Raja Minyak Sawit dari Siantar

[ Martua Sitorus ]
 
0
688
Martua Sitorus
Martua Sitorus | Tokoh.ID

[DIREKTORI] Majalah Forbes menempatkan Martua Sitorus sebagai orang terkaya nomor empat di Indonesia dengan kekayaan mencapai 2,7 miliar dolar AS pada tahun 2011. Di urutan dunia, Martua menempati urutan ke-420. Pengusaha yang low profile ini memperoleh kekayaannya lewat perusahaan Wilmar International Limited, salah satu produsen kelapa sawit dan produsen minyak goreng terbesar di Asia. Lebih dari 40 perusahaannya beroperasi di Indonesia, salah satunya adalah PT Multimas Nabati Asahan yang memproduksi minyak goreng bermerek Sania.

Nama pengusaha keturunan Tionghoa namun bermarga Batak ini mungkin kalah populer jika dibandingkan rekan seprofesinya seperti Ciputra atau Aburizal Bakrie. Maklum saja sebab selama ini dalam menjalankan roda bisnisnya, Martua lebih banyak tinggal di Singapura ketimbang di Indonesia. Walaupun berbasis di Singapura, sebagian besar aktivitas produksinya berada di Indonesia.

Pria yang terlahir dengan nama Thio Seng Hap atau yang sehari-harinya disapa A Hok ini berasal dari Pematang Siantar, Sumatera Utara. Martua yang mendapatkan gelar sarjana ekonominya dari Universitas HKBP Nommensen, Medan ini merintis bisnis dengan berdagang minyak sawit dan kelapa sawit secara kecil-kecilan di Indonesia dan Singapura. Perlahan-lahan usahanya itu berkembang pesat.

Pada akhir 1980-an, ia menjalin kemitraan dagang dengan Kuok Khoon Hong, keponakan Robert Kuok, raja bisnis gula dan properti Malaysia. Keduanya sepakat untuk mengembangkan bisnis bersama-sama dengan. Nama ‘Wilmar’ yang menjadi nama usaha mereka disebut-sebut sebagai singkatan dari kedua nama mereka, yaitu William, nama panggilan Kuok Khoon Hong, dan Martua Sitorus. Mereka berdua adalah pemilik signifikan Wilmar Holdings Pte Ltd (perusahaan holding Wilmar International Ltd). Keduanya berbagi tugas, Kuok Khoon Hong sebagai Chairman & CEO dan Martua sebagai Chief Operating Officer (COO) Wilmar International Ltd.

Keluarga besar Martua Sitorus juga berperan penting dalam mengembangkan Wilmar Corp. Istri (Rosa Taniasuri Ong), saudara laki-laki (Ganda Sitorus), saudara perempuan (Bertha, Mutiara, dan Thio Ida), dan ipar (Suheri Tanoto dan Hendri Saksti) Martua menduduki berbagai posisi kunci di Wilmar Corp. Bahkan, Hendri Saksti diberi kepercayaan menjadi kepala operasional bisnis Wilmar di Indonesia.

Pada tahun 1991, Martua sudah mampu memiliki kebun kelapa sawit sendiri seluas 7.100 hektar di kampung halamannya, Sumatera Utara. Di tahun yang sama, ia juga berhasil membangun pabrik pengolahan minyak kelapa sawit pertamanya. Dalam dua dekade, Martua berhasil membangun imperium bisnis minyak sawit terintegrasi, mulai dari perkebunan sawit, pabrik pengolahan sawit, oleokimia, biodiesel, pengepakan, hingga pemasaran minyak sawit (CPO). Wilmar memiliki 250 fasilitas pabrik produk-produk sawit di 20 negara, antara lain di Indonesia, Malaysia, Tiongkok, India, hingga Eropa. Di Indonesia, Wilmar memiliki sekitar 48 perusahaan operasional.

Nalurinya sebagai pengusaha yang tak pernah cepat berpuas diri membuatnya mulai mencari prospek bisnis lain yang menjanjikan keuntungan berlimpah. Ia kemudian tertarik untuk menjalani bisnis hilir (produk turunan) yang lebih bernilai jual tinggi. Di tahun 1998, untuk pertama kalinya, Martua membangun pabrik yang memproduksi specialty fats. Dua tahun kemudian, ia meluncurkan produk konsumsi minyak goreng bermerek Sania dan Fortune yang diproduksi salah satu perusahaan operasional miliknya, PT Multimas Nabati Asahan. Di India, Wilmar menjual minyak goreng merek Fortune, Jubilee, Raag, Alpha, dan Aadhar. Sedangkan di Tiongkok bermerek Orchid, Gold Ingot, Hiaqi, dan Baihehua.

Dalam dua dekade, Martua berhasil membangun imperium bisnis minyak sawit terintegrasi, mulai dari perkebunan sawit, pabrik pengolahan sawit, oleokimia, biodiesel, pengepakan, hingga pemasaran minyak sawit (CPO). Wilmar memiliki 250 fasilitas pabrik produk-produk sawit di 20 negara, antara lain di Indonesia, Malaysia, Tiongkok, India, hingga Eropa. Di Indonesia, Wilmar memiliki sekitar 48 perusahaan operasional.

Tahun demi tahun, kerajaan bisnis Martua semakin membesar hingga pada akhirnya berhasil menjadi salah satu perusahaan agrobisnis terbesar di Asia yang terintegrasi dari hulu sampai hilir. Di sektor perkebunan, Wilmar memiliki kebun sawit yang tersebar di Indonesia dan Malaysia. Di Indonesia, perkebunannya berlokasi di Sumatra, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, sedangkan di Malaysia tersebar di Sabah dan Serawak. Hingga 31 Desember 2008, Wilmar menguasai 500 ribu hektar kebun, sebanyak 200 ribu hektar sudah ditanami.

Wilmar juga memiliki pabrik pengolahan minyak sawit mentah yang berlokasi di sejumlah negara, mulai dari Indonesia, Malaysia, China, India hingga Eropa. Di Riau, pada 2007, ia membangun tiga pabrik biodiesel, masing-masing memiliki kapasitas produksi 350.000 ton per tahun, sehingga total kapasitasnya 1,050 juta ton per tahun.

Dari pabrik pengolahan, Wilmar kemudian mencampur dan mengemasnya dalam berbagai jenis produk akhir untuk dipasarkan kepada konsumen. Produk itu dijual terutama di tiga pasar besar dunia, yakni Indonesia, China dan India, juga di Vietnam dan Bangladesh. Wilmar juga bermain di pabrik pupuk untuk menopang usaha perkebunannya. Jenis pupuk yang dihasilkannya adalah pupuk NPK.

Per 31 Desember 2005, Wilmar memiliki total lahan perkebunan kelapa sawit seluas 69.217 hektar, 65 pabrik, tujuh kapal tanker, total aset US$1,6 miliar, total pendapatan US$4,7 miliar, laba bersih US$58 juta, dan 20.123 karyawan. Wilmar mengekspor produk-produknya ke lebih dari 30 negara. Puncaknya, Martua mencatatkan Wilmar di Bursa Efek Singapura pada Agustus 2006 dengan kapitalisasi pasar mencapai US$2 miliar. Pada akhir Desember 2009, total pendapatan Wilmar mencapai US$ 23,9 miliar atau Rp 220 triliun. Sedangkan, laba bersih perusahaan yang dihimpun mencapai US$ 1,8 miliar atau sekitar Rp 17 triliun.

Berkat keberhasilan perusahaan itu, sosok Martua Sitorus makin menonjol di pentas bisnis global. Pada tahun 2006, majalah Forbes menempatkan suami Rosa Taniasuri Ong itu di urutan ke-14 dalam daftar 40 orang terkaya di Indonesia. Kekayaan bersihnya saat itu ditaksir mencapai US$475 juta. Palm Oil King atau Raja Minyak Kelapa Sawit, demikian julukan yang diberikan Forbes untuk Martua. Pada tahun 2008, ia melesat di posisi ke-2 orang terkaya di Indonesia versi Majalah Forbes Asia setelah Aburizal Bakrie. Pada tahun 2009, Martua menempati peringkat 522 terkaya di dunia dengan jumlah kekayaan US$1,4 miliar dan pada tahun 2010, kekayaan Martua meningkat menjadi US$3,0 miliar. Peringkat pun terdongkrak menjadi 316.

Di mata para koleganya, misalnya Ketua Harian Gapki (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia), Derom Bangun, yang telah bersahabat sejak tahun 90-an, Martua adalah seorang yang berani mengambil risiko dengan memasuki wilayah-wilayah bisnis baru sehingga mendapat peluang baru.

Pendapat senada juga disampaikan mantan Menteri Pertanian, Bungaran Saragih. Bungaran yang juga guru besar IPB itu melihat Martua sebagai pengusaha muda yang sangat dinamis, banyak ide, dan kreatif. Selain itu, ia juga tergolong orang yang low profile dan terkesan tak mau menonjol.

Saking low profile-nya, tak banyak orang yang mengetahui kemajuan pesat bisnisnya bahkan kawan-kawan baiknya. Tak heran jika banyak yang merasa terkejut setelah melihat ia mampu menjadi pebisnis besar. Bisnis Martua diperkirakan bisa berkembang dengan cepat karena selain memang agresif, ia juga berhasil menangkap peluang terbukanya penjualan minyak kelapa sawit hasil produksi perusahaan-perusahaan perkebunan negara yang sebelumnya, pada masa Orde Baru, hanya dikuasai oleh salah satu grup konglomerasi di Indonesia.

Apalagi, karena bersifat ekspor, bisnis Martua tak terganggu oleh krisis moneter yang terjadi di tahun 1997. Hebatnya lagi, jika banyak perusahaan besar di Jakarta yang terkena krisis rata-rata harus memotong penghasilan karyawannya sebesar 2,5%, maka karyawan Wilmar justru memperoleh tunjangan krisis sebesar 2,5%.

Kabarnya, Martua Sitorus akan mendirikan kampus politeknik di kota kelahirannya, Pematangsiantar. Hal itu disampaikan Wali Kota Pematangsiantar Hulman Sitorus pada acara Reuni dan Chengbeng 2011 di Perguruan Sultan Agung, Sabtu (2/4/2011). “Senin, tanggal 28 (Maret) kemarin saya berjumpa dengan saudara kita dari Wilmar, Martua Sitorus. Kami bicara tentang apa yang bisa diperbuat untuk kemajuan Siantar. Martua Sitorus berencana membuat politeknik internasional di Siantar,” kata Hulman kepada tribun-medan.com. Menurut Hulman, rencana tersebut adalah tanda bakti Martua kepada Siantar. eti | muli, mlp

Data Singkat
Martua Sitorus, Pengusaha / Raja Minyak Sawit dari Siantar | Direktori | Pengusaha, taipan, tionghoa, Perkebunan, kelapa sawit, Minyak sawit

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here