Menjadi ‘Mata’ Bagi Pemirsa

[ Najwa Shihab ]
 
0
147
Najwa Shihab
Najwa Shihab | Tokoh.ID

[DIREKTORI] Najwa Shihab, sarjana hukum yang banting setir menjadi jurnalis ini, terkenal lewat acara talkshow ‘Mata Najwa’ yang sering mewawancarai tokoh-tokoh penting dan mengulas isu-isu yang sedang mendapat sorotan publik. Selain kecantikannya, kecerdasannya dalam ‘mengorek’ narasumber demi mendapatkan sebuah jawaban menjadi sesuatu yang selalu dinanti pemirsa.

Nana, begitu ia biasa disapa, mengawali kariernya sebagai wartawan di stasiun televisi swasta pertama, RCTI. Kala itu, ia masih magang sebagai reporter. Di saat yang sama Andy F Noya juga dititipkan Surya Paloh pemilik Metro TV untuk “magang” sebagai pemimpin redaksi di RCTI. “Bang Andy bilang, nanti akan ada televisi berita baru. Saya disuruh kirim lamaran ke Metro TV. Saya kirim, ternyata diterima. Saya reporter pertama,” kenang Nana. Di Metro TV, acara yang dipandu oleh Najwa antara lain menjadi anchor program berita prime time Metro Hari Ini dan program talk show Today’s Dialogue.

Dilihat dari latar belakang keluarga, Nana bukan berasal dari keluarga jurnalis. Keluarga besarnya kebanyakan berprofesi berbagai pedagang, pendidik, dan politisi. Kakeknya, Habib Abdul Rahman adalah mantan Rektor Universitas Islam Negeri Makassar. Bapaknya juga seorang pendidik dan ulama. Diakui Najwa, jurnalistik dunia yang menyenangkan.

Terlahir dalam keluarga yang relijius, sejak kecil Nana sudah diberikan pendidikan agama yang kuat. Nana kecil sudah dimasukkan ke TK Al-Quran. Masih segar dalam ingatan wanita bermata indah ini, tiap kali melakukan kesalahan, sang guru memukulnya dengan kayu kecil. Shalat Magrib berjamaah dan tadarus Al-Quran menjadi ritual wajib keluarga Shihab. Bahkan Nana dengan lima orang saudaranya sejak magrib harus ada di rumah. “Jadi berjamaah magrib, ngaji Al-Quran, lalu ratib Haddad bersama. Itu ritual keluarga sampai saya SMU,” katanya.

Selain agama, pendidikan bagi keluarga Shihab merupakan hal yang tidak bisa ditawar-tawar. “Pendekatan pendidikan di keluarga tidak pernah dengan cara-cara yang otoriter. Saya rasa itu sangat mempengaruhi, bagaimana pola didik orang tua ke anak akan mempengaruhi perilaku,” ujarnya.

Semasa duduk di bangku sekolah, Nana dikenal sebagai siswa yang cerdas. Berkat prestasi akademiknya, Nana mendapat kesempatan dari AFS (America Field Service) untuk mengikuti program pertukaran pelajar ke Amerika Serikat saat ia masih duduk di bangku kelas dua SMU.

Awalnya pihak keluarga sempat keberatan karena harus melepas selama setahun anak perempuannya yang baru berusia 16 tahun. “Sempat terjadi perdebatan keluarga. Waktu itu yang paling mendukung ayah saya. Apa pun untuk pendidikan akan diperbolehkan. Dalam usia itu pun beliau sudah memberikan kepercayaan, walaupun di sana dia sudah dibekali agama, mereka percaya shalatnya tidak akan ditinggal. Dan alhamdulillah saya bisa menjaga kepercayaan itu,” cerita Nana.

Tidak hanya persoalan pendidikan, kebebasan juga diberikan oleh sang bapak untuk menentukan pasangan hidupnya. “Bahkan saat saya memutuskan untuk nikah muda, 20 tahun, ayah memberi kepercayaan. Bagi beliau yang penting kuliah selesai,” jelas Nana. Menurut Nana, menjelang pernikahannya, keluarga sempat ragu, tapi karena pengalaman kakaknya yang nikah saat usia 19 tahun, akhirnya diizinkan. Tapi sebelum itu, mereka sekeluarga umroh dulu. Di sana, sang ayah katanya menanyakannya apakah sudah mantep, yang kemudian dijawabnya sudah. “Ya sudah diizinkan,” tutur istri Ibrahim Syarief Assegaf ini.

