Syaykh Al-Zaytun AS Panji Gumilang

Saat ini, Presiden Republik Indonesia memimpin negara laksana seorang yang dipercayai dan diberikan cek kosong. Terserah apapun yang dia tulis di situ dan tidak ada yang mengontrol. Hal itu terjadi semenjak amandemen UUD 1945, peranan dari MPR menjadi tidak seperti sebelum diamandemen. Tidak ada lagi GBHN yang ditelurkan oleh MPR dan diserahkan kepada presiden sebagai Mandataris MPR.

Hal itu dikemukakan Syaykh Al-Zaytun Dr. Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang saat mengantar Kuliah Umum 4 Pilar Majelis Permusyawaratan Rakyat Indonesia oleh Ketua MPR Dr (Hc) Zulkifli Hasan di Masjid Rahmatan Lil’Alamin, Al-Zaytun, Jumat, 19 Januari 2018, bertema “Peranan MPR dalam kaitan GBHN pada era UUD 1945 yang Telah Diamandemen”.

Kuliah umum itu, sebagaimana dilaporkan Ketua Yayasan Pesantren Indonesia Al-Zaytun Imam Prawoto, SE., MBA, diikuti 12.000 orang peserta yang terdiri dari santri, mahasiswa, guru, dosen, pengurus yayasan, relawan, orang tua santri dan berbagai pengurus lembaga yang berada dalam intra yayasan maupun intra masjid Rahmatan Lil’Alamin, antara lain kelompok tani yang tergabung dalam P3KPI (Paguyuban Petani Penyandang Ketahanan Pangan Indonesia).

Sementara, Ketua MPR Zulkifli Hasan yang juga menjabat Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional (PAN) datang bersama rombongan, antara lain Sekjen PAN Eddy Soeparno yang berpenampilan santai dengan mengenakan kaos dan pengurus DPC PAN Indramayu, serta beberapa orang staf MPR. Juga hadir Ketua Umum DPP Mahasiswa Panca­sila (Mapancas) Medi Sumaedi, SH dan jajarannya.

Syaykh Al-Zaytun lebih dulu mengucapkan terimakasih atas kedatangan Ketua MPR dan seluruh rombong­an yang menyertainya. “Dan saudara-saudara yang kami hormati, terutama anak-anakku santriwan-santriwati, guru, dosen, mahasiswa, wali santri dan para petani yang telah mempersiapkan memenuhi kebutuhan seluruh civitas Mahad Al-Zaytun ini, yaitu kelompok tani yang tergabung dalam P3KPI (Paguyuban Petani Penyandang Ketahanan Pangan Indonesia). Terima kasih,” kata Syaykh Panji Gumilang.

Terkait kesertaan kelompok tani yang tergabung dalam P3KPI dalam kuliah umum tersebut, Syaykh mengawali sambutan pengantarnya dengan masalah ketahanan pangan. “Hiruk pikuk pangan di Indonesia tidak sampai ke Al-Zaytun, karena di sini pangan ditata menurut konsep pendiri bangsa yaitu semua harus self bedrapeng system. Mengendalikan dan melaksanakan pangan sendiri. Kalau istilah Bung Karno, berdiri di atas kaki sendiri atau berdikari. Maka hiruk-pikuk di Jakarta atau dimana-mana tentang pangan, di Al-Zaytun tidak masalah. Siapa menanam akan panen, siapa punya panenan punya simpanan, siapa punya simpanan bisa makan,” kata Syaykh.

Menurut Syaykh, konsep berdikari Bung Karno yang diterapkan di Al- Zaytun tersebut tidak terjadi di seluruh Indonesia Raya karena konsepnya adalah catatan dalam komputer. “Sehingga tatkala bangsa ini dinyatakan oleh menterinya surplus pangan, pada saat tertentu kekurangan dan kerepotan menyuplai pangan untuk bangsanya, sehingga lonjakan harga menjadi harga yang sangat dikeluhkan oleh bangsanya. Khususnya yang berkemampuan terbatas membeli beras harga mahal itulah yang merepotkan.”

Syaykh menegaskan, kita menggunakan konsep Bapak Pendiri Bangsa, surplus. “Surplus bukan di catatan, tapi di istana beras. Berapa kubik istana kita dan berapa isinya. Manakala kita menghitung persediaaan pangan per kapitanya adalah 0,6 kg x 30 x 12 x jumlah penduduk yang tinggal di wilayah itu ditambah untuk emergensi 5 bulan. Maka terjadilah ketahanan pangan yang dicita-citakan. Itu semua memerlukan petani yang konsisten, petani yang punya jiwa kaya. Sebab jiwa kaya akan menghantarkan kemampuannya untuk mencapai kekayaan yang dicita-citakan. Petani yang kita bimbing tidak kurang dari 120 petani ternyata mampu me­nyiapkan bahan pangan sejumlah 4.000 ton,” jelasnya.

Bila saja itu dikonversi kepada beras, jelas Syaykh, maka dibagi 62%, cukup untuk dimakan dan lebihnya kita hantar ke Jakarta. “Dengan harga yang tidak mencekik. Kita selalu mengikuti harga eceran tertinggi. Dan seluruh penghuni mahad makan cukup bahkan bisa mendapatkan beras berharga subsidi sebesar Rp 7.000. Tatkala ada yang bertanya rugi atau untung? Membangun bangsa jangan cerita rugi atau untung, yang ada adalah kejayaan bangsa. Dan itulah keuntungan bangsa. Kejayaan bangsa,” tutur Syaykh menyangkut kebijakan yang seyogyanya diambil pemerintah.

“Rupanya hal ini dapat bimbingan dari MPR, akhir-akhir ini setelah riuh rendah amandemen UUD 1945, peranan dari MPR menjadi tidak seperti sebelum diamandemen. Kita tidak melihat lagi GBHN yang ditelurkan oleh MPR. Yang diserahkan kepada presiden yang menjadi mandataris MPR. Kita tidak melihat lagi hal itu,” ujar Syaykh Al-Zaytun, miris.

Dia memaparkan, berjalannya Repulik Indonesia ini laksana seorang yang dipercayai dan diberikan cek kosong. Apapun yang dia tulis di situ dan tidak ada yang mengontrol. “Ini yang terjadi, maka beras pun susah dikendalikan. Andainya GBHN itu ada, jangankan beras, emas pun bisa dikendalikan oleh bangsa ini. Pulau pun bisa dikendalikan oleh bangsa ini. Tidak perlu membakar kapal di tengah laut. Pembakaran kapal di tengah laut adalah budaya yang tidak berperikemanusiaan yang adil dan beradab,” kata Syaykh.

Menurut Syaykh, mengembalikan kondisi ini tugas bersama. “Anak-anakku yang sekarang masih Ibtidaiah yang masih kelas 1, Syaykh sampaikan kepada kamu semua, tatkala Syaykh masih seumur kamu, bangsa Indonesia menga­takan bahwa UUD 45 mutlak tidak bisa diubah. Langkahi mayat saya kalau mau diubah. Ternyata tatkala Indonesia Raya umur 57 tahun bukan diubah UUD kita, dirombak total. Mungkinkah anak-anakku kelas 1 MI bisa mengantarkan kembali kepada Indonesia yang dicita-citakan oleh leluhur bangsa. Oleh pendiri bangsa, punya GBHN ke depan sehingga terang ben­derang,” harap Syaykh Panji Gumilang.

Syaykh mengatakan untungnya Al-Zaytun tidak mengubah lagu Indonesia Raya 3 stanza. “Itulah yang memerdekakan Indonesia. Bukan senjata. Marilah kita kembalikan. Kami tidak menimpakan azab kepada suatu bangsa kalau masih ada bangsa yang sadar akan identitasnya. Tiga stanza inilah yang menghasilkan Pancasila, dasar negara. Itu yang harus dipertahankan,” tegasnya.

Syaykh Panji Gumilang mengatakan andainya pendiri bangsa kita mengatakan aku tinggalkan kepadamu satu perkara saja, kalau kamu berpegang pada itu, sama sekali kamu tidak akan hancur, tidak bercerai berai, itulah Dasar Negara Pancasila. “Sekarang kita dikunjungi oleh Ketua MPR,” kata Syaykh, lalu mempersilakan Ketua MPR Zulkifli Hasan me­nyampaikan kuliah umumnya.

Al-Zaytun, Pikiran Besar

Saat Ketua MPR berdiri dan melangkah menuju podium, seluruh peserta kuliah menyambutnya dengan tepuk tangan. Zulkifli Hasan pun menyapa semua hadirin pada awal kuliahnya. Mulai dari Bapak Syaykh Dr Abdussalam Panji Gumilang beserta Ibu dan seluruh keluarga, pimpinan pondok pesantren, seluruh staf pengajar, para staf civitas akademika Institut Agama Islam Al-Zaytun, para santri, kelompok tani, dan tamu undangan.

Zulkifli Hasan pun mengucap puji syukur kepada Allah Swt. Kemudian mengungkapkan bahwa dia sudah lama ingin silaturahim ke Pondok Al-Zaytun. “Biasa saya lihat di TV, lihat di berita, alhamdullilah sampai ke tempat ini. Dengan Syaykh Abdussalam Panji Gumilang, saya juga mengikuti berbagai berita. Sudah baca bukunya, belum tamat,” ungkapnya.

“Beberapa waktu yang lalu, saya dipertemukan Allah di komplek MPR Jakarta. Hari ini sampai di sini. Saya melihat kampusnya, tidak mungkin akan ada seperti ini tanpa pemim­pin yang memiliki wawasan, jiwa yang besar. Kalau bukan orang hebat, memiliki pikiran hebat. Orang besar memiliki pikiran besar, tidak mungkin ada Al-Zaytun seperti ini,” kata Ketua MPR Zulkifli Hasan.

Ketua MPR itu mengungkapkan pengalamannya mengasuh 300 siswa saja sudah repot. “Apalagi ngurus segini ini, saya gak tahu berapa ribu ini. Terimalah hormat saya kepada Syaykh AS Panji Gumilang,” kata Ketua MPR Zulkifli Hasan, kemudian menyampaikan materi kuliah umumnya. | Ch. Robin Simanullang | Majalah Berita Indonesia Edisi 97, hal. 8-13

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here