Suara Pemilih Kebhinnekaan

 
0
21
Suara Pemilih Kebhinnekaan
Majalah Tokoh Indonesia 45

[OPINI] – CATATAN KILAS – Siapa pemilih Ahok-Djarot? Mereka umumnya adalah para pemilih (rakyat) yang toleran dan menghargai kemajemukan (Pancasila). Sementara mereka yang intoleran dan bersikap anti atau ambivalen terhadap kemajemukan (Pancasila) sangat kecil kemungkinannya memilih Ahok-Djarot.

Pandangan ini muncul setelah mengamati berbagai peristiwa seputar Pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta 2017. Berbagai peristiwa itu mengarus pada dua hal yang berseberangan tentang pasangan calon Ahok-Djarot, yakni pro dan anti Ahok.

Para pendukung dan pemilih Ahok-Djarot memandang pasangan ini merupakan wujud nyata kebhinnekaan Indonesia. Ahok yang beretnis Tionghoa dan beragama Kristen Prostestan (double minoritas), tetapi dipandang berkinerja baik dan berada di antara semua golongan (menghargai kemajemukan), bahkan dipandang sangat pro Islam dibanding gubernur yang muslim sebelumnya.

Sementara, para penentang Ahok, selain berusaha menafikan kinerja Ahok-Djarot juga berusaha menjegal dengan berbagai cara; Di antaranya, Ahok dilaporkan dan didemo besar-besaran sebagai penista ulama dan agama Islam. Demo besar itu bukan hanya memobilisasi warga Jakarta bahkan lebih banyak dari berbagai daerah dibawah koordinasi Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI). Kasus dugaan penistaan agama itupun dengan cepat dilimpahkan dan tengah berproses di pengadilan.

Melihat besarnya tiga gelombang demonstrasi (pertama, 4-11-2016 disebut demo 411; kedua, 2-12-2016 disebut 212; ketiga, 11-2-2017 disebut demo 112), dan tengah diadilinya Ahok dengan dakwaan penistaan agama Islam, tak disangka bahwa Ahok-Djarot justru masih tampil sebagai pemenang Pilkada DKI Jakarta 15 Februari 2017.

Ahok-Djarot menang (posisi pertama) dengan perolehan suara 42.91 persen, atau 2.357.587 dari 5.563. 425 suara sah di Pilkada DKI. Posisi dua, Anies-Sandi meraih 40.05 persen atau 2.200.636. Posisi tiga Agus-Sylvi meraih 17,05 persen atau 936.609 suara. (Karena belum ada yang memperoleh lebih 50 persen, maka Pilkada putaran kedua akan dilaksanakan 19 April 2017 diikuti dua pasangan yakni Ahok-Djarot dan Anies-Sandi).

Hasil Pilkada DKI putaran pertama ini sangat menarik (fenomenal) dan bahkan mengejutkan bagi mereka yang anti-Ahok. Redaksi TokohIndonesia.com mencoba mereview berita mengapa Ahok-Djarot masih memenangkan putaran pertama padahal Ahok sedang didemo dan diadili dengan dakwaan penistaan agama Islam?

Pertama, jika Ahok tidak menjadi terdakwa karena berbicara tentang ‘dibohongi pakai’ Surat Al Maidah 51, Pilkada DKI kemungkinan hanya satu putaran. Sebab mereka yang merasa puas atas kinerja Ahok-Djarot akan cenderung lebih mantap memilihnya. Berbagai lembaga survei menyebut 60 sampai 75 persen warga Jakarta puas atas kinerja Ahok-Djarot. Tetapi terjadi anomali dimana Ahok-Djarot hanya dipilih 42,91 persen. Ada sekitar 20-30 persen yang memilih paslon lain kendati puas atas kinerja Ahok-Djarot.

Kedua, siapa mereka yang memilih Ahok-Djarot dalam putaran pertama tersebut? Redaksi TokohIndonesia.com berusaha mengamati dari kedatangan berbagai kelompok masyarakat selama kampanye di markas pemenangan Ahok-Djarot di Jalan Lembang 25-27, Menteng, Jakarta Pusat, yang dikenal dengan sebutan Rumah Lembang. Siapa mereka dan apa alasan dan kata mereka? (Sebagian di antara mereka dikutip dalam edisi ini. Mereka datang atas kemauan sendiri, dari berbagai golongan. Mereka adalah warga yang toleran dan menghargai pluralisme, tidak hanya dalam kata (retorika) tetapi dalam sikap dan tindak nyata. Umumnya mereka memandang kinerja gemilang Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dan Djarot Saiful Hidayat (Ahok-Djarot) menjadi salah satu alasan mengapa mereka mendukung dan memilih petahana ini.

Namun, secara spesifik di antara mereka ada yang secara tegas mengemukakan alasan, tidak setuju dengan sikap intoleran, rasis apalagi mengangkat isu agama dan isu SARA lainnya. Dalam hal ini, mereka memandang, selain karena Ahok terzalimi,  mereka juga ingin mewujudkan kebhinnekatunggalikaan di negara berasas Pancasila ini. Mereka tidak ingin melihat keberagaman bangsa ini terkoyak. Maka mereka pun melawan!

Tampaknya, tiga gelombang demonstrasi dengan menghadirkan ummat dari berbagai daerah tersebut, telah membangkitkan semangat mereka untuk memenangkan toleransi dan kebhinnekaan.

Mereka pun sangat terusik dengan munculnya gerakan intoleran, sikap ambivalen terhadap Pancasila, apalagi yang nyata anti-Pancasila.

Dalam kaitan ini, kemenangan Ahok-Djarot dalam putaran pertama, bisa dimaknai sebagai kemenangan suara pemilih kebhinnekaan, kemenangan toleransi dan kemenangan nilai-nilai Pancasila. Sebaliknya, sebagai awal kekalahan suara pemilih intoleran, anti (ambivalen) keberagaman dan anti (ambivalen) Pancasila.

Tidak berarti bahwa yang memilih paslon lain adalah semua intoleran, anti (ambivalen)  keberagaman dan anti (ambivalen) Pancasila. Bukan begitu maksudnya. Para pemilih paslon lain banyak juga yang bersikap toleran, menghargai kemajemukan dan mengakui Pancasila sebagai dasar negara. Bahkan juga menyebut bahwa Pancasila dan NKRI adalah harga mati.

Hanya saja, mereka yang anti (termasuk ambivalen) keberagaman dan Pancasila, sangat kecil kemungkinannya memilih Ahok-Djarot. Mereka lebih cenderung memilih paslon lain yang diharapkan lebih mungkin mengakomodir kepentingan kelompok mereka.

Memang, jika diamati hasil Pemilu, terutama sejak era reformasi, suara rakyat yang memilih partai politik berbasis massa nasionalis selalu lebih mayoritas. Kendati bukan berarti hitam-putih bahwa partai politik berbasis agama bukan nasionalis. Mainstream umat Islam Indonesia adalah nasionalis, toleran dan menghargai keberagaman. Hal ini tidak hanya terbukti dari hasil Pemilu tetapi juga dari sikap dan tindak keseharian rakyat Indonesia.

Kembali ke ‘profil’ pemilih Pilkada DKI Jakarta yang terindikasi dari arus dukungan terbuka kepada tiap paslon. Baik dukungan parpol, ormas, dan golongan maupun perorangan.

Dari profil pendukung Ahok-Djarot ada satu parpol yang menarik perhatian. Yakni Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pimpinan Djan Fariz yang sejak putaran pertama telah dengan tegas menyatakan dukungan kepada Ahok-Djarot, kendati Ahok sudah didakwa penistaan agama Islam. Bahkan Wakil Ketua Umumnya, Dr. Humphrey Djemat menjadi koordinator pembela Ahok di pengadilan penistaan agama tersebut. Mereka (PPP pimpinan Djan Fariz) mengemukakan beberapa alasan, yang intinya demi kepentingan Islam, bangsa dan negara. Padahal PPP itu adalah satu-satunya partai yang secara terang benderang mencantumkan dalam AD-nya berasas Islam; Tetapi juga mencantumkan Pancasila sebagai dasar negara, dalam rangka kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Dari alasan PPP memilih Ahok-Djarot tersebut, menunjukkan betapa (ternyata) partai berlambang Ka’abah ini sangat menghargai keberagaman, toleran dan menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara. Sikap ini tentu bukan tanpa risiko ditinggal oleh ummat (simpatisan) yang masih kurang memahami (mempunyai pemahaman berbeda)dan kurang menghargai keberagaman, apalagi mereka yang anti (dan ambivalen) keberagaman dan Pancasila. Ini partai politik (berbasis Islam) yang mau (berani) mengambil risiko dengan sikap seperti ini.

PPP ini juga sudah menegaskan sikap tetap mendukung Ahok-Djarot pada putaran kedua yang akan dilaksanakan 19 April 2017. Sementara partai lain yang tadinya mendukung Agus-Sylvi masih belum menentukan sikap secara tegas.

Maka, peta perolehan suara belum terdeteksi. Belum ada lembaga survei yang melakukan survei atau merilis hasil suveinya. Namun, diperkirakan suara yang anti-Ahok kemungkinan akan mengarus memilih Anies-Sandi, sebaliknya yang anti-Anies-Sandi akan mengarus ke Ahok-Djarot kalau tidak menjadi golput.

Yang menjadi pertanyaan, kemana arus suara pemilih kebhinnekaan akan bermuara? Terutama yang tadinya memilih Agus-Sylvi. Bagi yang bersikap tegas menghargai kebhinnekaan, kecenderungannya akan lebih banyak memilih Ahok-Djarot. Sedangkan yang bersikap ambivalen kebhinnekaan akan terbelah, tetapi akan cenderung lebih banyak memilih Anies-Sandi. Sementara yang anti-kebhinnekaan, kecenderungannya tidak akan memilih Ahok-Djarot, tetapi lebih cenderung memilih Anies-Sandi atau menjadi golput.

Namun, hal ini hanya sekadar perkiraan. Rakyat Jakartalah yang akan mengeksekusinya. Apakah rakyat Jakarta akan memberikan suaranya untuk memenangkan dan mewujudnyatakan kebhinnekaan? Jika ya, Ahok-Djarot akan lebih nyata menjadi simbol (icon) kebhinnekaan itu. Namun, perlu dicamkan, jika suara rakyat Jakarta memilih kebhinnekaan, itu bukanlah semata karena kehebatan Ahok-Djarot, melainkan lebih karena kehebatan rakyat Jakarta yang semakin cerdas dan tidak mau lagi terkurung dalam sikap intoleran dan anti-keberagaman.  Salam Keberagaman! Salam Demokrasi! Catatan Kilas Ch. Robin Simanullang | Redaksi TokohIndonesia.com |

© ENSIKONESIA – ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA

Tokoh Terkait: Abdurrahman Wahid, Basuki Tjahaja Purnama – Ahok, Djan Faridz, Djarot Saiful Hidayat, Hendropriyono, Joko Widodo, Megawati Soekarnoputri, Oesman Sapta, Setya Novanto, Soekarno, Surya Paloh, Syafi’i Ma’arif, Wiranto, | Kategori: Opini – CATATAN KILAS | Tags: Ahok-Djarot, Pilkada DKI, Suara Pemilih Kebhinnekaan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here