“The Power of Hope”

Boni Hargens Analis Politik yang Bersikap Bedah Buku The Story of Simplicity Suyanto Kisah Kesederhanaan Seorang Intelijen
 
0
75
Boni Hargens Bedah Buku Suyanto
Dr. Boni Hargens pembicara pada acara Bedah Buku The Story of Simplicity: Mayjen TNI (Purn) Dr. Suyanto menerima cendramata TokohIndonesia dari Penulis Ch. Robin Simanullang di Gramedia Matraman, Jakarta, Jumat 1 September 2023

Tanggapan Sederhana atas Buku the Story of Simplicity yang ditulis Ch. Robin Simanullang tentang kisah hidup Mayjen TNI [P] Dr. Suyanto, M.Si Han

Oleh Boni Hargens, PhD – Analis Politik

Membaca the Story of Simplicity karya Ch. Robin Simanullang—berisikan kisah hidup dan pengabdian Mayjen TNI (p) Dr. Suyanto, M.Si.Han—seperti membaca penggalan Republic. Karya monumental Sokrates itu berisikan dialog/perbincangan Sokrates dengan dua aristokrat Athena, Adeimantus dan Glaucon, saudaranya, tentang a just city, kota yang adil.   Kota di sini tentu mengacu pada negara dalam konteks modern karena pada masa Yunani Kuno konsep “negara” baru sebatas polis, negara kota.

Dalam salah satu bagian Republik, mereka berbincang soal martabat manusia dan pengakuan atasnya (the recognition of human dignity). Salah satu topik yang menarik adalah soal thymos, istilah dalam bahasa Yunani kuno yang mengacu pada “bagian dalam jiwa manusia yang menuntut atau mencari pengakuan/penghormatan.” Francis Fukuyama (2018), ahli politik asal Amerika Serikat, menegaskan pengakuan martabat sebagai motif terdalam dari kebangkitan politik identitas dalam sejarah modern. Filsuf modern Friedrich Hegel, dalam Phaenomenologie des Geistes (1807), bahkan menegaskan sejarah dunia digerakkan oleh pertarungan pengakuan tersebut. Tentang ini pernah saya tuangkan dalam naskah berjudul Hasrat, Moral, dan Kekuasaan dalam Harian KOMPAS (22 Agustus 2023).

Martabat adalah esensi terdalam dari ontologi manusia kalau dilihat dari perspektif moral. Mayjen TNI (P) DR. Suyanto, sebagaimana digambarkan dengan renyah dan runtut oleh penulis buku ini, adalah teladan hidup—yang menyentuh kualitas moral dari martabat manusia! Beliau, melalui cara hidup dan komitmen pengabdiannya dalam tugas kenegaraan, menunjukkan kesederhanaan sebagai bobot moral, determinasi etis dari hakikat eksistensial manusia. Mayjen Suyanto mengabdi dengan totalitas komitmen dan dengan komprehensi yang utuh perihal arti kesederhanaan, baik ketika mengabdi sebagai prajurit militer dan insan intelijen maupun sebagai ayah dan suami (yang rendah hati, peduli, dan mengayomi).

Saya tersentuh dengan dengan perjalanan hidup dan karir Mayjen Suyanto dalam banyak hal, namun cukup dua hal saja yang disampaikan di sini. Pertama, kisah kesederhanaan ditampilkannya dalam sikap sosial dalam pergaulan dan dalam pelaksanaan tugasnya di lingkungan institusi negara. Ia pribadi yang hebat dan professional tetapi dengan kecerdasan moral ia mampu mendiamkan semua itu di balik sosoknya yang “apa adanya.” Kedua, komitmen moral, jiwa patriotik, dan tanggungjawab etis selama melaksanakan tugas. Sebagai prajurit, bahkan seorang jenderal, maupun sebagai insan intelijen, Mayjen Suyano adalah manifestasi dari personalitas yang disiplin, patriotik, nasionalis, dan berbudi luhur. Kepatuhannya pada disiplin kerja dan organisasi didasari oleh semangat cinta yang tulus dan mendalam terhadap tugas dan terhadap bangsa dan negara.

Mungkin hanya dalam beberapa kesempatan saya berjumpa, berbincang, dan memperhatikan Beliau. Namun, dalam perkenalan awal serentak saya merasakan sosok Mayjen Suyanto bukanlah manusia biasa. Manusia biasa biasanya mudah terjerembab dalam kemewahan atau menjadi budak materialisme. Mayjen Suyanto adalah pengecualian.

