Perintis Pemilikan Saham Karyawan Pers

[ HG Rorimpandey ]
 
0
108
HG Rorimpandey
HG Rorimpandey | Tokoh.ID

[ENSIKLOPEDI] Hendrikus Gerardus (HG) Rorimpandey (80 tahun), tokoh pers nasional, pendiri harian sore Sinar Harapan dan perintis pemilikan saham karyawan pers yang juga pejuang kemerdekaan, meninggal dunia Jumat (15/11/02) pukul 08.05 pada usia 80 tahun di RS Medistra setelah mengalami kehilangan kesadaran pada Jumat dini hari.

Jenazah disemayamkan di rumah duka, Jalan Tebet Dalam II No. 8 Jakarta Selatan dan di Gedung Suara Pembaruan, Jl Dewi Sartika 136-D, Cawang, Jakarta Timur hari Minggu (17/11/02) dari pukul 08.00 hingga pukul 11.00. Kebaktian pelepasan dilaksanakan pukul 10.00. Dari Gedung Suara Pembaruan, jenazah dibawa ke Gereja Bukit Moria. Setelah itu, jenazah dimakamkan di Pondok Rangon, Jakarta Timur, Minggu (17/11), karena masih menunggu putrinya, Pinamaya Selma (Sri) yang tinggal di negeri Belanda.

HG Rorimpandey, yang biasa dipanggil Pak Rorim sehari sebelumnya, masih melakukan perjalanan ke Cimelati, Sukabumi, tempat peristirahatan keluarga. Menurut penuturan menantunya Nico Sompotan, Pak Rorim sempat menikmati hidangan di salah satu restoran Sunda kesukaannya di kawasan Puncak. Sekembalinya dari perjalanan ini, Pak Rorim mengalami gangguan kesehatan asma yang sudah diidapnya sejak kanak-kanak.

Tanda-tanda bahwa Pak Rorim sakit memang sudah tampak belakangan ini, dan dia sempat dirawat beberapa hari karena asmanya. Meski begitu pada Senin (11/11/02) lalu Pak Rorim masih sempat datang dalam pertemuan silaturahmi bersama para wartawan dan karyawan Sinar Harapan dan mengikuti acara dari awal sampai akhir. Pak Rorim tampak lemah, namun terlihat bahwa semangatnya yang mendorongnya tetap hidup.

Pak Rorim meninggalkan istri MFM Pietersz (Donki), dan lima putra, yakni Pingkan Asmariani, Yohan Toar Henry, Rani Wulan, Pinamaya Selma, Insa Martha, dan delapan orang cucu. Putrinya Martina Frederika Yudhita meninggal dunia dalam kecelakaan pesawat ketika akan berlatih terjun payung pada tahun 1986.

HG Rorimpandey dilahirkan pada 2 Januari 1922 di Palu, Sulawesi Tengah, putra Kawengian Johan Rorimpandey dan Adeleida Juditha Estefin Rotinsulu. HG Rorimpandey adalah anak ketiga dari lima bersaudara. Pada masa mudanya ia akrab dipanggil Ventje. Pada masa ini, dokter sekolah mengetahui bahwa Ventje mengidap asma.

Mengenyam pendidikan sekolah dasar hingga sekolah lanjutan di Tomohon, Sulawesi Utara, dari tahun 1925 hingga 1933, kemudian melanjutkan ke MULO di kala itu masih Batavia. Pendidikan tingkat SMU, HG Rorimpandey terputus pada tahun 1936 karena masuknya balatentara Jepang.

Pada masa itu, ia dikenal diantara teman dengan panggilan Gerard. Pemuda Gerard pindah ke Bandung dan bekerja sebagai buruh di Jawatan Kereta Api Hindia Belanda, kemudian pindah ke perusahaan swasta yang mengolah kapas dan memproduksi perban. Lalu menyelesaikan AMS di Jakarta (1941); dan Fakultas Ekonomi UI (tidak selesai, 1952).

Saat terjadi perang Kemerdekaan pemuda, Gerard bergabung dan ikut mendirikan Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS) 1945 yang kemudian kelompok ini menggabungkan diri menjadi Divisi Siliwangi. Kala itu, HG Rorimpandey mulai dikenal di antara kawan-kawan pejuang kemerdekaan dengan nama Rorim.

Dia keluar dari Divisi Siliwangi dengan pangkat letnan satu, lalu terjun ke dunia pers. Karier di dunia pers dia awali sebagai wartawan Lembaran Minggu. Dia sempat memimpin Dunia Ekonomi dan Buletin Ekonomi Keuangan.

