Pendiri Gedung Pertemuan Graha Delima

Ignatius Mahidin Pakpahan
 
0
593
Ignatius Mahidin Pakpahan
Ignatius Mahidin Pakpahan

Ignatius Mahidin Pakpahan dikenal sebagai pengusaha papan atas yang bergerak di berbagai bidang usaha. Siapa sangka, pendiri gedung Graha Delima, Kalimalang, Bekasi yang sudah banyak menyumbangkan ide dan bantuan untuk kemajuan HKBP ini, tak lulus SMA dan pernah menjadi sopir.

Kisah hidup Ignatius Mahidin Pakpahan bisa dijadikan sumber inspirasi bagi mereka yang ingin berhasil. Meski tak lulus SMA, Ignatius Mahidin Pakpahan tidak menjadi putus asa dan hilang harapan. Dia memilih untuk bekerja keras dan tekun menimba ilmu sebanyak-banyaknya melalui universitas kehidupan. Pria yang biasa dipanggil Ompu Andreas Doli ini sudah kenyang jatuh bangun membangun bisnis dan aktif dalam pelayanan di gereja dan kepengurusan marga.

Ignatius Mahidin Pakpahan lahir di Sigumbang, Samosir pada 20 Desember 1952. Saat dibabtis di Gereja Katolik, dia diberi nama Ignatius yang artinya api, cahaya, atau bersinar. Ayahnya Guru Dohot Beatus Pakpahan pernah melayani di Gereja Katolik di Janji Marrapot, Sigumbang, Negeri Buhit dan Gereja Katolik Panangkohan, Lumban Suhisuhi, Samosir. Sedangkan ibunya, Klementina boru Nainggolan menjadi ibu rumah tangga mengasuh Ignatius Mahidin Pakpahan dan delapan saudaranya yang lain.

Pada usia remaja, Ignatius Mahidin Pakpahan kemudian pindah ke Pulau Jawa mengikuti ayahnya yang dipindahtugaskan sebagai Guru Jemaat Gereja Katolik. Setelah beberapa lama tinggal di Pulau Jawa, Ignatius Mahidin Pakpahan pindah ke Pematang Siantar, sebuah kota yang dulu sempat menjadi ibukota Sumatera Utara.

Di kota Pematang Siantar lah, Ignatius Mahidin Pakpahan menikahi isterinya Delima Boru Aritonang dan membangun rumah tangga. Hingga akhirnya, Ignatius Mahidin Pakpahan memboyong keluarganya merantau ke Jakarta untuk berjuang meraih hidup yang lebih baik. Mereka sekeluarga awalnya mengontrak rumah di daerah sekitar Cakung dan mulai membuat usaha sendiri.

Pada tahun 1982, anak ketiga dari sembilan bersaudara ini mendirikan PT. Basuki Rahmanta Putra yang bergerak di bidang jasa konstruksi. Perusahaan ini sudah menorehkan berbagai prestasi dalam bidang konstruksi khususnya pada pekerjaan sungai, pantai dan irigasi.

Di sela-sela kesibukannya sebagai pengusaha, mantan sintua di Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Sutoyo ini meluangkan waktu untuk melayani di gereja dan menjadi pengurus marga. Dia menjadi pengurus Badan Usaha HKBP di bawah kepemimpinan Ephorus Pdt. Dr. Bonar Napitupulu pada tahun 2008-2012.

Dia kemudian dipercaya menjadi Ketua Badan Usaha HKBP pada periode kepemimpinan Ephorus Pdt. Dr. Darwin Lumbantobing dua periode (2012-2016 dan 2016-2020) dan hingga tahun-tahun awal kepemimpinan Ephorus Pdt. Dr. Robinson Butarbutar.

Perlu diketahui, Badan Usaha HKBP merupakan badan usaha berbasis jemaat yang diharapkan mampu mengelola dan mengembangkan semua aset yang dimiliki oleh HKBP. Itulah sebabnya, saat menjadi Ketua Badan Usaha HKBP, Ignatius Mahidin Pakpahan mulai melakukan terobosan dengan menjadikan Wisma Tabor, Wisma Tornauli dan Percetakan HKBP sebagai pilot project. Wisma Tabor dan Wisma Tornauli diminta untuk direnovasi karena sering dipakai sebagai tempat retret, kursus, pelatihan, seminar dan pertemuan. Wisma Tabor yang berada di tepian Danau Toba, Parapat, juga sudah menjadi tempat pembinaan iman dan kaderisasi jemaat HKBP. Sedangkan percetakan perlu dikembangkan karena merupakan aset strategis.

Ignatius Mahidin Pakpahan juga sudah menyumbang banyak ide dan bantuan demi kemajuan HKBP. Dia mengusulkan pembangunan hotel di Pematang Siantar, kota terbesar kedua di Sumatera Utara setelah Kota Medan. Turut terlibat saat pembangunan Gedung Sopo Marpingkir di Cakung, Jakarta Timur. Termasuk renovasi besar-besaran Pasanggarahan setara hotel milik HKBP. Dia juga turut berperan dalam pembangunan museum dan rumah singgah Ephorus di bilangan Tangerang, Provinsi Banten.

Advertisement

Selain aktif di gereja, Ignatius Mahidin Pakpahan aktif di kelompok marganya terutama di Pakpahan Hutanamora. Dia dipercaya sebagai Ketua Umum Pakpahan Hutanamora periode 2009-2012 dan sekarang dipercaya menjadi Penasihat punguan Hutanamora Se-Jabodetabek. Pria yang dikenal sebagai raja parhata (pemimpin adat) yang cakap ini punya harapan yang besar terhadap kelestarian budaya Batak terutama di kalangan anak muda masa kini. Itulah sebabnya, dia rajin menanamkan kecintaan pada budaya Batak pada tujuh anaknya, enam laki-laki dan satu perempuan.

Sebagai bentuk kecintaannya pada sang istri Delima Boru Aritonang, Ignatius Mahidin Pakpahan mempersembahkan Graha Delima yang dibangun sejak 2014. Gedung ini menjadi salah satu gedung pertemuan/resepsi yang berlokasi di Bekasi, tidak jauh dari pintu tol JORR dan pintu Tol Bekasi.

Ignatius Mahidin Pakpahan mengakui bahwa semua yang dia miliki sekarang semata-mata karena berkat dan kasih karunia Tuhan. Dia merasa sangat bersyukur karena dia dan istri sudah merayakan pernikahan emas 50 Tahun dan dikaruniai 14 orang cucu.

Menurut Ignatius Mahidin Pakpahan, perjalanannya sebagai pengusaha tidak selalu mulus. Dia menyadari bahwa memiliki impian besar harus siap memikul beban yang besar. Harus percaya bahwa di balik segala kesulitan, pasti ada maksud Tuhan untuk membimbing dia.

Dia juga percaya bahwa suka memberi dan rendah hati menjadi kunci utama dalam menjalani hidup yang berhasil. Ignatius Mahidin Pakpahan menyadari bahwa setiap orang mempunyai kelebihan dan kekurangan. Sebagai pribadi yang mempunyai kekurangan-kekurangan, dia berusaha untuk tetap rendah hati mendengarkan saat ada orang yang memberi saran/kritik. Dia juga tidak ragu meminta saran dan kritik dari orang lain.

Hal lain yang dia yakini adalah menghormati orangtua. Seperti ungkapan Batak, “natuatua mi do Debata natarida,” yang artinya, orangtualah perwakilan Tuhan di dunia ini. Ketika orangtua dan mertuanya masih hidup, prinsip ini dijalaninya dengan sungguh-sungguh. (Hotman J. Lumban Gaol, e-ti)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini