Humanis Religius PABU untuk Kaum Duafa

H. Qodiran
 
0
148

Besar di tengah keluarga miskin di Gunung Kidul, Yogyakarta, Dr. H. Qodiran berjuang menempuh pendidikan hingga mengabdi sebagai guru selama 28 tahun. Jalan hidupnya semakin tertuntun Sabda Rasullah bahwa “Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi mahluk yang lain” (HR. Ahmad); setelah dia mendirikan Yayasan Pundi Amal Bakti Ummat (PABU) yang membantu dan melayani masyarakat tak mampu, anak jalanan, dan yatim (Kaum Duafa). Lewat PABU, H. Qodiran dan para eksponen dan sahabatnya menjadi insan-insan humanis religius Islami yang mengimplementasikan Islam Rahmatan Lil’Alamin, dengan memberikan perhatian khusus kepada kaum duafa.

HC. H. Qodiran S.Pd.I., M.Si. MTJ, pria kelahiran Dusun Sambiroto, Kelurahan Pengkok, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta, 24 Januari 1958, seorang pemangku pendidikan yang berusaha menapaki jalan hidupnya sebagai seorang muslim yang memiliki sikap humanisme sesuai konsep Hablum Minallah, Hablum Minannas dan Hablum Minal Alam.

Bagi Haji Qodiran, ajaran dan prinsip atau dogma rahmatan lilalamin sejatinya meningkatkan hubungan dan mencerdaskan keimanan terhadap Allah Swt, sekaligus menjalin hubungan sesama manusia dan alam; bertaqwa kepada Allah Swt dengan menyebarkan kebaikan, rasa sayang, cinta, toleransi dan kedamaian bagi seluruh umat manusia, serta menjadi solusi bagi pemanfaatan dan pelestarian lingkungan hidup dan alam semesta. Prinsip Rahmatan Lil’Alamin yang Hablum Minallah, Hablum Minannas dan Hablum Minal Alam tersebut secara bersahaja (simple) dilakoni Haji Qodiran dengan memberikan perhatian khusus kepada kaum duafa.

Jalan Hidup
Hidup ini penuh misteri. Ada hal-hal yang terjadi dalam hidup ini yang tidak bisa dihindari dan mesti dihadapi dengan berani meski penuh tantangan dan air mata. Bak roda yang berputar, tidak selamanya hidup ini selalu berada di bawah. Itulah yang dialami oleh H. Qodiran, Pendiri sekaligus Ketua PABU Foundation dan Rektor Sekolah Tinggi Ilmu Jurnalis Nakula Sadewa (STIJNAS) ini.

Pria kelahiran 24 Januari 1958 ini sudah menjadi anak yatim saat duduk di bangku SD kelas 1. Ibunya, Tumiyem meninggal membuat Qodiran dan tiga saudara lainnya, dua laki-laki dan satu perempuan, yaitu Diyono, Siswajiyono, dan Halimah, kehilangan kasih sayang ibu.

Qodiran bersaudara juga hidup dalam kekurangan dan keterbatasan. Pendapatan ayahnya, Iman Senawi, sebagai petani, tidak menentu. Ia pun terpaksa putus sekolah karena tak ada biaya dan harus mengasuh adiknya yang masih kecil. Masa-masa sukar itu dilalui Qodiran di kota kelahirannya, Dusun Sambiroto, Kelurahan Pengkok, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul Yogyakarta.

Untunglah, setelah kakaknya tamat SMP dan merantau ke Jakarta, Qodiran bisa melanjutkan sekolah SD yang sempat tertunda. Bagi Qodiran, kesempatan bersekolah mesti dimanfaatkan sebaik-baiknya dan dia lulus SD pada tahun 1971. Saat duduk di bangku SMP, Qodiran mesti bisa mengelola emosi dan bersikap lebih dewasa. Sebab saat itu, ayahnya berulang kali gagal membina rumah tangga. Kondisi itu membuat Qodiran harus pandai-pandai menyesuaikan diri dengan ibu tirinya. Meski banyak hal yang mengganggu fokus sekolahnya, Qodiran akhirnya lulus SMP pada tahun 1975.

Setamat SMP, Qodiran memutuskan masuk pendidikan SPG, mengikuti jejak kakaknya yang lulusan guru/SPG. Jalan Qodiran untuk menyelesaikan pendidikan SPG juga tidak mudah. Sembari sekolah, dia harus bekerja membantu ekonomi keluarga. Dia dan saudara-saudaranya diberi tugas memelihara kambing, sapi, dan ayam, mencari rumput, termasuk membantu bertani di sawah atau ladang.

Saat duduk di bangku SPG, kelas 1 dan 2, setiap hari Qodiran mesti berjalan kaki sejauh 12 km pergi pulang, sambil menenteng sepatu dan buku. Karena ekonomi keluarga yang pas-pasan, Qodiran hanya bisa makan tiwul (singkong) setiap hari. Dia juga tidak punya uang saku/uang jajan. Meski demikian, Qodiran mengaku keadaan sulit itu membuat dia menjadi lebih kuat dan dewasa.

Saat duduk di bangku kelas 3, Qodiran tidak perlu lagi berjalan belasan kilometer karena dia menyewa kamar di sebuah rumah yang ada di dekat sekolah. Qodiran kemudian lulus SMA/SPG pada tahun 1979. Adik Qodiran pun menyusul menjadi guru. Ini artinya, dari empat bersaudara, hanya satu orang saja yang tidak menjadi guru.

Advertisement

Setamat SMA/SPG, Qodiran merantau ke Ciputat Jakarta Selatan karena seorang kerabatnya bekerja di perusahaan tekstil. Untuk keperluan melamar pekerjaan, Qodiran mengurus KTP di Cipinang Melayu, Jakarta Timur, RT 02 RW 02 dan tinggal di rumah kerabatnya yang bekerja sebagai guru di SD Putera Kalimalang Jakarta Timur.

Qodiran mencoba melamar menjadi guru di SD Putera dan diterima di sana. Setelah dua tahun lebih menjadi guru, Qodiran melamar sebagai PNS di DKI Jakarta dan bersaing dengan 5.000 orang yang mengikuti ujian. Doa Qodiran akhirnya dijawab Tuhan dan dia berhasil lolos sebagai PNS di DKI Jakarta pada tahun 1982.

Saat itu, Qodiran menghadapi dua pilihan. Antara menjadi guru PNS di DKI Jakarta dengan gaji Rp 27.500 atau tetap mengajar di sekolah swasta SD Putera dengan gaji lebih tinggi dari gaji di sekolah negeri.

Qodiran akhirnya memilih menjadi guru di SDN Kampung Tengah, Kramat Jati, DKI Jakarta dari tahun 1982 hingga tahun 1985 dengan gaji yang sangat kecil. Satu tahun setelah menjadi guru PNS, Qodiran melepas lajang dengan menikahi seorang guru SD Cipinang Muara Jakarta Timur dan dikaruniai dua anak perempuan. Bak dunia selebar daun kelor, rupanya sang isteri adalah teman Qodiran saat bersekolah di SPG Muhammadiyah. Namun sayang, pernikahan Qodiran kandas di tengah jalan setelah menikah 12 tahun.

Pada tahun 1986, Qodiran pindah mengajar ke SDN 06 Pondok Kelapa Jakarta Timur. Sembari mengajar, Qodiran bercita-cita menjadi seorang kepala sekolah. Pada usia 40 tahun, Qodiran menikah lagi dengan seorang perempuan asal Jombang Jawa Timur bernama Khotim Nurjanah dan dikaruniai tiga orang anak. Meski ada perbedaan usia yang cukup jauh dengan sang isteri, Qodiran mengaku tetap bisa merasakan kebahagiaan dalam berumah tangga.

Setelah 28 tahun mengabdi sebagai guru sekolah negeri, Qodiran memutuskan pensiun dini. Meski cita-citanya sebagai kepala sekolah tak terwujud, Qodiran tidak kecewa dan siap menghadapi apa yang akan terjadi di masa depan. Pada tahun 2010 itu, dia memutuskan menjadi seorang pengusaha sembako atau toko kelontong.

Sembari merintis bisnis, Qodiran membuat komunitas Komgesi (Komunitas Gerakan Sehat Indonesia). Komunitas yang beranggotakan 25 orang itu berkomitmen untuk hidup sehat dengan tidak merokok. Dalam perjalanannya, Komunitas Generasi Sehat Indonesia banyak berinteraksi dengan masyarakat miskin dan banyak berjumpa dengan masyarakat kaya.

Berawal dari empati kolektif Komgesi maka digagaslah sebuah manajemen Galang Kebersamaan dengan siapa saja yang peduli terhadap nasib masyarakat miskin. Lahirlah Yayasan Pundi Amal Bakti Ummat ( PABU) pada 3 Agustus 2015 yang berkantor pusat di Jl. Raya Ratna Rt 03/02 No. 84 D Kel. Jati Kramat, Kec. Jati Asih, Kota Bekasi, Jawa Barat, 17421.

