Berbisnis Berlandaskan Ajaran Buddha

[ Siti Hartati Murdaya ]
 
0
265
Siti Hartati Murdaya
Siti Hartati Murdaya | Tokoh.ID

[DIREKTORI] Bersama sang suami, pengusaha berjiwa filantropi ini menjalankan banyak bisnis seperti engineering, infrastruktur, teknologi informasi, manufaktur, agribisnis, kehutanan, hingga properti. Bisnisnya menggurita memperkerjakan lebih dari 42.000 karyawan yang tersebar di lebih dari 36 perusahaan di bawah bendera PT Central Cipta Murdaya (CCM) yang dulu lebih dikenal sebagai Grup Berca, salah satu grup usaha terbesar di Tanah Air. 

Terlahir dari keluarga Buddhis yang sangat taat, perempuan kelahiran Jakarta 29 Agustus 1946 ini memang tak bisa dipisahkan dengan kegiatan keagamaan. Sulung dari tujuh bersaudara ini sangat rajin membersihkan, menyapu dan mengepel Wihara serta mencuci jubah bhiksu. Sebab sejak kecil, ia sudah dididik kedua orang tuanya untuk senantiasa menanamkan nilai-nilai keagamaan. Ketika beranjak dewasa, ia semakin giat menggali ilmu agama Buddha dari banyak biksu yang kemudian memunculkan idealisme tentang banyak hal. Salah satunya adalah bagaimana bersikap welas asih pada sesama. Ia bahkan sempat bercita-cita menjadi seorang biarawati dan sempat menimba ilmu agama hingga ke Sri Langka.

Kegiatannya di bidang keagamaan merupakan langkah awal Hartati dalam menapaki dunia bisnis. Alasannya, ia ingin mengaplikasikan ilmu-ilmu agamanya dalam kehidupan sehari-hari. Menurut alumni Universitas Trisakti ini, ilmu pengetahuan tak ada gunanya kalau tanpa perbuatan nyata. Atas dasar itu, ia menganggap bisnis sebagai sarana untuk mempraktekkan ilmu agama yang telah diperolehnya. Berbagi pada sesama, itulah yang ingin dilakukan Hartati dengan kemampuan berbisnisnya. Dengan mengusung slogan “tidak hanya memberi ikan, tetapi juga memberi kail”, Hartati mendirikan perusahaan yang telah mempekerjakan puluhan ribu karyawan.

Bisnis sebenarnya bukanlah dunia baru bagi perempuan yang masih terlihat cantik di usianya yang sudah separuh abad lebih. Hartati mulai mempelajari seluk beluk dunia bisnis dari ayahnya, Tjakra Bhudi, mantan wartawan yang kemudian beralih menjadi pengusaha kayu.

Hartati juga sempat berkiprah di dunia politik dengan jabatan sebagai anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Jika ditanya soal keinginannya untuk kembali berpolitik, Hartati akan langsung menampiknya. “Saya tak mau lagi terjun ke dunia politik. Bikin stres. Kadang bahasanya nggak nyambung. Jika saya bicara A, B, C, tafsirannya bisa jadi D, E, F,” kata ibu empat anak ini. Meski demikian, di perhelatan akbar Pilpres 2009 lalu, Hartati tercatat sebagai salah satu penyokong utama tim sukses Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono persisnya sebagai Wakil Koordinator Operasi I.

Kini ia lebih memilih untuk menikmati hidupnya sebagai pengusaha. Pada tahun 2006, namanya bertengger sebagai satu-satunya wanita Indonesia yang tercantum sebagai pengusaha nasional terkaya versi Majalah Forbes. Dari 40 nama yang dipublikasikan majalah asing itu, ia dan sang suami, menduduki posisi ke-16. Kekayaan bersihnya diperkirakan sekitar 430 Juta Dollar atau sekitar 3,9 triliun rupiah. Ia bahkan mengalahkan sejumlah nama besar seperti Sjamsul Nursalim (US$ 295 juta), Djuhar Sutanto (US$ 135 juta), Tommy Winata (US$ 110 juta), dan Jusuf Kalla (US$ 105 juta).

Mengenai kesuksesannya tersebut, pebisnis yang gemar berolahraga, memasak, menjahit, dan berhias ini menyadari bahwa kesuksesannya tak lepas dari peran sang suami, Murdaya Widyawimarta Poo yang dikenal sebagai kontraktor di bidang kelistrikan. Pernikahannya dengan Poo di bulan Mei 1971 membuat naluri bisnisnya kian terasah. Hartati berujar, mungkin kalau tak ada sang suami, ia akan menjadi pribadi yang lebih konservatif. Terlebih lagi dengan latar belakang pendidikan akunting yang dimilikinya.

Bersama sang suami, Hartati kian bersemangat mengembangkan bisnisnya. Setelah sukses membesarkan bisnis alat-alat listriknya dengan membangun pabrik sendiri, ia pun melebarkan usahanya ke bidang lain, seperti engineering, infrastruktur, teknologi informasi, manufaktur, agribisnis, kehutanan, hingga properti. Bisnisnya pun semakin menggurita di bawah bendera PT Central Cipta Murdaya (CCM) yang dulu lebih dikenal sebagai Grup Berca, salah satu grup usaha terbesar di Tanah Air.

Bersama sang suami, Hartati kian bersemangat mengembangkan bisnisnya. Setelah sukses membesarkan bisnis alat-alat listriknya dengan membangun pabrik sendiri, ia pun melebarkan usahanya ke bidang lain, seperti engineering, infrastruktur, teknologi informasi, manufaktur, agribisnis, kehutanan, hingga properti.

Semua bermula pada sekitar awal 1970-an. CCM dulunya hanya dikenal sebagai perusahaan di bidang listrik dan konstruksi. Namun, kepiawaian Hartati menjalin lobi membuahkan kerja sama dengan sejumlah perusahaan listrik raksasa dunia, seperti Fuji Electric dari Jepang dan Asea Brown Boveri (ABB) dari Swiss. Berkat mitra asing yang kuat, ia kemudian dipercaya menjadi pemasok alat-alat listrik ke PLN. Berbekal keahlian lobi pula, CCM berhasil mengantongi lisensi produksi sepatu Nike di Indonesia. Bisnis lainnya adalah menjadi agen pemasaran produk-produk teknologi top dunia, seperti IBM, HP, Hitachi, Fujitsu, dan Symantec. Jumlah karyawannya menggelembung hingga mencapai 45 ribu orang.

Di masa Orde Baru, Grup CCM tertelan oleh kebesaran imperium bisnis Grup Salim (Liem Sioe Liong), Sinar Mas (Eka Tjipta Widjaja), dan Gajah Tunggal (Sjamsul Nursalim). Namun, semuanya berbalik justru ketika krisis ekonomi mendera Indonesia pada 1998. Di saat para konglomerat papan atas berjatuhan akibat belitan utang, CCM malah digdaya dan membidik tambang-tambang emas baru. Salah satu aset “emas” yang pernah dibidiknya yaitu Bank Central Asia. Upayanya, bersama Standard Chartered Bank, membeli bank eks milik Grup Salim ini kandas di tengah jalan.

Meski begitu, Murdaya berhasil mengantongi aset Salim lainnya, yaitu PT Metropolitan Kencana. Perusahaan properti ini dibelinya dari Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) senilai Rp 600 miliar pada 2002. PT Metropolitan Kencana adalah pengembang properti terkenal yang memiliki mal mewah Pondok Indah Mall I dan II, juga sejumlah gedung mentereng di kawasan Sudirman, Jakarta, seperti Wisma Metropolitan I dan II, serta World Trade Center. Di kawasan tersebut, CCM membangun proyek prestisius superblok Pondok Indah Town Center dengan investasi Rp 15 triliun hingga tahun 2010.

Hartati juga sukses mengakuisisi perusahaan yang mengelola pusat pameran terbesar di Indonesia di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, Jakarta International Expo (JIE), dengan nilai transaksi US$ 120 juta atau sekitar Rp 1 triliun. Meski terbilang pemain baru dalam bisnis pameran dan keuntungannya tergolong minim, 3%-4% dari pendapatan, Hartati berkomitmen untuk terus mengembangkan perusahaannya. Untuk hasil yang maksimal, banyak upaya yang ia lakukan. Salah satunya adalah mempercepat perbaikan sarana dan prasarana pendukung yang menelan dana lebih dari Rp60 miliar. Selain itu, sebuah convention hall dan hotel yang luasnya melebihi Jakarta Convention Center juga sedang dibangun di sana.

Lewat JIE, ia bertekad mewujudkan ambisinya, yakni menggelar event-event bertaraf internasional. “Saya benar-benar bergairah dalam mengelola proyek ini. Bahkan seandainya rugi pun akan saya tomboki dari perusahaan-perusahaan saya yang lain,” akunya. Semangat Hartati ini tak lepas dari obsesi yang ingin diwujudkannya. “Saya ingin seperti Singapura, yang meski negaranya kecil, karena SDM-nya terlatih, pameran dan service business-nya bagus, sehingga memungkinkan banyak pihak berinteraksi, termasuk dari luar negeri. Jika ini terjadi, saya optimistis roda bisnis di Tanah Air akan kembali bergairah,” jelasnya.

Optimisme Hartati itu tergambar jelas dalam setiap langkahnya. Meski sebelumnya Hartati sempat terlibat konflik dengan pengelola lama saat mengambil alih hak pengelolaan PRJ (Pekan Raya Jakarta), hal itu tak membuatnya mundur dari tender penyelenggaraan event tersebut. Bahkan, ketika itu, ia tak segan-segan untuk menempuh jalur hukum.

Bukan hanya di bidang bisnis, Hartati juga sempat terlibat masalah berkenaan dengan aktivitas keagamaan yang dilakoninya. Ia sempat menghadapi konflik internal di Walubi. Ketika itu, salah satu aliran, yang juga anggota Walubi, ingin mengambil peran yang lebih besar dalam kepengurusan. Untuk mengatasi persoalan tersebut, awalnya Hartati memilih jalan bernegosiasi. Namun, ketika jalur itu buntu, ia pun mengambil kebijakan yang tegas, yakni mengeluarkan aliran tersebut dari keanggotaan Walubi.

Ketegasan sikap juga ia tunjukkan ketika perusahaannya yang berbendera PT Intracawood Manufacturing (IM) menghadapi persoalan pelik, yakni izin Hak Pengusahaan Hutan (HPH)-nya terancam dicabut oleh pemerintah. Hartati tak mau begitu saja menyerah karena ia yakin bisnisnya dijalankan dengan cara-cara yang bersih. Itulah Hartati. Di balik kelembutan dan sifat welas asih yang ditirunya dari ajaran Sang Buddha, tersimpan segudang keberanian dan semangat. eti | muli, red

Data Singkat
Siti Hartati Murdaya, Pengusaha, Pemimpin Grup Central Cipta Murdaya (CCM) / Berbisnis Berlandaskan Ajaran Buddha | Direktori | Pengusaha, Trisakti, Tarumanegara

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here