Jalan Hidup Si Penggemar IT

Bobby Sangka
 
0
311
Bobby Sangka dan Istri
Bobby Sangka dan Istri

https://tokoh.id/bobby-sangka/

CEO PT Metrocom Global Solusi (MGS), Roberto Blasius Sangka yang populer dipanggil Bobby Sangka berhasil membawa perusahaan masuk dalam daftar sepuluh besar perusahaan IT di Indonesia dan sudah dipercaya mengerjakan proyek-proyek IT di sektor pemerintah dan swasta. Cucu dari pendeta martir Toraja, Pdt. Pieter Sangka Palisungan ini mengedepankan kepemimpinan yang memberdayakan dan selalu melihat sisi terbaik orang lain. Sosok yang sayang keluarga ini punya keyakinan bahwa teknologi informasi bisa menjadi salah satu alat untuk mendorong keberhasilan dan perubahan.

Bobby Sangka, kelahiran Makassar, 23 November 1966, besar di tengah keluarga akademisi. Dia masih ingat betul bagaimana kedua orang tuanya mendidik dengan ketulusan dan penuh kasih. Tidak hanya lewat ucapan tetapi juga lewat perbuatan dimana mereka selalu menanamkan bahwa pendidikan itu penting dan senantiasa menjaga hubungan yang intim dengan Tuhan.

Ayahnya, Prof. Ir. Samuel Sangka, MSME merupakan lulusan teknik mesin ITB Bandung yang kemudian mengabdikan keilmuannya di Universitas Hasanuddin Makassar. Saat ayahnya melanjutkan studi S2, Bobby Sangka yang waktu itu duduk di bangku SMP kelas 2 di kota Makassar, ikut diboyong ke Negeri Paman Sam (Amerika).

Pada masa SMP di luar negeri itulah, Bobby mulai mengenal dan menaruh minat yang besar pada dunia teknologi informasi (IT). Bobby juga termasuk hebat dalam pelajaran matematika dan selalu mendapat nilai 10 di kelas. Melihat minat dan kemampuan Bobby itu, ayahnya hadir sebagai sosok yang sangat mendukung minat Bobby pada dunia IT.

Masih segar dalam ingatan Bobby, saat di kelas 3 SMP, sang ayah menanyakan jurusan studi pilihannya, yang dia jawab mau belajar teknologi informasi. Mendengar hal itu, ayahnya menjawab, “Sudah jauh-jauh ke Amerika ya kamu harus belajarnya juga IT. Kamu cocok masuk IT.” “Di Indonesia kan belum ada saat itu. Beliau paham kalau saya memang jago matematika,” kenang Bobby tentang ayahnya.

Hal lain yang sangat diingat Bobby tentang ayahnya adalah beliau merupakan pribadi yang sangat tegas, pemberani, idealis dan mendedikasikan hidupnya untuk bidang keilmuannya. Namun sedihnya, satu hari sebelum dilantik menjadi anggota dewan, ayahnya dipanggil pulang oleh Tuhan. Peristiwa ini terjadi ketika Bobby sudah pulang ke Indonesia.

Sedangkan ibunya, Elizabeth Warouw yang berdarah Manado, adalah sosok perempuan yang setia dan sangat menyayangi anak-anaknya, bahkan memberi banyak waktunya untuk aktif dalam bidang sosial dan pelayanan gerejawi. Bobby mengaku tidak malu disebut ‘anak mami’ karena sangat dekat dengan ibunya. Soalnya, hampir setiap hari Bobby teleponan dengan ibunya.

Seiring dengan berjalannya waktu, minat Bobby pada dunia teknologi informasi terus menyala. Itulah sebabnya, setamat SMA, Bobby melanjutkan kuliah ke Washington State University, USA, mengambil bidang ilmu Computer Science (Electrical Engineering) dan lulus pada tahun 1989.

“Sudah jauh-jauh ke Amerika ya kamu harus belajarnya juga IT. Kamu cocok masuk IT,” kata sang ayah.

Selesai kuliah, Bobby memutuskan pulang ke Tanah Air. Dia sempat tinggal dan beradaptasi selama enam bulan di kota kelahirannya lalu merantau ke Jakarta untuk merintis karier dan bekerja di beberapa perusahaan asing. Dia pernah bekerja sebagai konsultan untuk proyek Bank Exim Jakarta di SGV Utomo/Andersen Consulting (1990-1991). Dia kemudian bekerja sebagai Assistant Manager of Professional Services di PT. Sisindosat selama lima tahun, 1991-1996. Keluar dari PT. Sisindosat, Bobby melamar dan bekerja sebagai Manager of MIS di NovaSprint Consulting PTE, LTD (1996-1998).

Advertisement

Pada 11 Oktober 1997, Bobby melepas lajang dan menikahi seorang perempuan cantik bernama Agustina Sangka. Setelah menikah, istrinya mengundurkan diri dari perusahaan Bank tempatnya bekerja, dan sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga.

Saat itu mereka memilih tinggal di rumah kos-kosan di daerah Bintaro Jakarta Selatan. Padahal keduanya sama-sama berasal dari keluarga mapan, namun mereka tidak tidak pernah mau menyampaikan keadaannya kepada orang tua dan mertuanya. Selama dua bulan indekos, sang istri meminta supaya sebaiknya mencari rumah kontrakan saja, dan mereka berdua pun pindah.

Saat baru menikah, Bobby yang gemar traveling ini mengaku dirinya hanya memiliki mobil Timor. “Kami mulai semuanya dari nol,” urainya. Barulah di tahun 2002, Bobby bisa membeli mobil baru dan rumah.

Penulis: Yenita. Foto: Rigson (dokpri). Editor: ML Paniroy.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini