Jurnalis Berpikir Mulia

[ PK Ojong ]
 
0
83
PK Ojong
PK Ojong | Tokoh.ID

[DIREKTORI] Peng Koen Auw Jong, yang kemudian populer dengan nama PK Ojong (Petrus Kanisius Ojong), adalah salah satu pendiri Kelompok Kompas – Gramedia. Dia seorang jurnalis berpikir mulia. Baginya idealisme tak boleh berjalan sendirian, tapi harus didampingi kecerdasan, kepiawaian berusaha, dan watak nan indah. Mantan Bos Kompas ini meninggal  tahun 1980.

Sebagai kuli tinta, sejak awal usia 30-an, PK Ojong sudah dihadapkan pada pilihan rumit: berpena tajam atau dibredel. Rasanya, mustahil menjadi jurnalis idealis. Beruntung dia punya “penasihat spiritual” berhati emas, yang banyak memberi pelajaran. Salah satunya: idealisme tak boleh berjalan sendirian, tapi harus didampingi kecerdasan, kepiawaian berusaha, dan watak nan indah. Jika tidak, bersiap-siaplah menjadi martir.

Cuplikan perjalanan hidup Petrus Kanisius Ojong, yang dibesut Helen Ishwara dalam buku PK Ojong: Hidup Sederhana, Berpikir Mulia (2001) terasa bak tuntunan bagi wartawan dalam membangun media cetak dengan baik dan benar. Pengalamannya, berlatar belakang intrik politik Orde Lama dan Orde Baru, begitu rinci.

Sejak lahir di Bukittinggi, 25 Juli 1920, dengan nama Peng Koen Auw Jong, Ojong sudah dikaruniai anugerah tak terkira. Yakni sang ayah, Auw Jong Pauw, sejak dini giat membisikkan kata hemat, disiplin, dan tekun ke telinganya. Jong Pauw yang petani di Pulau Quemoy (kini wilayah Taiwan) selalu memimpikan kehidupan yang lebih baik. Maka ia merantau ke Sumatra, tepatnya Sumatra Barat.

Kelak, meski sudah menjadi juragan tembakau, trilogi hemat, disiplin, dan tekun tetap dipedomani keluarga besar (11 anak dari dua istri; istri pertama Jong Pauw meninggal setelah melahirkan anak ke-7. Peng Koen anak sulung dari istri kedua) yang menetap di Payakumbuh ini. Saat Peng Koen kecil, jumlah mobil di Payakumbuh tak sampai sepuluh, salah satunya milik ayahnya.

Artinya, mereka hidup berkecukupan. Tapi, Jong Pauw selalu berpesan, nasi di piring harus dihabiskan sampai butir terakhir. Sampai akhir hayat, Peng Koen tak pernah menyentong nasi lebih dari yang kira-kira dapat dihabiskan.

Bahkan setelah menjadi bos Kompas – Gramedia, Ojong tak berubah. “Uang kembalian Rp 25,- pun mesti dikembalikan kepada Papi,” bilang putri bungsunya, Mariani. Ojong mempunyai enam anak, empat di antaranya laki-laki.

Namun, ia tak “pelit” pada orang atau badan sosial yang benar-benar membutuhkan, bahkan rela menyumbang sampai puluhan juta dolar. Tapi, jangan minta duit untuk pesta kawin, atau perayaan Natal sekalipun. “Kalau tidak punya uang, jangan bikin pesta,” kilahnya selalu.

Profesor pikun dan perjaka tua
Peng Koen juga berdisiplin tinggi dan serius, seperti dia tunjukkan saat bersekolah di Hollandsch Chineesche School (HCS, sekolah dasar khusus warga Cina) Payakumbuh. Di masa ini, ia berkenalan dengan ajaran agama Katolik.

Beberapa waktu kemudian, dia masuk Katolik dan mendapat nama baptis Andreas. Dolf Tjoa Tjeng Kong, mantan teman sekelas di HCS, mengingatnya sebagai murid serius. “Dia bukan cuma pandai, tapi juga banyak bertanya,” tegas Dolf.

Sedangkan di rumah, adik-adiknya menjadi saksi betapa disiplinnya Peng Koen. Dia suka bertanam, tapi tidak suka tanaman yang tak terurus. Mereka kerap dimarahi kalau membiarkan halaman terlantar.

Jika Peng Koen di rumah (ia sempat pindah ke HCS Padang), sebelum pukul 17.00 adik-adiknya cepat-cepat mandi. Bila tidak, mereka bisa diseret ke kamar mandi. Tak heran, adik-adiknya pun takut padanya.

Di sisi lain, kakak-kakak (tiri) menganggap dia sebagai “orang dewasa”. Ia memang terlihat cepat matang dan senang ngobrol dengan orang dewasa di kedai kopi. Di Hollandsche Chineesche Kweekschool (HCK, sekolah guru), ia gemar membaca koran dan majalah yang dilanggani perkumpulan penghuni asrama. Kalau murid lain cuma memperhatikan isi tajuk rencana, Auwjong menelaah juga cara penulisan dan penyajian gagasan.

Sifat-sifat itu membentuk karakter Auwjong. Kebiasaan hemat membuatnya hati-hati dan teliti. Disiplin dan tekun membentuk dia jadi orang yang lurus dan serius. Semasa kuliah hukum, Oei Tjoe Tat, rekan kuliah yang kemudian menjadi menteri negara di akhir masa pemerintahan Sukarno, berkomentar, “Ia sering terlalu serius menanggapi segala hal. Kalau melucu, lelulonnya kering.”

Cerita mantan teman-temannya di HCK lebih “seru”. Di sekolah guru setingkat SLTA ini, Auwjong terpilih sebagai ketua perkumpulan siswa. Ia bertugas menyediakan bahan bacaan buat anggota serta menyelenggarakan pesta malam Tahun Baru Imlek dan piknik akhir tahun. Di malam Imlek, tradisinya digelar acara polonaise, sandiwara, menyanyi, dan makan malam istimewa.

Tapi Auwjong cuma ngobrol dan ngobrol. Konon, ia agak kaku jika berhadapan dengan lawan jenis. Seorang ibu, bekas teman sekelasnya dan kini pengusaha toko manisan di Cianjur, Oei Yin Hwa, masih ingat betul, di sekolah Auwjong dijuluki verstrooide professor alias profesor pikun.

Mengenai julukan, nama Auwjong juga punya sejarah lucu. Lain dengan ayahnya yang menulis “Auw Jong” terpisah, Ojong justru menuliskan “Auwjong” versi sambung. Bulan Agustus 1937, saat memperkenalkan diri di depan teman-temannya di HCK, Auwjong menyebut namanya dengan aksen Sumatra Barat yang kental. Sampai ada teman sekelasnya mengira Auwjong berkata ouwe jongen alias “perjaka tua”. (Sumber: Intisari Novemeber 2002) e-ti

Data Singkat
PK Ojong, Wartawan Senior, Pendiri Kompas-Gramedia / Jurnalis Berpikir Mulia | Direktori | Wartawan, Kompas, Pengusaha, pendiri

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here