Sejak 1961, Rorim bersama JCT Simorangkir, Subagyo PR dan kawan-kawan, menerbitkan harian umum Sinar Harapan. Jabatan penting yang pernah diemban antara lain: Pemimpin Umum Harian Umum Sinar Harapan sejak 1961 – Oktober 1986. Presdir PT Sinar Kasih 1961 – 2001; Direktur Utama PT Sinar Agape Press 1971 – 1997, kemudian jadi Presiden Direktur perusahaan yang sama 16 Juni 1997 dan berhenti pada 31 Desember 1998; Dewan Komisaris PT Media Interaksi Utama (MIU) yang menerbitkan Suara Pembaruan, 1987 – 1998.

Sebagai Pemimpin Umum Sinar Harapan dan Direktur Utama PT Sinar Kasih, Rorim berusaha memajukan perusahaan yang dipimpinnya. Dia menegakkan disiplin karyawannya, kepatuhan kerja, peningkatan produktivitas, dan kesungguhan dalam bekerja serta memandang ke depan dengan wawasan luas.

Kebijakan yang dia ambil tidak sekadar dianjurkan. Dia justru memberi contoh sehingga dia sering bekerja tidak ingat waktu. Dengan tindakan yang nyata itu, terbina kewibawaannya. Para karyawan dari kalangan atas sampai bawah, semua segan dan hormat padanya.

Dalam kepemimpinannya, Rorim sangat menonjol dalam pandangannya bahwa aset paling utama dari sebuah penerbitan pers adalah sumber daya manusianya. Karena itu, selain memberikan yang terbaik bagi karyawan, Rorim juga mendirikan Koperasi Karyawan. Dengan demikian pemilikan saham perusahaan penerbitan pers diberikan kepada karyawan melalui koperasi sebesar 20 persen bahkan pernah melebihi 30 persen.

Gagasan dia mengenai hal ini menjadi inspirasi kepada Harmoko sebagai Menteri Penerangan ketika itu, untuk menganjurkan kepada penerbitan pers agar memberi saham kepada karyawan minimal 20 persen.

Tentara
Menuturkan pengalamannya, Rorim mengatakan, dia dan kawan-kawannya sempat menempati markas bekas Belanda di Batujajar. Markas ini sampai sekarang masih dimanfaatkan TNI sebagai markas Grup III Kopassus, kesatuan pendidikan para komando. Di sana pada suatu ketika Kolonel AH Nasution mengunjungi bekas Pasukan Berani Mati KRIS.

Nasution menyampaikan keputusan pemerintah RI atas hasil perundingan dengan NICA. Kesepakatan yang menjadi perintah langsung dari pimpinan tentara RI wilayah Bandung Didi Kartasasmita. Yakni seluruh pemuda dan laskar harus mengosongkan Kota Bandung dalam radius 10 kilometer.

Kodongan memerintahkan Detasemen Pelopor II KRIS untuk meninggalkan Batujajar dan menuju ke garis pertahanan baru mereka di luar Kota Bandung di Rancaekek. Kendaraan yang bisa dibawa dijalankan mereka. Apa-apa yang tertinggal mereka bakar.

Mars menuju Rancaekek disemangati dengan lagu baru yang mereka pelajari karya komponis dari Jakarta Ismail Marzuki. Judulnya Halo-halo Bandung. Hari itu 24 Maret 1946 dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia dikenal sebagai Bandung Lautan Api.

Pada 6 Juni 1946 sekutu menyerbu Tentara Rakyat Indonesia (TRI). Markas Pelopor di Gedebage diporak porandakan sekutu. Pasukan KRIS bertahan di parit-parit dan berhasil menyergap satu peleton tentara NICA. Namun karena mendapat serangan udara Kodongan memerintahkan pasukannya meninggalkan Gedebage.

Divisi Siliwangi mendapatkan perintah untuk merebut Bandung kembali. Detasemen Pelopor II KRIS menyerbu ke Sukamiskin. Seluruh kekuatan KRIS dikerahkan. Rorim pun turut serta menyerbu ke depan. Hari itu 26 Juli 1946.

“Di situ saya dapat kado dari Belanda,” tutur Rorim tahunan kemudian. Ia terkena pecahan mortir nyaris kena jantungnya, Rorim tergeletak. Temannya di belakang Mantik dan Warouw berteriak menanyakan. Temannya lain yang berada di depan mundur untuk membantu Rorim. Lainnya membakar jerami agar terjadi selubung asap. Rorim diangkut mundur dari medan pertempuran.

Sebuah daun pintu rumah penduduk dipakai sebagai tandu darurat untuk mengangkut Rorim. Pemuda Kristen ini diangkut oleh rombongan pasukan Hisbulah sambil membacakan doa-doa. Walau dalam keadaan parah, rasa humor Rorim tidaklah hilang. Ia sempat melontarkan bahwa ia belum mati, tapi sudah diusung dan didoakan seperti membawa jenazah.

Rorim mengakhiri karir militernya dengan pangkat letnan satu. Rorimpandey berupaya menghidupkan kembali cita-citanya sebagai dokter namun tekanan ekonomi menyebabkan Rorimpandey yang tinggal di Jakarta sejak 1945 harus bekerja.

Bersama rekan-rekan perjuangannya dari Divisi Siliwangi KML Tobing, Rorimpandey mulai bergabung dalam dunia penerbitan surat kabar. Ia bekerja pada Lembar Mingguan Harian Republik. Setelah pindah bekerja beberapa kali Rorimpandey menerbitkan Buletin Ekonomi bersama Bart Ratulangie dan Gerungan pada tahun 1948. Dan bersama Bart Ratulangie ia diajak bergabung dan mendirikan harian sore Sinar Harapan pada tahun 1961. Koran nasional ini sempat tumbuh menjadi salah satu yang terbesar dan terkemuka hingga tahun 1986 dibreidel pemerintah Suharto. Pak Rorim juga menerbitkan majalah mingguan Mutiara dan Ragi Buana.

Wartawan senior Rosihan Anwar pun mengenang pembreidelan Sinar Harapan ini saat mengetahui kabar duka ini. “Rorimpandey termasuk salah satu penerbit surat kabar yang sukses. Dia mendapat terobosan ketika menggunakan mesin cetak baru, mesin offset di zaman Orde Baru,” ujar Rosihan. Keberhasilannya didukung oleh wartawan yang handal seperti Aristides Katoppo, Subagyo PR, Samuel Pardede, Sabam Siagian, Daud Sinjal, Annie Bertha Simamora, Panda Nababan dll

Ketua Serikat Penerbit Suratkabar (SPS), Leo Batubara, juga memuji tekad Pak Rorim yang tetap berjuang untuk menerbitkan kembali Sinar Harapan ketika koran itu dibatalkan SIUPPnya sampai akhirnya terbit Suara Pembaruan.

“Dia sangat kecewa dengan proses pembatalan SIUPP itu. Dalam pandangannya kenapa kalau terjadi kesalahan oleh pers lalu korannya dibunuh dan bukan wartawannya atau para pemimpinnya diadili. Pandangan itu sangat keras disuarakannya karena Sinar Harapan adalah koran yang berhasil pada waktu itu dan pembunuhan itu merusak sistem,” ujar Leo.

Ketua Umum PWI, Tarman Azzam menyatakan duka cita sedalam-dalamnya atas nama pribadi dan lembaga yang dipimpinnya. “Saya sangat menghormati pak Rorimpandey yang saya anggap sangat memperhatikan wartawan-wartawan muda. Beberapa kali saya bertemu beliau selalu saya diberikan bimbingan,” demikian Tarman.

Dalam harian sore Suara Pembaruan Pak Rorim hanya menjadi komisaris, karena memang ada larangan tak tertulis dari Deppen untuk para pengelola Sinar Harapan terlibat langsung dalam pengelolaan koran baru ini. Ia berhenti dari koran ini pada tahun 1998 dan menerbitkan kembali Sinar Harapan pada 2 Juli 2001.

Dalam rangka wawancara buku biografi HG Rorimpandey diungkapkan bahwa semangat perjuangan kemerdekaan yang diembannya sejak masa muda yang mendorongnya untuk menerbitkan kembali Sinar Harapan dengan mottonya “Memperjuangkan kemerdekaan dan keadilan, kebenaran dan perdamaian berdasarkan Kasih.”

Pemimpin Umum Sinar Harapan, Aristides Katoppo, menilai Pak Rorim merupakan sosok pemimpin yang sangat peduli dan mendahulukan kepentingan wartawan dan karyawan. “Pak Rorim termasuk tokoh yang mendorong dan merintis keikutsertaan karyawan dalam pemilikan saham di perusahaan,” ujar Aristides. TIDari berbagai sumber terutama Suara Pembaruan dan Sinar Harapan.

Data Singkat
HG Rorimpandey, Pendiri Hr. Sinar Harapan dan Suara Pembaruan / Perintis Pemilikan Saham Karyawan Pers | Ensiklopedi | Wartawan, CEO, Pengusaha, Dirut, pendiri, FEUI

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here