Tatkala Jokowi Disanjung dan Mudah Tersinggung

Sesakit Apapun, Tetap Kawal Jokowi Jokowi dan Cengkeraman Kecanduan Kekuasaan
 
0
165
Saat polemik penundaan pemilu dan perpanjangan masa jabatan presiden, Presiden Joko Widodo dikritik sejumlah pihak karena kembali menunjuk Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan menjadi Ketua Dewan Sumber Daya Air (SDA) Nasional (SK 6 April 2022). Foto: Biro Setpres

Seorang menteri di acara talkshow sebuah televisi nasional mengatakan dan menyiratkan bahwa Presiden Jokowi ingin dihormati dan disanjung; jangan sampai Jokowi merasa diatur-atur sehingga tersinggung dan melawan. Ini adalah perspektif seorang menteri tentang bagaimana cara menghormati dan menyanjung Presiden Jokowi supaya jangan tersinggung. Berbeda dengan perspektif dan cara sahabat seperjuangan menghormati dan menyayanginya, dimana pada saat perlu justru harus mengingatkan dan menasehatinya. Tapi malah itu menjadi dalil yang membuat Jokowi tersinggung dan merasa direndahkan sehingga berkhianat.

Di singgasana istana, Jokowi sangat disanjung, dihormati (sembah), disegani dan ditakuti sebagai presiden dan kepala negara yang berkuasa; Sebagai penguasa penuh, yang berwenang membagi kekuasaan kepada orang lain, dan sebaliknya berwenang mencabut kekuasaan dari seseorang. Dalam perspektif menteri di atas, di singgasana itu, semua orang (sahabat atau bukan, teman seperjuangan atau pesaing) semestinya menyanjung-nyanjung bahkan mendewa-dewakannya. Karena kalau tidak, Presiden Jokowi akan tersinggung dan melawan.

Sementara, di kandang banteng (rumahnya sendiri), Jokowi sangat dibanggakan dan disayangi sebagai kader mumpuni (anak ideologis Bung Karno, petugas partai ideologis), teman seperjuangan yang berhasil jadi presiden hebat. Jokowi sangat dibanggakan, dikagumi dan dihormati sebagai presiden yang lahir dan dibesarkan dari rahim PDI Perjuangan. Laksana kasih, kebanggaan dan rasa hormat satu keluarga (ayah-ibu dan kakak-adik) kepada salah satu putra yang sukses jadi presiden. Mereka berbicara lepas dalam ikatan kasih kekeluargaan. Saling menyayangi dan membanggakan sebagai saudara seperjuangan dalam posisi penugasan partai yang diemban masing-masing. Dan, bila perlu saling mengingatkan dan menasehati.

Tetapi, sesuai penuturan sang menteri tersebut, terkesan Presiden Jokowi sangat mudah tersinggung atas perlakuan para teman seperjuangannya di Kandang Banteng tersebut; terutama Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, Sang Ibu Kandang Banteng, kepada Sang Presiden tersebut. Apa yang dikemukakan dan disiratkan menteri itu sangat pantas dipercaya, walaupun mungkin sarat kepentingan subjektif. Karena menteri itu, terkesan oleh publik, sangat dipercaya oleh Presiden Jokowi, melebihi para menteri lainnya. Boleh dibilang, dia adalah tangan kanan Presiden Jokowi. Dan menariknya, kendati mungkin Jokowi tahu persis bahwa menteri yang berasal dari partai lain itu, sangat sulit menghargai PDI Perjuangan, khususnya Megawati Soekarnoputri. Hal ini tentu tak terlepas dari perspektif bagaimana cara menghormati Presiden Jokowi di atas.

Jika benar apa yang dikatakan dan disiratkan menteri tersebut, tampaknya, kondisi cara penghormatan di atas, telah membuat Jokowi secara perlahan (proses) menjadi kecanduan ingin dihormati dan disanjung seperti cara orang-orang dekatnya di singgasana istana Presiden tersebut. Dan mulai dan makin mudah tersinggung dengan cara penghormatan di Kandang Banteng (rumah sendiri) itu. Dalam proses itu, sadar atau tidak, tampak dia telah mulai kehilangan jati diri kesahajaannya. Kesederhanaan itu tidak gila hormat dan tidak mudah tersinggung, Itulah jatidiri Jokowi yang dikenal publik selama ini. Sekalipun dia disebut planga-plongo, baj*ngan tol*l, dan sebagainya, Jokowi tidak tersinggung. Tapi, tatkala terhadap PDI Perjuangan, dia sangat mudah tersinggung. Aneh!

Pada saat Jokowi menjabat Walikota Solo dan Gubernur DKI Jakarta, Jokowi masih bersahaja menghormati Megawati seperti ibunya sendiri. Membungkuk dan mencium tangan dengan amat santun. Begitu pula pada saat menjabat Presiden periode pertama (2014-2019), Jokowi dalam kesahajaannya masih menempatkan diri secara elegan kontekstual setiap kali bertemu atau datang ke Kandang Banteng.

Kemudian, dalam periode keduanya (2019-2024), Jokowi tampaknya sudah mulai sangat menikmati (candu) posisinya di singgasana istana; dan di mana pun dia berada, tak terkecuali di rumah ibunya sendiri (kandang banteng).

Tanda-tanda seseorang (Presiden) yang sudah tertular kecanduan kekuasaan itu, antara lain: Mesti dibanggakan sebagai presiden yang berkuasa, dan dihormati (ditakuti) sebagai penguasa yang adalah presiden dan kepala negara yang berkuasa penuh, tak terkecuali di rumah ibunya sendiri dan oleh ibunya sendiri. Dia mesti dihormati (disembah dan ditakuti) oleh siapapun, tak terkecuali ibunya sendiri. Nasihat dan perkataan ibunya sudah dianggap ‘mengatur-ngatur’, merendahkan dan melecehkannya.

Dia tersinggung, seperti dikatakan seorang menteri kepercayaannya tersebut. Akibat ketersinggungan itu, kata beberapa pengamat dan orang dekatnya, Jokowi pun mendukung Capres partai lain dan mengkhianati Capres dari partainya sendiri. Karena di beberapa partai lain, dia sangat mungkin bisa tampil berkuasa sebagai King Maker dan The Godfather. Sementara, di partainya sendiri, sebagai partai kader, sudah punya mekanisme sendiri, antara lain, kongres partai telah memberi hak prerogatif kepada Megawati dalam menetapkan Capres/Cawapres. Dia sangat mungkin sadar, Megawati tidak akan dapat diaturnya.

Lalu, terkesan di mata publik dan aktivis social society, dia pun melakukan manuver politik yang sangat dahsyat, hingga MK pun mengetuk palu keputusan yang menggelar karpet merah kepada putra Jokowi, Gibran menjadi Cawapres. Tanpa merasa bahwa hal itu mencederai demokrasi dan penegakan hukum, serta pengkhianatan kepada partai dan pendukung yang membesarkannya. Terlebih lagi, pengingkaran terhadap jatidiri kesederhanannya sendiri.

Advertisement

Catatan Kilas Ch. Robin Simanullang

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini