Jokowi Ikon Gagalnya Revolusi Mental?

Rekor Unik PDI Perjuangan
 
0
569
Deklarasi Revolusi Mental 2014. Jokwi menjadi ikon kegagalannya

Presiden Jokowi dan keluarganya kini ditengarai tampil sebagai ikon dan bukti nyata gagalnya gerakan revolusi mental yang digaungkannya sejak awal pemerintahannya (2014). Publik menilai, ternyata, dia tidak berhati putih seperti disanjung selama ini.

Saat kampanye Pilpres 2014, Jokowi yang disanjung publik berkarakter bersahaja, tulus dan berintregritas, dengan berapi-api mengatakan akan melakukan gerakan revolusi mental dalam pemerintahannya. Sebagai kader terbaik PDI Perjuangan, dia mengacu gagasan revolusi mental yang pertama kali dilontarkan oleh Presiden Soekarno pada Peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1956. Yakni: “Revolusi Mental adalah suatu gerakan untuk menggembleng manusia Indonesia agar menjadi manusia baru, yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala.” Berhati putih adalah mempunyai niat yang tulus ikhlas, tanpa manuver berpura-pura.

Revolusi mental tersebut adalah bagian penting dalam rangkaian upaya transformasi Indonesia menuju bangsa yang berdikari dalam ekonomi, berdaulat dalam politik, dan berkepribadian dalam kebudayaan (Trisakti Bung Karno); yang kemudian dijabarkan Jokowi dalam Nawacita. Itulah ruh gerak pemerintahan Jokowi periode pertama 2014-2019, dan dilanjutkan periode kedua 2019-2024. Tapi di tengah periode kedua, sejak tahun 2022, terkesan terjadi perubahan sikap Jokowi dan keluarganya. Dia dan keluarganya semakin tampak sangat menikmati singgasana kekuasaan. Putra dan menantunya yang tadinya bersahaja sebagai pengusaha martabak dan gorengan (kuliner) yang jauh dari proyek-proyek pemerintah dan menyatakan tidak tertarik politik kekuasaan, yang mendapat apresiasi tinggi dari masyarakat luas, mulai memanfaatkan peluang kekuasaan untuk melanggengkan dinasti kekuasaan.

Gubran putra sulungnya terpilih menjadi Walikota Solo. Bobby menantunya terpilih menjadi Walikota Medan. Itu melalui pilihan rakyat (Pemilu). Sampai di titik kekuasaan itu, publik belum mencium aroma mabuk kekuasaan. Sampai kemudian, putra bungsunya Kaesang mendapat privilese menjadi Ketua Umum PSI. Publik tersentak, mulai melihat kentalnya mental menerabas dalam keluarga Presiden ini. Semakin tersentak lagi, ketika Mahkamah Konstitusi yang dipimpin Anwar Usman, adik ipar Jokowi, mengabulkan uji materi UU Pemilu tentang syarat Capres/Cawapres, yang sengaja atau tidak, dan diperdebatkan para pakar hukum tata negara serta politisi, ditengarai menggelar karpet merah bagi Gibran menjadi Cawapres pendamping Capres Prabowo.

Publik dan mahasiswa mulai bereaksi, tapi masih punya sisa keyakinan bahwa Jokowi tidak akan mengizinkan putranya melenggang jadi Cawapres yang berkonstestasi pada Pilpres 2024. Salah satu penguat keyakinan publik tentang hal itu bahwa itu bukan karakter Jokowi yang dikenal bersahaja dan berhati tulus, tidak ambisius haus kekuasaan. Apalagi Jokowi dan Gibran adalah kader PDI Perjuangan, partai yang mengantarkannya ke puncak kekuasaan, telah resmi mengusung Capres Ganjar Pranowo.

Tetapi sisa keyakinan itu menjadi sirna setelah Gibran menerima pencawapresannya mendampingi Prabowo dalam Rapimnas Partai Golkar (21/10/23). Itu, memang, hak pribadinya. Tetapi publik tersentak. PDI Perjuangan dan simpatisannya, serta TPN Ganjar dan para relawannya, tak menyangka Jokowi dan Gibran akan berkhianat. Mereka yang sesungguhnya dalam beberapa bulan terakhir sudah curiga, akhirnya kaget tak sangka Jokowi dan keluarganya bisa berpura-pura setia sebagai kader seperjuangan. Bahkan sampai saat Rakernas IV PDI Perjuangan (29/9/2023), Jokowi dan Gibran masih terkesan setia.

Ini bukan soal aturan (hukum) boleh atau tidak. Ini ada soal moral, mental dan karakter serta kepatutan. Publik dan jajaran PDIP tidak menyangka Jokowi akan berkhianat kepada partai yang membesarkannya. Tidak menyangka, dan tidak percaya, Jokowi mabuk kekuasaan sehingga mampu berpura-pura sebagai teman setia seperjuangan. Eh, ternyata sudah menjadi lawan, musuh dalam selimut. Jokowi dan keluarganya tampaknya tidak memiliki mental berhati putih, sebagaimana digaungkan dalam revolusi mental.

Secara politik (merebut kekuasaan), Jokowi yang disanjung beberapa pihak sebagai ahli strategi dalam kontestasi Pemilu, tentu sudah punya perhitungan tersendiri apa untung-ruginya. Dia pasti sudah punya keyakinan dengan cara itu, Jokowi dan keluarganya akan melanggengkan kekuasaan, dengan jargon demi yang terbaik untuk bangsa.

Tetapi, mungkin dia alpa, bahwa tidak semua publik pendukungnya, bahkan mungkin mayoritas pendukungnya selama ini, menjadi kecewa: “Ternyata Jokowi tidak berhati putih;” seperti mereka sanjung selama ini dengan revolusi mentalnya. Apakah Jokowi akan berhasil dengan strategi ‘demi terbaik buat bangsa’ entah pun itu dipandang sebagai strategi ‘musuh dalam selimut’? Rakyatlah yang mengadilinya 14 Februari yang akan datang.

Catatan Kilas Ch. Robin Simanullang

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini