Idealis dalam Berkarya

[ Jay Subiyakto ]
 
0
133
Jay Subiyakto
Jay Subiyakto | Tokoh.ID

[DIREKTORI] Salah satu pelopor fashion photography dan video klip musik ini sukses memproduseri sejumlah pertunjukkan seni, karya foto kontemporer, dan fashion show. Megahnya konser para penyanyi papan atas seperti Chrisye, Krisdayanti, Ruth Sahanaya dan Rossa tak dapat dilepaskan dari tangan dinginnya. Selain seni modern, ia juga menggarap seni tradisional.

Jay Subiyakto lahir di Ankara, Turki pada 24 Oktober 1960. Ia adalah putra ketiga Kepala Staf Angkatan Laut Republik Indonesia (1948-1959), Laksamana R Subiyakto. Sebagai anak seorang perwira militer, sejak kecil ia dididik dengan penuh kedisiplinan. Termasuk dalam soal pendidikan, ayah Jay amat berharap anaknya dapat menjadi seorang insinyur andal.

Walaupun sebenarnya Jay tidak tertarik menjalani profesi itu namun untuk menyenangkan ayahanda tercinta, setamat SMA ia meneruskan pendidikannya ke Fakultas Teknik Jurusan Desain Arsitektur Universitas Indonesia. Hingga akhirnya ia resmi menyandang gelar sarjana arsitektur pada tahun 1981.

Karena sejak awal tidak berminat, Jay enggan menerapkan ilmunya sebagai seorang insinyur. “Pokoknya dia kecewa kenapa saya tidak jadi arsitek, walaupun saya kasih tahu kendalanya,” kata Jay mengenang sikap ayahnya. Tentunya hal itu bukan tanpa alasan. Menurut Jay, saat itu arsitek Indonesia tidak dihargai oleh bangsanya sendiri. Semua gedung-gedung tinggi dibangun oleh arsitek luar. Itulah mengapa pada akhirnya, ia memilih untuk tidak menekuni profesi tersebut.

Belakangan sang ayah meminta Jay untuk meneruskan studinya ke jenjang yang lebih tinggi dan mengambil jurusan bisnis. Kali ini Jay tidak dapat meluluskan keinginan ayahnya, “Saya nggak mau karena saya nggak bisa dagang. Buat apa buang uang kalau saya menjalani sesuatu yang tidak saya suka,” kata Jay.

Karena pembangkangannya, hubungan Jay dengan ayahnya pun menjadi terganggu. Selama 8 tahun, keduanya tak bertegur sapa. Namun seiring berjalannya waktu, Jay kemudian bisa mewujudkan keinginan terdalamnya untuk terjun di dunia seni walaupun harus mendapat tentangan dari ayahnya.

Kiprah Jay di bidang seni diawali tahun 1990 dengan menjadi seorang sutradara video klip. Video klip garapannya yang bertajuk Pergilah Kasih milik alm. Chrisye menjadi video musik Indonesia pertama yang ditayangkan di channel MTV ASIA yang pada waktu itu bermarkas di Hongkong. Tahun 2008, Jay juga menyutradarai video musik Anggun yang berjudul Berganti Hati. Video itu juga merupakan video pertama di Indonesia yang menggunakan kamera DSLR (Digital Single Lens Reflex). Jay termasuk sosok sutradara yang sangat selektif dalam menggarap video klip. “Saya akan menolak membuat video klip buat penyanyi yang nggak bisa nyanyi,” tegasnya.

Selanjutnya di tahun 1994, ia bersama Erwin Gutawa membuat sebuah terobosan yang belum pernah dilakukan oleh orang Indonesia di masa itu. Ia membuat konser tunggal yang menghadirkan penyanyi lokal. Di zaman itu, banyak promotor menghadirkan konser-konser penyanyi mancanegara. “Saya kemudian berpikir, kenapa ya nggak ada yang mau menghadirkan penyanyi Indonesia. Akhirnya saya coba untuk membuat konser Chrisye.”

Suami dari Elvara Jandini ini memang dikenal sebagai sosok yang turut mempelopori lahirnya fashion photography dan video klip musik. Ia juga tercatat sukses memproduseri sejumlah pertunjukkan seni, karya foto kontemporer, fashion show dan masih banyak lagi.

Bukan hal mudah bagi Jay mewujudkan keinginannya itu. Ia harus menghadapi cibiran banyak orang yang mengatakan, alm. Chrisye tak bisa berinteraksi dan bergaya di panggung. Jika menghadirkan penyanyi berpembawaan kaku seperti itu, tidak akan ada yang mau menonton konsernya nanti. Mendengar nada sumbang tersebut, Jay pun cuek saja dan berkonsentrasi menggarap konsep tersebut bersama Erwin Gutawa.

Tanpa diduga, tiket konser yang bertajuk Sendiri itu habis terjual. Kesuksesan itu kemudian berbuah konser-konser Chrisye berikutnya yang kembali digarap Jay, yakni Badai Pasti Berlalu pada tahun 2000 dan Dekade di tahun 2003. Ketiga konser tersebut diselenggarakan di tempat yang sama, JCC Plenary Hall Jakarta. Dengan demkian, mendiang Chrisye merupakan satu-satunya penyanyi yang mengadakan 3 kali konser tunggal di gedung tersebut.

Penyanyi lain yang konsernya pernah ditangani Jay antara lain Anggun, Rossa, D3VA, Ruth Sahanaya dan Krisdayanti. Dalam setiap konser, pekerjaan Jay ialah mempersiapkan hal-hal yang berkaitan dengan konser di atas panggung supaya terlihat menarik. Mulai dari tata panggung, tata cahaya, hingga koreografi.

Suami dari Elvara Jandini ini memang dikenal sebagai sosok yang turut mempelopori lahirnya fashion photography dan video klip musik. Ia juga tercatat sukses memproduseri sejumlah pertunjukkan seni, karya foto kontemporer, fashion show dan masih banyak lagi.

Selain seni modern, Jay juga menggarap seni tradisional, seperti pada Oktober 2010, ia menggelar pementasan Sendratari Matah Ati. Acara yang digelar di Esplanade Singapura pada 22-23 Oktober 2010 itu bercerita tentang Rubiah, pejuang perempuan yang menikah dengan Raden Mas Said dari Keraton Solo.

Proyek itu melibatkan 150 orang termasuk kru. Sebagai sutradara panggung, Jay menampilkan imajinasinya berupa panggung yang menantang sekaligus menjadi “siksaan” bagi 95 penampil. Diistilahkan sebagai siksaan karena butuh waktu hingga 1,5 tahun lamanya bagi penari berlatih. Selain itu, mereka juga diminta berimajinasi menari di kemiringan. “Gara-gara panggung miring, saya dimusuhi oleh semua penari he-he-he. Esplanade tidak sanggup membangun panggung yang saya mau, jadi semua peralatan panggung dibikin di Indonesia dan 25 ton peralatan diangkut ke Singapura,” kata Jay.

Kenapa harus miring? Rupanya ayah dari Kaja Anjali ini memperhitungkan sudut pandang penonton di gedung yang berkapasitas 1.700 tempat duduk. “Jika datar, tak menarik. Miring agar konfigurasi dan koreografi yang ditampilkan semua terlihat,” kata pria yang kerap menggunakan pakaian serba hitam itu.

Tak sia-sia, totalitas Jay dan anak buahnya berbuah manis karena pertunjukkan tersebut mendapat sambutan yang meriah. Jika tak ada aral melintang, mulai Maret 2011, ia akan menggelar pertunjukkan tersebut keliling ke 11 negara.

Di mata Jay sebagai seorang pecinta seni, Indonesia itu maha dahsyat dengan segala ide dan kebudayaannya. Pertunjukkan Matah Ati bisa berhasil di Singapura karena ia menyajikan apa yang menjadi budaya dan sejarah Indonesia. “Wayang Orang itu kan budaya kita. Kalau kita menyadari dan mengemasnya dengan menarik, karya kita pasti akan diapresiasi,” jelas Jay.

Tetapi yang menjadi hambatan, seringkali masyarakat Indonesia tidak menyadari hal tersebut. Ditambah pengaruh-pengaruh dari luar yang menjadikan Indonesia kehilangan jati dirinya. “Kalau saya menyajikan wayang orang ini di Indonesia, terus terang saja nggak akan laku. Tetapi karena biasanya bangsa ini lebih mengapresiasi pertunjukkan yang lebih dulu sukses di luar negeri, karena itulah saya melakukan hal tersebut,” katanya ketika ditanya mengenai alasan menyajikan Wayang Orang di negeri seberang.

Sebelumnya, masih di tahun 2010, Jay juga terlibat dalam festival seni budaya Gempita Gianyar, Bali. Ia bertindak sebagai art director dari salah satu pergelaran musik dalam gelaran festival yang diselenggarakan selama dua hari di Ubud itu. Menurut Jay, keterlibatannya ini merupakan cara sederhana untuk memperkenalkan kembali kesenian Bali. “Bagi saya, filosofi yang ingin disampaikan sebenarnya sangat sederhana dan niatnya tidak perlu muluk, yang penting adalah bagaimana menarik perhatian masyarakat untuk mau mengenal seni budaya negeri sendiri,” katanya.

Meski setuju dengan pemberdayaan industri wisata yang berbasis seni budaya, ia menegaskan bahwa tidak semua aspek kebudayaan bisa diperhitungkan secara ekonomi. Jay justru menganjurkan pola pikir yang tidak linier. “Jika negeri kita makmur, kebudayaan akan hidup. Bukan sebaliknya mengeksploitasi kebudayaan demi kemakmuran bangsa. Pemerintah harusnya menyadari bahwa berkesenian adalah proses yang resiprokal. Regulasi harus melindungi seni budaya, bukan membiarkan seni budaya dilindas zaman,” katanya seperti dikutip dari situs tempointeraktif.

Di penghujung bulan Desember 2010, untuk pertama kalinya, Jay bekerja sama dengan Mira Lesmana, Riri Riza, dan Andrea Hirata dalam penggarapan drama musikal Laskar Pelangi yang diselenggarakan di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, 17 Desember 2010 sampai 9 Januari 2011. Namun siapa sangka, seorang sutradara dan pengarah desain artistik yang sarat pengalaman seperti Jay ternyata mengaku harus mengeluarkan energinya secara maksimal ketika harus berhadapan dengan ketiga orang tersebut.

“Ini pekerjaan paling berat selama karir saya. Paling susah bikin set, 15 kali ganti set, 5 menit aja bisa ganti set sampai 3 kali,” ucap Jay Subiakto seperti dikutip situs kapanlagi.com.

Menurut Jay, set ini menggambarkan keadaan di Indonesia khususnya Belitong. “Pengen menyampaikan, kalau masih banyak sekali pekerjaan dari pemerintah. Kan sekarang banyak sekali daerah yang tak hanya tertinggal, tapi ditinggalkan oleh pemerintah. Setelah kekayaan alamnya dikeruk lalu jadi kota mati,” lanjutnya. Namun, energi maksimal yang dikeluarkan Jay agaknya terbayar karena sejak dulu ia memang bercita-cita untuk bisa bekerjasama dengan Mira, Riri, dan Andrea. “Ini adalah tim impian saya,” pungkasnya.

Meski sejumlah penghargaan dan prestasi telah diraihnya, Jay masih tetap terus ingin lebih berkembang lagi. “Kalau kesuksesan itu kan orang lain yang menilai. Saya sendiri belum merasa sukses. Yang penting saya memberikan yang terbaik saja tentang seni dan budaya kita sehingga akhirnya banyak generasi muda yang mendalami tradisi kita,” kata Jay.

Selain itu, ia juga mengungkapkan impian terbesarnya yakni menjadi seorang sutradara film layar lebar. “Tapi film berjenis lain yang merupakan pemikiran baru yang bercerita secara visual meskipun mungkin film saya ini susah masuk cineplex 21,” ungkap ayah satu anak ini.

Selain itu, sebagai seniman, Jay yang sangat mengidolakan sosok Bung Hatta yang tak lain adalah pamannya sendiri, bermimpi bahwa suatu saat kelak membangun sebuah gedung seni pertunjukan yang baik dari semua sisi untuk memajukan kesenian di Indonesia. Maklumlah, satu-satunya Gedung Kesenian yang memenuhi syarat saat ini hanya satu di Jakarta (Pasar Baru). Itupun merupakan peninggalan dari zaman Belanda.

Disamping disibukkan dengan kegiatannya sebagai art director, ia juga masih sempat menekuni hobi lamanya, fotografi. Hobi itu belakangan ia salurkan untuk menjadi konsultan fotografi di Majalah Harpers Bazaar Indonesia. Beragam profesi mulai dari sutradara video klip hingga fotografer pernah digelutinya. Namun saat ditanya ingin fokus pada pekerjaan yang mana, Jay dengan santai menjawab, ” Saya bosan melakukan sesuatu yang sama, karena itu saya selalu ingin tantangan baru. Kalau ditanya apa profesi saya, sepertinya saya ini pengangguran. Nggak jelas,” katanya sambil terbahak.

Yang jelas, Jay lebih suka disebut sebagai pekerja seni. Dengan menjadi pekerja seni, apapun bisa dilakoninya. Mulai dari dunia fotografi hingga sinematografi. eti | muli, red

Data Singkat
Jay Subiyakto, Sutradara / Idealis dalam Berkarya | Direktori | sutradara, musik, fotografer, video klip

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here