Dengan latar belakang sebagai anak yatim dan keluarga tak mampu, Qodiran menggerakkan lembaga ini pada bidang sosial yang melayani masyarakat tak mampu, anak jalanan, dan yatim. PABU ingin melayani masyarakat melalui program pemberdayaan yang berkeadilan. Berawal dengan menyantuni 201 anak yatim di wilayah Jati Asih, Bekasi, kini total anak yatim binaan PABU sudah mencapai 1.036 anak. Anak-anak yatim itu dibekali pendidikan agama Islam dengan diajari ilmu Alquran.

Sebagai organisasi yang menjunjung tinggi pluralisme atau keberagaman, PABU juga membina dan membantu anak-anak yatim di Bali yang beragama Hindu. “PABU melayani semua anak yatim Indonesia tanpa membeda-bedakan agama,” kata Qodiran kepada wartawan Tokoh Indonesia.

PABU juga bergerak di bidang pendidikan yang berorientasi kebudayaan. “Melalui pendidikan seni dan budaya, kami ingin menanamkan bahwa budaya Indonesia itu sangat luhur dan harus dijaga, kegiatan belajar seni ini diwadahi dengan PABU Akademik,” kata Qodiran.

PABU Akademik sudah bekerjasama dengan penyanyi Sundari Soekotjo untuk mengajarkan seni lagu keroncong dan karawitan atau musik Jawa kepada peserta didik. Siswa-siswi PABU Akademik juga diikutkan lomba-lomba tingkat daerah untuk melatih keahlian dan mental mereka.

PABU kemudian mendirikan perusahaan media bernama PT Duta Indonesia yang bergerak pada bidang media online dan cetak. Demi mendukung dan memperkuat PT. Duta Indonesia, PABU mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Jurnalis Nakula Sadewa (STIJNAS) di tanah wakaf Depok pada 2 Mei 2019. Qodiran dipercaya menjadi rektor di sekolah tinggi tersebut. PABU juga membuka PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) yang menjangkau anak-anak putus sekolah dari kaum marjinal, sehingga tidak ada lagi anak Indonesia yang putus sekolah hanya karena persoalan ekonomi.

Tidak cukup di bidang pendidikan, PABU merambah ke dunia kesehatan dengan mendirikan sebuah klinik di Jalan Ratna. Hal ini bertujuan untuk menjaga kesehatan para pengurus Yayasan dan warga sekitar. Sebagai salah satu bentuk kepedulian sosial pada waktu virus Covid merajalela, PABU mendatangi rumah-rumah warga untuk memberikan bantuan dan berlanjut hingga sekarang.

Saat ditanya soal pendanaan, Qodiran mengatakan bahwa PABU menggalang dana dari masyarakat yang percaya pada program-program PABU. Kepercayaan masyarakat pada PABU semakin meningkat karena program-program PABU juga mendapat dukungan dari Pemerintah Kota Bekasi, Dinas Sosial, dan Baznas. Hingga tahun 2022, PABU sudah memiliki 19 cabang di antaranya, PABU pusat di Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, Tangerang Selatan, Tangerang kota, Purwakarta, Karawang, Ciamis, Sleman, Lampung Tengah, Kota Depok, Kota Blitar, Purwodadi, Tabanan Bali, Solo Raya, Kabupaten Tangerang, Jakarta timur, Jambi, Jakarta Utara dan Lebak Banten.

Selama delapan tahun mengelola PABU Foundation, Qodiran mengaku mendapatkan kebahagiaan yang tak terkira karena bisa berkunjung ke berbagai daerah seperti Lampung, Bali, Ciamis dan Jawa Tengah dan berinteraksi dengan 1.036 anak binaan Yayasan. Ini artinya, Qodiran bisa menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesamanya. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia (yang lain)” (HR. Ahmad).

Kini di usianya yang sudah berkepala enam, Qodiran sedang melanjutkan pendidikkan S2 di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Menara Siswa. Dia percaya bahwa manusia harus terus belajar tanpa batas usia.

Begitu pula dengan upaya dalam meraih mimpi atau cita-cita. Qodiran bercita-cita bahwa pada tahun 2029, PABU sudah mempunyai cabang di seluruh Indonesia bahkan dunia. Dimulai dengan perubahan nama dari PABU menjadi PABU Foundation. Dilanjutkan dengan membuka cabang di Paris yang dikelola oleh sahabatnya yang ada di Paris dengan menganut manajemen satu pintu.

Penulis: Rukmana Fadli, dan Sastra Suganda. Editor: ML Paniroy.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini