Risaukan Pelecehan Perempuan

[ Meutia Hatta ]
 
0
165
Meutia Hatta
Meutia Hatta | Tokoh.ID

[ENSIKLOPEDI] Menteri Pemberdayaan Perempuan Meutia Farida Hatta menegaskan pelecehan terhadap perempuan harus diberantas. Dia melihat, pelecehan terhadap perempuan terjadi di seluruh lapisan, dari bawah sampai atas. Pelecehan terjadi di kalangan dewan terhormat, juga publikasi media massa yang cenderung melecehkan citra perempuan.

Menurut Meutia, seusai serah terima jabatan dengan Menteri Pemberdayaan Kabinet Gotong Royong Sri Redjeki Sumaryoto, Kamis (21/10/2004) di Jakarta, tayangan televisi dan publikasi media massa terhadap kejahatan yang menimpa perempuan sifatnya tidak mendidik. Melainkan lebih pada konsumsi seperti cerita pendek (cerpen).

Pemberitaan media massa tidak komprehensif. Hanya dipublikasi satu sampai dua kali sehingga pelaku kejahatan tidak merasa jera. Di dalam mempublikasi suatu berita, hendaknya media massa mempertimbangkan aspek pendidikan, akhlak dan moral serta empati agar bangsa Indonesia menghargai dirinya sendiri, khususnya kaum perempuan.

Disebutkan, kasus perdagangan perempuan dan anak yang terjadi berkaitan dengan pola pikir dan budaya. Betapa perempuan dilecehkan, tidak hanya di kelas bawah tetapi juga di kelas atas. Menurutnya, pola ini harus kita berantas.

Dia mengemukakan, dalam membangun negara Indonesia, pendiri negara ini ingin Indonesia menjadi bangsa yang tangguh. Undang-undang Dasar juga mengatakan mencerdaskan kehidupan bangsa. Saya harap kerja sama dengan pihak lain. Kementerian memang hanya kebijakan tetapi implementasi pada departemen. Bagaimana kita mempunyai kerja sama dengan sektor lain, tidak bekerja sendiri-sendiri.

Selain mengidentifikasi potensi hambatan budaya yang ada, menurut doktor Antropologi Fakultas Pasca Sarjana Universitas Indonesia, 199, ini perlu mengangkat citra perempuan sesuai tradisi kebudayaan. Hal ini dipandang perlu untuk menentukan akan seperti apa bangsa ini kelak. Dalam hal ini peran perempuan sangat besar. Perempuan adalah orang yang tekun dan berpotensi.

Oleh karena peran perempuan yang besar dalam menentukan arah bangsa ini, menurutnya, perlu ditingkatkan kepedulian sosial antarsesama misalnya saja, masyarakat tidak membeda-bedakan rasa kepedulian untuk janda yang punya anak di daerah konflik. Para janda itu hendaknya tidak dilecehkan karena harus membesarkan anaknya, yang akan menjadi generasi penerus bangsa.

Pada kesempatan itu, Meutia yang sempat menjabat sebagai Deputi Bidang Pelestarian Kebudayaan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata di Kabinet Gotong Royong lalu, mengatakan dalam 100 hari pertama masyarakat menuntut terjadi perubahan yang secara langsung kelihatan. Tetapi tidak semua instansi bisa merubah keadaan seperti membalik telapak tangan. Perubahan, ujarnya, sebetulnya dimulai dari pola pikir yang berorientasi ke masa depan. Yang menjadi masalah bagaimana masyarakat dapat melihat perubahan itu dalam 100 hari pertama kinerja Kabinet Indonesia Bersatu.

Disebutkan, sudah ada beberapa program sesuai visi dan misi Kementerian Pemberdayaan Perempuan. Dari program-program itu akan dilihat yang mana yang bisa dilakukan dalam waktu dekat. Hal itu tidak dapat dilakukan sendiri oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan. Perlu membuka jaringan kerjasama dengan sektor lain.

Tokoh Pertama
Dia tokoh pertama yang diajak berdialog oleh presiden terpilih Susilo Bambang Yudhoyono dalam rangka fit and proper test calon menteri. Putri tokoh proklamator RI ini semula diperkirakan akan menempati pos menteri pariwisata dan budaya, sesuai keahliannya sebagai pakar antropologi budaya.

Nama dosen pascasarjana UI ini sudah disebut-sebut sebagai kandidat menteri terutama sejak SBY berziarah ke makam Bung Hatta. Istri Sri Edi Swasono itu datang ke kediaman SBY di Puri Cikeas sekitar pukul 13.30 WIB, Jumat 15 Oktober 2004, dengan menumpang mobil Ford hitam bernopol B 1974 BH. Doktor antropologi itu disambut staf pribadi SBY yang dikomandani Ervan Edison.

Dia berdialog dengan SBY sekitar satu jam. Saat meninggalkan kediaman SBY pukul 14.40, Meuthia yang dicegat wartawan menjelaskan, dialognya dengan SBY itu membahas beberapa hal. Di antaranya masalah kebudayaan dan pariwisata. Namun, dirinya belum memperoleh kepastian mengenai pos kementerian yang mungkin akan dipercayakan kepadanya. Dia pun menyatakan siap ditempatkan di mana saja.

Meuthia Hatta, tampaknya sudah mempersiapkan secara khusus ujian yang dilakukannya hari ini. Saat memasuki rumah SBY, dia tampak mengapit sebuah map cokelat besar yang diduga merupakan materi yang akan dipresentasikannya kepada SBY.

Kepada wartawan, Meuthia tidak bisa menyembunyikan ekspresi bangganya karena dipanggil untuk mengikuti ujian menteri SBY. “Karena sudah dipanggil ke sini, tentu saya sudah diperhitungkan,” terangnya dengan penuh optimistis.

Saat Menunggu
Indo Pos (22/10/2004): Meutia Farida Hatta Swasono telah membuka rumahnya bagi wartawan sejak lepas magrib. Pada saat itu, dia tampak santai dibalut setelan blus putih dipadu scarf merah yang melilit manis di lehernya dengan bawahan celana cokelat. Kaca mata baca bertengger serasi, menambah manis wajahnya. Meuthia menyambut hangat kehadiran wartawan. Bahkan, koran ini sempat dipersilakan menulis dan mengirim berita ke kantor melalui komputer dan fasilitas internet di ruang kerja dan perpustakaan keluarganya.

Menjelang pembacaan nama-nama menteri yang dijadwalkan pukul 20.00, perempuan kelahiran Jogjakarta, 21 Maret 1947 itu sudah duduk berjejer menghadap pesawat TV ukuran 21 inci di ruang tengah rumahnya, di Kompleks Dosen UNJ, Rawamangun, Jakarta Timur. Dia didampingi suaminya, Sri-Edi Swasono, putra semata wayang Tansri Yusuf Zulfikar, 21, dan kedua adiknya, Gemala Hatta dan Halida Hatta Yusuf. Tampak pula sejumlah keluarga dan kerabat lainnya. Kehangatan terasa kental di tengah ketegangan.

Biasanya, Meutia dan kedua adiknya tersebut sangat sulit bertemu, meski sama-sama tinggal di Jakarta. Kesibukan, lokasi rumah yang saling berjauhan, dan kemacetan ibu kota menjadi alasan utama. Kakak beradik itu terakhir bertemu ketika acara Bung Hatta Award pada 28 September lalu.

Di tengah ketegangan menjelang waktu pembacaan, Sri-Edi sempat menyeletuk sambil melirik istrinya yang duduk di sampingnya, “Mestinya kita jangan di sini dulu. Nanti kalau nggak jadi gimana tuh?”

Meuthia hanya tersenyum kecut sambil terus menekuni pesawat TV. Meutia tampak begitu kegerahan disorot lensa kamera televisi. Dia lantas meminta diambilkan kipas kepada adik bungsunya, Halida. Deputi Menbudpar itu kemudian asyik mengibas-ngibaskan kipas. Di samping TV, sebuah meja panjang tertata dengan berbagai suguhan kue-kue basah dan takjil yang disediakan untuk para tamu dan wartawan yang datang meliput.

Di atas meja kecil di samping jejeran kursi yang diduduki keluarganya, tampak dua buket karangan bunga ucapan selamat. Padahal, malam itu, Meuthia belum dipastikan menjadi menteri. Ucapan pertama datang dari teman-temannya alumni pendidikan Santa Ursula angkatan 1966. Buket kedua dari para mahasiswanya, alumni Jurusan Antropologi UI angkatan 1976.

Raut kecewa tersirat jelas di wajah keluarga itu saat Juru Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng mengumumkan bahwa pembacaan anggota kabinet diundur hingga pukul 23.00. Sri-Edi dengan nada bercanda langsung berkomentar. “Wah, ini ada pertentangan alot, pasti,” katanya. Meuthia menepuk paha suaminya manja. Ketika dimintai komentar oleh wartawan tentang ada apa di balik pengunduran pengumuman kabinet, Meuthia hanya menjawab pendek, “Mungkin belum solid.”

Barisan kursi yang sudah terisi penuh di depan TV kembali kosong melompong. Hingga malam menjelang pengumuman, ada tiga kemungkinan pos bagi Meuthia, doktor bidang antropologi UI, itu untuk masuk kabinet SBY-Kalla. Yakni, Mensos, Menbudpar, atau menteri pemberdayaan perempuan (Men PP). “Tapi, Pak SBY, waktu pertemuan di Cikeas, tidak pernah menyinggung soal Mensos. Beliau lebih banyak mengajak bicara soal kebudayaan, pariwisata, dan pemberdayaan perempuan,” tuturnya.

Apakah setelah pertemuan di Cikeas, Meuthia pernah berkomunikasi lagi dengan SBY melalui telepon? “Wah, saya tidak pernah dengar suara Pak SBY di telepon. Sekali saja saya diminta datang ke Cikeas hanya oleh Pak Sudi Silalahi,” ungkapnya. Sambil menunggu pukul 23.00, Meuthia lebih banyak berbicara dengan para tamu, kedua adiknya, dan melayani wawancara dengan berbagai stasiun radio yang menghubunginya melalui telepon. Sesekali, dia mendatangi kumpulan wartawan yang nongkrong di luar rumahnya.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 23.00. Namun, pengumuman yang ditunggu tidak kunjung ada. Koran ini sempat memperlihatkan informasi proyeksi terbaru kabinet SBY-Kalla kepada Meuthia yang diterima melalui SMS pada pukul 23.36. Di sana tertulis bahwa posisi Mensos sudah diisi Bachtiar Chamsyah. “Wah, jadi tinggal dua kemungkinan posisi gua,” komentarnya.

Pukul 23.50, di layar televisi, tampak SBY berjalan mendekati podium untuk mengumumkan kabinet. Semua kursi dengan cepat terisi. Meuthia tergelak melihat polah para wartawan yang sibuk menyiapkan perangkat rekam. Kemudian, dia tak berkedip memelototi pesawat televisi. Saat SBY mengumumkan bahwa nama kabinetnya adalah Kabinet Indonesia Bersatu, Meuthia dan suaminya tampak mengangguk-angguk. Tidak ada komentar yang keluar dari mulutnya setiap kali SBY menyebutkan nama menterinya.

Nama Mensos dan Menbudpar sudah disebut SBY. Namun, nama Meuthia belum juga nongol. Keluarga besar itu semakin tegang. Artinya, tinggal satu posisi yang mungkin disabetnya, yakni Men PP. Tiba saatnya SBY menyebutkan pengisi Men PP: “Meuthia Farida Hatta Swasono.”

Tepuk tangan seketika meledak di ruang tengah rumah keluarga Swasono. Hela napas lega menyeruak. Adiknya, Gemala, langsung mencium kedua pipi kakaknya. Semua pesawat telepon yang ada di ruangan langsung berbunyi. Ucapan selamat datang bertubi-tubi. Kedua adiknya sibuk menerima. Demikian juga para pembantu, anaknya, dan keponakan yang juga berada di sana. Meski namanya sudah dipastikan masuk kabinet, Meuthia masih tampak tenang. Suaminya dan putranya pun belum memberikan reaksi. “Dengar dulu dong nama-nama menteri lainnya,” kata Meuthia kalem. Tapi, dia tidak bisa menyembunyikan senyum sumringah.

Setelah SBY selesai mengumumkan nama-nama para menterinya, pesawat TV langsung dimatikan. Semua yang hadir memberikan selamat. Sri-Edi merangkul istri dan putranya. Baju mereka basah oleh keringat. Entah karena tegang menunggu kepastian atau terlalu panas disorot lensa kamera televisi. “Terima kasih kepada semuanya,” berkali-kali Meuthia dan suaminya mengucapkan kalimat itu.

“Terima kasih kepada rekan-rekan media yang sejak sore sabar menunggui saya. Saya akan menjadi menteri yang bertanggung jawab dan menjaga amanah demi membangun rakyat Indonesia,” tegasnya.

Tansria, putranya, pun ikut berkomentar. “Sebagai anak seorang menteri, saya ikut mengemban tanggung jawab. Apakah itu menjadi jembatan atau malah menjadi jurang. Karena itu, saya akan membantu Ibu, minimal menjaga nama baiknya,” ujar Transia.

Sri-Edi dengan tegas menolak ketika wartawan menanyakan kemungkinan Meuthia tinggal di kompleks menteri di kawasan Widya Chandra. “Rumah ini juga gede kok. Ngapain pindah. Meuthia juga ingin tetap tinggal di sini,” bebernya. tsl

Data Singkat
Meutia Hatta, Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI, KIB (1999-2004) / Risaukan Pelecehan Perempuan | Ensiklopedi | Menteri, UI, Watimpres, pemberdayaan perempuan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here