Politisi yang Selalu Ganteng

[ Bambang W Soeharto ]
 
0
188
Bambang W Soeharto
Bambang W Soeharto | Tokoh.ID

[DIREKTORI] Sebuah pesan singkat (SMS-short messages) dari seorang teman lama, nadanya menggoda. Ia menulis SMS: “Saya bertemu pacar pertama, dan sekarang kami suka jalan bareng. Keluarga setuju, tapi anak-anak menentang”. SMS itu berlanjut dengan SMS berikutnya. “Sudah 30-an tahun kami tak bertemu, ternyata rasa itu masih ada. Masih ingat almarhum suami, tetapi hidup kan harus berjalan. Dia masih seganteng dulu”.

Si pengirim SMS, menjanda sejak suaminya meninggal dunia. Usianya 50-an tahun, hidup sendirian karena ketiga anaknya kuliah di tiga kota yang berbeda. Sementara pacar pertamanya menduda 10 tahun.

Lenny Marlina, mengaku Bambang Soeharto sebagai pacar pertama, di usia mudanya pernah jadi bintang film terpopuler dan termahal. Meski tak lagi berakting di depan kamera, film-filmnya dulu masih sering diputar ulang di layar televisi. Walau begitu, Lenny mengaku tak terusik berakting kembali. Leny tidak menemukan kedamaian sampai menikah dengan suami pertamanya. Kini ia merasa lebih berbahagia dan berguna setelah menikah dengan Bambang (61).

Apa komentar Lenny tentang suami keduanya? “Tuhan mengirim saya kepadanya, seperti Tuhan mengirim dia kepada saya. Semua terjadi begitu saja. Saya tidak terlalu peduli terhadap fisiknya, tetapi ketulusan hatinya pada saya, sama seperti saya kepadanya.”

Bambang hidup dan dibesarkan di lingkungan keluarga militer yang memiliki disiplin sangat tinggi. Ayahnya, pensiunan perwira menengah TNI Angkatan Darat, cukup keras dalam mendidiknya. Bambang pernah diikat ayahnya karena melempari orang Belanda. Padahal kebenciannya terhadap Belanda karena — ketika masih kecil — ia melihat sang ayah ditangkap dan ditawan oleh tentara Belanda.

Tak cuma sekali ia menerima hukuman semacam itu, sehingga, karena tak tahan dihukum, Bambang pernah kabur dari rumah. Ia lalu bersembunyi di Studio Film Persari, di bilangan Polonia, Jakarta Timur. Untuk bertahan hidup, ia terpaksa ikut main film bersama almarhum S. Bono dan Fifi Young. “Saya dapat honor Rp 25, sudah cukup besar pada saat itu. Untuk sekali makan, saya hanya menghabiskan Rp 2,” kenangnya. Dengan honor tersebut, Bambang bisa bertahan tiga hari. Ia baru pulang ke rumah setelah seorang kakak menjemputnya.

Masa kecil anak kedua dari empat bersaudara pasangan R.M. Sosrohadiwiyono dan R.A. Soetinah itu penuh prihatin. Bambang membikin sendiri mobil-mobilan dari kulit jeruk Bali. Karena tak pernah punya mainan bagus di masa kecil itulah, ia kini masih suka bermain kereta-keretaan listrik.

Sekarang hidup Bambang terbilang mapan. Ia mempunyai rumah yang cukup besar, serta beberapa mobil mewah. Di sebuah rumah di atas tanah seluas 2.500 meter persegi, di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, ia tinggal bersama istri dan 10 anaknya. Lenny membawa tiga anak dari suami pertama, sedangkan Bambang tujuh anak dari istri pertama.

Satu hal yang tampaknya mustahil dilupakan Bambang dalam perjalanan hidupnya, gagal menjadi tentara. Berpostur tegap, ia memang sempat menjalani seleksi masuk Akademi Militer Nasional (AMN) tahun 1965. Lantaran Bambang terserang penyakit tifus, tes masuk AMN tidak berjalan sempurna. Ia dinyatakan tak lulus. Cita-citanya menjadi perwira TNI Angkatan Darat kandas di tengah jalan.

Keinginannya menjadi tentara memang terobsesi oleh profesi yang pernah disandang ayahnya. “Waktu kecil, saya terkesan dengan bapak saya yang berseragam tentara. Ia tampak gagah sekali. Terus, ia juga punya banyak anak buah,” kisahnya. Kepada teman-temannya yang berhasil menjadi tentara, ia berkata, “Kita nanti akan bertemu di atas. Eh, ternyata benar juga. Mereka jadi tentara, saya di Komnas HAM. Ada yang melanggar HAM, ya saya tindak.”

Gagal menjadi tentara, Bambang memilih kuliah di jurusan ilmu politik. Selepas kuliah, 1976, ia kemudian aktif dalam organisasi kepemudaan pendukung Golkar. Selama 1978-1982, misalnya, Ketua Dewan Pimpinan Pusat Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (DPP AMPI). Selama lima tahun ia memangku jabatan Ketua DPP Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan ABRI (FKPPI). Bahkan, pemegang sabuk hitam karate ini termasuk salah seorang pendiri FKPPI.

Namun kepemimpinan Bambang lebih terlihat di Kesatuan Organisasi Serbaguna Gotong Royong (Kosgoro). Di organisasi pendukung Golkar itu, ia sempat duduk sebagai Ketua DPP Generasi Muda Kosgoro.

Selama aktif mendukung Golkar, pengagum presiden pertama Amerika Serikat George Washington ini tak pernah menjadi pengurus organisasi berlambang pohon beringin tersebut. Ia cuma mendapat kesempatan tiga periode (1982-1987, 1987-1992, 1997-1999) menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dari Fraksi Karya Pembangunan (FKP). tsl-sh, dari berbagai sumber, di antaranya pdat

Data Singkat
Bambang W Soeharto, Ketua Umum Gerakan Rekonsiliasi Nasional (2001-2006) / Politisi yang Selalu Ganteng | Direktori | MPR, Dirut, komisaris, Komnas HAM

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here