Kisah yang ditutur ulang Penulis dalam buku ini, tentang bagaimana Mayjen Suyanto dan istri dengan sabar mengumpulkan uang untuk membeli rumah di Bambu Apus, salah satu cuplikan yang mengklarifikasi the inner-self beliau sebagai sosok yang sederhana, apa adanya. Ketika George Soros menulis the Age of Fallibility (2007) atau ketika konsep the age of uncertainty berkembang luas, saya tidak mau berhenti pada kritisisme Soros terhadap politik Amerika atau pada analisa tentang ketidakmenentuan dalam algoritma pasar, politik, dan perubahan sosial global. The Age of Uncertainty, setidaknya bagi saya, mengandung makna transendental bahwa manusia modern mengalami ketidakmenentuan eksistensial—menyangkut diri dan dunianya. Maka, manusia membutuhkan undangan untuk Kembali ke “jalan yang benar,” kepada hakikat fundamental dari Berufung-nya sebagai homo moralis, manusia moral. Setidaknya, kesejatian manusia melampaui tesis Kartesian “cogito ergo sum,” bahwa “aku  ada karena aku berpikir”. Tesis Kant perlu dihidupkan bahwa respondeo ergo sum, esensi keberadaan manusia terletak pada tangungjawab moralnya. Kisah hidup Mayjen Suyanto memanggil kita pulang kepada panggilan ontologis itu.

Tentu tidak berlebihan kalau dikatakan, sosok Mayjen Suyanto adalah kelangkaan yang menyejukkan di tengah gempuran materialisme hari ini yang dengan arogannya menyert manusia pada identitas asali yang digambarkan Thomas Hobbes sebagai mahluk yang liar dan buas—dan yang menakar “keberadaan eksistensial” manusia dari “harta dan kuasa”! Generasi muda, terutama anak-anak yang tumbuh di abad ke-21 yang dicemari oleh tradisi post-truth, perlu membaca kisah hidup Mayjen Suyanto ini. Percayalah, Anda membacanya seperti pengembara yang meneguk air dari oase di tengah gurun luas yang gersang.

Apa yang dikatakan Plato itu benar, bahwa pengetahuan kita tentang hidup ini seperti “manusia gua” yang hanya memahami realitas di luar gua dari lubang. Kita seringkali gagal memahami fundament dari realitas keseluruhan dan realitas hidup kita. Dalam dengung nurani dan teladan kesederhanaan kita mendengar dan merasakan bahwa sejatinya manusia lebih dari sekedar tubuhnya. Manusia adalah keutuhan antara yang terlihat dan tidak terlihat. Dalam dimensi ketidakterlihatan itulah kita menemukan substansi dari keberadaan kita sebagai mahluk moral, bahkan sebagai mahluk religius!

Advertisement

Kisah hidup Mayjen Suyanto dalam buku ini adalah naskah yang menawarkan harapan. Harapan bahwa there is a candle at the end of the tunnel—ada lilin yang menyala di ujung terowong! Manusia modern kebanyakan terjebak dalam kebuntuan moral karena budaya materialisme yang berlebihan. Mereka terjebak dalam terowong yang gelap seperti tidak ada jalan untuk keluar. Politik kekuasaan dan segala atribut yang menyertainya seringkali membutakan manusia sehingga gagal menjadi manusia pada dirinya. Buku ini menawarkan lilin terang agar yang tersesat dalam arus zaman dapat kembali menemukan jalan kebenaran itu.

Saya ingin menutup tanggapan sederhana ini dengan mengutip tulisan di dinding Getto Warsawa. Ada seorang tahanan Nazi yang hendak digas oleh serdadu Hitler. Di ujung nasibnya, ia menorehkan isi batinnya di tembok tua:

Ich glaube an die Sonne, auch wenn sie nicht scheint. Ich glaube an die Liebe, auch wenn ich sie nicht fuehle. Ich glaube an Gott, auch wenn Er schweigt.

(Aku percaya pada matahari, meski aku dia tak terbit. Aku percaya pada cinta, meski aku tak merasakannya. Aku percaya pada Tuhan, meski ia diam tersembunyi [tidak kelihatan]).

The power of hope, kekuatan harapan, hanya muncul dan bertumbuh dalam kesederhanaan. Dalam kesederhaan itulah, manusia dapat menemukan makna ontologis dan tujuan teleologis dari keberadaan eksistensialnya di tengah realitas makrokosmik. Dalam semangat kesederhanaan itu pulalah, manusia dapat menghayati intisari “kekuasaan” sebagai sarana untuk kemaslahatan banyak orang. Wassalam!

Jakarta, 1 September 2023

Daftar Bacaan

Bagby, L. M. (2007). Hobbes’s Leviathan: Reader’s Guide. New York: Continuum

Bloom, A. (1969). The Republic of Plato. New York: Basic Books

Fukuyama, F. (2018). Identity: The Demand for Dignity and the Politics of Resentment. New York: Farrar, Straus & Giroux

Hargens, B. (20 Agust 2023).  “Hasrat, Moral, dan Kekuasaan.” Harian KOMPAS. Diunduh dari https://www.kompas.id/baca/opini/2023/08/21/hasrat-moral-dan-kekuasaan

Hegel, G.W.F. (1807). Phaenomenologie des Geistes. Berlin: Goebhardt, Bamberg & Wuerzburg

Soros, G. (2007). The Age of Fallibility. New York: PublicAffairs Publishing

Sullivan, R. (1989). Immanuel Kant’s Moral Theory. Cambridge University Press

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini