02 | Guru, Cita-cita Mulia

Syaykh Panji Gumilang
Syaykh Panji Gumilang | TokohIndonesia.com – Atur

Pria kelahiran Gresik 30 Juli 1946 ini, telah berhasil mewujudkan ide agung sebuah paradigma baru pendidikan (pendidikan terpadu) di Al-Zaytun. Di pondok pesantren modern komprehensif ini, ia mewujudkan pendidikan terpadu yang disimpulkannya pada pendidikan-ekonomi dan ekonomi-pendidikan, di mana pendidikan harus diciptakan sebagai gula dan ekonomi sebagai semutnya.

Jangan malah ekonomi yang diciptakan sebagai gula dan pendidikan (rakyat) jadi semutnya. Bila pendidikan sebagai gula dan ekonomi sebagai semut, maka semut (ekonomi) akan mendatangi orang yang terdidik. Karena semut adalah makhluk yang mengerti kualitas dirinya terhadap gula, sehingga semut tidak akan terkena sakit gula.

Itulah prinsip dasar dalam pendidikan terpadu yang diwujudkannya di Al-Zaytun, sebuah kampus peradaban milenium ketiga sebagai pusat pendidikan dan pengembangan budaya tolerasi dan perdamaian. Lembaga pendidikan sekaligus lembaga ekonomi mandiri yang diimpikannya sejak belia.

Sejak kecil, dia telah bercita-cita menjadi guru dan mendirikan sebuah lembaga pendidikan. Dengan maksud agar peradaban umat manusia tidak putus, maka dengan berbagai kemampuan yang ada padanya, dia berusaha menyambungnya. Itulah cita-cita mulianya mendirikan pesantren (kampus) ini, di samping untuk merangkum kehendak bangsa Indonesia sendiri, menjadi bangsa yang diperhitungkan di antara bangsa-bangsa lain.

Pria yang sejak kecil bercita-cita jadi guru, dan yang hingga akhir hayat akan tetap menjadi pembelajar dan pendidik, ini berpendapat bahwa peradaban tersebut harus disambung dengan manajemen ‘kekitaan’ bukan ‘keakuan’ dalam visi demokrasi, toleransi dan perdamaian. Visi inilah yang dipakainya dalam membangun dan mengelola Al-Zaytun.

Sekilas berkisah mengenai awal mula adanya ide atau cita-cita pendirian lembaga pendidikan ini. Dia mengatakan bahwa sebagaimana orang pada umumnya selalu punya cita-cita untuk berlaku, berbuat dalam kebaikan, demikian juga halnya dengan dirinya.

Dimotivasi sosok ayahnya, yang sangat memengaruhi dan menguatkan cita-citanya menjadi guru dan mendirikan lembaga pendidikan terpadu. Ayahnya, seorang pemimpin, seorang Kepala Desa. Walaupun hanya sebagai kepala desa, namun ayahnya ditakdirkan oleh Ilahi menjadi orang yang suka mendidik di lingkungannya, sampai mendirikan sebuah sekolah yang dinamai orang ketika itu ‘Sekolah Arab’ karena setiap hari mengajarkan baca Alquran dan menulis Arab.

Di samping itu, Sang Ayah juga seorang pejuang. Sebagai seorang pejuang, Sang Ayah sengaja mempunyai banyak nama, sekali waktu dipanggil Panji Gumilang, Syamsul Alam, Mukarib, atau Imam Rasyidi. Melihat Sang Ayah yang berdimensi majemuk itu, tumbuh perasaan bangga dan senang pada diri Panji Gumilang kecil. Bangga melihat orang tuanya yang kepala desa, yang konon setiap hari harus lapor kepada Belanda, tapi sekaligus juga pejuang dan mendirikan sekolah.

Sehingga dalam kebanggaan Panji Gumilang kecil itu, timbul juga rasa penasaran melihat sikap ayahnya. “Pihak mana dipilih oleh orang tua ini?” begitu pertanyaan dalam hatinya saat itu. Maka ia akhirnya bertanya, “Ayah! Kenapa harus laporan ke Ndoro Asisten Wedana?”.
“Karena dia yang menjadi pimpinan di kecamatan ini,” jawab Sang Ayah.

Namun jawaban Sang Ayah belum menjawab keingintahuan dan teka-teki di hatinya. “Lalu, mengapa ayah ini kok ikut berjuang?”
“Karena kita akan merdeka,” jawab Sang Ayah.

Panji kecil masih penasaran dan bertanya lagi: “Mengapa Ayah membuat sekolah?”
“Karena kamu dan kawan-kawanmu harus pintar, agar bangsa kita tidak dijajah bangsa lain nanti,” begitu jawaban Sang Ayah saat itu.

Jawaban itu direnungkan sampai akhirnya dia paham dan semakin bangga terhadap ayahnya. Perenungan itu semakin mendalam dalam hati, jiwa dan pikirannya, hingga ia masuk sekolah. Pagi hari, Panji Gumilang kecil masuk Sekolah Rakyat (SR), Sekolah Dasar sekarang. Lalu petang, masuk dalam sekolah yang didirikan orang tuanya, ‘Sekolah Arab’. Sejak kelas satu SR itulah tumbuh cita-citanya menjadi guru. Bahkan walaupun orang tuanya menginginkannya jadi kepala desa, dia tetap bersikeras menjadi guru.

Awal keinginannya menjadi guru, terpantik ketika dirinya masih kelas satu SR antara tahun 1952 atau 1953. Saat itu ada program pemberantasan buta huruf (PBB) untuk orang dewasa. Lalu, suatu hari, saat baru pulang sekolah, ia ditanya orang tuanya: “Kamu diajar apa tadi di sekolah?”

Kemudian ia jawab, “Ini pak, diajari baca po,lo,wo, go, ro, no, go, sos, ro, to, mo, ho,…”. Masa itu yang diajarkan bukan a,b,c,d, tapi po, lo, wo, dan seterusnya.

Orang tuanya pun bertanya lagi, “Kamu sudah bisa baca dan nulis?”
“Bisa, Pak,” jawabnya.

Sejenak Sang Ayah menatap. Lalu ayahnya menganjurkan: “Nanti malam, kamu mengajar ya…!”
“Mengajar siapa, Pak?”

“Itu, orang-orang tua yang buta huruf.”

Tanpa pikir panjang, Panji kecil pun mengiyakan, menurut. DiIa pun lantas mengajar sebagai upaya pemberantasan buta huruf orang-orang yang sudah sepuh. Ia merasa bangga dan senang. Apa yang dipelajarinya di sekolah pada pagi hari, itu yang diajarkannya pada malam hari. Pagi hari ditanya Pak Guru, disuruh menulis, dia bisa. Malam harinya, dia mengajar beberapa orang buta huruf, sekaligus mengulang pelajaran yang diterima di sekolah pada pagi harinya.

Orang-orang sepuh itu pun menjadi melek huruf. Hal ini menanamkan rasa bangga tersendiri baginya. Mengajar orang-orang tua sepuh itu, membangkitkan perasaan sangat bangga dan senang. Sejak itu, rasa senangnya jadi guru pun makin tumbuh.

Saat itu, suasana belajar membuat sesama murid senang berkompetisi. Siapa di antara mereka yang paling pintar, tercermin dari ponten (nilai) yang diberikan gurunya. Nilai itu menjadikan kebanggaan dan ditunjukkan pada orang tua mereka. Alat-alat belajar yang terdiri dari sabak (batu tulis) dan grip (pensil batu), merupakan warna lain dari suasana sekolah ketika itu. Buku tulis masih dianggap langka dan mahal.

Semua hasil pelajaran mendapat nilai dari sang guru, dengan menuliskan angka atau ponten di sabak tersebut dengan kapur tulis. Manakala Gumilang kecil mendapat angka 9 atau 10, maka asbak bertuliskan ponten kapur tulis itu pun dia tempelkan di pipinya. Angka itu tercetak di pipinya, meski dengan terbalik. Nilai yang kemudian dia tunjukkan kepada orang tuanya. “Lihat, pak. Aku dapat nilai 9,” katanya dengan bangga.

