Pewarta The Golden Ways

[ Mario Teguh ]
 
0
82
Mario Teguh
Mario Teguh | Tokoh.ID

[DIREKTORI] Meski wajahnya sudah tampil dalam sebuah acara bertajuk Business Art di O’Channel, publik baru benar-benar mengenalnya sebagai motivator saat membawakan acara Mario Teguh Golden Ways di Metro TV. Pengaruhnya yang cukup besar membuat harian Republika menobatkannya sebagai salah seorang Tokoh Perubahan Indonesia 2009.

Pria bernama asli Sis Maryono Teguh ini memulai karir profesional sebagai pegawai di bank swasta. Pertama di Citibank sebagai Head of Sales, pindah ke BSB Bank sebagai Manager Business Development dan terakhir ke Aspac Bank sebagai Vice President Marketing & Organization Development. Posisi yang diraihnya di bank-bank tersebut berkat kerja kerasnya selama bertahun-tahun.

Setelah meraih posisi yang bagus, pria kelahiran Makassar, 5 Maret 1956 ini kemudian memutuskan untuk mengundurkan diri. Keputusannya mengundurkan diri ketika itu didasari pada kesadarannya pada potensi yang jauh lebih besar yang ada pada dirinya untuk berkembang dengan memulai usahanya sendiri.

Sejak itulah, sarjana (S-1) Pendidikan Jurusan Linguistik Bahasa Inggris dari IKIP Malang ini mulai menemukan “dunianya” dengan mengambil keputusan menjadi konsultan bisnis dan public speaker melalui perusahaannya, Exnal Corporation. Di Exnal Corporation yang bergerak di bidang Bussiness Effectiveness Consultant itu, ayah dari Audrey Teguh dan Marco Teguh ini menjabat sebagai CEO (Chief Executive Officer) sekaligus sebagai Senior Consultant. Belakangan, Mario juga membentuk komunitas Mario Teguh Super Club (MTSC). Mario mengungkapkan semua program yang dibawakannya berdasarkan pengalaman spiritualnya.

Melihat perawakannya, mungkin orang akan bertanya-tanya tentang asal atau suku Mario Teguh. Hal tersebut memang wajar sebab ayah Mario yakni Gozali Teguh adalah seorang tentara keturunan Jawa-Cina, sementara ibunya, Siti Maria adalah seorang keturunan Arab-Bugis. Masa kecil Mario diketahui hanya hidup sederhana seperti kebanyakan orang. Namun hal itu, tidak membuatnya putus asa. Ia tetap terus memperbaiki kualitas hidupnya melalui pendidikan yang terbaik.

Dari segi bahasa penyampaian, karena Mario selama ini banyak memakai bahasa yang lebih universal, maka mungkin banyak juga pemirsa televisi yang tanda tanya agama yang dianut Mario. Bagi Mario, hal tersebut dimaksudkan agar dengan bahasa yang lebih universal motivasi-nya dapat “dinikmati” oleh semua kalangan. Tak terbatas hanya pada satu agama tertentu. Baginya tidak ada kehidupan tanpa agama. Dengan kata lain, hidup itu agama. Kepuasannya sebagai motivator bukan dilihat hanya dari segi ketenaran yang sekarang tengah ia genggam, melainkan ia bisa terus memperluas wilayah pelayanannya. Pelayanan yang selama ini identik dengan istilah di kalangan non-muslim diartikan Mario sebagai kesempatan yang diberikan Tuhan padanya untuk berbuat baik terhadap sesama.

Faktanya, Mario Teguh adalah seorang muslim atau beragama Islam. Hal tersebut lebih terungkap ke publik tatkala Metro TV menyiarkan acara Mario Teguh pada Minggu 19 Juli 2009 yang topiknya seputar ibadah Umrah yang dipandunya. Di situ terlihat Mario Teguh sedang berada di Madinah sambil mengenakan pakaian berhaji dan bertasbih. Jati diri Mario Teguh sebagai seorang muslim juga diperkuat dengan wawancara yang dimuat di situs sufinews.com.

Dalam Kecerdasan Emosi, seseorang dibekali semacam peta baku yang menjadi “rujukan” untuk respons terhadap hubungan. Seseorang yang sudah memiliki Peta Kecerdasan Emosi tidak akan berespons negatif ketika dikatakan bodoh oleh pihak lainnya sebab dalam Peta Emosi yang dimilikinya ada petunjuk bahwa hanya orang bodoh saja yang mengatakan orang lain bodoh.

Menurut lulusan Indiana University, Amerika Serikat ini, kecerdasan emosi bukan semata kemampuan seseorang mengendalikan emosi pada tempat dan waktu tertentu. Dalam Kecerdasan Emosi, seseorang dibekali semacam peta baku yang menjadi “rujukan” untuk respons terhadap hubungan. Seseorang yang sudah memiliki Peta Kecerdasan Emosi tidak akan berespons negatif ketika dikatakan bodoh oleh pihak lainnya sebab dalam Peta Emosi yang dimilikinya ada petunjuk bahwa hanya orang bodoh saja yang mengatakan orang lain bodoh. “Kalau secara kolektif bangsa ini diisi oleh individu-individu yang bereaksi positif terhadap apapun yang terjadi di lingkungan kita, yakinlah kehidupan bernegara dan berbangsa ini akan lebih damai dan syahdu,” katanya.

Jadi menurutnya, penyemangatan yang dia bicarakan adalah penyemangatan yang memiliki muara pada pengertian-pengertian baik dan positif, bukan dari acara hingar bingar seperti musik keras atau teriak-teriak atau loncat-loncat atau melalui obat atau minuman yang membuat pengosumsinya merasa seperti bersemangat. Penyemangatan yang demikian itu menurut Mario, hanya sesaat saja sifatnya.

Dicontohkannya, di Jepang ada sebuah toko barang antik yang disediakan untuk para eksekutif yang tengah dilanda amarah. Disitu, orang boleh memecahkanberbagai jenis keramik yang ada dengan harapan, setelah itu orang akan merasa lega karena amarahnya telah ditumpahkan pada barang-barang yang dipecahnya.

Menurut Mario, pendekatan semacam itu temporal saja sifatnya. Dan ini bukan pemecahan. Marah hanya bisa diobati dengan memaafkan. Menahan amarah tanpa memaafkan hanya akan menambah penyakit saja.

Sementara mengenai ilmu apa yang Mario gunakan saat memberikan terapi atau memotivasi, apakah Ilmu Kejiwaan Barat atau Ilmu Kejiwaan dalam agama? Mario mengatakan, sebenarnya “peta” yang ada dalam Kecerdasan Emosional yang dia tawarkan merupakan gugusan pilar dari kebenaran, keindahan dan kebaikan. Hal ini didasari oleh fitrah kehidupan bahwa manusia dalam hidup itu tidak lepas dari menginginkan kebaikan, menyukai keindahan dan mencari kebenaran.

Tapi dalam realitas kehidupan, tiga hal ini lebih sering dirasakan oleh manusia sebagai tiga hal yang berdiri sendiri-sendiri. Misalnya kebenaran yang dicari ternyata malah membawa kepedihan, keindahan yang disukainya ternyata tidak membawa kebaikan, atau kebaikan yang diusahakan malah bertentangan dengan kebenaran. Pada saat yang demikian, manusia tidak dapat menikmati keadaan itu secara sempurna lalu mengidap split personality atau kepribadian yang terpecah belah. “Nah, kira-kira melalui apa manusia dapat menemukan dan merasakan kebenaran, keindahan dan kebaikan sejati? Dalam beragama bukan?” kata Mario.

Ketika dikatakan penjelasannya itu begitu sarat dengan sufiisme, Mario mengatakan terimakasih. Tapi dengan terus terang dia mengatakan bahwa dalam menjalankan tugas (baik sebagai pembicara publik maupun motivator) dia mengaku menghindari komponen-komponen komunikasi yang terlalu mengindikasikan agama Islam secara formal atau verbal.

Alasannya pertama: karena buat dia, ketika kita betul-betul dengan sadar sesadarnya mengatakan “ya” terhadap keberadaan dan keesaan Allah, kita tak perlu repot-repot lagi memikirkan label-label formal ketuhanan. Pokoknya terus berlaku jujur, menjaga kerahasiaan klien, menganjurkan yang baik, menghindarkan perilaku, sikap dan pikiran buruk, menurutnya itu semua pilihan orang-orang beriman.

Alasan kedua, Islam itu agama rahmat untuk semesta alam. Maksudnya, jadi orang Islam itu seharunya betul-betul memayungi (pemeluk) agama-agama lain.

“Bagaimana Islam bisa dinilai baik kalau kita selaku muslim merendahkan agama (dan pemeluk) agama lain,” ujarnya.

Dalam menjelaskan soal hal apa yang dapat diterima semua pemeluk agama, Mario mengatakan, setiap orang adalah direktur utama dari perusahaan jasa milik dirinya sendiri. Dia adalah CEO dari kehidupan dirinya sendiri. Dia sebenarnya, sepenuhnya bertanggungjawab atas bisnis kehidupannya dan apapun yang akan terjadi pada dirinya sendiri. Dia bertanggungjawab atas semuanya antara lain, produksi, pemasaran, keuangan, dan lain sebagainya di perusahaan kehidupannya. Demikian pula dia sendirilah yang menentukan berapa besar gajinya, berapa income-nya. Bila dia tidak puas dengan penghasilan yang dia terima, dia bisa melihat di dekat cermin dan menegosiasikan pada bosnya, yakni dirinya sendiri yang ada di dalam cermin. Jadi, menurut Mario, etos demikian tak dapat dibantah oleh semua ajaran agama-agama yang ada di dunia.

Sedangkan bicara kesuksesan, menurut Mario adalah bagaimana kita keluar dari comfort zone dan mencoba menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dengan definisi itu, kita akan melihat begitu banyak kesuksesan yang bisa kita lihat pada diri kita. Kalau kemarin misalnya kita baru bisa membantu satu orang, hari ini kita bisa membantu dua dan besok bisa membantu lebih banyak lagi, maka kita sukses. Dengan perasaan yang positif mengenai kesuksesan yang pernah kita raih, maka kita akan merasa semakin sukses dan semakin percaya diri dengan cita-cita, visi dan misi hidup kita.

Untuk meraih kesuksesan besar, menurut Mario, harus diawali dengan kesuksesan kecil dan sedang. Ada pepatah yang mengatakan, “Sukses akan melahirkan sukses yang lain.” Nah dari pepatah ini dapat diambil pelajaran, apabila kita semakin mudah untuk melihat kesuksesan kita dari hal-hal yang kecil, maka mudah bagi kita untuk mengumpulkan, mengakumulasikan dan melangkah mencapai sukses yang lebih besar. Mario meyakinkan, dengan sukses kecil-kecil itu, cepat atau lambat sukses yang lebih besar akan menjemput kita.

Tapi sayang, menurut Mario, umumnya masyarakat kita menilai sukses seseorang dari ukuran-ukuran materi seperti merk mobil yang digunakan, mewahnya rumah yang dimiliki dan lain sebagainya. e-ti | muli, mlp

Data Singkat
Mario Teguh, Konsultan dan Motivator / Pewarta The Golden Ways | Direktori | konsultan, motivator, trainer, pembicara

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here