Pelestari Hutan Bambu

[ Herry Goenawan ]
 
0
40
Herry Goenawan
Herry Goenawan | Tokoh.ID

[DIREKTORI] Usaha keras pria yang juga mengantar kelompok taninya meraih peringkat pertama se-Indonesia dalam usaha peternakan sapi pada tahun 1984 membuat ia bersama Kelompok Tani Budi Daya Padi Organik Kali Jambe meraih penghargaan Kalpataru untuk kategori Kelompok Pelestari Sumber Daya Alam tahun 2002.

Herry Goenawan, adalah sosok pelestari di balik hijau dan rindangnya hutan bambu di Dusun Krajan, Desa Sumber Mujur, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang. Keinginan kuat pria kelahiran 15 Juni 1955 ini untuk melestarikan hutan bambu di desa kelahirannya, diawali dari tanda-tanda mengecilnya debit air di mata air Deling yang terjadi sekitar tahun 1978.

Padahal air sangat dibutuhkan petani yang sedang uji coba menanam padi varietas baru, yakni IR-26, varietas bibit tahan wereng. “Apa jadinya kalau sumber mata air itu berhenti?” Herry menerawang.

Dalam pandangan Herry yang petani, kendati padi varietas baru itu berbibit unggul dengan pemupukan baik, namun tidak ada artinya jika sistem pengairan buruk. Mengecilnya debit air di mata air Deling, hanya menjadi 300 liter per detik dari sebelumnya yang 600 liter per detik, meresahkan Herry. Sumber mata air itu ibarat napas yang tidak hanya mengairi lahan pertanian di Desa Sumber Mujur saja, tetapi juga memberi kehidupan bagi tiga desa lain di bawah kaki Gunung Semeru. Ketiga desa itu ialah Penanggal, Tambah Rejo, dan Kelapa Sawit. Bahkan saat musim kemarau tiba, sumber mata air itu akan mengairi Desa Pandan Wangi, Kecamatan Tempeh.

Melihat pertanda buruk itu Herry lalu memutar otak untuk mengembalikan debit air mata air Deling, paling tidak dalam keadaan seperti semula. Saat itu dia sudah tahu kuncinya: hutan bambu.

Masalah pada hutan bambu seluas sembilan hektar itu disebabkan ulah manusia yang menebang bambu untuk kerajinan. Tanpa perlindungan dan pencegahan, rumpun bambu itu akan semakin menipis dan rusak. Menipisnya rumpun bambu itu seiring terganggunya sistem pengairan sawah petani di Desa Sumber Mujur.

Oleh karena itu, usaha pertama yang dilakukan Herry adalah menanam berbagai jenis pohon dan bambu di kawasan hutan itu dengan modal dari kantongnya sendiri. Ia benamkan tanaman berumur panjang, seperti jolali, sukun, dan dadap. Mulailah Herry melakukan upaya pelestarian hutan bambu yang berbatasan dengan kawasan Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru (TNBTS) ini.

Herry menyadari bahwa usaha melestarikan hutan itu tidak bisa dilakukan seorang diri. Ia mulai mengajak kelompok tani Kali Jambe dan warga sekitar ikut berpartisipasi melestarikan hutan penyangga mata air yang telah menjadi “napas kehidupan” lingkungan sekitar itu. “Perlu kesadaran tinggi setiap orang menyelamatkan hutan bambu ini,” kata duda tanpa anak itu.

Herry sadar, tanpa penjelasan matang mengenai arti penting lingkungan, usahanya akan sia-sia. Kendati tanpa dibekali ilmu apa pun untuk melestarikan hutan yang mengairi sekitar 1.441 hektar sawah tersebut, mulailah ia bersama kelompok tani Kali Jambe melakukan sosialisasi kepada warga sekitar. Forum pengajian dan rapat desa dia manfaatkan untuk menyosialisasikan gagasannya. “Beruntung sosialisasi berhasil karena terbantu mitos yang beredar pada warga sekitar,” kata pria lulusan SMA Negeri I Lumajang itu.

Mitos mengenai hutan bambu itu konon sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Mitos yang bernada ancaman itu mengatakan, siapa yang mengambil segala sesuatu dari hutan bambu akan terkena penyakit. Oleh Herry, mitos itu kemudian dipertajam sambil menggiring kesadaran kolektif warga akan arti penting hutan bambu selaku penyangga mata air.

Kepedulian warga tergugah. Masyarakat Desa Sumber Mujur beramai-ramai melakukan gerakan penanaman beberapa jenis bambu maupun tanaman jenis lain di kawasan hutan bambu pada tahun 1980. Gerakan penanaman hutan bambu itu menambah jenis bambu yang ditanam. Soalnya, pada seperempat abad lalu di hutan itu hanya ada satu jenis bambu, yakni bambu apus. “Sekarang ada sekitar 15 jenis bambu, di antaranya jajang, petung, rampal, dan ampel,” ungkapnya.

Dukungan melakukan gerakan penanaman hutan bambu tidak hanya dilakukan masyarakat sekitar. Aparat desa pun memberi dukungan dengan mengeluarkan Peraturan Desa (Perdes) Nomor 1 Tahun 2001 yang menetapkan sanksi Rp 50.000 per batang bagi siapa saja yang menebang bambu di kawasan hutan bambu. Selain itu, dikeluarkan pula Perdes Nomor 2 Tahun 2001 mengenai larangan memburu dan menggembalakan segala jenis hewan di kawasan hutan bambu.

Usaha keras pria yang juga mengantar kelompok taninya meraih peringkat pertama se-Indonesia dalam usaha peternakan sapi pada tahun 1984 itu akhirnya membuahkan hasil. Berkat terlestarikannya hutan yang saat ini memiliki sekitar 2.000 batang pohon dari famili Graminaceae itu, debit air di mata air Deling pun menjadi normal, 600 liter per detik. Artinya, Herry dan kelompoknya berhasil mengembalikan air ke debit semula.

Atas jerih payahnya, penghargaan Kalpataru kategori Kelompok Pelestari Sumber Daya Alam pun diterimanya tahun 2002 di Denpasar, Bali. Kecintaannya dalam melestarikan hutan bambu membuat Herry semakin mengenali keanekaragaman jenis bambu. Dia mampu membedakan berbagai jenis bambu dan kegunaan masing-masing. Dari jenis bambu yang cocok dibuat kerajinan anyaman, sampai jenis bambu yang hanya cocok untuk pagar.

Bagi Herry, alam yang terbatas ini bukanlah warisan dari nenek moyang, melainkan hanya pinjaman dari anak cucu, sebagaimana kata pepatah yang pernah dia dengar. Atas kesadaran itulah Herry melestarikan hutan bambu dengan sepenuh hati. e-ti

Data Singkat
Herry Goenawan, Pelestari Hutan Bambu / Pelestari Hutan Bambu | Direktori | pelestari, Hutam bambu

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here