Gibran Dewa Penenang Prabowo

 
0
652
Gibran Rakabuming Raka menenangkan kecemasan traumatis Prabowo menghadapi Pilpres 2024

“Pak Prabowo tenang saja. Tenang saja. Saya sudah ada di sini,” kata Gibran Rakabuming Raka dalam pidato perdananya di depan Capres Prabowo dan seluruh Ketua Umum partai pengusungnya serta ribuan massa pendukung di Indonesia Arena, GBK, Senayan, Jakarta, Rabu (25/10/2023) pagi. Pernyataan Gibran itu disambut gemuruh massa pendukung, dan teristimewa lagi oleh Prabowo sendiri. Prabowo mengangkat dan mengepal tangan kanan ke atas beberapa kali seraya tertawa riang. Diikuti seluruh petinggi partai pengusung. 

Suatu suasana pesta yang sangat gempita menyambut pernyataan Gibran tersebut. Getaran suara Gibran itu tampaknya mereka rasakan laksana suara dewa penenang atau mirip Dewa Dionysus mitologi Yunani yang me­rupakan dewa pesta dan kese­nangan. Suasana deklarasi Capres/Cawapres Prabowo/Gibran itu, benar-benar gempita dan menyenangkan laksana sudah dalam pesta kemenangan. Seolah Pilpres sudah selesai, tinggal melaksanakannya saja.

Pernyataan perdana Gibran tersebut menjadi viral, yang umumnya (sangat banyak) memandangnya sebagai suatu hal yang menunjukkan arogansi dan kesongongan. Tapi kita tidak ingin melihatnya dari sisi arogansi itu. Kita ingin mendalami latar-belakangnya. In the back of one’s mind. Apa yang mendorong Gibran yang masih sangat minim pengalaman mengatakan hal tersebut kepada Prabowo Subianto? Seorang yang dicitrakan tegas dan pemberani, mantan Panglima Kostrad dan Danjen Kopassus, pasukan khusus elit TNI AD yang dijuluki sebagai “Pasukan Baret Merah” dan memiliki moto “Berani, Benar, Berhasil”? Di mata Gibran, putra sulung Presiden Jokowi itu, seolah-olah semua predikat pemberani itu tidak ada lagi dalam sosok Prabowo.

Gibran mengungkapkan hal itu dalam pidato perdananya sebagai Cawapres. Tentu suatu ungkapan yang muncul dari hati sanubarinya yang terdalam dan spontan autentik. Sepintas memang boleh dipandang sebagai suatu ungkapan arogansi, mentang-mentang anak presiden dan keponakan ketua MK. Tetapi kita lebih melihatnya sebagai ungkapan spontan hati nurani, dari pengalamannya berinteraksi dengan Prabowo.

Sesuai pengakuan Gibran, bahwa Prabowo berkali-kali memohonnya untuk bersedia mendampinginya sebagai Cawapres. Gibran sangat mungkin melihat betapa tingginya kecemasan dan ketakutan traumatis dalam diri Prabowo untuk menghadapi Pilpres 2024, yang sudah trauma tiga kali mengalami kekalahan. Prabowo sampai sujud memuja-muji Presiden Jokowi dan keluarganya, dan memohon dukungan untuk menghindari kekalahan traumatis dalam Pilpres 2024 nanti. Untuk itu, Gibran pun dimohon berkenan jadi Cawapres.

Segala upaya dilakukan. Di antaranya, Prabowo melalui dua kader Gerindra, juga PSI, Garuda dan seorang mahasiswa mengajukan uji materi syarat Capres/Cawapres ke Mahkamah Konstitusi yang kebetulan pula dipimpin adik ipar Jokowi. Sampai akhirnya MK mengambil keputusan kontroversial yang dipandang sebagai karpet merah bagi Gibran menjadi Cawapres pendamping Prabowo. Selama dalam semua proses itu, kemungkinan Gibran menyaksikan betapa tingginya kecemasan Prabowo akan menghadapi kekalahan traumatis lagi untuk keempat kalinya, jika Presiden Jokowi tidak mendukungnya. Kekalahan berulang traumatis tersebut sangat mungkin menimbulkan Post Traumatic Stress Disorder (Gangguan Stres Pasca Trauma) diderita oleh Prabowo.

Menurut para ahli, salah satu jenis kecemasan adalah Post Traumatic Stress Disorder (PTSD), adalah gangguan mental yang terjadi pada seseorang karena mengalami kejadian traumatis, seperti bencana alam, kecelakaan, terorisme, perang, pemecatan, pelecehan seksual, kekerasan pengebiran, dan sejenisnya, termasuk kekalahan traumatis yang berulang dalam kompetisi. Orang yang menderita PTSD mungkin merasa stres, cemas atau takut, meskipun mereka tidak berada dalam bahaya.

Para ahli menyebut, wajar jika kita merasa takut selama dan setelah situasi traumatis. Ketakutan adalah bagian dari respons “lawan atau lari” tubuh, yang membantu kita menghindari atau merespons potensi bahaya. Orang mungkin mengalami berbagai reaksi setelah trauma, dan kebanyakan orang pulih dari gejala awal seiring berjalannya waktu. Mereka yang terus mengalami masalah mungkin didiagnosis menderita PTSD.

Menurut National Institutes of Health (Institut Kesehatan Nasional) Amerika, bahwa rasa cemas merupakan reaksi normal tubuh terhadap stres yang merupakan pertahanan diri ketika berada dalam situasi yang memberikan tekanan. Hal ini sebenarnya merupakan bagian dari insting manusia. Rasa cemas yang tidak berlebihan tidak berdampak negatif pada kondisi psikologis seseorang. Namun kecemasan yang terjadi terus menerus tidak lagi dianggap cemas biasa dan harus segera ditangani karena merupakan sebuah bentuk gangguan kesehatan jiwa atau mental.

Maka, sangat wajar saat Gibran mengatakan:  “Pak Prabowo tenang saja. Tenang saja. Saya sudah ada di sini.” Yang diaminkan Prabowo dengan mengepalkan tinju keberanian dan kemenangan. Keberadaan Gibran menjadi obat, semacam dewa penenang, bagi Prabowo. Post Traumatic Stress Disorder yang kemungkinan dialami Prabowo seperti sudah teratasi. Prabowo senang dan tenang. Bahkan sebelum deklarasi itu, setelah MK memutuskan membuka jalan bagi Gibran menjadi Cawapres, telah beredar video Prabowo menari-nari bersama beberapa pendukungnya. Pesta kemenangan pun telah mereka gelar. Dan, setidaknya, Prabowo telah menggenggam optimisme. Walaupun tidak menutup kemungkinan realita dia akan mengalami kekalahan traumatis keempat kalinya.

Advertisement

Catatan Kilas Ch. Robin Simanullang

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here