02 | Semangat Pesantren & Keluarga

Syaykh Panji Gumilang
Syaykh Panji Gumilang | TokohIndonesia.com – Atur

Ma’had Al-Zaytun yang dimulai pada tarikh 13 Agustus 1996 yang merupakan usaha unggulan Yayasan Pesantren Indonesia. Lembaga pendidikan yang diresmikan oleh Presiden Habibie 27 Agustus 1999 ini dalam pendidikannya mempunyai landasan semangat pesantren yaitu kemandirian atau enterpreneurship namun dipadukan sistem modern. Pesantren spirit but modern system.

Prinsip dan spiritnya adalah mendidik dan membangun secara mandiri semata-mata untuk beribadah kepada Allah. Sementara, nilai-nilai modern dimaksud adalah yang berazas kepada ciri-ciri modern itu yakni: pertama, bergerak berdasar ilmu; kedua, program oriented; ketiga, kenal prosedur; keempat, mempunyai organisasi yang tegas/kuat; kelima, mempunyai etos kerja yang tinggi dan mempunyai disiplin yang ketat dan tegas.

Tujuannya membuat pendidikan seperti ini, tidak lain ingin mencerdaskan bangsa, supaya bangsa ini dan semua warganya menjadi cerdas, menjadi bangsa yang bajik dan bijak. Bajik dan bijak dalam arti bangsa yang suka terhadap kebenaran, juga bangsa yang mampu menghormati orang lain, bangsa yang sanggup secara mendalam menghormati apa yang dinamakan kemanusiaan.

Pendidikan ini juga diharapkan bisa menghasilkan putra-putri bangsa yang sanggup menguasai ‘science & technology’ dengan segala perkembangannya. Dan yang paling inti yakni sebagai warga bangsa, putra-putri bangsa itu mampu hidup di dalam negara ini dengan penuh tanggung jawab dan mampu menciptakan kestabilan dan keselamatan negara. Dan terakhir, sanggup hidup dalam tatanan antar bangsa yang hidup dalam peradaban yang sempurna. “Nah, itu cita-citanya. Jadi tidak terlalu jauh. Kalau dalam bahasa Al-Qur’an-nya disebut dengan basthotan fil ‘ilmi wal jismi,” katanya.

Dengan demikian, Al-Zaytun diharapkan akan mempersiapkan manusia yang menjadi dirinya sendiri di masanya nanti dengan persiapan cerdas berpikir menyangkut pada intelektual, emosional dan spiritual; punya bajik dan bijak yaitu bisa memposisikan dirinya pada kondisi apapun, menguasai sains teknologi, cinta negara yang bertanggung jawab dan mampu hidup dengan bangsa-bangsa lain.

Itulah yang hendak dibekalkan pada setiap santri sehingga santri itu nanti akan berinovasi pada zamannya. “Jadi tidak perlu terlalu diurai, karena itu terlalu retorik. Jadi intinya punya self-esteem yang tinggi, “katanya menambahkan. Hal itu menurutnya, juga merupakan cita-cita seluruh bangsa di dunia.

Dengan demikian nantinya semua dunia akan bertemu. Itulah yang dinamakan ‘International Setting ‘. Itu terjadi karena cita-cita seperti itu merupakan cita-cita pendidikan internasional. Nanti cara berpikir menjadi, “International Thinking’, dan cara solidaritas menjadi, International Solidarity. Tatanan hidup, setingnya menjadi “International Setting’. Itulah menurutnya yang dinamakan dengan hidup global atau globalisasi, yakni kekuatan nasional namun mampu mengakses kehidupan antar bangsa.

Menurutnya, cita-cita seperti itu bukan dia rangkum sendiri, tetapi bersama-sama dengan sahabat-sahabatnya. Sebelum mereka mendiri-kan pesantren modern ini, ia lebih dulu masuk ke dalam berbagai lembaga pendidikan yang ada di Indonesia maupun di luar, berkelana untuk melihat, studi banding dan sebagainya.

Dalam pencarian, Syaykh AS Panji Gumilang yang berperawakan tinggi besar ini berjalan menuju arah lokasi Al-Zaytun yang sekarang, karena di sini menurut orang pertama yang menunjukkan, ada suatu tempat yang cukup luas. Sejak awal, ia memang sudah menginginkan tempat yang luas, karena menurut perencanaan yang di pikirannya, pendidikan itu haruslah mengekspos segala kegiatan umat manusia, baik itu ekonomi, energi, environment dan lain-lain.

Kemudian pada tahun 1996 lokasipun dibebaskan, dan didirikan atas nama Yayasan Pesantren Indonesia (YPI) yang juga dididirikan di daerah itu dengan Notaris: Hj. Ii Rokayah Sulaeman, S.H di Subang. Setapak demi setapak mulailah dibangun. Dalam tempo tiga tahun, satu pasang bangunan selesai dibangun yaitu bangunan sekolah yang menjadi tempat sekretariat dan bangunan asrama yang kemudian dinamakan ‘Abu Bakar’ untuk sekolahnya dan ‘Al-Mustofa’ untuk asramanya. Setelah itu barulah mulai menerima santri.

Namun dalam tiga tahun persiapan sebelumnya, ia juga telah menyiapkan tim di seluruh Indonesia. Tim tersebut dimaksudkan untuk menjajakan ide pendirian yayasan dan Ma’had tersebut. Jadi mereka sudah menjajakan ide sebelum gedung, guru dan segala sesuatunya ada. “Ternyata direspon. Jadi sebelum ada bangunanpun, sudah direspon, sudah berdatangan, mereka pada bertanya di mana yang namanya Al-Zaytun di Mekar Jaya itu?” katanya mengisahkan. Padahal di lokasi ketika itu belum ada apa-apa, masih belantara.

Mereka mengupas lahan setapak demi setapak. Orang tidak yakin bahwa akan terjadi perubahan, tapi mereka tetap yakin. Ia hanya tunjukkan ‘site plan’,- “ini nanti seperti ini, site plan-nya seperti ini, akan kita buat a,b,c,d.” Ternyata bangsa Indonesia percaya. Ketika itu ia juga sempat bertanya dalam hati, “Percaya nggak bangsa ini?” Ternyata bangsa ini percaya. Mereka berdatangan meninjau lokasi.

Mengenai biaya, mereka sebelumnya memperbolehkan membayarnya pakai lembu. Cuma karena saat itu situasi rupiah goyang terhadap dollar, mereka menghargakan dengan menggunakan dollar. Ketika itu, pertama dihargakan US$ 1.500 untuk enam tahun dengan perhitungan US$ 1 sebesar Rp 4.500, padahal ketika itu sudah Rp 9.000-10.000, setelah dipotong sesuai kurs maka jumlahnya pun US$ 1.500.

Banyak orang yang bertanya, “Apa cukup biaya ini? Bagaimana mengelola uang sebanyak itu untuk seorang santri selama 6 tahun?” Namun untuk menjawab pertanyaan itu ia mengatakan, “Kalau dianggap cukup atau tidak, jumlah itu tidak cukup sebab ini memang cuma mampu untuk menghidupi satu tahun, tapi kita bertekad, yayasan ini mau memberikan subsidi untuk anak bangsa ini,” katanya.

Namun sebagai pesantren, ia pun memberikan persyaratan-persyaratan di antaranya, yang diperbolehkan masuk menjadi santri hanya anak-anak yang sudah berumur 12 tahun, tamat sekolah dasar, sudah boleh dan mampu membaca Al-Qur’an. Dengan demikian nantinya agak sedikit ringan dalam proses pendidikannya. Persyaratan itu dipenuhi juga. Dan ternyata di awal penerimaan saja, 1.600-an orang pendaftar yang datang sedangkan yang bisa diterima baru 1.200 orang saja. Seiring dengan perjalanan waktu, dalam tempo 5 tahun, santri sudah berjumlah 7.000-an lebih, persisnya 7.329 orang.

Sebelum menerima santri, guru telah direkrut lebih dulu. Guru yang pertama direkrut sebanyak 150 orang dari berbagai universitas yang ada di Indonesia. Kurikulumpun disesuaikan dengan kurikulum nasional ketika itu maupun dari Departemen Agama.

Dalam penerimaan santri, motto dan tujuan Ma’had selalu dijelaskan. Motto yang dimaksud adalah, bahwa Ma’had Al-Zaytun merupakan pusat pendidikan dan pengembangan budaya toleransi dan pengembangan budaya perdamaian.

Dalam proses pendidikannya, Ma’had Al-Zaytun sengaja mengekspos sebuah laboratorium alam untuk ditanamkan ke benak anak-anak didiknya. Ini dilakukan agar nanti para santri berinovasi. Misalnya, bila diekspos perahu, maka akan timbul dalam pikiran mereka, dulu kami buat sendiri itu yang namanya perahu, kenapa sekarang harus beli? Akhirnya mereka akan buat sendiri sebab ilmu ada, pengalamannya juga ada. Hal tersebut terbersit dalam pikiran Syaykh karena mengenang masa kecilnya yang pernah diekspos oleh orang tuanya menjadi guru pemberantasan buta huruf sehingga membuatnya berinovasi sepanjang hidup.

Sedangkan globalisasi 2020 yang menjadi sangat hangat diperbincangkan belakangan ini, bagi Al-Zaytun hanyalah suatu fase langkah, artinya, tahun 2020 itu dipersiapkan sedemikian rupa menuju tahun-tahun berikutnya, karena tahun, bukan hanya 2020 saja. Jadi 2020 menurutnya hanyalah satu langkah menuju langkah berikutnya, step by step.

Begitu banyak orang yang kagum akan keberhasilan yang dicapai Syaykh dalam Ma’had Al-Zaytun, namun Syaykh yang merupakan perencana awal pendirian Ma’had ini rupanya memegang filosofi ilmu padi, ‘semakin berisi semakin menunduk’. Dengan merendah diakuinya, bahwa sampai sekarang, ia belum merasa sukses. Sebab sukses itu menurutnya, masih ada di depannya sedangkan yang diperolehnya kini hanyalah untuk yang kemarin dan hari ini. Apa yang dilakukannya sekarang masih merupakan langkah awal dalam meraih sukses itu. Jadi pendidikan, menurutnya, haruslah punya jiwa inovatif. Tidak boleh mengatakan cukup, tidak boleh mengatakan sukses.

Menanggapi pernyataan betapa spektakulernya pembangunan yang dilakukan Al-Zaytun selama lima tahun ini. Ia hanya mengatakan, “Kalau sudah ditarik rodanya, kereta itu akan berjalan dengan sendirinya”. Diibaratkannya, kalau ban mobil itu sudah berjalan, justru harus pandai menyetirnya. Jadi sudah tidak ada yang berat lagi. Maka dalam menyetir Al-Zaytun ini, ia mengaku bahwa itu dilakukannya bersama dengan sahabat-sahabatnya. “Sekali waktu kita berhenti di pokok-pokok yang rindang, sekali waktu kita berhenti di padang yang terang,” ucapnya.

Sedangkan mengenai tantangan yang dihadapinya selama ini, ia hanya mengatakan bahwa hidup tanpa tantangan, tidak akan menemukan manisnya hidup. Menurutnya, tan-tangan hidup adalah ciri bahwa kita di-beri kesempatan untuk mengatasinya.

Memang sesuatu yang tidak dimengerti jika masih ada yang merasa curiga dengan kehadiran Ma’had Al-Zaytun ini, sebab menurut apa yang dilihat dan dialami dan diterima oleh penulis sendiri (Ensiklopedi TokohIndonesia.com) apa yang dicurigai oleh sebagian orang itu sangat jauh dari kenyataan yang ada.

Bahkan dalam suatu pembicaraan ketika ETI mengatakan bahwa wartawan ETI yang datang saat itu mungkin ada perbedaan aliran dengan Syaykh sendiri. Syaykh malah mengatakan bahwa tidak ada perbedaan, selaku ciptaan Tuhan kita ini semua sama, paling tidak sama-sama satu bangsa Indonesia. Menurutnya sebagai satu bangsa Indonesia, berarti sudah punya keyakinan, satu nusa, satu bangsa, satu bahasa. Dan kejayaan kita ini justru ada di kebhinekaan tersebut. Ini yang harus kita syukuri.

Satu kiat dari Syaykh ini dalam mengatasi berbagai tantangan itu adalah dengan terus bergerak, bergerak maju, membangun, menata, mendidik. Tantangan itu menurutnya harus diatasi dengan cara demikian. Dan harus ditampilkan dengan sesuatu yang lebih baik. Dengan begitu tantangan itu justru akan memberikan satu nilai.

Termasuk berbagai pemberitaan dan buku yang menyudutkannya. “Bukan tidak dihiraukan. Sebanyak buku yang ada, itu kita baca semua, dan kita katakan, oh…ini disini nih yang harus kita lalui, oh… ini disini yang harus kita singkirkan, oh…disini yang harus kita laju ke depan. Itu kita jadikan tantangan, dan kita siap mengatasinya,” katanya terbuka.

“Kalau reaksi kita tuangkan dalam bentuk tulisan, itu tidak punya makna apa-apa, dan akan mendapatkan warisan dari buku ke buku. Kita menginginkan reaksi itu dalam bentuk karya nyata, sehingga bangsa ini nanti menikmati karya bangsanya yang nyata itu. Kemudian mengenai masalah adanya orang mengatakan disini sesat dan sebagainya atau yang berbentuk macam-macam tadi, sejarah nanti yang akan membuktikan. Kalau kita yang menulis sejarah, kita bisa melihat dan merasakan. Kalau sejarah yang menulis dirinya sendiri, kehancuranlah yang terjadi,” katanya lebih jelas.

Jadi menurutnya, jika sejarah itu ditulis sendiri dengan karya nyata, maka sudah pasti akan menulisnya dengan sebaik-baiknya. “Ini namanya karya sastra. Sebab sastra itu macam-macam, bukan cuma tulis saja. Sastra itu termasuk seni dalam mengelola apapun. Kebetulan saya mendalami sastra karena sekolah di sastra dulu,” ujarnya.

Yang lebih jauh lagi, ada orang sempat menduga bahwa Al-Zaytun didirikan dalam rangka mendirikan Negara Islam Indonesia. Menanggapi dugaan-dugaan seperti itu Syaykh hanya mengatakan bahwa orang menduga boleh saja. Bahkan ia mengatakan bahwa diduga sesat pun ia takkan pernah membantahnya. Menduga mau mendirikan negara Islam Indonesia pun ia tidak pernah membantahnya.

Tapi menurutnya, di dunia ini tidak boleh duga-duga, tapi harus berpikir modern. Setiap bergerak harus berdasar ilmu. “Sekarang, antara ilmu dan duga tadi, ketemu apa tidak? Jika itu ketemu maka ‘ilmu’ yang salah dan ‘duga’ yang betul. Tapi di dunia ini, duga itu tidak akan bisa mengalahkan ilmu,” ucapnya.

Ketenangan Syaykh dalam menghadapi segala tantangan tersebut sungguh menunjukkan kedewasaannya sebagai pemimpin. Namun walaupun begitu ia tetap merasa tidak berbeda dengan yang lainnya. Ia tidak merasa lebih unggul. Ia merasakan dan menjalani hidup ini dengan bijaksana. Apa yang diperintahkan konsep kehidupan, dilakukan. Apa yang dilarang oleh konsep kemanusiaan, dijauhi. Selamat. Itu saja caranya menjalani hidup. Dan keyakinannya, Tuhanpun akan suka.

Jika ada pertanyaan mengenai darimana dana pembangunan Ma’had tersebut, ia menganggap pertanyaan itu wajar saja. Tapi hendaknya jangan mengukur orang lain dengan ukuran diri sendiri. Sebab jika seseorang mengukur ukuran orang lain dengan dirinya, kadang tidak pas. Jadi kalau mengukur dengan parameter umum, maka hasil yang telah dicapai Al-Zaytun menurutnya masih wajar-wajar saja.

Demikian modernnya pendidikan Ma’had Al-Zaytun tersebut sehingga banyak yang melakukan studi banding ke sana. Seperti IPB misalnya, mereka melakukan praktek lapangan di sana.

Guru-guru yang terbagus dari IPB juga mengajar di Ma’had ini. Karena diberi kebebasan, di Ma’had ini mereka merasa punya kesempatan untuk mengembangkan kemampuannya. Sehingga sesuatu yang belum dibuat di IPB sudah dibuat di Al-Zaytun. Misal-nya, di IPB belum mengembangkan embrio transfer, tapi Ma’had Al-Zaytun sudah berhasil melakukannya. Di IPB belum mengembangkan bibit sapi unggul, di sana sudah dikembangkan dan sudah disebar. Akhirnya dengan demikian guru-guru itu penuh dengan persiapan dan kompetensi.

Sedangkan mengenai dana, menurut Syaykh hal tersebut merupakan hal yang gampang sebab setiap melompat (penemuan/pengembangan satu ilmu) selalu ada harganya. Jadi jika ada suatu lompatan, orang akan memberi apresiasi, hasilnya dibagi. “Jadi dana itu nggak susah, yang susah itu kalau kita tidak pernah berpikir mendanai ini,” katanya.

Dan yang lebih membanggakan, saat ini Departemen Agama mengakui bahwa Ma’had ini merupakan tempat pendidikan yang digolongkan terbaik. Sertifikat penghargaan itu diberikan Januari 2004 lalu. Demikian juga dalam ujian-ujian sekolah menengah pertama, Al-Zaytun juga merupakan yang terbaik di Jawa Barat. Hal ini jelas merupakan suatu sejarah juga, yang bisa terjadi karena ditulis dan diukir.

Dukungan Keluarga
Dalam perjalanan hidupnya sebagai seorang pendidik, diakuinya bahwa keluarganya sungguh sangat membantu. Sebagaimana lazimnya, seseorang yang memangku pemimpin pesantren biasanya memiliki istri lebih dari satu, namun pria setia ini tidak terpikirkan untuk menambah atau malah mengganti istri yang sangat disayangi itu. “Istri saya dari sejak pertama sampai hari ini, itu-itu juga,” begitu katanya agak bercanda.

Khotimah Rahayu, juga sering dipanggil dengan Faridah Al Widad, istri yang memberinya tujuh orang anak itu, juga seorang guru. Istrinya pada awalnya adalah seorang guru PNS. Lain dengan dirinya, ia tidak mau menjadi pegawai negeri. Dengan sangat senang ia pada pagi harinya mengajar, sore dagang, bertani, memborong tanaman entah padi dan sebagainya atau membo-rong kayu-kayuan yang ditanam orang, diambil terus dibelah. Atau dagang hewan seperti kerbau dan lembu. Itulah dulu pekerjaannya sehari-hari.

Khotimah yang berasal dari Banten, Kampung Menes, Kecamatan Menis, Kabupaten Pandeglang, keresidenan Banten (sekarang menjadi propinsi Banten), menjadi guru bukanlah secara kebetulan atau takdirnya yang sudah begitu, namun sebagai anak dari seorang guru (orang tua dari Ibu Khotimah Rahayu), dalam dirinya sudah tumbuh satu kecintaan pada profesi pendidik itu.

Kehidupan bersahaja selalu ditunjukkan keluarga guru ini meski begitu banyak dan begitu besar gedung yang telah dibangun di lokasi Ma’had Al-Zaytun. Hingga saat ini, keluarga Syaykh ini selama 24 jam masih tinggal di salah satu ruangan/kamar asrama bergabung dengan para santri.

Mencari ilmu, keluarga Syaykh tidak memandang bangsa dan negara, hal tersebut terlihat dari usahanya memberangkatkan anak-anaknya ke berbagai negara. Dua anaknya sedang belajar di New Zealand, satu di London, satu di Ciputat menyelesaikan studinya, satu di Australia. Sedangkan yang terakhir masih sekolah di pesantren Al-Zaytun sendiri.

Dalam mendidik, ayah dari Imam Prawoto, Ahmad Prawiro Utomo (sering dipanggil dengan Ahmad Zaim), Ikhwan Triatmo (sering dipanggil dengan Abdul Hamid), Khoirun Nisa (perempuan), Muhammad Hakim Prasojo, Sofyah Alwida (perempuan), Karim Abdul Jabbar (alm), ini selalu berusaha menunjukkan kasih sayang seorang ayah. Ia tidak mau berlaku otoriter apalagi menghukum dengan cara mendera fisik, maka di Al-Zaytun pun ia memberlakukan santrinya dengan bebas, sebebas-bebasnya, namun berdisiplin setinggi-tingginya.

Disiplin yang dimaksud Syaykh, yang sangat memperhatikan kesehatannya dan tidak merokok ini, adalah seperti aturan tidak bisa merokok dan narkoba. Sejak awal di sana telah diambil langkah-langkah pencegahan masuknya narkoba dengan melakukan test, baik ketika masuk maupun saat keluar pesantren.

Demikian juga halnya dengan para karyawan. Syarat menjadi karyawan adalah apabila sanggup tidak merokok. “Dulu, kami di sekolah itu bebas merokok dan akibatnya kita rasakan sekarang. Jika dulu dari sekolah tidak merokok, mungkin sehat badan ini. Untung cepat kita sadari bahwa merokok itu cuma menyusahkan jantung dan paru-paru. Pengalaman itu kita tularkan ke anak-anak kita. Ternyata dunia tanpa rokok itu nikmat. Paling tidak bebas bernafas,” katanya.

Dalam perjalanannya yang masih panjang membangun Ma’had Al-Zaytun, Syaykh sangat mensyukuri rahmat Tuhan yang diterimanya hingga saat ini. Ia makan dengan menu yang teratur dan sehat serta rutin melakukan olahraga murah, naik turun masjid. Pola makan dan gaya hidupnya ini bisa menurunkan berat badannya dalam jumlah yang sangat signifikan dari 104 kg menjadi 85 kg sekarang ini. atur-juka-crs

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here