Pelantun Tembang Keroncong

[ Sundari Soekotjo ]
 
0
322
Sundari Soekotjo
Sundari Soekotjo | Tokoh.ID

[DIREKTORI] Di tengah menjamurnya band rock dan penyanyi yang mengusung musik kontemporer, Sundari Soekotjo tetap konsisten sebagai penyanyi keroncong. Meski kerap dicap sebagai lagu nenek-nenek, penerima Keroncong Award 2002 ini senantiasa berusaha mengajari dan mengemas keroncong agar tetap dikenal dan disenangi. Selain menjadi penyanyi, ia juga terpanggil di dunia pendidikan yang membuatnya terpilih sebagai Duta Aksara bagi Departemen Pendidikan Nasional. 

Unti, demikian Sundari Soekotjo biasa disapa. Perempuan kelahiran Jakarta, 14 April 1965 ini adalah anak kedua dari tiga bersaudara dari pasangan Lettu TNI AU R. Soekotjo Renodihardjo dan Herini. Sejak kecil, telinganya sudah akrab dengan lagu keroncong yang kerap dinyanyikan sang ayah, Soekotjo, tentara yang hobi menyanyi. Terlebih lagi, Unti kecil sering menyaksikan aksi si Ratu Keroncong, Waldjinah, saat tampil bernyanyi di layar kaca lengkap dengan kebaya dan sanggulnya. Itulah mengapa pemilik nama lengkap Sundari Untinasih Soekotjo ini ingin sekali menjadi penyanyi keroncong.

Beruntung, Unti yang menempuh pendidikan dari SD, SMP hingga SMA di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta ini mendapatkan dukungan penuh dari orangtuanya, terutama sang ayah. “Makanya kamu harus latihan karena sekarang itu jarang ada penyanyi keroncong yang masih muda,” demikian nasihat sang ayah yang hingga kini masih terekam dalam ingatan Unti.

Sejak saat itu, untuk mewujudkan impiannya, ayahanda Unti tak segan-segan menerapkan pola pendidikan yang keras dan disiplin. Namun, namanya juga masih kanak-kanak, rasa malas kerap menyergap Unti. Jika sudah begitu, saat disuruh latihan, ia sering menggunakan alasan sedang sakit atau mengantuk, pokoknya apa saja, yang penting ia tidak jadi latihan.

Menyadari musik telah mendarah daging dalam hidupnya, setelah menyelesaikan pendidikan menengahnya, ia melanjutkan pendidikan dengan mengambil jurusan musik pada Universitas Negeri Jakarta. Setelah meraih gelar sarjana, dan di tengah-tengah aktivitasnya naik turun panggung membawakan lagu-lagu berirama keroncong, Unti juga membagikan ilmunya dengan menjadi guru kesenian di SMA Negeri 38 Jakarta.

Tapi, karena “kegalakan” ayahnya, Unti berusaha mewujudkan keinginan sang ayah. Pada tahun 1974, untuk pertama kalinya ia tampil di televisi. Saat itu Unti yang masih berusia sembilan tahun berduet menyanyikan sebuah lagu pop bersama Joko Sutisno. Karena menyanyi lagu keroncong tak semudah membawakan lagu pop, maka ia pun tak segan menimba ilmu pada beberapa guru.

Setelah cukup mendapat tempaan, ia pun memberanikan diri mengikuti sejumlah kompetisi lagu keroncong seperti Festival Keroncong Remaja pada 1978 dimana ia berhasil keluar sebagai finalis. Setahun kemudian, ia berhasil menjadi juara dua Bintang Radio Televisi. Itu pun dengan mencuri umur karena Unti belum mencapai 15 tahun. Ia baru berhasil menjadi juara pertama di ajang yang sama pada tahun 1983. Sejak saat itu, orang-orang mulai mengenalnya sebagai penyanyi keroncong.

Kesempatan untuk masuk dapur rekaman lagu keroncong mulai terbuka lebar walau ia masih kecil saat itu. Pihak perusahaan rekaman sempat kebingungan mencarinya karena, “Saya masih kecil sekali jadi mereka tidak mengenali saya,” kata wanita berparas ayu ini seperti dikutip dari situs pdat.co.id. Tapi, dengan kebaya dan sanggul, Unti tampak semakin cantik dan anggun bahkan terlihat lebih dewasa dibandingkan gadis seusianya.

Menyadari musik telah mendarah daging dalam hidupnya, setelah menyelesaikan pendidikan menengahnya, ia melanjutkan pendidikan dengan mengambil jurusan musik pada Universitas Negeri Jakarta. Setelah meraih gelar sarjana, dan di tengah-tengah aktivitasnya naik turun panggung membawakan lagu-lagu berirama keroncong, Unti juga membagikan ilmunya dengan menjadi guru kesenian di SMA Negeri 38 Jakarta.

Sebagai seorang guru, ia sudah layak mendapat penghormatan. Namun yang ia dapat justru sebaliknya. Saat mengajar, ia sering dikerjai siswa-siswanya, mulai dari mobilnya dikasih bunga, wajahnya digambar oleh murid paling bandel, hingga murid pria duduk di bangku barisan depan setiap Unti mengajar. Tapi, anehnya, ia mengaku tidak ngeh karena tidak memperhatikan.

Tak puas hanya menyandang titel sarjana, Unti melanjutkan studinya ke jenjang S-2 untuk meraih gelar doktor di universitas yang sama. Pada 1 Februari 2010, istri dari seorang pilot bernama Arman Surjadi ini berhasil lulus dengan predikat cum laude dengan mempertahankan disertasinya yang berjudul “Pengaruh Budaya Organisasi, Perilaku Kepemimpinan dan Kepuasan Kerja Terhadap Komitmen Organisasi Karyawan PT Pembangunan Perumahan (Persero). Selain di UNJ, ia juga berhasil menyelesaikan pendidikan pasca sarjananya di bidang Sumber Daya Manusia di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Sebagai penyanyi senior, Sundari menaruh keprihatinan mendalam pada perkembangan musik keroncong lantaran minimnya generasi muda yang tertarik mendalami musik tersebut. Padahal aliran musik yang identik dengan masyarakat Jawa ini merupakan warisan nenek moyang yang harus dilestarikan keberadaannya.

Apalagi musik keroncong kian terpinggirkan dengan menjamurnya band rock atau penyanyi-penyanyi yang mengusung musik kontemporer. Meski demikian, kekhawatiran pengagum Waldjinah ini boleh dibilang sedikit berkurang karena Putri Intan Permatasari, putri semata wayangnya mau mengikuti jejaknya dengan menjadi penyanyi keroncong. Pepatah buah jatuh tak jauh dari pohonnya setidaknya menggambarkan hubungan antara ibu dan anak ini.

Seperti saat ditemui di acara New Campaign peluncuran jamu habis bersalin lengkap istimewa Ny. Meneer di Hotel Grand Mahakam Jakarta Selatan. Sundari tampil berduet membawakan lagu-lagu keroncong dengan anaknya, Intan, panggilan akrab Putri Intan Permatasari.

Menurut Sundari, anak gadisnya yang kini mulai beranjak dewasa itu memang mewarisi bakatnya menyanyi tembang-tembang keroncong. “Bakat anak aku (Intan) turun dari saya, saya selalu mengajarkan agar cinta keroncong,” ujar Sundari seperti dilansir situs kapanlagi.com.

Intan mengaku rela belajar membawakan lagu-lagu keroncong mengikuti jejak sang mama karena dilatari rasa ingin memperkuat budaya bangsa yang sudah hampir terlupakan oleh kaum muda. “Saya ingin memperkuat budaya kita sendiri dengan membawakan lagu keroncong, semua diserahkan sama aku. Aku bisa membawakan semua genre tapi aku menyanyikan lagu keroncong agak susah-susah gampang karena aku harus belajar cengkoknya,” jelas Intan.

Oleh sebab itu, Intan tak segan untuk terus menimba ilmu dari ibunya. “Aku harus selalu konsultasi sama mama, tapi kita berdua berusaha menyatukan gimana membawakan. Lagu keroncong pada saat duet tapi kita bawakan dengan genre pop keroncong,” papar Intan. eti | muli, red

Data Singkat
Sundari Soekotjo, Penyanyi Keroncong, guru / Pelantun Tembang Keroncong | Direktori | Guru, Keroncong, Penyanyi

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here