prabowo pun menenteng buku ‘Ghost Fleet, a Novel of The Next World War” karya Peter Warren Singer dan August Cole. Prabowo mengatakan dalam buku Ghost Fleet tertulis, Republik Indonesia di tahun 2030 sudah tidak ada lagi.

Ghost Fleet ini novel, tapi ditulis dua ahli strategi dari Amerika, menggambarkan sebuah skenario perang antara China dan Amerika tahun 2030. Yang menarik dari sini bagi kita hanya satu. Mereka ramalkan tahun 2030, Republik Indonesia sudah tidak ada lagi,” kata Prabowo.

Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto tampak sangat yakin atas apa yang ditulis dalam novel itu bisa saja terjadi. Prabowo menjelaskan isi pidatonya tentang Indonesia bubar pada 2030 adalah mengutip prediksi para ahli di luar negeri. “Jadi, itu ada tulisan dari luar negeri. Banyak pembicaraan seperti itu di luar negeri,” kata Prabowo kepada wartawan, setelah menjadi pembicara kunci dalam acara “Wadah Global Gathering” di Jakarta, Kamis (22/3/2018). Prabowo mengatakan, di luar negeri ada yang namanya scenario writing, bentuknya mungkin novel, tetapi ditulis oleh ahli-ahli intelijen strategis.

Lebih lanjut Prabowo mengaku, tujuannya menyampaikan kajian para ahli intelijen luar negeri itu agar semua pihak waspada, tidak menganggap enteng persoalan-persoalan. Karena, menurut dia, dari awal lahirnya Indonesia, banyak yang iri dengan kekayaan alam Indonesia.

Ternyata, kata Prabowo, sampai sekarang masih ada tulisan yang menyatakan Indonesia tidak akan ada lagi pada tahun 2030. “Ini untuk kita waspada. Jangan kita anggap enteng. Kita jangan terlalu lugu. Bahwa banyak yang iri sama kita, banyak yang tidak punya sumber daya alam. Jadi, mereka ingin kaya dari kita,” kata Prabowo. Prabowo yakin ini adalah sebuah fenomena. Namun, ia mempersilakan para pihak, apakah percaya atau tidak dengan ucapannya. “Kewajiban saya sebagai anak bangsa, saya harus bicara kalau melihat suatu bahaya,” kata Prabowo.

Secara serempak, jajaran pengurus Partai Gerindra pun membantah tudingan bahwa pidato Prabowo didasarkan atas novel. Namun, mereka tidak menunjuk adanya rujukan ilmiah atas prediksi Indonesia bubar 2030 itu. Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Edhy Prabowo mengatakan bahwa pidato Prabowo itu mengutip ahli sejarah yang membicarakan kondisi Indonesia dari segi kepadatan penduduk. “Beliau baca sejarah. Beliau tahu baca buku. Jadi tidak mungkin beliau menulis itu tanpa hanya karena fiksi itu,” tepisnya. Menurut Edhy, Prabowo hendak menyampaikan realita dan fakta yang perlu disikapi bersama.
Ketua DPP Partai Gerindra Muhammad Syafii menimpali (Kamis (22/3/2018), “Itu kan bukan pikiran dia, cuma dia menyampaikan itu untuk memberi early warning agar berhati-hati.”

Dari berbagai penjelasan Prabowo dan jajaran Partai Gerindra terlihat mereka sangat yakin bahwa pernyataan Indonesia bubar 2030 itu adalah prediksi yang didasari kajian para ahli intelijen strategis di luar negeri, bahkan kajian ahli sejarah walau tidak menunjuk kajian ilmiah dimaksud.

Karya Fiksi

Sementara penulis buku Ghost Fleet: a Novel of The Next World War, Peter Warren Singer dan August Cole, dengan jelas menulis catatan khusus di lembar awal novelnya: “The following was inspired by real-world trends and technologies. But, ultimately, it is a work of fiction, not prediction.” (Buku berikut ini terinspirasi oleh tren dan teknologi dunia nyata. Tetapi, pada akhirnya, ini adalah karya fiksi, bukan prediksi). Sangat jelas, buku ini adalah novel karya fiksi, bukan prediksi.

Pada lembar akhir buku ini, penerbitnya juga menegaskan: “This book is a work of fiction. Names, characters, businesses, organizations, places and events are either the product of the author’s imagination or are used fictitiously. (Buku ini adalah karya fiksi. Nama, karakter, bisnis, organisasi, tempat dan acara adalah produk imajinasi penulis atau yang digunakan secara fiktif).

Maka, betapa lugunya kita, jika merujuk buku novel fiksi berjudul ‘Armada Hantu: Novel Perang Dunia Berikutnya’ (Ghost Fleet: a Novel of The Next World War) sebagai acuan memimpin negara, sekalipun hal itu hanya sekadar early warning bahwa Indonesia akan bubar 2030. Jangan-jangan oleh penulis novel ini, kita dianggap naif jika meyakini novel fiksi ini sebagai prediksi kajian ahli intelijen strategis.

Maka pantas Peneliti Lembaga Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Wasisto Raharjo Jati menilai pidato politik Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto tersebut tidak rasional dan tak memiliki dasar sumber ilmiah yang sahih karena bersumber pada novel fiksi. Menurutnya pidato itu cuma ungkapan sinis yang tak memberi pembelajaran bagi masyarakat. “Ini hanya sekedar asumsi yang tidak didasarkan pada fakta, tidak konstruktif, emosional, dan konspiratif, serta tidak mengajak pola pikir masyarakat rasional,” kata Wasisto kepada pers, Kamis (22/3/2018).

Novel Armada Hantu (Ghost Fleet) itu mengisahkan perang antara China dan Amerika Serikat pada tahun 2030 dan secara sepintas menyebut Indonesia tidak lagi eksis tanpa sedikit pun menjelaskan sebab musababnya.

Novel ini berkisah situasi perang modern ketika pesawat tanpa awak (drone) mendominasi angkatan udara kedua belah pihak. Perang ini juga menggambarkan sistem informasi tingkat tinggi, dan cakupannya bukan hanya peretasan situs internet, melainkan satelit yang memantau bagian permukaan bumi.

Ya, benar-benar karya imajinasi fiktif tentang sebuah perang dunia berikutnya. Dan, seperti ditegaskan penulisnya, bukan prediksi, hanya karya imajinasi fiktif. Tak ubahnya seperti karya imajinasi fiktif futuristik lainnya yang sudah banyak dijadikan film, seperti 2012 (kiamat), Doomsday 2012, War of The World, The Day After Tomorrow, Deep Impact, Independence Day, Armageddon, 28 Days Later dan lain-lain. || ch. robin simanullang

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here