Sesaat setelah dia tamat SR, sekolah (madrasah) yang tadinya dibina oleh orang tuanya, entah kenapa diambil-alih sebuah yayasan. Bukan orang tuanya lagi yang mengurus. Pengambil-alihan madrasah itu berkesan bagi diri dan keluarganya. Bersamaan dengan itu, ia pun kemudian meninggalkan Gresik, kampung kelahirannya itu. Tidak mau tinggal di sana lagi. Tekadnya, ia harus belajar jauh entah ke mana. “Biar bagaimanapun saya harus belajar jauh. Jauh dari kampung,” itulah yang selalu ada di benaknya.

Tepatnya pada tahun 1961, Panji kecil membuka lembar baru dalam buku kehidupannya. Dia melanjutkan sekolahnya di Pondok Pesantren Gontor, sebuah pesantren terkemuka dan dikenal dengan pondok pesantren modern yang menghasilkan santri berkualitas. Gresik dan Gontor yang berjarak 210 km itu terasa tambah jauh karena bus waktu itu masih bus kayu yang setiap 10 km harus diengkol lagi.

Sehingga jika naik bus, subuh berangkat, magrib baru tiba. Dia amat mengagumi Gontor, sebagai sekolah yang dibanggakannya. Kurun waktu enam tahun, tentu tak sedikit untuk mencangkul ilmu, mengeruk pengetahuan. Dia banyak memetik hikmah, pelajaran dan ilmu yang kemudian sebagian ditularkannya dalam mendidik santri di Al-Zaytun yang dikembangkannya kemudian. Karena kebanggaannya dengan Pesantren Gontor tersebut, anaknya yang pertama sampai yang keempat pun disekolahkannya di sana.

Hikmah paling berharga dari menuntut ilmu di Gontor, acapkali menemukan pengalaman dalam proses pembelajarannya. Motivasi dan keinginan selalu menjadi guru, membuatnya sangat tertarik mengamati cara mendidik dari berbagai guru yang mengajar. Metode dalam membimbing atau pun cara memberi pelajaran, amat menjadi perhatiannya.

Suatu saat, dia pun mendapat didikan yang cukup keras dari seorang guru. Dia pernah dihukum, ditempeleng dan rambutnya dicukur. Lalu terbersit dalam hatinya, apakah dapat dibenarkan cara mendidik semacam ini? Kenangan itu terasa susah dibuang dan malah terus diingat sampai sekarang. Bukan karena dendam, tapi karena dia tidak setuju dengan cara mendidik seperti itu.

Pengalaman itu akhirnya begitu cepat dan kuat menanamkan hal positif dalam hatinya. “Kalau saya punya tempat pendidikan, saya akan memberi kebebasan, tidak akan aku cukur rambutnya, tidak akan aku hukum dalam bentuk kekerasan fisik, aku hanya akan beri isyarat agar dimengerti,” begitulah kata hatinya ketika itu yang akhirnya dibuktikannya kemudian sepanjang karirnya sebagai guru, terutama di Al-Zaytun.

Selesai dari Gontor, pada 1966, ia berangkat ke Jakarta. Ketika itu suasananya masih belum tenang, setelah peristiwa Gerakan 30 September/PKI. Karena itu, orang tuanya, awalnya tidak mengijinkan, karena konon kata orangtuanya, Jakarta adalah tempat kekerasan.

Tanggal 30 Setember 1965 memang telah mengubah wajah negeri ini. Situasi politik saat itu memanas. Pasca peristiwa itu, tahun 1966 mahasiswa berhamburan ke jalan. Jakarta menjadi seperti bara api. Saat itu, Panji menyatakan niatnya untuk pergi ke Jakarta, maka kepergiannya tidak direstui orang tuanya.

“Semua bisa terjadi di Jakarta, sementara kamu belum punya kawan dan kami juga tidak punya kawan di sana,” kata orang tuanya.

Bukanlah Panji, jika dia langsung surut. Semangatnya terus menggebu. Dia meyakinkan orang tuanya, untuk tidak merasa khawatir, “Saya ingin membuat kawan bertambah di sana, doakan saja.” Akhirnya, orang tuanya merestui, walau dengan berat hati.

Dia pun menjejakkan kaki di ibukota negeri ini. Di Jakarta, dia kemudian masuk ke Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah di Ciputat, sekarang menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah. Saat itu jalan menuju Pasar Jumat hingga ke Ciputat, tempat institut itu berada, belum semulus seperti saat ini, jalan belum aspal, masih tanah merah. Kendaraan dari Kebayoran Lama ke Ciputat juga hanya ada sampai pukul empat sore.

Panji datang ke Jakarta bukan untuk bersenang-senang. Apa pun rintangannya untuk menuntut ilmu tak pernah menjadi hal yang membuat hatinya kecut. Ada tekad dan cita-cita yang membentang dalam dirinya dan diyakini, kelak bisa menjelmakannya dalam sebuah kenyataan. Sesuai dengan janjinya, di Jakarta dia terus membina persahabatan dan senantiasa akrab dengan masyarakat lingkungannya.

Di sinilah dia mengasah diri, mengasah kecerdasan intelektualnya, mengasah kecerdasan relijiusnya, dan mengasah kecerdasan emosionalnya. Bahkan secara khusus, di institut inilah dia mengasah cita-citanya sebagai pendidik.

Di sini dia mematangkan diri sebagai pendidik. Mendidik telah menjadi bagian dari hidupnya. Dalam membangun kehidupan manusia, baginya pendidikanlah yang terutama dan harus diutamakan. Maka hampir tidak ada waktunya yang terlewat selain dari belajar, mendidik dan mendidik. “Hingga hari ini saya adalah seorang guru,” katanya bangga. Sampai akhir hayat dia akan terus mendidik.

Bayangkan, ketika kuliah di IAIN itu, dia membuat sekolah di Rempoa. Waktu itu dinamakan Darussalam. Bukan hanya itu, dia pun mengajar di madrasah dan sekolah lain yang berdekatan dengan madrasah yang didirikannya itu. Malamnya mengajar, paginya sekolah.

Selama di IAIN, dia pun mulai sering berkumpul dengan kawan-kawan dan mulai merencanakan mendirikan suatu lembaga pendidikan yang bisa mewakili kemajuan Indonesia. Keinginan itu semakin kuat tapi tak pernah kunjung terwujud. Namun walaupun begitu, dia terus berpikir, bergerak dan berkarya.

Dalam upayanya itu, dia pernah membuat gambar dan lain sebagainya, perihal gagasan dan rencana mendirikan lembaga pendidikan terpadu itu. Gambar itu kemudian ditawarkan pada kawan-kawannya. Namun kawan-kawannya tidak begitu percaya, bahkan menganggap idenya itu suatu ide yang tidak masuk akal. “Ah…kamu ini gila, bagaimana kita bisa membuat seperti ini,” begitulah kadang sambutan kawannya ketika itu.

Namun ia tetap yakin, “Oh…bisa kalau kita buat, kalau nggak kita buat, memang nggak bisa,” katanya menjawab temannya. “Kapan?” tanya kawannya lagi. “Jangan tanya kapan, tapi mau apa tidak?” jawabnya lagi pada kawannya.

Akhirnya, kesabaran dan upayanya meyakinkan kawan-kawan itu berhasil juga. Mereka pun banyak yang menerima ide, visi dan misi mendirikan lembaga pendidikan yang ‘pesantren spirit but modern system’ itu bermotto pusat pendidikan dan pengembangan budaya toleransi dan perdamaian.

Kemudian dia bersama sahabat-sahabatnya mulai mencari lokasi ke seluruh Indonesia, sampai ke Lampung dan Kalimantan. Walaupun menemukan tempat yang luas namun susah untuk dibangun. Maka ketika dia menemukan lokasi di Mekarjaya, Indramayu, menurutnya sama seperti menerka kelahiran sendiri, tidak tahu akan lahir kapan dan di mana. berindo/Ch. Robin Simanullang

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here