Sepuluh tahun menjadi presenter berita di Metro TV, Nana akhirnya mulai diberi kepercayaan untuk memiliki acara sendiri. ‘Mata Najwa’ adalah nama program talk show yang sejak tahun 2009 dikelola sekaligus dibawakan oleh alumnus Sarjana Hukum dari Universitas Indonesia ini.

Quraish Shihab, sang ayah yang juga pakar tafsir itu, bagi Nana adalah sosok bapak yang santai. “Senang joke-joke Abu Nawas, ketawa-ketawa,” kisahnya. Sebagai anak, Najwa sangat kagum pada bapaknya. Di mata Nana, Quraish adalah pribadi yang tekun, pandai, baik, dan santun. Menurutnya, usai shalat Subuh, sang ayah langsung duduk di depan komputer, menulis dan membaca. “Kebiasaan abi (panggilan pada ayah) sampai sekarang masih berkesan bagi diri saya. Ia sosok bapak yang rajin,” tutur wanita yang senang menonton film komedi romantis ini suatu ketika pertengahan tahun 2010. Dari ayahnya pula ia belajar kedisiplinan dan ketekunan. Berkat kedisplinan serta ketekunan yang diwarisi sang ayah, Nana berhasil menapaki tangga kesuksesan sebagai seorang jurnalis.

Sebagai pembawa acara, sebagian besar pemirsa televisi tentu tidak bisa melupakan betapa emosionalnya Nana saat meliput tragedi Tsunami di Aceh tahun 2004. Meski demikian, ia tidak kehilangan daya kritis dan ketajamannya. Liputan dan laporannya mengenai bencana yang menelan korban hingga 200ribuan jiwa itu dinilai memberi andil bagi meluasnya kepedulian dan empati masyarakat luas terhadap tragedi kemanusiaan tersebut. Hal itu pula yang mendasari PWI memberikannya penghargaan pada 2 Februari 2005. Tidak hanya datang dari PWI, pada Hari Pers Nasional (HPN) yang dilangsungkan di Pekanbaru, Riau 9 Februari 2005, Nana juga meraih penghargaan HPN Award.

Pujian untuk Nana pun mengalir dari berbagai pihak. Pakar komunikasi dari Universitas Indonesia, Effendi Ghazali misalnya pernah menyitir judul film drama komedi terkenal Amerika, Kramer Vs Kramer dan menganalogikannya menjadi “Shihab Vs Shihab” melihat kegarangan Nana ketika menjadi pembawa acara saat terjadi peristiwa tsunami Aceh tahun 2004. Shihab pertama adalah Najwa Shihab, sedangkan yang kedua adalah Alwi Shihab, yang masih punya hubungan saudara dengan Nana. “Najwa mengkritik penanganan bencana yang dilakukan pemerintah yang diwakili oleh Menko Kesra Alwi Shihab,” kata Effendi Ghazali. Dalam reportasenya, Najwa menyampaikan bahwa bantuan terlambat dan tak terkoordinasi, sementara mayat-mayat bergelimpangan tidak tertangani. “Shihab Vs Shihab,” kata Effendi untuk menggambarkan bagaimana Najwa Shihab sebagai wartawan tetap garang dalam menyuarakan kepentingan publik dan korban tsunami di Aceh.

Sepuluh tahun menjadi presenter berita di Metro TV, Nana akhirnya mulai diberi kepercayaan untuk memiliki acara sendiri. ‘Mata Najwa’ adalah nama program talk show yang sejak tahun 2009 dikelola sekaligus dibawakan oleh alumnus Sarjana Hukum dari Universitas Indonesia ini.

Ide nama ‘Mata Najwa’ sendiri berasal dari karakter fisik yang menonjol pada dari Nana yaitu mata. Najwa memang dianugerahi mata yang bulat dan besar. Pesona fisiknya itu diakui sendiri oleh Najwa. Melalui acara ‘Mata Najwa’, ia berharap pemirsa bisa menitipkan pesan. Bukan hanya mata secara fisik, tapi ada nilai lain di balik ‘Mata Najwa’ yaitu mata hati dan mata akal. Itulah makna filosofi yang mau ditonjolkan. “Lewat ‘Mata Najwa’ kita melihat yang belum pernah dilihat. Mungkin sudah pernah dilihat tapi melalui sudut mata berbeda,” tambah lulusan Master Hukum Media Melbourne Law School ini.

Dalam mengelola program ‘Mata Najwa’, Nana mengaku awalnya dibantu sekitar tujuh kru. Semuanya siap menghadirkan berbagai nara sumber, bahkan mereka siap melakukan liputan ke mana saja. Semua itu dilakukan demi kualitas program dan kepuasan penonton. Sebagai wartawan senior, Najwa sangat paham seluk beluk industri media massa. Ia sadar, keberadaan sebuah media tak bisa lepas dari kepentingan pemilik modal. Meski demikian, ia merasa tidak pernah diintervensi oleh pemilik modal. Begitu juga dengan program ‘Mata Najwa’, ia diberikan kebebasan dalam menentukan tema.

Najwa tercatat sebagai jurnalis yang pertama mewawancarai Presiden SBY, tidak lama setelah pelantikan. Selama karirnya Najwa sudah mewawancari banyak tokoh politik nasional. Selain itu, Najwa juga pernah mewawancarai tokoh mancanegara diantaranya mantan Deputi Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim.

Pada Juni 2012, Najwa nyaris mendapat sanksi berat dari perusahaannya setelah namanya dicatut untuk mendukung pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahja Purnama. Najwa Shihab terkejut nama dan “testimoni”-nya tiba-tiba muncul dalam dalam website resmi Jokowi-Basuki. Najwa sebagai pribadi dan dari Metro TV kemudian melayangkan surat keberatan kepada pihak Eep Saefullah Fatah selaku konsultan politik pemenangan Jokowi-Basuki pada Jumat (25/5/2014).

Ketika namanya semakin banyak dikenal orang, Najwa tak lantas berbesar kepala. Ia sadar sebagai wartawan masih harus banyak menggali potensi diri dan mengasah kemampuannya, salah satunya dengan banyak membaca. Nana pun bertekad menjalani profesinya itu dengan sepenuh hati dan tanggung jawab. Maka dari itu, ia pantang menolak tugas yang diamanatkan padanya. Sebagai seorang wartawan, Nana pun harus siap terjun ke lapangan kapan pun dibutuhkan. Meski demikian, di sela-sela kegiatannya yang padat dan tak kenal waktu, ia selalu berusaha meluangkan waktu untuk berkumpul bersama keluarga dan anak semata wayangnya Izzah Ibrahim Assegaf.

“Sekarang setiap Sabtu dan Minggu saya manfaatkan untuk keluarga. Dilema ibu pekerja, merasa bersalah kalau terlalu sibuk. Saya diuntungkan keluarga besar, dan dekat dengan nenek, kakek, dan mertua,” ujar Najwa. Dalam mendidik anak, Nana berbagi peran dengan Ibrahim Syarief Assegaf, suaminya. Sebagai suami, pria yang akrab disapa Ibrahim tersebut sangat mengerti ritme kerja sang istri. Bagi Najwa, Ibrahim bukan sekadar suami dan ayah dari Izzah namun juga kritikus nomor satunya.

Sebagai pembawa acara, Najwa berambisi menjadi seperti Oprah Winfrey. Ia sangat mengagumi sosok Oprah karena berasal dari kelas kecil dan termarjinalkan. Menurut perempuan berkulit putih ini, semua orang yang bekerja di televisi pasti ingin seperti Oprah. Sempat dicap sebagai warga negara kelas dua, kini sosok Oprah masuk dalam daftar orang yang berpengaruh di Amerika. Sampai-sampai presiden ingin datang ke talk show-nya. Bio TokohIndonesia.com | muli, red

Data Singkat
Najwa Shihab, Jurnalis, Pembawa acara / Menjadi ‘Mata’ Bagi Pemirsa | Direktori | Wartawan, cantik, presenter, jurnalis, mata najwa, cerdas

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here