03 | Al-Zaytun, International Setting

Syaykh Panji Gumilang
Syaykh Panji Gumilang | TokohIndonesia.com – Atur

Ma’had Al-Zaytun yang dimulai pada tanggal 13 Agustus 1996 merupakan usaha unggulan Yayasan Pesantren Indonesia. Lembaga pendidikan yang diresmikan oleh Presiden BJ Habibie 27 Agustus 1999 ini mempunyai landasan semangat pesantren yaitu kemandirian atau enterpreneurship namun dipadukan sistem modern. Pesantren spirit but modern system.

Prinsip dan spiritnya adalah mendidik dan membangun secara mandiri semata-mata untuk beribadah kepada Allah. Sementara, nilai-nilai modern dimaksud adalah yang berazas kepada ciri-ciri modern itu yakni: pertama, bergerak berdasar ilmu; kedua, program oriented; ketiga, kenal prosedur; keempat, mempunyai organisasi yang tegas dan kuat; kelima, mempunyai etos kerja yang tinggi dan mempunyai disiplin yang ketat dan tegas.

Tujuannya membuat lembaga pendidikan ini, tidak lain ingin mencerdaskan bangsa, supaya bangsa ini dan semua warganya menjadi cerdas, menjadi bangsa yang bajik dan bijak. Bajik dan bijak dalam arti bangsa yang suka terhadap kebenaran, juga bangsa yang mampu menghormati orang lain, bangsa yang sanggup secara mendalam menghormati apa yang dinamakan kemanusiaan.

Al-Zaytun juga diharapkan bisa menghasilkan putra-putri bangsa yang sanggup menguasai science & technology dengan segala perkembangannya. Dan yang paling inti yakni sebagai warga bangsa, putra-putri bangsa itu mampu hidup di dalam negara ini dengan penuh tanggung jawab dan mampu menciptakan kestabilan dan keselamatan negara. Juga sanggup hidup dalam tatanan antarbangsa yang hidup dalam peradaban yang sempurna. “Nah, itu cita-citanya. Jadi tidak terlalu jauh. Kalau dalam bahasa Alquran-nya disebut dengan basthotan fil ‘ilmi wal jismi,” katanya.

Dengan demikian, Al-Zaytun diharapkan akan mempersiapkan manusia yang menjadi dirinya sendiri di masanya nanti dengan persiapan cerdas berpikir menyangkut pada intelektual, emosional dan spiritual. Generasi yang punya bajik dan bijak yaitu bisa memosisikan dirinya pada kondisi apapun, menguasai sains teknologi, cinta negara yang bertanggung jawab dan mampu hidup setara dengan bangsa-bangsa lain dalam zona demokrasi, toleransi dan damai.

Itulah yang hendak dibekalkan pada setiap santri sehingga santri itu nanti akan berinovasi pada zamannya. “Jadi tidak perlu terlalu diurai, karena itu terlalu retorik. Jadi intinya punya self-esteem yang tinggi,” katanya menambahkan. Hal itu menurutnya, juga merupakan cita-cita seluruh bangsa di dunia.

Dengan demikian nantinya semua bangsa akan bertemu. Itulah yang dinamakan International Setting. Itu terjadi karena cita-cita seperti itu merupakan cita-cita pendidikan internasional. Nanti cara berpikir menjadi, International Thinking, dan cara solidaritas menjadi, International Solidarity. Tatanan hidup, setting-nya menjadi International Setting. Itulah menurutnya yang dinamakan dengan hidup global atau globalisasi, yakni kekuatan nasional namun mampu mengakses kehidupan antarbangsa.

Menurutnya, cita-cita seperti itu bukan dia rangkum sendiri, tetapi bersama-sama dengan sahabat-sahabatnya. Sebelum mereka mendirikan pesantren modern ini, dia lebih dulu masuk ke dalam berbagai lembaga pendidikan yang ada di Indonesia maupun di luar, berkelana untuk melihat, studi banding dan sebagainya.

Dalam proses pendidikannya, Al-Zaytun sengaja mengekspos sebuah laboratorium alam untuk ditanamkan ke benak anak-anak didiknya. Ini dilakukan agar nanti para santri berinovasi. Misalnya, bila diekspos perahu, maka akan timbul dalam pikiran mereka, dulu kami buat sendiri itu yang namanya perahu, kenapa sekarang harus beli? Akhirnya mereka akan buat sendiri sebab ilmu ada, pengalamannya juga ada. Hal tersebut terbersit dalam pikiran Syaykh karena mengenang masa kecilnya yang pernah diekspos oleh orang tuanya menjadi guru pemberantasan buta huruf sehingga membuatnya berinovasi sepanjang hidup.

Sedangkan globalisasi 2020 yang menjadi sangat hangat diperbincangkan belakangan ini, bagi Al-Zaytun hanyalah suatu fase langkah, artinya, tahun 2020 itu dipersiapkan sedemikian rupa menuju tahun-tahun berikutnya, karena tahun, bukan hanya 2020 saja. Jadi 2020, menurutnya, hanyalah satu langkah menuju langkah berikutnya, step by step.

Begitu banyak orang yang kagum akan keberhasilan yang dicapai Al-Zaytun, namun Syaykh yang merupakan perencana awal pendirian kampus ini rupanya memegang filosofi ilmu padi, ‘semakin berisi semakin menunduk’. Dengan merendah diakuinya, bahwa sampai sekarang, dia belum merasa sukses.

Sebab sukses itu, menurutnya, masih ada di depan sedangkan yang diperoleh kini hanyalah untuk yang kemarin dan hari ini. Apa yang dilakukan sekarang masih merupakan langkah awal dalam meraih sukses itu. Jadi pendidikan, menurutnya, haruslah punya jiwa inovatif. Tidak boleh mengatakan cukup, tidak boleh mengatakan sudah sukses.

Menanggapi pernyataan betapa spektakulernya pembangunan yang dilakukan Al-Zaytun, dia hanya mengatakan, “Kalau sudah ditarik rodanya, kereta itu akan berjalan dengan sendirinya.” Diibaratkannya, kalau ban mobil itu sudah berjalan, justru harus pandai menyetirnya. Jadi sudah tidak ada yang berat lagi. Maka dalam menyetir Al-Zaytun ini, dia mengaku bahwa itu dilakukan bersama dengan sahabat-sahabatnya. “Sekali waktu kita berhenti di pokok-pokok yang rindang, sekali waktu kita berhenti di padang yang terang,” ucapnya.

Sedangkan mengenai tantangan yang dihadapi selama ini, dia hanya mengatakan bahwa hidup tanpa tantangan, tidak akan menemukan manisnya hidup. Menurutnya, tantangan hidup adalah ciri bahwa kita diberi kesempatan untuk mengatasinya.

Memang, sesuatu yang tidak dimengerti jika masih ada yang merasa curiga dengan kehadiran Al-Zaytun, sebab menurut apa yang dilihat dan dialami dan diterima oleh penulis sendiri apa yang dicurigai oleh sebagian orang itu sangat jauh dari kenyataan yang ada.

Bahkan dalam suatu pembicaraan, ketika kami mengatakan bahwa kami berbeda aliran dengan Syaykh sendiri, dia malah mengatakan bahwa tidak ada perbedaan, “Selaku ciptaan Tuhan kita ini semua sama, paling tidak sama-sama satu bangsa Indonesia.” Menurutnya, sebagai satu bangsa Indonesia, berarti sudah punya keyakinan, satu nusa, satu bangsa, satu bahasa. Dan kejayaan kita ini justru ada di kebhinekaan tersebut. Ini yang harus kita syukuri.

Satu kiat dari Syaykh dalam mengatasi berbagai tantangan itu adalah dengan terus bergerak, bergerak maju, membangun, menata, mendidik. Tantangan itu menurutnya harus diatasi dengan cara demikian. Dan harus ditampilkan dengan sesuatu yang lebih baik. Dengan begitu tantangan itu justru akan memberikan satu nilai.

Termasuk berbagai pemberitaan dan buku yang menyudutkannya. “Bukan tidak dihiraukan. Sebanyak buku yang ada, itu kita baca semua, dan kita katakan, oh…ini di sini nih yang harus kita lalui, oh… ini di sini yang harus kita singkirkan, oh…di sini yang harus kita laju ke depan. Itu kita jadikan tantangan, dan kita siap mengatasinya,” katanya terbuka.

“Kalau reaksi kita tuangkan dalam bentuk tulisan, itu tidak punya makna apa-apa, dan akan mendapatkan warisan dari buku ke buku. Kita menginginkan reaksi itu dalam bentuk karya nyata, sehingga bangsa ini nanti menikmati karya bangsanya yang nyata itu. Kemudian mengenai masalah adanya orang mengatakan di sini sesat dan sebagainya atau yang berbentuk macam-macam tadi, sejarah nanti yang akan membuktikan. Kalau kita yang menulis sejarah, kita bisa melihat dan merasakan. Kalau sejarah yang menulis dirinya sendiri, kehancuranlah yang terjadi,” katanya menjelaskan.

Jadi menurutnya, jika sejarah itu ditulis sendiri dengan karya nyata, maka sudah pasti akan menulisnya dengan sebaik-baiknya. “Ini namanya karya sastra. Sebab sastra itu macam-macam, bukan cuma tulis saja. Sastra itu termasuk seni dalam mengelola apa pun. Kebetulan saya mendalami sastra karena sekolah di sastra dulu,” ujarnya.

Yang lebih jauh lagi, ada orang yang sempat menduga bahwa Al-Zaytun didirikan dalam rangka mendirikan Negara Islam Indonesia. Menanggapi dugaan-dugaan seperti itu Syaykh hanya mengatakan bahwa orang menduga boleh saja. Bahkan dia mengatakan bahwa diduga sesat pun dia takkan pernah membantahnya. Menduga mau mendirikan Negara Islam Indonesia pun dia tidak pernah menghiraukannya.

Tapi menurutnya, di dunia ini tidak boleh duga-duga, tapi harus berpikir modern. Setiap bergerak harus berdasar ilmu. “Sekarang, antara ilmu dan duga tadi, ketemu apa tidak? Jika itu ketemu maka ‘ilmu’ yang salah dan ‘duga’ yang betul. Tapi di dunia ini, duga itu tidak akan bisa mengalahkan ilmu,” ucapnya.

Ketenangan Syaykh dalam menghadapi segala tantangan tersebut sungguh menunjukkan kedewasaannya sebagai pemimpin. Namun, walaupun begitu, dia tetap merasa tidak berbeda dengan yang lainnya. Dia tidak merasa lebih unggul. Dia merasakan dan menjalani hidup ini dengan bijaksana. Apa yang diperintahkan konsep kehidupan, dilakukan. Apa yang dilarang oleh konsep kemanusiaan, dijauhi. Selamat. Itu saja caranya menjalani hidup. Dan keyakinannya, Tuhan pun akan suka.

Jika ada pertanyaan mengenai dari mana dana pembangunan Al-Zaytun, dia menganggap pertanyaan itu wajar saja. Tapi hendaknya jangan mengukur orang lain dengan ukuran diri sendiri. Sebab jika seseorang mengukur ukuran orang lain dengan dirinya, kadang tidak pas. Jadi kalau mengukur dengan parameter umum, maka hasil yang telah dicapai Al-Zaytun, menurutnya, masih wajar-wajar saja.

Mengenai dana, menurut Syaykh, merupakan hal yang gampang sebab setiap melompat (penemuan/pengembangan satu ilmu) selalu ada harganya. Jadi jika ada suatu lompatan, orang akan memberi apresiasi, hasilnya dibagi. “Jadi dana itu nggak susah, yang susah itu kalau kita tidak pernah berpikir mendanai ini,” katanya.

Dan yang lebih membanggakan, Departemen Agama dalam waktu singkat telah mengakui bahwa Al-zaytun merupakan tempat pendidikan yang digolongkan terbaik. Sertifikat penghargaan itu diberikan Januari 2004 lalu. Demikian juga dalam ujian-ujian sekolah menengah pertama, Al-Zaytun juga merupakan yang terbaik di Jawa Barat. Hal itu jelas merupakan suatu sejarah juga, yang bisa terjadi karena ditulis dan diukir. berindo/Ch. Robin Simanullang

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here