Pengarang Kumpulan Cerpen Terkenal ‘Kedjantanan di Sumbing’

Subagio Sastrowardoyo
 
0
89
Subagio Sastrowardoyo
Subagio Sastrowardoyo

Subagio Sastrowardoyo mulai diperhitungkan sebagai tokoh penyair Tanah Air ketika kumpulan puisinya Simphoni terbit tahun 1957 di Yogyakarta. Belakangan, pendiri Yayasan Lontar (1987) ini lebih dikenal sebagai penulis cerpen dibanding sebagai penyair. Salah satu cerpennya yang berjudul ”Kedjantanan di Sumbing” telah mendapatkan penghargaan sebagai karya terbaik. Karya-karya lainnya yang terkenal adalah Keroncong Motinggo (Puisi, 1975), Sosok Pribadi dalam Sajak (Kumpulan Esai, 1980), Sastra Hindia Belanda dan Kita (Kritik Sastra, 1990), dan Kematian Makin Akrab (Puisi, 1995).

Subagio Sastrowardoyo adalah sastrawan multitalenta (dosen, penyair, penulis cerita pendek, esais, dan kritikus sastra) berdarah biru yang hidup di tiga zaman yaitu zaman perjuangan, zaman kemerdekaan dan zaman Orde Baru. Ayahnya merupakan seorang Wedono Kabupaten Madiun yang bernama Raden Mas Sutejo Sastrowardoyo dan ibunya bernama Raden Ayu Ratna Suyati yang merupakan keturunan dari bangsawan Kerajaan Majapahit.

Cucunya, Dian Sastrowardoyo, dikenal sebagai artis kenamaan yang pernah dianugerahi penghargaan sebagai pemeran wanita terbaik pada Festival Film Internasional Singapura (2002) dan Festival Film Asia di Deauville, Perancis (2002).

Pada masa Perang Dunia ke II, Subagio Sastrowardoyo sebagai keturunan bangsawan mendapat akses pendidikan yang lebih baik dibandingkan rakyat biasa (wong cilik). Meski demikian, anak ke-11 dari 14 bersaudara ini bersekolah berpindah-pindah. Dia pernah bersekolah di HIS Bandung dan pindah ke Jakarta. Kemudian dia melanjutkan pendidikannya ke HBS, SMP, dan SMA di Yogyakarta.

Setamat SMA, Subagio Sastrowardoyo melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi Negeri Universitas Gajah Mada (UGM), mengambil jurusan yang disukainya Fakultas Sastra. Selama kuliah Subagio pernah menjabat sebagai Ketua Jurusan Bahasa Indonesia B-1 di Yogyakarta (1954-1958). Ia juga pernah mengajar di almamaternya, Fakultas Sastra, UGM pada tahun 1958-1961.

Setelah meraih gelar sarjana di tahun 1958, Subagio Sastrowardoyo melanjutkan studinya ke Amerika Serikat. Dia meraih gelar master of art (M.A.) dari Department of Comparative Literature, Universitas Yale, Amerika Serikat tahun 1963. Pada 1966-1971, ia mengajar di Sekolah Staf Komando Angkatan Darat (SESKOAD) di Bandung.

Selanjutnya, tahun 1971-1974 mengajar di Salisbury Teachers College, Australia Selatan, dan di Universitas Flinders, Australia Selatan tahun 1974-1981.

Selain itu, ia juga pernah bekerja sebagai anggota Dewan Kesenian Jakarta (1982-1984) dan sebagai anggota Kelompok Kerja Sosial Budaya Lemhanas dan Direktur Muda Penerbitan PN Balai Pustaka (1981).

Subagio Sastrowardoyo pernah menjabat cukup lama sebagai direktur di perusahaan penerbit Balai Pustaka. Pada tahun 1986, dia mewakili Balai Pustaka menerima hadiah Pegasus untuk karya penulis Ismail Marahimin berjudul “Dan Perang adalah Over” di New York AS.

Sejumlah penghargaan sudah dia raih di antaranya: Hadiah Sastra Dewan Kesenian Jakarta (1983) untuk karyanya Sastra Hindia Belanda dan Kita ; Hadiah Pertama dari majalah Kisah (1995) untuk cerpennya “Kedjantanan di Sumbing” ; Hadiah dari majalah Horison untuk puisinya “Dan Kematian pun Semakin Akrab” yang dimuat dalam majalah itu tahun 1966/1967 ; Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia (1970) untuk kumpulan puisinya Daerah Perbatasan ; Penghargaan South East Asia Write Award (SEA Write Award) dari Kerajaan Thailand pada tahun 1991 untuk kumpulan puisinya Simphoni Dua dan Setya Lencana Bidang Sastra.

Advertisement

Subagio Sastrowardoyo meninggal di Jakarta, 18 Juli 1995, di usia 71 tahun. Kematiannya memang tidak menjadi berita besar yang menyita liputan media massa berhari-hari. Namun bagi dunia sastra dan dunia kreativitas, kepergiannya adalah sebuah kehilangan besar. (TokohIndonesia.com/cid)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini